
🌻🌻🌻
Hanna yang menatap langit-langit kamar kostnya mencoba menormalkan detak jantungnya. Ia tidak tau kenapa bisa jantungnya berdetak secepat ini, ia takut jika tiba-tiba ia terkena serangan jantung. Jantung Hanna mulai berdebar saat mereka mengurai pelukan Rama dengan kedua mata yang saling menatap.
Mengingat itu, jantung Hanna kembali berdetak, ia bahkan mengucap doa agar di beri umur panjang.
Dinar yang biasanya tidak pulang saat malam minggu, setelah melihat tunangan Hanna sedang bermesraan dengan wanita lain membuatnya merasa kasihan pada sang sahabat jadi ia memilih pulang.
Dinar membuka pintu kamar kostnya, ia terkejut mendapati Hanna yang masih belum tidur di tengah malam.
"Kamu belum tidur." ucap Dinar khawatir lantaran tangan Hanna memegang dadanya sembari menhadap ke langit-langit kamar.
"Aku tiba-tiba takut mati Din." ucap Hanna yang lantas membuat Dinar seketika mendekat pada Hanna.
"Kamu gak boleh mati Han, kamu masih berhak bahagia Han." ucap Dinar sembari menggenggam tangan Hanna.
Hanna menoleh pada Dinar, ia masih dalam posisi tidur dan merasa heran dengan ucapan Dinar.
"Kamu kenapa Din?" malah Hanna yang bertanya pada Dinar lantaran Dinar terlihat begitu khawatir.
Seketika Dinar merubah ekspresinya, "Kamu itu yang kenapa pake acara ngomong mati segala." Dinar lepas genggamannya lantas berdiri dari sana.
"Aku takut Din, detak jantungkun tiba-tiba berpacu dengan cepat."
Dinar kembali duduk di tempat tidur Hanna, "Kamu habis ngapain?" Dinar begitu khawatir, ia mengira ini adalah pertanda kalau tunangannya sedang bermain dengan wanita lain.
Hanna kembali mengingat awal mula ia begitu berdebar, lantas ia menceritakan pada Dinar.
Dinar tertawa terbahak mendengar cerita Hanna lantas ia beranjak dari sana menuju kamar mandi.
Hanna heran dengan respon sahabatnya yang tiba-tiba tertawa terbahak-bahak padahal ia tidak sedang melucu.
"Dinar, kenapa kamu tertawa?" Hanna bangun dari tidurnya lantas berteriak pada Dinar. Tidak ada jawaban dari Dinar, malah yang Hanna dengar suara gemericik air, Hanna menghela nafas berat, sahabatnya tidak memberi solusi atau apapun malah menertawakannya.
Sebenarnya Dinar tidak terlalu lama di kamar mandi namun saat ia keluar dari kamar mandi ia dapati Hanna sudah terlelap. Kini Dinar yang menghela nafas berat, ia merasa kasiha pada sang sahabat yang sepertinya baru merasakan tumbuhnya benih-benih perasaan cinta.
Setelah berganti pakaian tidur serta mengoles cream malam pada wajahnya, Dinar kembali menatap Hanna yang tengah menikmati indahnya alam mimpi. "Han, kamu itu pantas bahagia" Ucap Dinar pada Hanna yang terlelap. "Entah dengan Ivan atau Rama, tapi alangkah baiknya jika kamu tidak terburu-buru untuk bertunangan dengan Ivan, harusnya kalian saling mengenal dulu, aku tidak mau di anggap merusak pertunanganmu tapi Ivan bukan orang baik-baik Hanna." Ucap Dinar penuh kesedihan.
Kini Dinar yang dibuat tidak tidur lantaran ia memikirkan sang sahabat, ia tau betul seperti apa Hanna, ia tidak ingin sampai Hanna terluka apa lagi dengan lelaki pilihan orang tuanya.
Sementara itu Rama tengah menenggak minuman beralkohol di dalam apartemennya, sudah beberapa botol tegeletak di sana, pikirannya kacau. Ia yang awalnya tidak mau terlalu dekat dengan Hanna namun malam ini yang terjadi malah sebaliknya, mereka semakin dekat. Rama yang sesungguhnya sudah mulai memiliki perasaan pada Hanna sudah akan membuang perasaan itu jauh-jauh tapi kenapa ia seakan semakin terikat dengan Hanna.
"Kenapa? Kenapa harus lo Hanna? Kenapa? Kenapa harus lo yang sudah bertunangan? Aaarrrhhh...." Rama berusaha melampiaskan kekesalannya.
