Hanna Rama

Hanna Rama
Dua Satu



Maaf semuanya, sebenarnya part ini bukan telat up cuma reviewnya lama dari manga dan pada akhirnya di tolak, hingga aku buat revisi semoga kali ini tidak di tolak. Maaf kalau nantinya jadi agak gak nyambung ya, karena sebagian aku hapus. 🙏


🌻🌻🌻


Cangkir air mineral telah berada di atas meja sementara dua anak manusia itu kini tengah bertukar saliva. Pertama kalinya untuk Hanna, ia tidak menyangka jika ia terbuai oleh seorang Rama Gibran Wijaya yang notabennya adalah muridnya.


Rama mencium Hanna penuh dengan kelembutan, cukup lama Rama mencium Hanna. Tanggan Hanna mencengkeram baju Rama kuat, jantungnya berdebar kecang. Sampai ia merasa kehabisan pasokan oksigen, menyadari itu Rama melepaskan ciumannya.


Rama usap bibir Hanna yang terlihat merona dengan ujung ibu jarinya. Mata keduanya saling menatap dengan begitu intensnya.


Hanna mulai berfikir jika semua ini salah, ia segera mengalihkan pandangannya ke sembarang arah selama tidak bertatapan dengan Rama. Hanna berdiri ingin menjauh dari Rama, namun dengan cepat Rama tahan tangan Hanna lantas Rama berdiri mensejajarkan posisinya berhadapan dengan Hanna.


Kembali dua nektar insan terpaut usia empat tahun itu saling menatap penuh dengan bermacam perasaan.


"Gue suka sama lo, Hanna. Dan gue yakin gue juga sayang sama lo." Ucap Rama penuh dengan perasaan.


Hanna hanya bisa diam menatap Rama, ia ingin memastikan jika Rama tidak sedang bercanda. Hanna hanya diam di tempat masih menatap Rama hingga tanpa sadar diluar sana ada kilatan petir di sertai gemuruh yang membuat Hanna menjingkit kaget dan memejamkan matanya.


Baru akan membuka mata, namun tangan Rama sudah menyentuh tengkuk Hanna dan kembali ia tautkan bibirnya. Lagi, Rama melakukan dengan sangat lembut, jantung keduanya berdetak lebih cepat.


Perlahan Rama bawa Hanna melangkah menuju kamarnya, masih dengan bibir yang tertaut penuh dengan ******* dan perlahan tangan Rama mulai menyentuh dada Hanna.


"Eeemmmhhh..." Hanna melenguh.


Hanna tidak seharusnya pasrah namun kini yang terjadi Hanna mengalungkan tangannya di leher Rama, ia yang awalnya begitu kaku namun dengan cepat ia bisa membalas Rama.


Mendapat balasan dari Hanna membuat Rama tersenyum di sela-sela pergulatan lidah mereka.


Tidak, ini tidak boleh terjadi, Hanna menggelengkan kepalanya saat tau apa yang akan Rama lakukan padanya.


"Rama jangan." Mohon Hanna. "Ini tidak boleh terjadi." Hanna ingin Rama memahaminya namun semua sudah terjadi, Rama seakan tuli lantaran sudah berselimut gairah.


Di beberapa bagian tubuh Hanna sudah terdapat jejak yang Rama tinggalkan. Yang ada di benak Rama saat ini adalah Hanna adalah miliknya dan selamanya akan menjadi miliknya. Ia akan memastikan jika Hanna akan selalu berada di sampingnya.


Hanna menggeleng merasakan sakit yang ia rasakan, air matanya bahkan sudah mengalir membasahi sisi wajahnya. Rama berhenti ia sadar akan sesuatu, ia pejamkan matanya sejenak, saat ia membuka mata, ia tatap Hanna penuh dengan penyesalan. Rama tidak tau jika Hanna ternyata masih menjaga mahkotanya, ia tidak menyangka jika Hanna memang benar-benar wanita baik-baik.


Rama cium kening Hanna. "Maaf,,,,"


Rama cium pipi Hanna. "Maaf..."


Rama kecup bibir Hanna singkat. "Maaf..."


Mendengar Rama meminta maaf padanya membuat Hanna semakin derasa mengeluarkan air matanya. Rama yang menyesal tapi semua sudah terjadi, ia tidak bisa mengembalikan semua keposisi semula.


Kini Rama peluk Hanna kuat dan ia lesatkan dibawah sana hingga Hanna memekik merasakan sakit serta Rama yang menyengir menahan rasa sakit pada punggungnya karena kuku Hanna tangah menancap di sana.


Hujan masih belum meberikan tanda-tanda akan mereda, suara gemuruh di luar sana bepadu dengan suara percinataan mereka. Rama bukan cuma seorang siswa yang di sebut anak-anak namun kini Hanna bisa melihat jika Rama adalah seorang laki-laki.


