Hanna Rama

Hanna Rama
Enam



🌻🌻🌻


Setelah ikut makan malam bersama keluarga Rama, barulah Hanna sadari jika di dalam keluarga yang seharusnya mendukung dan mengarahkan sang anak tapi ini lebih menuntut pada sang anak. Dari sini Hanna mulai mengerti kenapa sikap Rama begitu tidak sopan, ini seperti bentuk protes Rama tapi tidak di mengerti orang tuanya.


"Kamu dari mana?" Tanya Dinar yang ternyata sudah pulang kerja saat Hanna baru memasuki kamar kostnya.


"Dari ngajar." lemas Hanna lantas meletakkan tasnya begitu saja.


"Lah, katanya udah yakin mau berhenti terus kenapa balik lagi kesana?"


"Tadi pagi ibu telefon, ibu terdengar begitu bahagia mendengar aku udah kerja."


Dinar tergelak mendengar ucapan Hanna,


"Emang ada yang lucu," kesal Hanna dengan bibir mengerucut.


"Gak ada." ucap Dinar tapi masih dengan tawa yang tertahan.


Hanna yang sebenarnya sudah kenyang setelah makan malan tapi ia harus menemani Dinar mencari makan di kaki lima yang tidak jauh dari tempat kostnya. Sembari menunggu makanan yang di pesan Dinar siap mereka berdua memilih mengobrol hal-hal yang gak penting sampai Dinar yang tanpa sengaja melihat motor yang melintas di depannya yang ia yakini Ivan, tunangan Hanna. Dinar memang belum pernah bertemu Ivan secara pribadi tapi ia masih ingat seperti apa wajah Ivan di acara wisuda dan juga di foto pertunangan Hanna yang Hanna tunjukkan pada Dinar.


"Kayaknya tadi Ivan deh." ucap Dinar.


Hanna terlihat terkejut mendengar ucap Dinar. "Salah liat kali," Hanna tidak begitu yakin Ivan lewat di depan mereka karena tidak ada pesan singkat yang masuk pada ponsel Hanna.


"Masak sih Han, aku yakin itu Ivan, coba deh kamu telefon dia, mungkin dia lagi ke kost nyariin kamu."


"Tapi Mas Ivan gak ngirim aku pesah Din, mungkin bukan dia." Kenapa hati Hanna jadi ragu pada tunangannya soalnya kemaren Ivan bilang dia begitu sibuk dengan pekerjaanya dan mungkin tidak bisa menghubungi Hanna. Hanna mencoba berfikir positif, mungkin tunangannya sedang mencari makan di sela kesibukannya.


Di tempat lain, Rama sedang bermain game di dalam kamarnya, ia merasa kesal dengan ucapan papanya saat makan malam, sayangnya ia tidak di beri kesempatan untuk berpendapat jadi dengan bermain game lah ia melampiaskan kekesalannya.


Tok... tok... tok...


Rama mendengar pintu kamarnya di ketuk dari luar, ia tidak ada niat untuk menyuruh masuk tapi pintu tetap terbuka, ia menoleh sebentar lantas melanjutkan kembali pemainannya,


"Ngapain Bang Bian kesini?" Rama langsung ke intinya saat ia tau kakaknya lah yang masuk ke dalam kamarnya.


"Apa harus ijin mau bertemu adiknya." ucap Bian mendekat pada Rama.


"Mending Bang Bian keluar, gue lagi serius."


"Sampe kapan lo bersikap seperti ini sama Abang lo sendiri?" Tanya Bian yang semakin hari ia merasa jauh dari sang adik.


"Udah deh Bang, istri Abang udah nunggu abang pulang, jangan lama-lama di sini nanti dia pikir abang sedang mengunjungi wanita lain." Sarkas Rama pada sang kakak.


Sejujurnya Rama ingin kembali dekat dengan kakaknya tapi semua sudah tidak mungkin apalagi sekarang papanya semakin membandingkan dirinya dengan sang kakak.


"Jaga bicaramu Rama." Bian menggeram menanggapi ucapan adiknya.


Sementara Rama tidak peduli dan semakin menjadi memainkan stik gamenya. Bian yang tidak di hiraukan Ramapun memilih keluar dari sana.


Bian keluar dan menutup pintu mungkin baru beberapa langkah Bian menjauh dari pintu, Rama lempar keras stik gamenya guna melampiaskan kekesalannya.


"AAAAAHHHHH...." Kesal Rama kemudian ia berjalan menuju balkon mencoba mengendalikan kekesalannya dengan menghirup udara segar sembari menghisap nikotin.


Jika tidak di rumah, sudah bisa di pastikan pasti Rama akan melampiaskan dengan menenggak beberapa botol minuman beralkohol, tapi ini dirumah jadi ia memilih mencari amannya saja.


Dari atas Rama bisa melihat kakaknya meninggalkan rumah, Rama pejamkan sejenak matanya.


🍀🍀🍀


Cuaca di ibukota memang selalu seperti ini, begitu panas padahal hari sudah mulai sore tapi panas matahari masih begitu terasa, apa lagi Hanna yang ada di dalam angkutan umum tanpa pendingin begitu merasakan panasnya ibukota, ia berusaha mengipasi tubuhnya dengan tangannya tapi percuma saja ia masih merasakan keringat yang bercucuran.Saat turun dari angkutan umum, Hanna masih harus berjalan untuk menuju rumah Rama.


