Hanna Rama

Hanna Rama
Empat



🌻🌻🌻


Beberapa kali Hanna hentakkan kakinya mengingat ketidak sopanan Rama. Bahkan Hanna lupa jika dirinya sedang berdiri di tepi jalan menunggu kendaraan umum. Hanna kembali menggeram dengan kaki yang menghentakkan tanah membuat beberapa orang yang berdiri di sampingnya melihat Hanna aneh.


Baru masuk kamar kostnya Hanna sudah di sambut oleh Dinar yang sedang rebahan di atas tempat tidur sembari bermain ponsel.


"Kenapa lagi itu muka, kemarin di tekuk sekarang di lipat." Goda Dinar saat Hanna baru saja meletakan tasnya di atas tempat tidurnya.


"Gak usah ngejek bisa gak Din," Hanna semakin cemberut.


"Kenapa? kesal gak di jemput Ivan?" tabak Dinar.


"Emang abg labil apa? gak di jemput langsung kesel." elak Hanna.


"Terus kenapa lagi itu muka?"


Hanna merebahkan dirinya kali ini, ia hembuskan nafas kasar. "Baru kali ini tau gak Din, ada anak sekolah yang gak ada sopan santunnya sama orang yang lebih tua, dan parahnya lagi sama gurunya ya meskipun guru les." Jelas Hanna.


"Murid mu?"


"Emh."


"Mangkanya ada guru buat didik murid, yang salah satunya murid model begituan."


"Kayaknya aku mau berhenti aja deh Din." Ucap Hanna yakin akan keputusannya.


🍀🍀🍀


Rama terlihat begitu gembira hari ini, ia yakin jika Hanna tidak akan datang. Rama bahkan mentraktir beberapa siswa yang sedang makan di kantin sekolah.


"Lo menang lelang dari Raka?" Tanya Mario yang penasaran lantaran sahabatnya terlihat begitu good mood dari pagi hari.


"Jangan sebut nama anak setan itu depan gue." Rama seakan mengingatkan Mario jika ia begitu kesal jika ia mendengar nama Raka.


"Jadi ada hal lain nih yang bikin lo happy?"


"Tentu donk. Lo makan aja yang kenyang nanti sepulang sekolah kita main." Ucap Rama yang seketikan menghentikan tangan Mario yang sudah akan melahap nasi.


"Lo gak les hari ini?"


"Gue bisa bertaruh kalau hari ini guru les gue gak bakal datang."


"Lo yakin?"


"Seratus persen gue yakin malah lebih dari seratus persen gue yakin. Orang dia baru lulus kuliah sok sokan jadi guru les, apa lagi perempuan, ya pasti dengan mudahnya gue hancurin harga dirinya." Sombong Rama


"Cakep gak?" Mario jadi penasaran dengan wanita muda yang menjadi guru les Rama.


"Kenapa emangnya?"


"Kalau cakep, gue mau jadi muridnya, kali aja di masih singel, bisa gue kencanin."


Rama malah tertawa mendengar ucapan Mario, "Gak ada cakep-cakepnya Yo." Rama begitu yakin.


Setelah jam istirahat mereka semua kembali mengikuti pelajaran, Rama yang duduk di pojok belakang memilih untuk meletakan kepalanya di atas meja, ia pejamkan matanya. Guru di depan sedang menjelaskan materi pelajaran dengan seriusnya, beberapa kali ia memanggil Rama tapi tidak ada jawaban dari Rama. Pada akhirnya sang guru memilih melanjutkan materinya tanpa memperdulikan Rama.


Bel pulang berbunyi, dengan sigap Rama terbangun, ia kembali tersenyum senang. "Langsung cabut nih?" Tanya Mario.


"Gue balik dulu, nanti gue hubungi lo." Jawab Rama lantas keluar dari kelas.


Rama begitu menikmati jalanan ibukota dari atas motornya, dari balik helm full facenya ia terlihat begitu senang, ia akhirnya bebas dari les, setidaknya untuk mencari guru les baru masih menunggu waktu.


Motornya sudah memasuki halaman rumahnya, Rama masukan motornya kedalam garasi. Di sana sudah ada Pak Ari salah satu supir dirumahnya yang sedang mengelap salah satu mobil yang terparkir di galam garasi.


"Sore Pak Ari, makin ganteng aja nih," Sapa Rama dengan senyum lebarnya.


Pak Ari heran dengan sikap Rama, orang di rumah Rama jarang yang menyapa pada tuan mudanya itu lantaran sikap Rama yang lebin sering emosi, mereka lebih memilih diam. Begitu juga Pak Ari yang sebelum Rama lahir beliau sudah menjadi supir di sana jadi ia tau persi seperti apa peringai sang tuan muda, makanya ia heran melihat tuan mudanya sebahagia ini.


