
🌻🌻🌻
Sebelum Hanna tercebur kembali ke kolam renang, Rama meraih tangan Hanna dan menariknya kuat sampai Hanna membentur dada Rama.
Hanna masih mangatur nafasnya, bahkan satu tangannya tanpa ia sadari berpegang pada baju Rama.
Tangan keduanya masih berpegangan, jika seperti ini mana bisa Rama membuang perasaannya pada Hanna.
Hanna mulai melepas pegangan tangannya, perlahan ia mendongak hingga nektar keduanya bertemu. Hanna kembali merasakan debaran jantungnya begitu juga dengan Rama yang tak kalah berdebar mendapati tatapan Hanna yang tidak seperti biasanya.
Hanna tidak ingin mempermalukan dirinya, ia memilih mendorong Rama perlahan lantas ia melangkah menjauh dari tepi kolam membiarkan Rama tetap berdiri di sana.
Hanna mengemasi barang-barangnya lantas ia meninggalkan rumah Rama begitu saja.
Kesal Hanna tidak bisa ia sembunyikan, bukan pulang malam memilih mencari hiburan, ia pergi ke time zone guna mencari penghiburan atas dirinya. Dinar juga masih kerja tidak mungkin ia merengek pada Dinar jadi ini adalah satu-satunya cara agar kekesalannya terlupakan.
Entah sudah berapa kali Hanna menukarkan koin permainan, ia tidak perduli selama rasa kesalnya belum hilang maka ia tidak akan mengahirinya.
Hari sudah mulai malam, Hanna terlihat begitu lelah lantaran selama dua jam ia berada di time zone. Ia baru turun dari angkutan umum sembari membawa satu kanton kresek yang pastinya makanan untuk dirinya dan Dinar.
Setelah berjalan beberapa meter dari jalan utama barulah Hanna memasuki gerbang kostnya berjalan menuju kamar kostnya dengan langkah gontai.
"Lemes banget bu guru." Dinar baru saja pulang lantas menghampiri Hanna yang terlihat malas berjalan.
Hanna melirik pada sang sahabat lantas tersenyum kecut pada Dinar.
Kini keduanya tengah menikmati makanan cepat saji yang Hanna bawa mereka duduk saling berhadapan. Sesekali Hanna mendesuh mengingat apa yang Rama ucapkan tadi sore.
"Masih gak mau cerita?" Sudah ketiga kalinya Dinar meminta Hanna untuk bercerita namun hanya desuhan yang Dinar dapat.
"Ya udah kalau gitu aku gak akan tanya lagi."
Hanna mengalihkan pandanganya ke segala arah lantas ia hembuskan nafas beratnya.
"Din?"
Dinar yang asyik mengunyah lantas menatap Hanna memberi kode jika ia merespon namun ia masih tidak bisa bicara lantaran mulutnya penuh dengan makanan.
"Kali ini aku akan berhenti kerja."
Dinar seketika membelalakan matanya, ia hentikan makannya menatap Hanna serius. Setelah makanan di mulutnya sudah ia telan barulah ia mulai bicara.
"Kenapa lagi sekarang?"
Kembali Hanna membuang nafas beratnya, "Rama kali ini udah keterlaluan Din."
Dinar mengernyitkan dahi bingung, "Keterlaluan gimana?"
"Dia mulai mencampuri urusan pribadi ku Din."
Dinar masih menunggu Hanna bercerita meski Hanna terlihat berfikir antara melanjutkan apa tidak melanjutkan ceritanya.
"Tadi bahkan kita berdebat masalah Mas Ivan." Hanna mengepal kuat mengingat Rama berkata buruk tentang Ivan. "Dia bilang kalau aku tidak mengenal Mas Ivan dan dia berani meminta aku meninggalkan Mas Ivan."
Dinar pejamkan mata sejenak lantas ia hembuskan nafasnya, ia merasa lega ternyata bukan hanya dirinya yang beranggapan jika Ivan bukan pria baik-baik bahkan pria lain juga menganggapnya demikian.
"Terus,"
"Kamu kok seperti mendukung Rama?"
Terlihat jelas ya, tapi memang Dinar merasa bersyukur ada orang yang telah berani menentang hubungan Hanna dan Ivan.
Dinar mencoba mengelak, "Ya bukan mendukung juga, ya coba kamu pikir kenapa Rama bisa berkata demikian, pasti ada sebabnya kan,"
Hanna terlihat berfikir memang ia tadi tidak bertanya pada Rama, ia sudah terlanjur kesal dengan Rama.
"Dia itu asal bicara." Hanna masih mencoba meyakinkan Dinar jika Rama itu salah.
"Menurutku sih Rama gak salah juga, soalnya dia kan juga cowok pasti dikit-dikit tau lah soal cowok."
"Rama mana tau Din." Hanna masih tak terima "Cowok yang petakilan kayak Rama mana bisa tau sama cowok yang baik dan sopan kayak Mas Ivan."
Dinar malah mencebik mendengar Hanna bicara membela Ivan, rasanya makanan yang sudah di proses di dalam perutnya mau keluar lagi.
Dinar cubir pipi Hanna, "Sadar Hanna sadar."
"Sakit Din." keluh Hanna setelah cubitan Dinar terlepas
"Aku di sini cuma kasih saran aja ya Han. Rama itu gak salah juga ngomong gitu, dan lagi kamu kan gak begitu mengenal Ivan? Emang kamu pernah di ajak ke tempat tinggalnya?"
"Buka itu maksud ku Hanna." Kesal Dinar "Emang kalau di ajak ketempat tinggal laki harus gitu."