Kedua kalinya Hanna merasakan pelepasannya, dan sudah beberapa kali ucapan cinta dan sayang keluar dari bibir Rama.


Sementara itu Dinar merasa khawatir pada Hanna yang ternyata belum pulang, tidak biasanya Hanna tidak pulang dan lagi, Hanna tidak bisa di hubungi. Dinar tidak tau harus mencoba menghubungi siapa dan tidak mungkin mencari Hanna di saat hujan lebat di tengah malam.


Dinar hanya mondar-mandir di dalam kamar kostnya berharap tidak ada hal buruk terjadi pada Hanna. Seharusnya Hanna sudah tiba lebih dulu darinya dan siapa yang sudah menelfon Hanna. Dinar begitu khawatir sampai ia terlelap dengan tangan memegang ponsel yang masih memperlihatkan nama Hanna dalam panggilannya.


Hanna masih berada di bawah kungkungan Rama, entah Hanna yang sudah merasakan nikmat atau memang sudah tidak ada air mata yang ia keluarkan lagi. Hanya ******* yang menggema di dalam kamar Rama yang hanya di terangi lampu tidur saja. Rama telah sampai pada puncaknya, ia masih bisa berfikir untuk tidak sampai meninggalkan benihnya di dalam rahim Hanna.


Hanna terbaring lemah di atas ranjang Rama, setelah Rama membersihkan sisa pelepasannya, ia kembali naik ke atas ranjang, ia tarik selimut yang sebagian terjatuh ke lantai lantas ia ikut berbaring di samping Hanna.


Hanna memilih untuk membelakangi Rama, ia merasakan tubuh polosnya di selimuti oleh Rama. Tangan Rama mulai melingkar pada perut Hanna. Hanna menegang, ia tidak bisa membayangkan jika Rama akan kembali menyentuhnya. Ia masih merasakan ngilu di bawah sana.


Apa yang Hanna pikirkan tidak terjadi, Rama hanya memeluknya meski dengan sesekali ia ciumi tulang selangka Hanna.


"Mulai hari ini aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu." Janji Rama pada Hanna.


Untuk pertama kalinya Hanna mendengar Rama mengganti panggilannya, mungkin Hanna tercengang dengan itu namun di sisi lain ia merasa senang dan janji Rama seakan membuatnya tenang.


"Karena ucapan maaf hanya akan menganggap semua yang terjadi adalah luka, aku ingin semua ini menjadi awal. Aku harap kamu percaya padaku, Hanna. Aku benar-benar menyayangimu."


Hanna hanya bisa diam namun entah kenapa air matanya kembali jatuh, haruskah ia percaya pada laki-laki yang masih berstatus pelajar. Dan jika ia pergi begitu saja akankah ada orang di luar sana yang masih mau menerimanya yang sudah tidak suci lagi.


"Aku memang masih seorang pelajar, tapi kini aku akan bersungguh-sungguh dengan apa yang akan aku lakukan untuk masa depanku dan juga kamu." Seakan Rama bisa mendengar isi pikiran Hanna.


Tidak ada jawaban apapun dari Hanna hingga keduanya terlelap bersama di bawah selimut yang sama.


"Aaakkkkhhh...." Pekikan Hanna membuat Rama terbangun.


Diluar sana matahari sudah menampakkan sinarnya, Hanna sebenarnya ingin bangun tanpa membangunkan Rama namun saat ia akan bergerak bangun, rasanya nyeri itu masih amat terasa.


Pipi Hanna merona lantaran malu mendengar pertanyaan Rama, haruskah ia menjelaskan pada Rama padahal ia yang membuatnya merasakan sakit.


Setelah beberapa detik barulah Rama sadar akan pertanyaan bodohnya, ia bahkan memepuk jidatnya sendiri.


"Maaf. Maksudku, kamu mau kemana?"


"Saya mau bangun." ucap Hanna namun dengan mata yang tidak mau menatap Rama.


"Aku akan membantumu." ucap Rama yang lantas turun dari tempat tidur dan mengambil celananya yang tergeletak di lantai.


Hanna terkejut melihat Rama tanpa malu keluar dari selimut tanpa apapun, Hanna malah merasa malu dan segera mengalihkan pandanganya.


Setelah memakai celananya, Rama mendekat pada Hanna, ia akan membantu Hanna ke kamar mandi. Rama mengulurkan tangannya akan membuka selimut Hanna namun tangan Hanna menahannya. Ia masih punya malu untuk menunjukan tubuh polosnya.


Rama benar-benar terlihat bodoh, ia tatap Hanna mencoba mendapatkan alasan. "Ya tuhan." Rama menunduk lantas tersenyum pada dirinya sendiri. Ia baru sadar jika Hanna merasa malu.


