
ADA CERITA KE-3 AKU SILAHKAN COBA BACA OKE 👍
Gwen menunggu ruang UGD dengan gelisah, beberapa kali ia menyugar rambutnya kebelakang lalu mengacak-acak kembali rambutnya. rasanya begitu sakit melihat Tama yang terpejam dengan bersimbah darah. ia bukan ibu kandungnya Tama ataupun keluarga terdekat tapi kedekatannya beberapa hari terakhir mampu membuat dirinya nyaman dengan Tama, seolah ada magnet mengetahui Tama sudah bertemu dengan orang tuanya membuat Gwen takut jika suatu saat nanti akan dipisahkan dengan bocah itu.
Felix tak kalah kacau, laki laki itu menunggu dengan cemas di bangku depan ruang UGD, sudah lebih dari 30 menit berlalu dokter yang menangani Tama masih belum keluar. rasa cemas benar benar melanda di hatinya.
ketukan sepatu yang beradu dengan marmer rumah sakit membuat Gwen maupun Felix menoleh, pria paruh baya dengan stelan jas kantoran berjalan cepat menuju ke arah mereka dengan dua orang berpakaian hitam mengikuti dari belakang.
"Felix, bagaimana keadaan Tama." pria paruh baya itu menatap Felix dengan cemas, beberapa menit yang lalu ia di kabari anaknya bahwasanya Tama telah di temukan kembali, rasa senang menyelimuti tapi itu terjadi hanya beberapa saat karena perkataan bahwa Tama dilarikan ke rumah sakit membuat dirinya cemas bukan main.
"belum tahu pa, dokter belum keluar dari ruangan." ucap Felix dengan pelan.
"bagaimana ini bisa terjadi Felix?" paruh baya bernama Arkan itu kembali menatap sang putra dengan raut cemas sekaligus kebingungan.
"ceritanya panjang,"
pintu ruangan UGD di buka, Gwen, Felix maupun pak Arkan langsung menghampiri.
"siapa di sini keluarganya? tanya dokter dengan menatap satu persatu dari ketiganya.
"saya ibunya."
"saya ayahnya."
Gwen dan Felix berujar secara bersamaan. membuat dokter itu mengangguk, "mari ibu, bapak ikut saya." ucap sang dokter berjalan menuju ruangannya di ikuti dengan Gwen dan Felix.
"jadi begini kondisi Tama tidak bisa di bilang baik, luka di pelipis cukup serius sampai membuat darah yang keluar cukup banyak, darah Tama AB rumah sakit hanya memiliki 2 kantung darah dengan golongan AB, golongan AB cukup langka di daerah sini jadi kita masih membutuhkan 1 kantong darah lagi kemungkinan jika tidak di dapatkan dalam 24 jam kondisi Tama akan semakin memburuk." ucap Dokter menjelaskan kondisi Tama pada saat ini.
penjelasan Tama membuat Gwen menahan nafas beberapa detik, ia bukan ibu kandung Tama darahnya jelas beda dengan Tama lalu bagaimana cara untuk mendapatkan golongan darah itu, sedangkan Golongan darah AB sangat langka.
"ibu?"
"saya bukan ibu kandungnya dok." ucap Gwen dengan pelan.
Felix sendiri mengepalkan tangannya dengan kuat, setelah urusan dengan sang dokter selesai. Felix pergi berlalu saja.
Gwen menyugar rambutnya kebelakang berkali kali, tubuhnya ia sandarkan di dinding depan ruangan Tama.
bagaimana cara mendapatkan darah golongan AB dalam waktu singkat.
Gwen mengotak-atik ponsel miliknya menuliskan beberapa pesan pada seseorang. ia berharap beberapa jam lagi Felix mendapatkan donor darah golongan AB.
******
Gwen bernafas lega saat mengetahui Tama akan di pindahkan di ruang perawatan intensif, setelah mendapat donor darah Beberapa menit yang lalu, pikiran yang kacau perlahan membaik usai mengetahui bahwa kondisi Tama perlahan akan membaik.
Gwen menatap Tama yang tak sadarkan diri, kehilangan banyak darah dan mendapatkan 10 jahitan di pelipis, serta luka luka lebam di tubuh bocah itu akibat tertimpa rak makanan.
