Hanna Rama

Hanna Rama
Tiga Puluh



Hey, apa kabar semua? Saya benar-benar minta maaf karena baru bisa up sekarang. Semoga kalian masih menunggu Hanna dan Rama. 😊


🌻🌻🌻


Dini hari, Rama dan Hanna memutuskan kembali ke ibukota setelah sedikit berdebat dengan kedua orang tuanya. Hanna yang bersikeras untuk tinggal lebih lama bersama sang ibu harus merelakan keinginannya lantaran sang ibu ingin Hanna kembali ke ibukota, tidak ingin jika Hanna harus ijin di awal masa kerjanya.


Dalam perjalanan, sesekali Hanna melirik pada Rama yang tengah fokus pada jalanan yang begitu lengah. Hanna terlihat cemas, ia khawatir dengan Rama yang hanya beristirahat sebentar dan kini harus kembali melakukan perjalanan jauh.


"Kenapa?" tanya Rama tiba-tiba yang ternyata dari tadi ia menyadari jika Hanna sesekali meliriknya.


Hanna terkejut dengan pertanyaan Rama, namun dengan cepat ia mencoba bersikap biasa saja.


"Memangnya saya kenapa?" bukannya menjawab, Hanna malah bertanya balik pada Rama.


Tidak ingin berdebat, Rama memilih diam namun dengan ujung bibir yang terangkat.


Perjalanan yang kemaren mereka tempuh selama enam jam lamanya kini hanya mereka tempuh selama tiga jam.


Mobil Rama berhenti di depan tempat kost Hanna, jika tadi Hanna mengatakan ia tidak akam mengajar mungkin Rama tidak akan membangunkan Hanna yang tengah terlelap.


"Hanna" panggil Rama dengan begitu lembut. Tidak ada tanda-tanda Hanna terusik dengan panggilan Rama.


Rama melepas sabuk pengamannya lantas mendekat pada Hanna dan mencoba membangunkan Hanna dengan menepuk pundak Hanna.


"Hanna, bangun." lembut Rama dengan tepukan pelan.


Hanna masih telihat begitu terlelap, Rama merasa tidak tega membangunkan Hanna lagi, masih dengan posisi menatap Hanna yang begitu terlelap, Rama mengusap anak rambut yang turun dan terlihat mengganggu tidur Hanna.


Tanpa Rama sadari ia tersenyum saat wajah Hanna sudah tidak terhalang anak rambut dan saat itu juga Hanna membuka mata.


Senyum Rama memudar, ia mematung begitu juga dengan Hanna yang hanya terdiam saat ia membuka mata ada sosok Rama tepat di hadapannya. Dengan jarak sedekat ini membuat Hanna kembali mengingat kilatan malam itu.


Hanna menegang, Rama yang tau jika Hanna terlihat begitu tegang dengan cepat kembali pada posisinya.


"Aku tunggu kamu disini, kita berangkat ke sekolah bersama." ucap Rama memecah keheningan tanpa menatap Hanna.


"Emh.." Hanna lantas turun dari mobil untuk segera bersiap kembali mengajar.


Keduanya berangkat bersama hingga sampai di tikungan terakhir menuju sekolah, Hanna memilih untuk turun di sana dan berjalan kaki menuju sekolah, ia tidak ingin di curigai oleh semua yang ada di sekolah jika ia turun dari mobil Rama.


Awalnya Rama menolak namun setelah sedikit berdebat dengan Hanna akhirnya ia mengalah dan mengikuti kemauan Hanna.


Memasuki halaman sekolah dan turun dari mobil, semua mata tertuju pada sosok Rama yang keluar dari mobil Raka.


Setelah melihat Hanna memasuki halaman sekolah barulah Rama berjalan menuju ruang kelas.


"Dimana Raka?" tanya Rama pada salah satu siswa yang baru keluar dari ruang kelas Raka.


