Hanna Rama

Hanna Rama
Dua Puluh



🌻🌻🌻


Rintik hujan mulai membasahi jalanan ibukota di tengah malam yang dingin. Rama menambah kecepatan motornya, Hanna yang juga merasakan tetesan air hujan memilih mengeratkan tangannya serta menyandarkan kepalanya pada punggung Rama.


Sudah cukup kencang laju motor sport Rama namun lebih cepat air yang turun dari langit. Derasnya hujan membuat jarak pandang Rama tidak bisa jauh jadi ia menurunkan kecepatan motornya.


Sudah bisa di pastikan jika mereka sudah basah kuyup bahkan Rama bisa merasakan tangan Hanna yang melingkar di perutnya sudah gemetar karena dingin.


Perjalanan menuju kost Hanna masih sekitar setengah jam lagi, dan hujan semakin deras di sertai petir. Tanpa meminta persetujuan Hanna, Rama memilih berbelok ke arah lain.


Rama sudah menghentikan motornya di sebuah basemen gedung. Hanna mengira ia telah sampai di tempat kostnya namun saat mendongak ia baru sadar ia ada di basemen sebuah gedung.


"Kita dimana?" tanya Hanna dengan bibir yang bergetar karena kedinginan.


"Ini apartemen gue, kita istirahan disini dulu sampai hujan bener-bener reda dan lo bisa ganti baju." ucap Rama.


Hanna turun dari motor Rama lantas melepas helmnya disusul dengan Rama yang turun dari atas motornya dan membuka helm full facenya.


Tidak masalahkan jika hanya kerumah pria untuk berteduh? Dan lagi Hanna sudah benar-benar kedinginan. Rama segera mengajak Hanna memasuki gedung apartemen.


Hanna di buat tercengang saat memasuki sebuah apartemen, ini pertama kalinya ia memasuki apartemen dan lagi ia bersama seorang pria. Lagi-lagi ia berfikir positif jika dirinya hanya berteduk di sini.


Rama memberika handuk kering pada Hanna, "Buruan keringin badan lo sebelum lo sakit dan ini bisa lo pake." Rama menyerahkan sebuah paper bag yang begitu tidak asing di mata Hanna.


Perlahan Hanna ambil paper bag tersebut dan ia buka ternyata isinya masih sama, baju yang pernah ia pakai dan sempat Rama minta untuk di buang. Ia tidak menyangka jika Rama tidak membuangnya dan ternyata masih berada di dalam paper bag.


"Buruan lo ganti baju. Di situ kamar mandinya." tunjuk Rama pada salah satu pintu di sisi kanan Hanna.


"Saya permisi dulu." ucap Hanna lantas melangkah menuju kamar mandi.


Sementara Rama memilih berganti baju di kamarnya. Tidak butuh waktu lama untuk Rama berganti baju, saat ia keluar dari dalam kamar, ia masih tidak mendapati Hanna di manapun dan pintu kamar mandi yang masih tertutup.


Rama berjalan menuju kichen, ia buka tiap laci serta kabinet di sana namun tidak ada sesuatu yang bisa ia temukan kecuali beberapa botol minuman beralkohol. Rama memilih membuka lemari pendingin dan sama saja, tidak ada yang bisa ia berikan pada Hanna kecuali air mineral.


Karena tidak ada pilihan lain jadi Rama memilih memanaskan air mineral, mungkin bisa sedikit membantu menghangatkan tubuh Hanna.


Sementara itu Hanna masih begitu kebingungan, karena semua sudah basah dan tidak mungkin ia meminta Rama untuk membelikan dalaman. Hanna masih mondar mandir di dalam kamar mandi, memang yang ia kenakan adalah hodie dan celana trening yang cukup over size untuknya mungkin dulu ia bisa menutupinya dengan tas namun kini tasnya juga sudah basah kuyup.


Pelan-pelan ia membuka pintu setelah ia merasa tidak terlalu ketara, karena ia juga tidak ingin berlama-lama di dalam kamar mandi.


Baru keluar kamar mandi, kedua iris Hanna bertemu dengan Rama yang juga sedang menatapnya dari kichen. Entah kenapa Hanna merasa salah tingkah saat mata mereka saling bertemu.


Hanna berdehem guna menghilangkan rasa canggungnya. Sementara Rama yang sudah menghangatkan air mineral, berjalan mendekat pada sofa yang ada di tengah ruangan dengan membawa dua cangkir di tangannya.


"Silakan duduk."


Hanna melangkah menuju sofa lantas menjatuhkan bokongnya ke atas sofa. Rama menyerahkan satu cangkir pada Hanna.


