Hanna Rama

Hanna Rama
Dua Tujuh



🌻🌻🌻


Rama tidak main-main dengan ucapannya. Hari ini Hanna benar-benar menerima tiga buket bunga di waktu yang berbeda.


"Bukankah ini sama saja dengan teror." ucap Feri sinis. "Bukankah lebih baik Bu Hanna menolaknya."


Memang tidak ada nama pengirimnya tapi Hanna tau siapa yang mengiriminya, dan ia juga tidak perlu merasa takut. Hanna merasa berterimakasih Feri khawatir padanya, namun ke khawatiran itu bagi Hanna tidak berdasar.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan Pak Feri, karena saya tau siapa pengirimnya." ucap Hanna.


Feri berpaling dengan raut yang menahan amarah. Ia tidak menyangka jika selama ini Hanna sudah menjalin hubungan dengan seseorang. Tapi tidak sekalipun Hanna terlihat di antar atau di jemput seseorang selama mengajar di sekolah.


Sementara itu Rama tengah asyik mendribel bola di tengah lapangan bersama beberapa siswa, moodnya sedang baik jadi rekan-rekan yang ikut bermain basket merasa nyaman. Jarang-jarang Rama bersikap seperti itu.


Keringat mulai bercucuran, Rambut Rama yang biasanya tertata rapi kini sudah acak-acakan bercampur keringat yang membasahinya. Hal itu membuat beberapa siswi berteriak memanggil namanya.


"Bentar gue mau minum dulu." Ucap Rama seraya melangkah keluar lapangan dimana ia meletakan botol air meneralnya.


Setelah menenggak air mineral fokusnya teralih pada seseorang yang berdiri di depan gedung sekolah, orang yang sangat tidak asing dan cukup Rama ketahui siapa orang itu.


Mata elangnya kembali tertuju pada Hanna yang baru saja menghampiri seseorang di sana.


Ia adalah Ivan mantan tunangan Hanna. Seketika ekpresi Rama berubah, tangannya terkepal kuat, kenapa Ivan masih menemui Hanna? Apa jangan-jangan selama ini mereka masih berhubungan?


Rama yang kesal berjalan menuju dua insan yang terlihat tengah mengbrol. Ia tidak peduli dengan rekannya yang sudah memanggilnya.


"Ram..."


"Ramaaa..."


Rama seakan tuli dengan panggilan rekan-rekannya, ia terus saja melangkah dengan cepat namun sayangnya belum sempat Rama menghampirinya Ivan sudah memasuki mobil dan pergi dari sana.


Rama semakin kesal melihat Hanna tersenyum sembari memandangi sesuatu yang Ivan berikan. Rama yang tidak tahan sudah akan berteriak memanggil Hanna, namun harus ia urungkan karena ada bebera siswa disana.


Saat akan melangkah kembali memasuki gedung sekolah tanpa sengaja mata Hanna melihat Rama yang berjalan ke arahnya dengan ekspresi kesal. Hanna menoleh ke kanan dan ke kiri mungkin ada orang lain yang sedang Rama tuju tapi Hanna tidak mendapati itu. Tidak mungkin kan Rama sedang berjalan ke arahnya.


Rama berhenti tepat di depan Hanna. Hanna seketika panik dengan Rama yang ada di hadapanya dengan penuh emosi.


"A-ada apa Rama?" Ragu Hanna,


"Tadi~"


"Siapa tadi Bu? Apa orang yang ngirim ibu bunga?" Celetuk seorang siswi yang ada di sana dan membuat Rama mengurungkan ucapannya.


Rama menghembuskan nafas berat lantas berjalan pelan dan tepan di sebelah Hanna ia berucap. "Aku tunggu di atap sekarang!"


Rama sudah berjalan menjauh dari sana dan menuju atap sekolah, Hanna tidak mengerti dengan sikap Rama jadi ia memilih melangkah menuju atap gedung juga.


Hanna berjalan mendekat pada Rama yang sudah berdiri di sana masih dengan raut kesalnya.


"Kamu masih berhubungan sama Ivan?" Rama bertanya langsung pada intinya.


"Hah,,, Apa?" Hanna tidak mengerti akan apa Rama tanyakan.


Rama memutar badannya menghadap Hanna dan kini melangkah mendekat pada Hanna.


"Kamu benar-benar gak ngerti? Apa pura-pura gak ngerti?"