Gwen mengecup pipi gembul tama, matanya terus terusan menatap bocah itu ia berharap kedua mata yang semula tertutup kini terbuka dan menampilkan senyum yang selalu ia lihat.
Gwen mengangguk lalu mulai menceritakan kejadian tadi begitu juga dengan awal mula ia bertemu dengan Tama pada saat itu.
"bukankah seharusnya anak kecil tidak boleh di sakiti bagaimana bisa kalian lalai dalam menjaga Tama?" Ucap Gwen setelah menceritakan semuanya.
pak Arkan menelan ludah dengan perlahan, mendengar cerita dari Gwen. rasa bersalah langsung menghinggapi hatinya. "Tama bukan anak kandung dari Felix, bahkan Felix anakku belum pernah menikah. Tama adalah anak dari teman Felix yang sudah meninggal, kecelakaan beberapa tahun yang lalu menewaskan kedua orang tua Tama. sehingga Felix yang membawa Tama dan merawatnya sampai sekarang." ucap pak Arakan dengan mengelus rambut Tama.
"persoalan penculikan, pada saat itu Felix terlambat menjemput Tama yang baru saja selesai sekolah. Tama hilang dan tidak ada kabar selama satu bulan. pencarian di kerahkan semuanya bahkan polisi maupun anak buah saya sudah mencari sampai ke pelosok wilayah ini tapi hasilnya nihil. lembar foto maupun berita sudah di sebar tapi tidak kunjung mendapatkan titik terang dari hilangnya Tama."
Gwen berdiri dari duduknya lalu bersedekap dada memandang Arkan dengan tatapan tidak suka. " lalu kenapa kalian hanya menyertakan 1 nomor telepon yang bahkan tidak bisa dihubungi."
Arkan menoleh langsung pada Gwen. "saya menyebar foto kehilangan Tama dengan banyak nomer telpon yang dapat di hubungi begitu juga dengan alamat rumah saya yang jelas. lalu bagaimana bisa nona mengatakan seperti itu?"
"saya tidak akan mengatakan seperti itu jika saya hanya mengarang cerita. bahkan alamat rumah yang tertera tidak terlalu jelas seperti yang anda katakan, saya mengetahui alamat rumah anda dengan jelas berkat bantuan teman saya. sayang sekali Tama tidak ingin pulang ke rumah dengan alasan yang tadi saya katakan, tantenya dan sang nenek selalu melukai Tama saat ayahnya pergi." ucap Gwen panjang lebar.
"bahkan berita di media tentang kehilangan Tama ada yang tidak disertai alamat rumah hanya nomer telpon dan imbalan uang yang akan di dapat setelah menemukan Tama." lanjut Gwen menjelaskan apa yang menjadi kesulitannya beberapa hari lalu.
"tapi saya yakin jika berita kehilangan Tama seperti apa yang saya katakan, atau ...." pak Arkan menjeda ucapannya lantas dengan cekatan mengotak-atik ponsel dan pergi berlalu setelah berpamitan dengan dirinya.
"kalau benar yang di katanya kemungkinan ada orang yang mengedit berita di media agar kehilangan Tama semakin sulit di temukan. bisa di sebut seseorang itu menginginkan Tama hilang lebih lama." gumam Gwen dengan pelan.
sekarang yang menjadi tersangka adalah seseorang bernama Sinta dan neneknya Tama.
Gwen mengambil Aqua botol yang ada di meja kecil sebelah ia duduk.
menenggaknya sampai rasa haus di tenggorokan hilang.
pintu ruangan di buka dengan kasar membuat Gwen langsung menoleh.
satu tamparan keras mengenai pipi kirinya ia tak mampu menghindar kejadian begitu tiba tiba.
Gwen menatap tajam pada seseorang yang kini berdiri di depannya dengan wajah memerah menahan amarah setelah menampar pipinya.
TBC...
*
*
*
nggak moodnya nulis cerita itu udah capek capek nulis eh kalian jadi pembaca nggak vote atau pun komen jadi males buat lanjutinya. vote nggak bayar kok.
dengan kalian vote ataupun komen itu artinya kalian menghargai hasil karya ku.
jadi komen NEXT biar konflik aku bikin seru.