Hanna Rama

Hanna Rama
Dua Empat



🌻🌻🌻


"Pulang nanti aku antar." ucap Rama yang sudah melepas pelukannya dan kini tengah menggenggam tangan Hanna.


"Gak!" Ucap Hanna spontan.


Hanna menolak dengan tegas niat baik Rama, ia tidak ingin semua yang ada di lingkungan sekolah ini berfikir yang tidak-tidak tentang dirinya, apa lagi ia baru satu minggu mengajar.


"Kenapa?"


Hanna menarik tangannya dari genggaman Rama.


"Saya guru kamu Rama. Ada batasan yang harus selalu kita jaga. Dan apa kata siswa serta guru nanti. Pasti mereka akan berfikir yang tidak-tidak."


Apa yang Hanna ucapkan sepertinya membuat Rama berfikir dan menyadari akan status dirinya dan Hanna di sekolah. Bagaimanapun Hanna adalah gurunya jadi ia harus menghormati Hanna serta manjaga sikapnya di sekolah saat bersama Hanna.


"Okey, kalau gitu mana ponselmu?" pinta Rama sembari mengangkat tangannya.


"Buat apa?"


Rama berdecak kesal pada Hanna yang masih bertanya buat apa?


"Udah buruan. Mana?"


Hanna mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya lantas memberikan pada Rama.


Dengan cepat Rama menyahut ponsel Hanna, mengetikan nomer di sana dan mencoba menghubunginya.


Hanna hanya bisa diam memperhatikan Rama masih tidak mengerti siapa yang coba Rama hubungi.


Rama mengambil ponselnya sendiri dari dalam saku celananya dengan masih bergetar lantas ia matikan. Dari sinilah baru Hanna sadari jika Rama sudah mendapatkan nomernya yang baru.


Hanna diam tidak percaya jika semudah itu Rama mendapatkan nomer telefonya padahal selama satu minggu ini ia sudah mencoba menghindari Rama serta memikirkan banyak alasan agar Rama tidak bisa mendapatkan nomernya.


Rama masih mengutak-atik ponselnya serta ponsel Hanna. Bahkan saat akan mengembalikan ponsel Hanna, Rama memberi senyum penuh arti.


Hanna meraih ponselnya hendah memasukannya kedalam saku namun ponselnya bergetar tanda seseorang tengah menghubunginya.


Rama


Melihat nama yang ada di layar ponselnya lantas beralih melihat Rama yang berdiri di depannya dengan ponsel di telinganya dan memberi kode dengan matanya jika yang menghubunginya benar Rama.


"Jangan pernah ganti nomer telefon dan satu lagi jangan pernah pergi dari hidupku." Ucap Rama saat Hanna baru saja mengangkat telefon dari Rama.


Hanna menatap tak percaya, ia hanya diam tak berkutik hingga Rama berjalan keluar dari ruang UKS masih dengan telefon yang tersambung. Pintu ruang UKS tertutup kembali, Rama berdiri di depan pintu.


"Dan gak ada alasan untuk tidak membalas pesan serta mengangkat telefonku." Ucap Rama dengan senyum penuh kemenangan lantas ia berjalan menjauh dari ruang UKS sembari mengakhiri panggilannya.


Gagal sudah rencana Hanna menjauh dari seorang Rama, kini malah ia yang akan berada dalam lingkungan Rama.


Hanna terduduk pasrah menerima kenyataan jika dirinya akan terus bertemu dengan Rama dan ia harus bisa mengendalikan perasaannya sendiri saat berada di lingkungan sekolah.


Jam pulang sekolah sudah tiba, setelah mendengar bunyi bel, seluruh siswa berhamburan keluar kelas. Beberapa guru juga tengah membereskan meja mereka untuk bersiap pulang. Begitu juga dengan Hanna yang baru saja dari ruang kesehatan sekolah segera merapikan beberapa buku yang ada di mejanya.


"Pulang sama siapa bu?" Feri bertanya pada Hanna yang entah tidak di dengar atau bagaimana karena Hanna tidak merespon sama sekali.


