Hanna Rama

Hanna Rama
Tiga Belas



🌻🌻🌻


Rama meminta libur selama dua pertemuan dengan Hanna meski sebenarnya ia sangat ingin bertemu dengan Hanna.


Luka lebam di wajah Rama sudah menghilang, dan malam ini ia sedang jajian bersama Mario beserta taman-tamannya yang lain di salah satu cafe.


"Woy..." panggil Mario saat melihat Rama memasuki cafe.


Rama menoleh pada sang sahabat yang memanggilnya lantas berjalan menuju meja Mario. Penglihatan Rama teralihkan pada sosok yang duduk di meja dekat Mario. Rama menarik kursi di depan Mario dan tepat saling membelakandi dengan sosok yang tidak asing bagi Rama.


"Pesen dulu sambil nunggu yang lain." Mario menyodorkan daftar menu pada Rama.


Rama mangambilnya, ia hanya membolak balik saja daftar menu tersebut sembari mengingat siapa orang yang duduk di belakangnya.


Mario heran dengan Rama yang hanya membolak balik saja daftar menu dengan sorot mata yang entah terfokus kemana.


Rama tutup daftar menu tersebut lantas ia letakan di atas meja. "Pesen sama kayak lo." ucapnya.


Rama ingat siapa orang di belakangnya namun ia masih tidak yakin dengan orang di belakangnya. Rama merasa dia adalah tunangan Hanna.


Sebenarnya Rama bukan tipe orang yang akan ikut campur dengan urusan orang lain dan juga ia bukan orang yang akan menguping pembicaraan orang lain namun entah kenapa saat ini ia merasa begitu penasaran dengan sosok yang ia rasa tunangan Hanna.


"Gue gak percaya lo udah tunangan," ucap teman tunangan Hanna.


Ivan tersenyum, "Kenapa?"


"Gue pikir lo tunangan sama Merry? Sekarang hubungan lo sama Merry gimana?"


"Ya tetep lah." Yakin Ivan


"Lo gila Van. Terus tunangan lo gimana?"


Ivan kembali tersenyum, "Gua gak tau Hanna itu lugu apa bodoh?"


Mendengar nama Hanna di sebut seketika Rama mengepalkan tangannya, bahkan Mario bisa melihat jika Rama sedang menahan emosinya.


"Ram," panggil Mario namun Rama sepertinya menulikan pangilan Mario.


"Dia begitu percaya sama yang gue omongin." Lanjut Ivan sembari tersenyum bangga membicarakan ke luguan Hanna.


"Dia beda dari Merry, gue gak hubungi dia pasti dia udah curiga gak karuan." Lanjutnya.


"Lantas lo milih Hanna dari pada Merry?" tanya teman Ivan


"Kalau bisa ke duanya kenapa harus milih salah satu." jawab Ivan yang seketika membuat temannya tak percaya dengan jawaban yang keluar dari mulut Ivan.


Rama sebenarnya sudah tidak dapat menahan emosinya namun Mario kembali berusaha menyadarkannya.


"Ram, lo baik-baik aja kan?"


Rama menghembuskan nafasnya, ia mencoba berusahan menahan emosinya.


"Lo bener-bener gila Van!" kesal teman Ivan "Lo bakal nyakitin keduanya tau gak Van."


"Lo gak tau Hanna, dia benar-benar lugu, kalau pun gue nikah sama dia, dia gak bakal tau gue masih ngejalin hubungan dengan Merry."


"Tapi lo bakal nyakitin Merry Van, kalian sudah menjalin hubungan selama lima tahun dan lo bakal nikah sama wanita lain."


"Selamanya wanita yang gue sayang cuma Merry dan Hanna hanya wanita yang keluargaku mau bukan gue. Dan lo tau Hanna itu gak peka, selama gue tunangan sama dia cuma dalam hitunga jari gue ajak dia jalan." Ivan terkekeh bangga.


Darah Rama sudah mencapai ubun-ubun, iya gebrak meja di hadapannya yang seketika membuat Mario menyumbul, lantas iya beranjak pergi dari sana.


"Ram lo mau kemana?" panggil Mario yang tidak di gubrisa sama sekali.


Ivan dan temannya juga sempat terkejut dengan tingkah Rama namun karena mereka tidak mengenal jadi Ivan hanya mengangapnya biasa saja.


Rama melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, mendengar nama Hanna di permainkan membuatnya begitu marah.


Ia memilih melampiaskan amarahnya pada sebuah samsak di salah satu tempat olahraga fighter, salah satu orang di sana yang sudah sangat mengenal Rama membiarkan Rama melampiaskan amarahnya.


"Aaaaaarrrrrgggg...." Kesal Rama lantas menendang samsak dengan kuatnya kemudian ia berbaring di lantai dengan nafas yang ngosngosan serta keringat yang bercucuran.


Ia masih belum puas, rasanya ia ingin menghajar wajah Ivan hingga tak berbentuk namun ia masih sadar jika itu bukan urusannya. Ia hanya ingin Hanna tau siapa calon suaminya yang sebenarnya. Ia yang menyadari jika Hanna sudah menjadi milik orang lain hanya ingin Hanna bahagia namun setelah mendengar ucapan Ivan, ia tidak yakin dengan kebahagian Hanna.


🌻


Rama lebih dulu sampai rumah dibanding Hanna, ia memilih merokok di balkon kamarnya sembari memperhatikan halaman rumahnya, dari balkon kamarnya, Rama bisa melihat jika Hanna datang namun sudah sepuluh menit berlalu Hanna juga belum tiba.