Rama angkat tubun Hanna yang masih terbalut selimut lantas ia bawa Hanna ke kamar mandi, dengan sangat hati-hati, ia dudukan Hanna di atas closet.


"Kamu bisa keluar sekarang." ucap Hanna yang lantas membuat Rama melangkah keluar kamar mandi.


"Tunggu," tahan Hanna yang sontak menghentikan langkah kaki Rama dan kembali memutar badannya.


Hanna ragu namun hanya ada Rama di sana, siapa lagi yang harus ia mintai tolong selain Rama. "Tolong ambilkan bajuku." ucap Hanna malu "Kamu bisa menarunya di depan pintu." lanjutnya yang lantas menutup pintu.


Rama hanya bisa tersenyum, ia tidak menyangka jika Hanna yang terlihat dewasa selama ini bisa terlihat menggemaskan juga.


"Kenapa kamu pakai acara malu segala, padahal aku sudah tau semuanya." Rama bicara sendiri saat mengambilkan Hanna baju ganti.


Rama menoleh pada ranjang yang begitu berantakan dan sudah menjadi saksi pergulatannya. Bercak noda darah itu masih terlihat jelas di atas sepre, tidak ingin Hanna merasa sedih, dengan segera Rama ganti seprenya dengan yang bersi setelah ia meletakan baju ganti Hanna di depan pintu.


Kini semua telah bersih baik Hanna maupun Rama. Rama yang ternyata begitu perhatian pada Hanna meminta Hanna untuk duduk saja di sofa sembari menunggu Rama menyiapakan sarapan untuk mereka.


Tadi Rama sempatkan belanja keperluan dapur di swalayan dekan apartemenya, ia ingin memasak untuk Hanna meski hanya menu sederhana. Sesekali Hanna mencuri pandang pada Rama yang tengah beraksi di dapur.


Setelah semua siap Rama meminta Hanna untuk berpindak ke meja makan untuk mengisi perutnya yang pasti sudah sangat lapar. Keduanya mulai menikamati sarapan, Hanna tiba-tiba terhenti dan menatap Rama.


"Kenapa? Gak enak ya?" tanya Rama yang sedikit panik.


Hanna menggeleng, ia telan makanan yang ada di dalam mulutnya baru ia bisa bicara. "Kamu gak sekolah?" Hanna baru sadar jika seharusnya Rama sudah berangkat sekolah tapi ia malah disini bersamanya.


Rama tersenyum penuh arti pada Hanna, "Gak usah panik, aku sudah ijin kalau lagi gak enak badan."


"Tapi..."


"Udah, lanjutin makannya, gak usah khawatir, apa aku harus ijin karena sedang menjagamu yang sakit."


Hanna seketika menunduk dengan pipi kembali merona, ia hanya bisa melanjutkan menyantap sarapannya.


Setelah selesai sarapan, barulah Hanna ingat akan ponselnya yang tidak terlihat sejak semalam, ia mencari di dalam tasnya. Ia lupa jika dari semalam ia mematikan ponselnya. Saat ia nyalakan ponselnya begitu banyak pesan singkat dari sang sahabat, Dinar. Hanna segera menghubungi Dinar, benar saja Dinar masih terdengar sangat khawatir, setelah Hanna membuat penjelasan yang masuk akal untuk di terima Dinar, barulah sambungan telefon terputus.


Beberapa hari sudah berlalu, Hanna yang merasa belum bisa bertemu Rama kembali, ia menghubungi Mama Rama dan mengatakan jika dirinya merasa tidak enak badan jadi tidak bisa datang untuk mengajar Rama.


Rama yang mengetahui itu dari Mamanya merasa khawatir namun ia lebih mengerti alasan Hanna yang mungkin masih merasakan sakit jadi Rama tidak memaksa Hanna datang kerumahnya, malah kini Rama yang mengunjungi Hanna dan selalu mencoba berkomunikasi dengan Hanna melalui pesan singkat serta telefon.


Setelah satu minggu, Hanna mengatakan pada Rama jika dirinya akan kembali mengajar, jadi Rama tidak perlu datang ke kostnya, dan ia meminta Rama untuk menunggu di rumah saja.


Rama begitu senang, sepulang sekolah ia langsung pulang, bersiap bertemu dengan Hanna. Mama Rama yang baru pulang dua hari lalu merasa heran dengan putranya yang tiba-tiba semangat belajar.


"Kamu mau kemana?" tanya sang mama


"Belajar lah ma."


"Dimana?"


"Dirumah. Mama lupa ya kalau udah maksa Rama les privat."


"Mama belum kasih tau kamu ya, kalau Bu Hanna sudah mengundurkan diri menjadi guru les mu."


Rama diam mencoba mencerna ucapan sang Mama.


...*****...


...Kali ini special aku buat panjang, semoga kalian semua suka dan jangan lupa, vote, like dan komen ya....


...Maaf kalau ada typo 🙏...