"Ehem" Fery berdemem namun tetap tidak ada respon dari Hanna. Tidak mau menyerah begitu saja, Feri kembali bertanya pada Hanna. "Bu Hanna pulang dengan siapa?"


Merasa mendengar namanya, Hanna menoleh pada Feri yang ada di sebelahnya.


"Sendiri." jawab Hanna singkat.


"Kalau Bu Hanna tidak keberatan, saya akan mengantar bu Hanna pulang." Tawar Feri pada Hanna yang terdiam begitu saja.


Tadi Rama sekarang Feri, Hanna tersenyum ramah padah Feri. "Terimakasih banyak atas tawarannya Pak Feri. Tapi Maaf saya tidak bisa menerima tawaran Pak Feri." tolak Hanna halus agar tidak menyinggung Feri.


"Tidak apa-apa Bu Hanna. Jangan merasa sungkan." sahut Feri dan berdiri dari kursinya. "Kalau begitu saya pulang dulu." lanjutnya yang Hanna balas dengan anggukan.


Setelah sampai di tempat kost, Hanna segera mandi dan berganti baju dengan baju rumahan yang begitu santai. Sembari mengeringkan rambut di depan cermin, ia kembali mengingat apa yang Rama ucapkan tadi.


Ia pikir Rama akan lebih baik tanpa dirinya namun kenapa tadi ia merasa jika Rama begitu menderita. Apa keputusanya untuk pergi dari hidup Rama sudah tepat?


Hanna terus bergelut dengan pikiranya sendiri sampai ia terkejut begitu mendengar suara ponselnya berdering.


"Rama"


Ingin membiarkanya begitu saja namun tadi ia sudah mendapat ultimatum dari Rama, jadi mau tidak mau Hanna mengangkat panggilan dari Rama.


"Halo"


"Halo, lagi apa?"


Hanna seketika mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Rama.


"Halo.."


"Ehm,, iya halo."


"Kamu lagi apa?"


"Lagi..." Hanna masih berfikir, masa iya harus bilang ngeringin rambut. Hanna menggeleng, ia mencoba memikirkan jawaban yang tepat. "Emh,, baru aja selesai makan."


"Padahal aku mau ngajak kamu makan mie di deket kost kamu dulu, sayang sekali kamu udah makan."


Mendengar nama mie di dekat kostnya reflek tangan Hanna menyentuh perutnya yang seketika lapar. Sudah tiga bulan ia tidak makan mie di dekat kost lamanya, pasti sangan enak.


"Kamu inget, kamu masih punya hutang pada ku?"


Hanna kembali bingun dengan ucapan Rama, Hutang? Hutang apa?


"Hutang apa?"


"Hutang penjelasan. Kalau mau mengarang cerita buat yang terdengar real."


Hanna kira Rama tidak akan pernah bertanya apa alasannya pergi tapi kini yang terjadi Hanna harus menjelaskannya pada Rama.


"Jangan mencoba menghindariku Hanna."


Hanna bisa mendengar dengan jelas jika suara Rama yang ia dengar penuh dengan penekanan.


"Aku tutup telefonnya, silakan kamu beristirahat."


Hanya pasrah yang kini ada di benaknya, ia tidak akan bisa terus menerus menghindari Rama kalau yang terjadi adalah Rama menginginkan kejelasan.


🌻


Mario heran dengan Rama yang tiba-tiba kembali memperhatikan guru yang menjelaskan di depan.


"Apa pukulan Raka kemaren mengembalikan saraf di otaknya?" Ucap Mario dalam hati.


Sebenarnya Rama bukan siswa bodoh, ia hanya malas mengikuti pelajaran karena baginya semua hanya tuntutan Papanya. Rama yang dulu begitu antusias dengan sekolah seketika menjadi malas saat ia mendengar sendiri jika sang Papa hanya menjadikannya sebuah objek yang harus selalu terlihat indah tanpa ingin ada kekurangan sedikitpun.


Ada beberapa siswa yang tau akan kemampuan Rama salah satunya Mario yang tau jika selama ini Rama sebenarnya cukup bisa mengerjakan soal yang di berika guru namun Rama memilih menjawab dengan asal-asalan.