"Makasih Den, Den Rama juga makin ganteng. Abis menang lotre ya Den kok seneng banget?" Pak Ari juga ikut memuji Rama tapi sesungguhnya ia jujur dengan ucapannya, Tuan mudanya semakin terlihat ganteng saat tersenyum sumringah.


"Oh jadi orang menang lotre itu seperti ini ya Pak Ari. Pak Ari pernah menang lotre belum?"


"Belum pernah Den."


"Saya doakan semoga menang lotre kali ini, jangan lupa traktir saya makan ya Pak Ari." Lantas Rama meninggalkan garasi rumahnya sembari bersiul.


Pak Ari menatap kepergian Rama, "Semoga Aden selalu bahagia, saya jadi mau nangis Den," ucap Pak Ari lantas melanjutkan aktifitasnya.


Rama diam sejenak di depan pintu sebelum membukanya, ia hembuskan nafasnya berat kemudia membuka pintu. Mata Rama menyusuri setiap bagian rumahnya, senyumnya kembali melebar saat tidak ada sosok Hanna di dalam sana.


"Sore mbok Nah," sapanya saat baru memasuki rumah.


Tadi Pak Ari kini giliran Mbok Nah yang dikejutkan dengan sapaan ramah Rama.


"Sore juga Den." balas Mbok Nah ragu.


Rama segera melangkah menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Jika Hanna datang, seharusnya ia sudah ada di sana tapi ini sudah tiga puluh menit berlalu, artinya Hanna tidak datang dan tidak akan pernah datang.


"Halo Yo," Rama sedang menghubungi Mario di seberang sana.


"Halo Ram"


"Lo ada dimana?"


"Gue masih dirumah nunggu kabar dari lo,"


"Okey. Lo bisa cabut dulu gue bentar lagi nyusul."


"Lo serius?"


"Kan udah gue bilang, ini lebih dari seratus persen."


"okey, gue cabut dulu cari tempat."


"Sip."


Setelah sambungan telefon berakhir, Rama membuka baju seragamnya, melemparnya asal, ia putar musik rock dengan cukup keras kemudian melangkah memasuki kamar mandi. Rama begitu menikmati segarnya guyuran air shower yang menerpa tubunnya yang sudah mulai membentuk otok-otok atletis. Sesekali Rama ikut melantunkan satu bait lagu yang memekak telinga.


Setelah selesai dengan ritual mandinya Rama beranjak membuka lemari pakaian, ia memilin baju apa yang akan ia kenakan, sudah seperti kencan saja padahal hanya mau nongkrong bersama sahabatnya dan yang pasti akan banyak teman-teman nongkrongnya di sana. Pilihan Rama jatuh pada kaos oblong serta celana jeans yang robek di lutunya. Ia sudah siap dengan memakai sepatu dan jaket kulit yang ia pegang.


Rama matikan musik yang sudah menggema di kamarnya lantas ia keluar dari kamar, menuruni anak tangga dengan langkah bahagia. Sang mama sudah menunggunya di bawah.


"Rapi banget anak mama."


"Siapa dulu dong mamanya." Senyum Rama lantas memeluk sang mama sebentar.


"Harum banget sih kamu Ram, mamangnya mau kemana?"


"Mau nongkrong dong ma, udah di tunggu sama Mario." Ucap Rama begitu percaya diri.


Rita mengernyitkan dahinya mendengar ucapan sang putra. "Kamu lupa hari ini jadwal kamu les?"


Raut Rama yang awalnya bahagia seketika berubah mendengar ucapan sang mama. Rama masih menatap sang mama, ia yakin Hanna tidak akan datang bahkan ia tidak mendapati Hanna di ruang tamu atau ruang keluarga.


"Kamu mandinya terlalu lama, Bu Hanna sudah menunggumu dari tadi."


Kini Rama yang mengernyitkan dahi, ia mencoba mencerna ucapan sang mama.


"Itu Bu Hanna sudah menunggumu." Tunjuk sang mama pada Hanna yang sudah menunggunya di teras samping tempat kemaren mereka melakukan pembelajaran.


Mata Rama mengikuti arah pandang mamanya yang seketika membuat Rama menahan emosi. Ia tidak habis fikir jika Hanna masih mau datang setelah Rama bersikap kurang sopan agar Hanna tidak betah di sana, tapi lihat, Hanna yang sedang menoleh kedalam rumah dengan memberikan senyumannya.


Rama memejamkan matanya dengan tangan yang terkepal, ia benar-benar kesal melihat Hanna yang masih tersenyum disana seolah mengibarkan bendera kemenangan.


****


...**Dikit-dikit dulu ya....


yang sudah mendukung cerita ini, terimakasih banyak 🙏🙏🙏🙏 aku bener-bener bersyukur kalian masih setia mengikuti Hanna Rama dari sebelah ke sini. 🙇‍♀️


Mohon dukungannya ya, vote, like dan komen 🙏


maaf jika ada typo**