"Saya memang tidak mengerti dengan apa yang kamu tanyakan Rama."


"Lantas tadi yang gue lihat apa Hanna?" terang Rama penuh penekanan.


Deg....


Jika Rama sudah berucap lo gue dan menyebut namanya dengan penuh penekanan artinya ia sedang benar-benar marah padanya.


"Dia kasih ini." Hanna menunjukan sesuatu yang tadi Ivan berikan padanya.


Mata Rama menyipit lantas tanganya terulur mengambil sesuatu dari tangan Hanna. "Undangan pernikahan?"


Rama membuka undangan tersebut dan mendapati nama Ivan tertera di sana bersama nama wanita yang tidak dia kenal. Ia sedikit lega karena bukan nama Hanna yang tertera di sana.


"Ini..?" Rama masih meminta penjelasan Hanna.


"Iya, itu undangan pernikahan Mas Ivan. Karena saya sudah ganti nomer dan pindah kost makanya dia datang kesini." Dengan cepat Hanna menutup mulutnya, kenapa ia harus menjelaskan hal itu pada Rama, seakan mereka memiliki hubungan saja.


"Kenapa menutup mulut?"


Hanna menggeleng lantas menurunkan tangannya. "Gak pa-pa." ucapnya.


"Apa kamu mau datang?" Kini Rama bertanya dengan nada yang sudah tanpa amarah lagi.


"Hah.." Lagi Hanna kebingungan dengan pertanyaan yang Rama lontarkan. "Emh,, sepertinya saya tidak akan datang." jawab Hanna setelah berfikir sejenak.


"Kamu harus datang!" tegas Rama.


"Kenapa?"


"Karena nanti aku yang akan mengantarmu kesana." jelas Rama.


Hanna benar-benar tidak mengerti dengan ucapan Rama, ia mengernyit bingung.


"Kirimkan alamat tempat tinggalmu saat ini dan aku akan menjemputmu. Kita harus datang bersama."


Rama tidak ingin melihat kebingungan Hanna, ia sudah melangkah menjauh dari Hanna namun langkahnya terhenti saat Hanna tiba-tiba mengahalangi jalannya.


"Gak. Saya tidak akan datang. Apa lagi dengan kamu."


Rama mengehembuskan nafasnya kasar mendengar apa yang Hanna lontarkan.


"Ini saat yang tepat untuk menunjukan pada mantan tunangan kamu jika kamu sudah mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik."


"Tapi saya tidak ingin seperti itu." Hanna masih bersikeras menolak apa yang Rama sarankan.


"Rama,," ucap Hanna lirih.


"Kenapa apa jantungmu berdebar?" goda Rama.


Hanna membelalak tak percaya, apa suara detak jantungnya begitu keras hingga Rama bisa mendengarnya.


"Aku bawa ini dan aku tunggu alamatmu." Rama menunjuk pada undangan yang masih ada ditanganya. Rama tersenyum penuh arti.


Cup....


Rama kecup singkat bibir Hanna lantas ia pergi berlalu meninggalkan Hanna yang masih berdiri mematung.


Rama menuruni tangga penuh dengan kemenangan. Ia merasa begitu bahagia, satu orang yang ia khawatirkan kembali hadir di hidup Hanna ternyata tidak akan kembali.


Setelah beberapa detik terdiam dan mencerna apa yang sudah terjadi kini Hanna berusaha mengejar Rama.


Baru melangkah di tangga pertama ia sudah melihat punggung Rama namun tidak mungkin ia mengejar Rama di antara banyaknya murid di sana.


🌻


Tiga puluh menit Rama menunggu Hanna di depan kostnya, Rama terpaksa menunggu di dalam mobil karena di tempat kost Hanna tidak di ijinkan menerima tamu pria.


Pintu gerbang terbuka, Hanna muncul dengan begitu cantik dan anggunya, dengan rambut teruarai serta gaun yang cukup tertutup namun tidak mengurangi kecantikan Hanna. Rama begitu terpesona melihat orang yang ia cintai begitu cantik dan sangat anggun.


tok... tok... tok...


"Oh,, iya,," Rama begitu terpesona hingga ia lupa jika belum mebuka pintu mobil, ia disadarkan oleh ketukan kaca yang Hanna lakukan.


Dalam perjalanan, tak henti-hentinya Rama tersenyum pada Hanna dan sesekali ia melirik Hanna.


