
🌻🌻🌻
Lagi Hanna di buat kesal dengan Rama, saat Hanna menjelaskan materi sesekali Rama menutupi hidungnya. Perasaan Hanna bercampur aduk antara kesal dan malu.
Sebelum pulang, Hanna menerima pesan dari Ivan jika akan menjemput Hanna, ada perasaan senang tapi Hanna harus ingat jika dirinya sedang bau keringat. Hanna memilih untuk pulang sendiri saja, ia tidak percaya diri untuk bertemu dengan Ivan.
"Mas Ivan," Sapa Hanna terkejut saat mendapati tunangannya sudah menunggu di depan kost Hanna. "Sudah lama ya, maaf ya aku baru sampai. Mari silakan masuk Mas." Lanjut Hanna sembari membuka gerbang dan mempersilahkan Ivan untuk duduk di kursi yang sudah di sediakan di teras kost Hanna.
Ivan mengikuti Hanna dan juga duduk di sana, "Maaf mas, aku mandi dulu ya?" ucap Hanna.
"Oh iya, silakan." balas Ivan dengan senyum merekahnya.
Hanna segera masuk ke dalam kamar kostnya, ia segera membersihkan diri. Belum juga selesai menggosok badannya dengan sabun, Hanna sudah mendengar suara dari luar.
"Di depan itu si Ivan ya?" ucap Dinar yang baru datang dan langsung bicara pada Hanna.
"Iya Din, bentar lagi aku kenalin ya,"
Dinar mencebik, iya tidak mengiyakan dan tidak menolak, entah kenapa sejak melihat Ivan di acara wisuda Hanna, Dinar sudah mulai merasa ada gelagat aneh dari Ivan tapi Dinar tidak mau mencampuri urusan pribadi sahabatnya selama Hanna masih merasa baik-baik saja.
Hanna keluar dari kamar mandi dengan mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handuk lantas duduk di depan meja rias.
"Cie yang mau kencan sama tunangan" goda Dinar saat Hanna mulai mengoles cream wajah.
"Apaan sih kamu Din,"
"Mau kencan kemana kamu sama Ivan?"
Hanna terdiam, ia juga merasa bingung, Ivan tidak bicara untuk mengajaknya kencan tapi kenapa dirinya seolah akan di ajak kencan oleh Ivan.
Dinar masih menunggu jawaban dari Hanna.
"Terserah Mas Ivan." jawab Hanna yang begitu ragu lantas kembali melanjutka mengoles cream wajah.
Setelah selesai, Hanna mengajak Dinar untuk berkenalan pada tunanangannya tapi Dinar tidak mau, ia beralasan lelah lantaran baru pulang kerja. Jadi Hanna tidak memaksa Dinar dan memilih menemui Ivan sendirian.
"Maaf Mas Ivan harus nunggu lagi." ucap Hanna lantas duduk di depan Ivan.
"Gak papa kok Han."
Setelah diam beberpapa menit dan tidak ada yang mereka bicarakan, Ivan memulai pembicaraan.
"Gimana pekerjaan kamu?"
"Emh,, baik-baik aja." Hanna bingung harus menjawab apa, Hanna pura-pura saja semua baik-baik saja, karena ia hanya butuh bertahan selama satu bulan.
"Oh ya Mas, tadi malam Mas Ivan lewat depan sini?" Tanya Hanna, ia ingin memastikan jika Dinar salah melihat orang.
"Ng-gak. Aku sibuk di kantor." jawab Ivan tapi terlihat jelas dari rauh wajah Ivan yang seolah sedang menyembunyikan sesuatu. "Emang kenapa?"
"Gak papa sih, berarti aku salah orang, aku pikir kamu mas." Hanna tidak ingin menyebut nama sahabatnya, ia tidak ingin kesalah lihatan Dinar menjadi permasalahan antara Dinar dan Ivan.
"Oh ya mas Ivan sudah makan?"
"Belum, kamu sendiri?"
"Aku juga belum."
"Kita delivery order aja ya, Mas capek mau jalan."
"Oh iya mas." Hanna pikir ia akan keluar bersama Ivan tapi ternyata tidak, ada rasa kecewa pada Ivan. Tapi Hanna bisa apa, ia hanya menerima saja.
Kini keduanya telah menikamati makanan cepat saji yang sudah datang. Lagi tanpa banyak pembicaraan. Hanna jadi berfikir selama ia melihat Dinar dan pacarnya sedang kencan mereka terlihat benar-benar seperti pasangan, sedangkan dirinya dan Ivan yang jelas-jelas sudah bertunangan malah terlihat seperti orang yang baru kenal.
Dinar yang berguling-guling di atas tempat tidur terkejut dengan masuknya Hanna yang begitu tiba-tiba.
"Udah pulang?" Tanya Dinar
"Udah." Jawab Hanna lesu
Malah Hanna yang merebahkan diri di atas tempat tidur, "Gak kemana-mana." Jawab Hanna lesu.
"Apa? Serius?" Dinar memastikan.
"Iya serius Din, udah aku capek mau tidur." pamit Hanna.
Hanna tidur dengan membelakangi Dinar, sang sahabat tau jika Hanna tidak benar-benar tertidur.