"Sorry, gue cuma punya air mineral, mungkin bisa sedikit menghangatkan tubuh lo."


"Makasih." Ucap Hanna yang sudah mengambil cangkir berisi air mineral dari tangan Rama.


Benar saja, cangkir yang hangat membuat tangan Hanna yang masih merasa dingin kini sudah lebih hangat. Hanna cecap air hangatnya, ia merasa lega karena tubunnya bisa merasa hangatnya air yang mengalir ke dalam tubuhnya.


Rama berdemeh sebelum mebuka suara, ia ingin mencairkan suasanya yang terkesan dingin dan canggung. "Sorry ya." hanya itu yang keluar dari mulutnya.


"Gak pa-pa Ram, saya terimakasih sudah bisa berteduh di sini." sahut Hanna yang masih tidak mengerti maksud ucapan Rama.


"Bukan itu." Rama kini mencoba lebih mendekat pada Hanna. "Sorry, karena gue, lo harus di permalukan di depan teman-teman lo." ucap Rama penuh denga penyesalan.


Hanna kembali menunduk, awalnya ia sudah sedikit lupa namun Rama kembali mengingatkannya. Namun ia juga merasa tidak enak saat ia mendengar permintaan maaf Rama yang terdengar begitu tulus.


Hanna angkat kepalanya, ia tatap Rama dengan senyum yang ia buat seolah semua baik-baik saja. "Gak pa-pa Ram, bukan sepenuhnya salah kamu kok. Jadi sekarang Dinar dan anak-anak lain tidak akan memaksa saya ikut acara seperti itu lagi." Ucap Hanna berusaha tegar.


"Kenapa lo gak lawan dia tadi?" Rama merasa penasaran dengan Hanna.


"Karena yang dia ucapakan tidak sepenuhnya salah. Dan lagi saya tidak akan bisa melawan dia."


"Lo harus lawan dia Hanna." Rama tatap Hanna dengan begitu serius. "Dia gak tau apa-apa dan bicara sok tau. Dan yang dia bicarakan itu salah."


Hanna menggeleng, "Saya sudah lebih baik Rama. Tidak ada untungnya juga melawan dia yang memang suka julid pada semua orang." ucap Hanna yang di akhiri dengan senyum lebarnya.


Rama palingkam wajahnya, ia tidak bisa melihat Hanna yang tersenyum begitu lebar. Rama berdiri dari sofa.


"Mau kemana?" Tanya Hanna yang heran dengan Rama yang tiba-tiba menghindarinya.


"Emh... emh..." Rama memikirkan alasan yang tepat. "Gue mau ngerokok dulu." Setelah memberikan jawaban Rama melangkah menuju balkon.


Sebenarnya ia tidak berniat merokok hanya saja ia ingin menghindar dari Hanna. Rama hanya berdiri di balkon menatap langit yang masih menurunkan airnya dengan begitu derasanya.


Setelah beberapa menit berdiri di balkon dan sudah bisa mengendalikan dirinya, Rama kembali ke sofa dimana Hanna masih memegang cangkir guna menghangatkan tangannya.


"Masih dingin ya?"


"Emh..." Hanna menoleh pada Rama yang duduk di sampingnya dengan memperhatikannya. "Sekarang sudah tidak begitu dingin."


Rama melihat anak rambut di wajah Hanna yang membuat Rama merasa jika Hanna pasti sedang tidak nyaman. Rama semakin mendekat pada Hanna. Sementara Hanna masih diam di tempatnya, ia merasa tidak bisa bergerak. Rama menyingkirkan anak rambut Hanna ke belakang telinga Hanna.


Kedua nektar keduanya saling bertemu, Hanna yang mendapat perlakuan seperti itu mendasak diam mebatu dengan debaran jantung yang sudah tak karuan.


Entah dari mana datangnya keberanian Rama yang dengan perlahan mendekatkan wajahnya pada Hanna yang masih tidak berkedip. Rama miringkan sedikit wajahnya dan lantas bibirnya menyentuh bibir Hanna.


Hanna diam tak bergerak denga mata yang terbuka lebar. Untuk pertama kalinya ada seseorang, apa lagi seorang laki-laki yang menciumnya.


Mungkin cangkir yang ia pegang akan jatuh jika tidak Rama tahan dengan tangannya.


...****...


...Maaf kali ini dikit mau di lanjut malah panjang jadi di jadikan dua part 🤭...


...Jangan lupa selalu kasih dukunga, vote, like dan komen ya....


...Maaf jika ada typo 🙏...