"Kenapa? Apa dandananku aneh?" tanya Hanna yang mulai tidak percaya diri karena Rama terus tersenyum padanya.


"Gak. Kamu begitu cantik hari ini." Rama yang begitu berterus terang membuat pipi Hanna memerah dan berpaling keluar jendela.


Mereka telah sampai di salah satu hotel berbintang tempat pernikahan Ivan berlangsung. Rama sudah berdiri di samping Hanna, memberikan lengannya pada Hanna. Bukan menyambut tapi Hanna malah berjalan terlebih dulu.


Tidak ingin malu karena ada beberapa orang di luar hotel, dengan cepat Rama melangkah lantas menggenggam tangan Hanna.


"Rama?" Hanna terkejut dengan Rama yang tiba-tiba meraih tanganya.


"Ini jauh lebih baik, karena kita datang bersama setidaknya kita adalah pasangan."


Hanna hanya bisa menerima saja, setidaknya Rama yang memakai setelan jas tidak terlihat jika ia masih duduk di bangku sekolah menengah atas, ia malah terlihat begitu dewasa.


Ivan dan Istrinya berdiri di atas pelaminan dengan wajah yang begitu bahagia, kedua orang tua Ivan juga disana. Hanna merasa ragu untuk melangkah memberi ucapan selamat.


"Kamu harus buktikan jika kamu lebih bahagia dari mereka." bisik Rama sembari terus menuntun Hanna.


"Selamat ya,," Ucap Hanna pada Ivan dan istrinya.


"Terimakasih. Dia kekasihmu Han?"


"Iya." Bukan Hanna yang menjawab tapi Rama.


"Oh,"


"Terimakasih sudah melepaskan wanita secantik ini. Saya akan selalu menjaganya." Bisik Rama pada Ivan yang seketika membuat Ivan tersenyum getir.


Mereka hanya memberi ucapan selamat lantas pergi dari sana, baru memasuki mobil, Rama sudah melepas jasnya lantas mengulung lengan kemejanya hingga siku.


Apa begitu panas? Batin Hanna saat tau apa yang Rama lakukan bahkan dua kancing kemejanya juga ia lepas. Padahal mereka ada di dalam mobil mewah yang pastinya punya pendingin lantas kenapa tidak di turunkan suhunya.


"Kalau panas kenapa gak di buka aja jendelanya, Ram?"


"Emh." Rama bingung harus menjawab apa.


Rama menepikan mobilnya di jalanan yang tidak begitu. Sejujurnya ia merasa marah saat tadi tanpa sengaja ia mendengar jika seseorang ingin mendekati Hanna, maka dari itu ia mengajak Hanna pergi dari sana dengan lebih cepat.


"Mau sampai kapan kita seperti ini." Ucap Rama yang sudah memutar badannya agar berhadapan dengan Hanna.


"Apa?" Hanna mulai bingung.


"Aku benar-benar tidak bisa berfikir lagi. Aku bahkan tidak bisa membuat kata-kata yang indah tapi bisakah kita mulai menjalani hubungan yang sesungguhnya sebagai kekasih."


Hanna tidak menyangka jika Rama akan mengutarakan perasaannya.


"Ram,,,"


"Kenapa Han?"


Hanna pejamkan matanya, ia mencoba berfikir sejanak. "Kita tidak bisa bersama Ram." ucap Hanna setelah ia membuka matanya.


"Kenapa Han?"


"Kamu tau sendiri jika status sosial kita berbeda dan lagi saya adalah gurumu, belum lagi jarak usia kita." Hanna menolak Rama dengan beberapa alasan yang membatasi hubungan mereka.


"Hanna. Apa itu cukup berasalan, lantas perasaanmu sendiri, apa mau kamu korbankan?"


Hanna menunduk lesu, jantungnya memang berdebar saat ada di dekat Rama namun ia masih belum berfikir akan secepat ini menjalin hubungan dengan Rama.


Hanna menggeleng. Rama yang mengetahui itu memutar badahnya tanganya mengepal kemudi dengan kuat lantas menuduk lesu.


...****...


...Rama di tolak tuh sama Hanna, 🤭...


...Jangan lupa vote, like dan komet....


...Buat pembacaku yang beragama muslim selamat menunaikan ibadah puasa....


...Maaf kalau ada typo 🙏...