"Gurunya di depan bukan disini. Orang lain bisa mengira lo suka sama gue kalau lo terus natap gue kayak gitu." Songong Rama pada Mario yang masih memperhatikannya.


Mario berdecak kesal mendengar ucapan Rama, sedetik kemudia ia sudah mengalihkan pandangannya pada guru di depan.


Rama hanya bisa menahan tawanya melihat Mario yang sebenarnya ingin marah dan mungkin mengumpat padanya namun harus ia tahan lantaran masih jam pelajaran.


Kelas mulai kembali ramai saat bel istirahat berbunyi, siswa-siswi mulai keluar kelas begitu juga dengan Rama yang sudah berjalan keluar kelas sambil mengetikan sesuatu pada ponselnya.


Rama


"Aku tunggu di atap gedung sekolah."


Hanna membuka pesan yang dikirimkan oleh Rama padanya, helaan nafas panjang Hanna hembuskan. Haruskah ia menemui Rama atau lebih baik ia mengabaikan saja.


Jika Hanna tidak datang, Rama pasti akan nekat. Tidak lucu jika tiba-tiba Rama mendatanginya ke ruang guru.


Baru berdiri dari kursinya, Hanna sudah di tanya oleh Feri yang diam-diam memperhatikan Hanna dari tadi.


"Mau kemana Bu Hanna?"


"Mau ke toilet Pak." Jawab Hanna singkat tanpa harus mencari banyak alasan lantas ia pergi dari sana.


Berjalan menuju atap gedung membuat Hanna harus berpapasan dengan banyak siswa yang menyapanya dengan ramah, ia harus bisa bersikap biasa saja agar tidak ada kecurigaan di sana.


Menaiki tangga satu persatu dengan sepatu berhak tinggi membuatnya sedikit kelelahan.


Hanna yakin pintu di depannya adalah pintu menuju atap gedung sekolah, Hanna mebuka pintu tersebut lantas ia berjalan perlahan.


Sosok siswa berseragam yang tengah berdiri membelakangi sudah pasti ia adalah Rama.


"Rama." panggil Hanna.


Mendengar namanya di panggil oleh seseorang yang sudah ia tunggu membuatnya tanpa sadar tersenyum sembari memutar badannya.


"Kamu merokok?" Ucapan terkejut Hanna membuat Rama membuyarkan senyumnya.


Rama buang nikotin yang masih menyala dan ia injak dengan kuat.


"Kamu tau kan ini sekolah dan sudah jelas ada peraturan yang melarang siswanya merokok di sekolah." Hanna menunjukan sikap seorang guru di depan Rama.


Bukannya takut tapi Rama malah tersenyum mendapat peringatan dari Hanna.


Rama berjalan mendekat pada Hanna, sejujurnya ia ingin sekali memeluk Hanna yang begitu terlihat menggemaskan baginya saat memarahinya.


"Padahal aku memintaku kesini bukan untuk memarahiku karena aku yang seharusnya lebih marah padamu."


Kenapa Hanna bisa lupa tujuan Rama yang pasti meminta bertemu untuk memberinya penjelasan tapi kenapa ia malah memarahinya. Hanna tidak salah karena ia disini adalah seorang guru yang harus menegur siswanya jika melanggar peraturan.


Hanna menelan ludahnya susah payah, ia belum memikirkan alasan yang tepat. Ia harus memiliki alasan yang cukup masuk akal agar Rama tidak terus menuntut penjelasan darinya.


"Kenapa kamu pergi?"


Deg. Kali ini Hanna tidak bisa menghindar dari Rama.


"Ram, lo punya rok~" Mario yang sudah seperti jailangkung tiba-tiba muncul di sana.


Rama berdecak kesal melihat sahabatnya di saat yang sangat tidak tepat. Sementara Hanna terkejut mendengar suara Mario yang cukup lantang.


"Bu Hanna,,," Mario memberi salam pada Hanna sembari tertunduk lesu.


...****...


...Jangan lupa vote, like dan komet....


...Maaf kalau ada typo 🙏...