Rama sudah akan membakar satu lagi nikotin namun ia hentikan ketika ia melihat satpam di bawah membuka pintu gerbang dan masuklah sosok yang sebenarnya sudah Rama tunggu.


Hanna berjalan memasuki halaman rumah Rama, bola mata Rama mengikuti pergerakan Hanna selangkah demi selangkah sampai Hanna sudah memasuki teras rumahnya dan tak dapat Rama lihat lagi.


Rama berjalan menuju halaman samping rumahnya tempat ia belajar bersama Hanna.


Rama langsung duduk begitu saja tanpa memberi salam pada Hanna. Sementara Hanna hanya sedikit terkejut kemudian matanya terfokus pada wajah Rama yang ternyata sudah kembali mulus lagi.


Hanna berdehem, "Syukurlah kamu sudah lebih baik," ucap Hanna lantas ia mulai membuka buku materi pembelajaran.


"Gue penasaran siapa nama tunangan lo?" tanya Rama dengan songongnya.


Kembali Hanna berdehem, "Kita mulai pembelajarannya." Hanna tidak ingin menjawab pertanyaan Rama.


Rama tutup buku Hanna lantas ia biarkan tangannya tetap di atas buku agar Hanna tidak menghindari pertanyaanya dengan mencoba membuka buku pembelajaran.


"Gue tanya siapa nama tunangan lo?"


"Siapapun itu, tidak ada hubungannya dengan pembelajaran kita kali ini." Hanna masih bersikeras tidak mau menjawab.


"Gue masih bersabar Hanna," terdengar suara Rama yang tertahan "Siapa nama tunangan lo?"


Hanna menghela nafas berat, ia merasa tidak penting memberi tahu Rama namun ia merasa ada yang aneh saat tiba-tiba Rama bertanya siapa nama tunangannya.


"Ivan. Puas." Hanna menarik buku yang tertindih tangan Rama lantas ia buka mulai membuka kembali.


Rama kembali mengingat pria yang bicara di belakangnya dan ia ingin jika temannya beberapa kali memangilnya "Van".


Kini bukan cuma menutup buku yang sedang Hanna buka namun Rama rampas buku tersebut dari tangan Hanna.


"Lo yakin sama tunangan lo?"


Hanna yang merasa kesal ia berusaha mengambil buku dari tangan Rama namun tidak bisa malah ia mendapat senyuman sinis dari Rama.


"Kenapa lo gak mau jawab? Lo ragu sama siapa tadi? Oh iya Ivan. Lo ragu ya sama Ivan?" tanya Rama yang terdengar mengejek.


"Bukan urusan kamu! Kembalikan buku saya dan kita mulai belajar!" Tegas Hanna.


"Ambil kalau lo bisa," tantang Rama.


Hanna tau Rama pasti akan terus mempermaikannya jika tidak mendapatkan apa maunya, pasti akan banyak cara yang Rama lakukan untuk itu.


"Mas Ivan orang baik-baik dan juga dia perkerja keras."


"Lo gak kenal dia Hanna." Rama menaikan satu alisnya.


"Memangnya kamu mengengenal Mas Ivan?"


"Gue emang gak kenal Ivan tapi gue pastikan, gue lebih tau dia dari pada lo." tunjuk Rama pada Hanna. Hanna tak terima dengan itu ia beranjak dari duduknya ia berdiri menatap Rama lebih tepatnya menantang Rama.


Mereka berdua tidak menyadari jika perdebatan mereka tengah di saksikan Mbok Nah yang berdiri tak jauh dari sana sedang membawa nampan berisi minuman beserta camilan.


"Setidaknya Mas Ivan jauh menghargai saya." Hanna begitu kesal.


"Oh ya?" Rama ikut berdiri dan keduanya kini saling berhadapan. "Sebelum lo semakin terluka lebih baik lo tinggalin dia."


"Memangnya siapa kamu berani menyuruhku meninggalkan Mas Ivan?" Hanna merasa kesal kehidupan pribadinya di usik oleh Rama yang tidak tau menahu tentang dirinya.


"Lo gak tau dia Hanna! Buka mata lo." Rama mulai kesal dengan Hanna yang terus membela Ivan yang jelas-jelas tidak mencintainya.


"Kamu yang tidak mengenal Mas Ivan dan jangan ikut campur urusan pribadi saya!"


Rama maju satu langkah dan Hanna mundur satu langkah, "Gue gak pernah ikut campur urusan orang lain terutama lo. Dan sekarang gue merasa menjadi orang bodoh yang harus ikut masuk ke dalam hubungan lo yang gak layak."


Rama semakin maju satu langkah dan Hanna otomatis mundur agar ia bisa menghindar dari Rama.


"Jaga bicaramu Rama. Kamu bukan siapa-siapa saya dan kamu juga sangat tidak pantas untuk mengucapkan layak dan tidak layaknya hubungan saya dan Mas Ivan." Tegas Hanna dengan amarah.


Ternyata bukan hanya Hanna yang terlihat marah, Rama juga demikian, ia merasa kesal pada Hanna.


Rama menghentikan langkahnya lantaran Hanna sudah berdiri tepat di tepi kolam, Hanna baru menyadari saat kakinya merasa basah terkena air kolam.


"Tapi lo layak bahagia Hanna." ucap Rama sebelum kembali melangkah.


Hanna pasrah jika dirinya tercebur kembali kedalam kolam renang, ia maju satu langkah belum tentu Rama mengijinkannya pergi, Hanna langkahkan kakinya ke belakang.


"Aaaaaaaa....."


......*****......


...**Jangan lupa Vote, like dan komen ya...


...Maaf kalau ada typo🙏**...