🌻
Pagi menyambut keduanya, Rama yang masih terlelap lantaran pengaruh minuman keras sementara Hanna sudah menyeduh teh hangat sembari menunggu Dinar bangun.
"Din bangun dong," Hanna sebenarnya ingin membangunkan Dinar namun ia urungkan jadi ia hanya bersuara lirih yang tidak akan menembus ke alam mimpi Dinar.
Setelah satu jam menunggu barulah Dinar mulai ada pergerakan, ia mulai menggeliat di dalam selimut, tangannya ia keluarkan guna mencari ponselnya.
Dinar mulai membukan mata guna mengetahui jam berapa sekarang. Ia sebenranya begitu malas untuk bangun namu ia mendengar suara Hanna bicara padanya.
"Bangun dong Din."
Dinar menoleh pada tempat tidur Hanna yang kosong dan ternyata Hanna sudah duduk di kursi yang terletak di sisi pojok kamar kostnya.
"Kamu sudah bangun?" Dinar membuka selimutnya lantas terduduk di sana.
Hanna mengangguk, Dinar yang merasa masih begitu mengantuk mengucek matanya lantas bangun dan menuju kamar mandi guna mencuci mukanya.
Kini Dinar sudah bergabung denga Hanna di kursi sambil menikmati teh panas, ia masih melihat Hanna yang penuh pikiran.
"Kamu yakin sama Ivan?" Kini Dinar kembali mempertanyakan keyakinan Hanna.
Hanna terlihat begitu berfikir dengan pertanyaan Dinar, ia bahkan tidak tau akan perasaanya saat ini apa lagi hubungannya dengan Ivan seperti bukan sebuah hubungan antar laki-laki dan perempuan yang memiliki sebuah ikatan pertunangan namu seperti laki-laki dan perempuan yang hanya bertemu secara tidak sengaja di jalan.
"Aku gak tau Din." Sendu Hanna.
"Han, bukannya aku ingin kamu membatalkan pertunangan, tapi sekarang lebih baik kamu coba kenali lebih jauh calon suamimu. Lalu bagaimana perasaanmu saat ini?"
"Aku gak tau Din, mas Ivan sulit di hubungi, dia lebih sering keluar kota dan lembur."
"Kamu yakin? Kamu percaya?"
"Entahlah?" Hanna merasa ragu pada Ivan.
"Apa jantungmu pernah berdebar saat bersama Ivan?"
Hanna mencoba mengingat kembali saat ia sedang berkencan dengan Ivan yang lebih tepatnya ia merasa seperti sedang berjalan dengan teman laki-lakinya lantaran tidak ada tindakan yang memperlihatkan mereka sepasang anak manusia.
Hanna menggeleng pelan dengan mata terpejam.
"Ikuti kata hatimu Hanna."
🌻
Suasana sekolah begitu ramai, siswa siswi mulai memasuki halaman sekolah begitu juga Rama yang baru memasuki halaman sekolah dengan motor sportnya. Ia parkirkan motornya lantas membuka helm, banyak siswi menatapnya kagum namun mereka hanya bisa melihat Rama dari jauh, tidak akan ada yang berani mendekat pada Rama kecuali jika Rama yang menyapamu lebih dulu.
Rama begitu malas mengikuti pelajaran namun ia tetap tinggal di dalam kelas tanpa peduli dengan guru di depan.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi namu Mario tidak mendapati Rama di kelas sejak bel masuk setelah istirahat berbunyi.
Mario mengira Rama sedang ada di atap menghisap nikotin namun ia salah, banyak siswa mulai berhamburan menuju sisi belakang sekolah yang sangat jarang di lalui orang.
"Ada apa woy?" tanya Mario pada salah satu anak yang baru dari sana.
"Biasa, Rama sama Raka berantem."
Mendengar jawaban dari salah satu siswa disana membuat Mario mengambil langkah seribu, ia segera berlari ketempat dua anak itu berkelahi.
"Bantu pisahin mereka woy." teriak Mario maju melerai keduanya dan di bantu beberapa anak lainnya.
Setelah bisa membawa Rama menjauh dari sana barulah Mario lepas cekalanya dari baju Rama yang sudah sangat kotor.
"Lo gila ya? Lo mau mati apa?" kesal Mario.
Rama hanya tersenyum remeh kemudian mengusap darah dari sudut bibirnya dengan ibu jari.
"Gue gak bakal mati kalau cuman lawan Raka."
"Iya kalian gak bakal ada yang mati cuma gak gerak iya. Lagian apa sih masalah kalian sesungguhnya? Gue heran sama lo dan Raka?"
