GWEN Amartha

GWEN Amartha
FAKTA MENGEJUTKAN



ALWAYS HAPPY 🤯


samsak tinju di depannya menjadi pelampiasan Gwen kali ini, peluh keringat membasahi seluruh tubuh terutama di bagian leher.


nafas memburu tak beraturan dua jam berlatih beladiri belum cukup membuatnya benar benar kelelahan.


emosi, ia benar benar emosi, ayahnya kembali berulah, semua tabungan miliknya di ambil begitu saja. tabungan yang berisi uang yang selalu ia sisihkan kini di rampas ayah nya begitu saja.


"ARGHHHH ANJING!" Gwen memukul samsak dengan brutal, pukulan bertubi-tubi disertai tendangan yang tak kalah keras. lagi lagi semua itu belum cukup untuk melampiaskan emosi.


"Gwen." panggil candra, laki laki itu melepas jaket miliknya lalu duduk di kursi. Candra menatap prihatin Gwen, sahabatnya nampak benar benar sedang kacau.


candra terdiam, tanpa gadis itu cerita ia tau siapa yang bisa membuat Gwen kacau seperti ini hanya permasalahan keluarga yang membuat sosok Gwen yang tegar menjadi rapuh dan kacau.


ketika orang lain mengatakan bahwa keluarga adalah sandaran terbaik itu tidak berlaku pada Gwen, jika orang lain mengatakan bahwa cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya itu tidak berlaku pada Gwen.


mungkin dulu iya tapi sekarang? tidak lagi.


Gwen menghentikan memukul samsak, gadis itu melepas ikat rambutnya lalu kembali memakai ikat rambut agar terlihat rapi. crop top hitam yang di pakai Gwen benar benar basah akibat keringat yang keluar dari tubuh.


Candra melempar handuk kecil yang diminta gadis itu.


"kenapa lagi? bokap lo." Gwen mengangguk, gadis itu mengambil bungkus rokok lalu menyelipkan satu rokok di bibirnya, ujung batang nikotin ia bakar,kepulan asap mulai menyebar.


"tabungan gue habis di sikat tu brengsek." Candra menoleh langsung kearah Gwen, cukup kaget mendengarnya.


"kok bisa?"


"nggak tau gue, ternyata dia tau selama ini gue nyimpan duit dimana." Gwen meremas rambutnya dengan kasar. pikirannya kacau sekacau hidupnya.


Candra menghela nafas pelan. lelaki itu membuka kaleng soda yang ia bawa lalu memberikan nya pada Gwen, mengambil lagi soda untuk ia minum.


"gue mau ngomong sama lo, sebelumnya gue mau minta maaf banget." Gwen membenarkan duduknya, kali ini ia rasa percakapan akan serius.


keduanya bertatap muka, Gwen menunggu Kalimat apa yang akan keluar dari mulut Candra.


"perusahaan bokap lagi ada masalah, rugi hampir 2 miliar gara gara ada dua orang yang korupsi, gue udah nggak bisa bantu biaya kakak lo dan juga biaya sekolah lo." jelas Candra, Gwen tertegun mendengarnya.


satu masalah belum selesai kini ada lagi masalah yang datang.


"yang korupsi udah ketangkep?" candra membalas dengan gelengan.


"tenang aja, selama ini lo udah ngebantu keluarga gue itu udah cukup banget. gue terimakasih banyak, untuk biaya kakak sama sekolah sebisa mungkin gue bisa." Gwen menepuk pundak Candra sebagai kata terimakasih.


mulut boleh berucap tenang tapi tidak dengan hati dan pikiran.


"lo tenang aja untuk 3 bulan ke depan sekolah lo masih terjamin dan aman, biaya kakak lo juga bayar nya bisa bulan depan karena bulan ini kemarin gue yang tanggu tapi untuk selanjutnya kemungkinan enggak bisa." candra mengelus rambut Gwen dengan pelan.


mengingat kembali masa masa itu ,Gwen dengan emosi meremas rokok di tangannya yang masih menyala tanpa mempedulikan rasa sakitnya.


Candra yang melihat hanya , kebiasaan Gwen akhir ini selalu membuatnya terkejut, gwen yang dulu berbeda dengan yang sekarang.


hanya mampu menghela nafas pelan, ia harap emosi nya tak membawa gadis itu dalam bahaya.


Candra menggenggam tangan Gwen dengan lembut, kedua mata saling bertatapan. Candra menatap dalam mata coklat terang milik Gwen, menyalurkan emosi yang tenang.


"lo nggak boleh emosi Gwen," Gwen menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan secara perlahan, melakukan sampai hatinya merasa tenang.


"ada yang mau gue omongin lagi, gue harap lo nggak boleh kembali emosi. kalau gue nggak ngomong sekarang kapan lagi besok gue 5 hari harus ke Jogja jadi Sekarang aja gue bilangnya sekalian pamit."


ucap Candra.


"kakak lo hamil, dokter baru bilang seminggu yang lalu tapi gue lupa buat bilang sama lo.gue terlalu sibuk sama skripsi gue jadi lupa. kakak lo hamil dalam kondisi kaya gini kata dokter bisa aja bayinya meninggal kalau ibunya belum juga sadar jadi kemungkinan kalau selama 3 menjadi minggu belum sadar itu artinya bayi kakak lo harus di angkat. janin nya benar benar lemah karena nggak dapat sedikit pun asupan." jelas Candra.


Gwen benar benar Shock,


kakak nya hamil?


janin yang di kandung lemah?


kepalanya berdenyut nyeri kenapa semua membuat ia sakit kepala.


"harapannya cuma satu, kakak lo sadar kalau sadar dalam waktu dekat kemungkinan masih bisa di selamat kan bayinya."


Gwen benar benar frustasi, ia tidak mau kalau keponakannya kenapa kenapa, walau ia sendiri tidak tau siapa bapak dari anak yang di kandung kakaknya.


"dan kondisi kakak lo juga makin hari makin lemah. jadi hanya 30% kemungkinan kalau bayi itu bakal selamat." Candra memijat pangkal hidungnya, hanya mendengar ucapan dari sang dokter saja membuatnya sakit kepala.


Gwen terdiam, gadis itu menatap dengan pandangan kosong ke arah depan.


harus bagaimana lagi?


mendengar kabar kakaknya terbaring dengan keadaan koma saja membuat nya menangis semalaman lalu sekarang?


menangis kembali? ia rasa tidak! air matanya benar benar terus mengalir takutnya akan kering. semua masalah terjadi berurutan.


Gwen memejamkan matanya ia harap semua ini mimpi, kembali terbangun 7 tahun yang lalu.


7 tahun yang lalu dimana semua baik baik saja.


TO BE CONTINUED....