Iya juga, selama menjadi tunangan Ivan tidak pernah Hanna datang ke tempat tinggalnya dan Hanna juga tidak pernah mencoba untuk datang ke sana.
🌻
Setelah perdebatanya dengan Hanna, Rama masih merasa belum puas ia ingin sekali menunjukan pada Hanna siapa Ivan sebenarnya.
Siang ini di jam istirahat Rama tengah menikmati sebatang nikotin di atap gedung sekolah sembari melihat siswa siswi di bawah sana.
Fikirannya masih penuh dengan Hanna yang begitu menganggap Ivan adalah laki-laki sempurna.
"Lagi mikirin apa lo?" Mario yang baru datang lantas menyapa Rama.
Rama hanya tersenyum singkat menanggapi sapaan sang sahabat, dari atas gedung Mario juga bisa melihat siswa siswi yang berlalu lalang di halaman sekolah.
"Ada yang lo suka?" kembali Mario bertanya.
Bukan jawaban yang Mario dapat namun sebuah pelototan tajam dari Rama. Sebenarnya Rama melihat siswa siswi di bawah sana bukan tanpa alasan, ia sangat ingin mengalihkan pikirannya dari Hanna namun tetap saja tidak ada yang membuatnya melupakan Hanna, malah ia semakin memikirkan Hanna.
🌻
Hanna yang merasa terusik dengan ucapan Dinar dan Rama akhirnya dengan berani menghubungi Ivan, ia bertanya kapan Ivan pulang dan apakan bisa bertemu dengannya, namun lagi-lagi Ivan mengatakan jika ia sibuk.
Hanna memilih menghibur dirinya sendiri, ia yang tidak ada jadwal mengajar memilih datang ke sebuah pusat perbelanjaan, ia mengirim pesan pada Dinar siapa tau Dinar akan ikut bergabung dengannya setelah pulang kerja.
Taman kecil di depan pusat perbelanjaan menjadi tempat bersantai sebagian orang yang berbelanja di sana. Hanna duduk di salah satu kursi taman dengan di temani kantung belanja yang lebih banyak bahan makanan.
Dinar sudah mengatakan akan menyusulnya jadi Hanna memilih menunggu Dinar sambil menikmati segelas minuman dingin serta makanan ringan yang ia beli di food court.
Tengah asik menikamti makanannya, mata Hanna tertuju pada dua insan manusia berbeda jenis kelamin yang tengah asik bermesraan di salah satu kursi taman di sana.
"Mas Ivan." batin Hanna.
Namun ia masih berfikir positif akan sosok yang tak jauh darinya yang kini memeluk wanita di sampingnya begitu penuh perasaan.
"Bukan, bukan Mas Ivan."
Namun matanya masih terus tertuju pada mereka. Hanna mencoba mengambil ponsel dari dalam tasnya lantas ia menghubungi Ivan. Hanna berdiri dari duduknya agar ia bisa pastikan jika yang di sana bukan Ivan.
Panggilan tersambung, Hanna perhatikan gerak-gerik pria di sana. Benar saja saat pria di sana menganggak telefonnya, panggilannya juga terjawab.
"Halo Hanna"
Hanna terdiam, ia benar Ivan di sana bersama seorang wanita yang terlihat seksi dengan baju ketatnya.
Hanna mencoba mengalak, "Mas Ivan dimana?"
"Lagi di kantor."
Mendengar jawaban dari Ivan yang berbarengan dengan seorang anak kecil di hadapannya yang tengah bermain bola semakin membuat Hanna yakin jika Ivan tengah berbohong padanya. Hanna bisa mendengar suara anak kecil di depan Ivan dari sambungan telefonnya.
Hanna kecewa dengan Ivan, tanpa Hanna sadari air matanya turun membasahi pipi. Kenapa Ivan begitu tega membohongi keluarga Hanna yang begitu sangat percaya padanya.
Sebelum kembali bicara sebisa mungkin Hanna tahan isakannya agar tidak terdengar oleh Ivan. Mungkin Hanna tidak memiliki perasaan pada Ivan namun kebohongan Ivan membuat Hanna kecewa, ia tidak tau harus bagaimana sekarang, haruskah ia muncul di hadapan Ivan atau ia bersembunyi saja.
"Kamu yakin masih di kantor Mas? Aku sekarang ada di pusat perbelanjaan tak jauh dari kantor kamu." Hanna kuatkan bicara meski air matanya terus mengalir.
Ivan terlihat mulai celingak-celinguk mencoba mencari Hanna, ia ingin memastikan jika Hanna tidak sedang memergokinya.
"Kamu dimana?" Ivan terdengar panik. Pandanganya mulai kesana-kemari guna mencari sosok Hanna.
Hanna masih setia berdiri pada tempatnya, pandangan Ivan yang mulai terarah pada Hanna namun dengan cepat ada sosok yang menghalangi mereka bahkan sosok tersebut membawa Hanna dalam pelukannya.
Seketika tangis Hanna pecah dan panggilanya berakhir, ia tidak tau siapa di hadapannya namun yang ia tau aroma parfumnya begitu familiar.
"Keluarkan semuanya." ucapnya.
Tangis Hanna semakim menjadi saat ia sadar sosok di hadapannya adalah Rama yang tengah mengorbankan dadanya untuk ia gunakan sebagai pelampiasan tangisnya. Hanna tidak peduli dengan baju Rama yang mungkin sudah basah akan air matanya.
Rama usap punggung Hanna lembut guna menguatkan Hanna.
...****...
...**Jangan lupa vote, like dan komet....
...Maaf jika ada typo 🙏**...