Kembali Rama tersenyum remeh, "Cuma gue dan Raka yang tau permasalahan ini." Rama menepuk bahu sahabatnya lantas berjalan meninggalkan Mario.
Rama melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, ia masih belum puas menghajar Raka.
Motor Rama sudah memasuki halaman rumahnya, ia masukan motornya ke dalam garasi, tidak ada senyuman sama sekali sehingga membuat sopir pribadi di rumahnya yang melihat Rama babak belur hanya menatapnya khawatir.
Baru memasuki rumah ia sudah melihat Hanna di sana sedang berbincang dengan Mbok Nah.
"Lo pulang aja, gue gak mood belajar hari ini." Ucap Rama yang lantas berjalan menuju kamarnya.
Hanna yang tidak pernah melihat wajah orang babak belur seketika terkejut dan khawatir begitu juga Mbok Nah.
"Kenapa dia Mbok?"
"Mungkin habis berantem Bu, sudah biasa den Rama seperti itu."
"Sudah biasa Mbok?" Hanna benar-benar tidak mengira jika luka di wajah Rama hanya biasa.
"Mbok, boleh saya minta obat luka dan air bersih beserta lap."
Setelah Mbok Nah memberikan apa yang di minta Hanna, kini Hanna memberanikan diri mengetuk pintu kamar Rama.
tok... tok... tok....
"Masuk"
Mendengar sahutan dari dalam, Hanna putar kenop pintu lantas mendorongnya pelan, ia masuk perlahan dan ternyata Rama sedang ada di balkon menikmati hisapan nikotin.
"Maaf."
Mendengar bukan suara Mbok Nah, Rama segera menoleh, ia terkejut dengan kehadiran Hanna di kamarnya.
"Kenapa lo masih disini? Gue kan udah suruh lo balik."
"Saya akan pulang setelah mengobati lukamu."
Hanna lantas duduk di sofa yang ada di kamar Rama meski tanpa meminta ijin dulu pada pemiliknya.
Hanna letakan obat beserta rekan-rekannya di atas meja, lantas ia menunggu Rama yang seakan enggan untuk mendapatkan perawatan.
"Gue gak butuh lo rawat." tegas Rama.
"Saya akan pergi setelah merawat lukamu, jika kamu tidak mau maka saya akan tetap di sini sampai jam pulang biasanya." Hanna tak kalah tegas pada Rama.
Rama matikan rokoknya yang tinggal setenganya lantas berjalan mendekat pada Hanna.
Rama duduk di ketak Hanna, wajah Rama begitu terlihat kotor dengan debu dan kringat yang bercampur.
Hanna mulai membasahi lap kecil lantas ia peras kemudian ia membersihkan wajah Rama.
Setelah tadi ia merasa sakit pada wajahnya kenapa sekarang yang ia rasakan adalah sakit di dadanya saat ia melihat Hanna yang begitu pelan membersihkan wajahnya.
Iangatan Rama kembali pada pemicu pertengkarannya dengan Raka, "Lo gak akan pernah dapatin apa yang lo mau kecuali lo rebut dari orang lain. Lo gak punya kemampuan apa-apa kecuali mengais sisa orang lain." Tanpa sadar Rama mengepalkan tangannya.
"Semua orang tau kalau kamu itu laki-laki meski gak harus di tunjukan dengan tinjuan." ucap Hanna yang lantas menyadarkan Rama lagi.
"Tau apa lo soal laki-laki." ketus Rama.
Hanna hanya diam tidak ingin berdebat dengan Rama yang malah nantinya ia menjadi kesal.
Wajah Rama sudah lebih bersih lantas Hanna mulai mengoleskan salep luka pada sudut bibir Rama.
"Aaauuuwww..." aduh Rama saat baru di oles salep.
"Sakit ya, maaf."
Ucapan lembut Hanna membuat Rama terdiam, ia malah melihat Hanna dengan seksama.
"Udah."
Segera Rama alihkan pandanganya mendengar ucapan Hanna. Rama hanya berdehem lantas memutar posisi duduknya.
"Kalau gitu saya permisi mau pulang," pamit Hanna sembari membersihkan meja. Hanna beranjak dari sofa berjalan menuju pintu.
"Hanna." panggil Rama yang lantas menghentikan langkah kaki Hanna dan menoleh padanya.
"Terimakasih." ucap Rama dengan tulus.
......****......
...Terimakasih yang sudah setia menunggu kelanjutan Hanna Rama....
...Mohon dukungannya, vote, like dan komen ya....
...Maaf kalau ada typo 🙏...