"Mimpi indah Hanna." ucap Dinar yang tidak mendapat sahutan dari Hanna.
🍀🍀🍀
Hanna yang kali ini sedang tidak mangajar Rama memilih menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan di sekitaran kostnya, tidak jauh dari sana ada taman kecil yang sering di jadikan area bermain anak-anak bersama orang tuanya. Saat sore hari taman disana cukup ramai bahkan banyak ibu-ibu yang juga berkumpul di sana saling bercanda satu sama lain sembari mengawasi putra putri mereka.
Hanna memilih duduk di kursi taman yang terletak di bawah pohon rindang jadi cukup teduh untuknya, ia duduk sembari melihat anak-anak yang sedang bermain serta orang tua yang berkumpul. Tangannya sudah memegang es krim coklat yang begitu segar.
"Enak kali ya punya anak, jadi gak kesepian." celoteh Hanna sendirian, mungkin jika orang lain ada yang melihat pasti mengira Hanna kerasukan jin pohon.
Kembali Hanna menjilat es krimnya, tapi matanya memincing saat di sebrang sana Hanna seperti melihat Ivan yang sedang mengaitkan helm pada seorang wanita.
Hanna mengucek matanya untuk memastikan tapi semakin tidak terlihat karena sosok yang jauh di sebrang sana sudah membelakangi Hanna.
Hanna mulai ragu dengan Ivan. Es krim yang ia genggam sampai menetes membasahi tangannya sehingga membuat Hanna tersadar.
🍀🍀🍀
Rama yang tau hari ini tidak ada les memilih mengunjungi apartementnya yang sudah satu minggu lebih tidak ia kunjungi. Ruangan yang begitu bersih dan Rapi lantaran tidak ada orang yang kesana bahkan Rama sendiri tidak pernah mengajak teman-temannya berkunjung ke apartementnya.
Rama lempar tas sekolahnya di atas ranjang, lantas ia menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur, ia pandang langit-langit kamarnya, ia miringkan badannya agar bisa meraih nakas, ia buka laci teratas, ia ambil sebuah bingkai yang terdapat foto keluarganya, ada Rama yang terlihat tersenyum lebar, sepertinya ia masih berusia dua tahun serta Bian yang berdiri tegap serta mama dan papanya yang terlihat tersenyum.
"Apa saat itu kita benar-benar bahagia?" Rama berbicara pada foto yang masih ia tatap.
Setelah berdiam diri di dalam apartemennya selama kurang lebih satu jam, Rama merasa bosan, ia mengambil ponsel yang ada di sakunya. Ia mulai mencari kontak yang ingin ia hubungi, ingin ia ajak bersenang-senang.
Ada nama yang sedang ia cari, "Hanna" "bu Hanna" "guru les." tapi tidak ada yang muncul.
"Oh ****.." Kesal Rama ia baru ingat jika ia tidak pernah memiliki nomer ponsel Hanna.
Rama memilih pulang, ia sudah mengendarai motor spotnya dengan kecepatan sedang lantaran jalanan cukup ramai.
Rama menyusuri jalan-jalan di ibukota, sepertinya ia ingin sampai rumah lebih lama, Rama bahkan mengikuti jalan yang tidak terlalu ramai. Ia melihat kubangan air, muncul ide untuk membuat cipratan lantaran di samping jalan sedang tidak ada orang lewat. Ia tarik gas, motor melaju cepat dan air yang menggenang menyiprat ke sisi kanan dan kiri jalan, Rama terlihat senang tapi tidak dengan orang yang baru keluar dari toko di kanan jalan.
"Aaaaa." air mengguyur badannya, bajunya menjadi basah.Tidak lain orang itu adalah Hanna yang baru keluar dari toko kelontong membeli mie instan.
"Dasar kurang ajar." Teriak Hanna.
Samar-samar Rama mendengar teriakan, ia melihat dari spion motornya, "****.." ia mengumpat di balik helmnya, sayangnya ia tidak melihat wajah Hanna lantaran Hanna sedang menunduk membersihkan bajunya.
Karena jalanan yang tidak begitu ramai, Rama segera berputar balik dan menghampiri seorang wanita yang tanpa sengaja ia ciprati air.
Hanna yang masih menunduk, ia melihat ada motor yang berhenti di depannya, ia yakin kalau ini adalah motor yang tadi membuatnya basah dan kotor. Hanna mendongak tepat saat pemilik motor membuka helm.
"Ma~" Ucap Rama yang seketika tau siapa sosok di depannya.
"Rama." Kesal Hanna.
****
Mau cuap-cuap disini, buat kalian yang sudah mengikutiku dari sebelah, saya ucapkan terimakasih banyak karena akunku yang di sebelah sudah ke report dan hilang. Aku suduh buat akun lagi dengan nama sasanadipaa semoga tidak hilang.
maaf jika cerita di part ini amburadul, soalnya aku masih sedih mengingat akunku hilang.
Aku jadi berfikir, apa sebaiknya Kania aku lanjutkan di sini saja ya? mohon pendapat kalian. 🙏
Maaf jika ada typo