Jika seperti ini mungkin akan ada keributan yang terjadi, meski ragu tapi siswa tersebut memberi tahu Rama dimana Raka berada.


"Tadi gue liat dia jalan menuju atap gedung."


Rama beranjak pergi menuju atap gedung dimana Raka berada.


Pintu terbuka, sosok yang Rama cari tengah berdiri sendirian dengan sebatang rokok yang sedang ia hisap.


"Udah balik lo?" sambut Raka.


Rama berjalan mendekat pada Raka dan berdiri sejajar. Raka merogoh saku celana lantas menawarkan rokok pada Rama yang lantas di ambil satu batang rokok tersebut dan ia nyalakan.


Jika orang lain melihat mungkin ini adalah sebuah keajaiban namun inilah yang tejadi mereka berdua tidak akan terlihat dekat di depan semua orang.


"Nyokap hubungi lo gak semalam?"


"Iya,"


"Lantas?" Rama penasaran apa alasan yang Raka buat pada mamanya.


"Kalau lo gak percaya sama gue kanapa minta tolong ke gue."


Rama menoleh pada Raka dengan ekspresi kesalnya.


"Ini kunci mobil lo." Rama berikan kunci mobil yang sudah ia pinjam pada sang pemiliknya.


Rakapun mengembalikan kunci motor Rama, "Gue gak nyangka ternyata guru baru itu begitu berarti buat lo." celetuk Raka.


Sontak Rama meraih kerah Raka dengan tatapan nyalangnya, sementara Raka hanya tersenyum dengan apa yang tengah Rama lakukan padanya.


"Lo..." Ucap Rama penuh dengan penekanan.


Raka mencoba melepas cengkeraman Rama tanpa ada ekspresi emosi sama sekali.


"Jika dia begitu berarti, lo pasti tau apa konsekuensinya kan?"


Mendengar ucapan Raka, Rama hanya diam dan mencerna apa yang baru saja Raka ucapkan. Baru melangkahkan kaki, Raka kembali berdiri dan menoleh pada Rama.


"Gue bisa pastikan, lo akan mati-matian buat ngelindungi dia."


Tidak menunggu Rama membalas ucapanya, Raka sudah berlalu sebelum menghilang di balik pintu Raka berterian dengan kerasnya.


"Selamat berjuang Rama. Hahahaha...."


Raka sudah benar-benar tidak terlihat, menyisakan Rama sendirian.


"Thanks Rak." ucap Rama lantas menginjak puntung rokoknya dan pergi dari sana.


🌻


Guru di depan sudah beberapa kali meminta Mario membangunkan Rama namun sudah pasti Rama tidak bergeming hingga mereka membiarkan begitu saja.


Jam pelajaran sudah berganti, kini giliran Hanna yang mengisi di kelas Rama. Melihat Hanna masuk, Mario kembali mendekati Rama namun di tegur oleh Hanna.


"Biarkan saja, Mario. Mungki dia lelah." ucap Hanna.


Mungkin itu balasan yang bisa Hanna berikan pada Rama, ia merasa tak tega membangukan Rama. Pasti ia benar-benar lelah dan butuh waktu istirahat.


Bel istirahat berbunyi, Hannapun mengakhiri pembelajaranya lantas mempersilahkan semua siswa untuk istirahat. Semua siswa satu persatu keluar kelas hingga menyisakan Rama yang masih tertidur di bangkunya.


Perlahan Hanna mendekat, ia merasa bersalah setelah melihat Rama begitu pulas tertidur, pasti Rama begitu lelah.


Hanna begitu intens memperhatikan Rama yang bernafas dengan begitu teratur, tidak ingin Rama terganggu Hanna memilih untuk meninggalkannya namun langkahnya terhenti saat tangannya di pegang oleh Rama.


Hanna memutar badannya cepat dan saat itu ia melihat Rama yang baru membuka matanya dan perlahan duduk dengan tegap.