Ternyata saat Hanna baru turun dari angkot, Rama sedang melintas melewati Hanna, bukannya Rama tidak tau, tapi ia sengaja membiarkan Hanna berjalan di bawah panasnya cuaca hari ini. Dari dalam helm full facenya Rama menarik sudut bibirnya.


Hanna terlihat sedikit berantakan, sebelum menekan bel ia mencoba merapikan rambutnya terlebih dulu.


"Bu Hanna, silakan masuk bu." sapa ramah satpam rumah Rama saat membukakan gerbang.


"Den Rama baru juga datang."


"Benarkah, kalau begitu saya terlambat donk pak." Hanna masih berbincang dengan satpam rumah, keringatnya masih bercucuran. Hanna memilih segera masuk rumah karena sudah pasti di dalam sana pasti sangat dingin.


Hanna mengetuk pintu yang kemudian di buka oleh mbok Nah.


"Sore Mbok Nah," sapa ramah Hanna.


"Sore juga Bu Hanna. Bu Hanna mau minum apa?" tanya mbok Nah


"Apa aja deh mbok," Mana mungkin Hanna meminta pada orang yang lebih tua tapi sayangnya hawa panas yang masih ia rasakan membuatnya berani meminta pada mbok Nah. Hanna mendekat pada Mbok Nah "Mbok, boleh saya minta sesuatu yang segar, soalnya di luar panas." Bisik Hanna yang merasa tidak enak.


"Baik Bu Hanna, Bu Hanna tunggu di tempat Bu Hanna mengajar saja, nanti saya antar kesana."


"Makasih ya mbok Nah, maaf ya ngerepotin." ucap Hanna.


Hanna sudah menunggu Rama di tempat biasa teras samping dekat kolam renang.


Rama yang baru turun dari lantai dua berjala menuju dapur. Di sana sudah ada Mbok Nah.


"Mbok, buatkan minuman dingin buat saya dan Hanna." ucap Rama.


"Iya Den."


Rama meninggalkan dapur menuju tempat belajarnya. Sementara Mbok Nah heran dengan tuan mudanya yang tiba-tiba ke dapur meminta membuatkan minuman untuk gurunya. Dan yang diminta Hanna dan Rama sama. Mbok Nah segera menyadarkan dirinya dengan menggelengkan kepalanya.


"Ternyata lo udah dateng," bukan sapaan sopan yang terlontar dari mulut Rama tapi Hanna mencoba biasa saja.


"Iya, baru saja saya sampai."


Rama mendaratkan bokongnya pada kursi di samping Hanna. Hanna mulai membuka buku materi pembelajarannya. Mbok Nah tiba-tiba datang membawa dua gelas minuman dingin beserta camilan.


"Silakan Den, Bu Hanna, saya permisi." Setelah mempersilahkan Mbok Nah pun kembali ke dapur.


Hanna memang sudah butuh penyegaran ia segera minum dengan cepat sampai tersisa setengahnya. Ada senyum yang terukir dari sudut bibir Rama.


"Lo haus banget ya?" pertanyaan Rama yang seketika membuat Hanna tersedak. Lantas ia letakan minumannya, Hanna merasa malu. Tapi ia ingin menutupinya dari Rama.


"Gak juga, sayang kalau gak di minum, Mbok Nah udah capek-capek buat." Hanna berasalan tapi membuat Rama kembali menaikan sudut bibirnya. Ada yang sedang Rama rencanakan kali ini terlihat dari senyum yang sudah terukir.


"Lo gak mandi ya, asem banget bau lo."


Hanna seketika membelalakan matanya, apa iya ia bau asam, tidak bisa Hanna pungkiri memanga tadi ia sangat berkeringat.


"Mandi." Tegas Hanna tapi sejujurnya Hanna merasa malu.


"Yakin lo udah mandi saat mau kesini?" Kenapa Rama semakin terlihat mengejek.


"Saya sudah mandi Rama dan saya yakin itu." lagi Hanna menegaskan, Rama terlihat menahan tawanya dengan membuang muka agar tidak terlihat oleh Hanna.


Saat tau Rama mengalihkan pandangannya, Hanna mencoba mecium bau badannya sendiri. Ia mengendus bau tubuhnya tapi ia tidak mendapatkan bau asam tubuhnya. Ia memang berkeringat tapi setidaknya roll on yang ia gunakan masih bisa meminimalkan bau keringatnya.


Disinilah Hanna sadar jika Rama sedang mengerjainya, lagi-lagi Rama mencoba membuat Hanna tidak nyaman di sana.


Rama masih membuang muka sembari menahan tawa.


Untuk kedua kalinya Rama bisa kembali tertawa hanya karena Hanna.


****


**Udah ada yang nungguin ketengilan Rama pada guru lesnya gak. Semoga kalian semua suka dengan cerita saya.


Terus dukung cerita saya dengan, vote, like dan komen. Terimakasih 🙏


Maaf jika ada typo 🙏**