"Kamu," Ucap Hanna sedikit panik lantaran Rama yang tiba-tiba bangun.


"Kemana anak-anak?" Tanya Rama yang mendapati kelasnya begitu sepi.


"Mereka semua sudah istirahat." ucap Hanna lantas melepaskan tangannya dari cekalan Rama.


Raut Rama seketika berubah, ia merasa heran kenapa tidak ada yang membangukannya. Bahkah Hanna biasanya akan mengomel di dalam kelas, kenapa tidak membangunkannya.


"Kenapa gak ada yang bangunin?" heran Rama.


Hanna mengalihkan pandangannya kesegala arah, ia tadi yang melarang Mario membangunkan Rama. Hanna berfikir sejenak sebelum menjawab, ia tidak ingin Rama kembali seenaknya.


"Tadi Mario sudah membangunkan kamu tapi kamu tidak bangun juga."


Rama mengernyitkan dahinya, ia merasa tidak percaya dengan apa yang Hanna ucapkan, tidak mungkin ia tidak bangun jika Hanna yang masuk ke dalam kelasnya.


"Benarkah."


"Kalau kamu tidak percaya silahkan tanya Mario." Tegas Hanna. Apa Hanna terlihat jelas jika berbohong.


"Lantas kenapa kamu masih disini?" Lagi Rama memberi pertanyaan yang membuat Hanna harus mencari alasan yang masuk akal.


"Emh..... Ini." Hanna memberikan sebuah buku pada Rama. "Kerjakan soal di halaman 108 sampai 109 sebagai hukuman kamu tidur waktu pelajaran."


Rama mengambil buku yang Hanna berikan dan lantas membuka halaman 108 yang ternyata berisi 40 soal. Seketika Rama membelalakan mata tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Besok saya tunggu di meja saya." Lanjut Hanna "Dan terimakasih atas bantuannya kemarin."


"Tunggu," kembali Rama mencekal tangan Hanna. "Apa hanya ucapan terimakasih saja?"


Hanna mengernyit tidak mengerti maksud perkataan Rama.


"Bukankah ucapan terimakasih tidaklah cukup."


"Apa maksud kamu, saya tidak mengerti!" tegas Hanna dengan menghentakan tangannya berharap bisa lepas dari cekalan Rama.


Bukannya lepas malah Rama menarik Hanna hingga membuat jarak keduanya begitu dekat dengan Rama yang duduk di kursinya dan Hanna berdiri membungkuk di depannya, mungkin jika tidak ada meja, Hanna sudah mendarat pada Rama.


"Baiklah saya akan traktir kamu makan."


Rama menarik sudut bibirnya, ia merasa jika Hanna begitu lucu jika sedang panik.


"Lepas Ram." Rengek Hanna.


"Tanpa kamu traktir, aku masih bisa makan." ejek Rama.


"Iya, saya tau, lantas apa yang harus saya lakukan?" kesal Hanna.


"KEMBALI JADI GURU LES KU!"


Deg...


Hanna terdiam beberapa saat, ia masih mencerna apa yang Rama minta.


Kembali Rama menarik Hanna semakin dekat, hanya beberapa inci saja wajah keduanya bisa bersentuhan.


Diluar terdengar suara siswa-siswi yang tengah bercanda. Hanna mulai panik, jika ada yang melihatnya bersama Rama seperti ini, bisa di pastikan namanya akan jadi bahan perbincangan di setiap sudut sekolah.


"Rama, lepas," Geram Hanna.


"Gak akan sebelum kamu jawab!"


"Ram, mereka bisa salah paham."


Suara di luar semaki dekat dan Rama masih menahan Hanna, tidak ada rasa was-was atau semacamnya. Berbeda dengan Hanna yang sudah sangat panik.


"Baiklah, saya terima tawaran kamu dan lepaskan saya."


Rama tersenyum penuh kemenangan.


...****...


...Maaf jika ada typo,...


...Jangan lupa like, vote dan komen 🙏...