
usai menjajakan dagangannya milik ibu itu dan mengantar bocah bernama Alia, Gwen menyusuri trotoar untuk kembali ke kontrakannya.
Gwen merogoh saku, benda yang ia cari tidak berada di saku, ponselnya hilang entah kemana. matanya menutup mencoba mengingat ingat dimana letak ia menaruh ponsel. tempat terakhir ia menaruh benda itu di laci meja tempat ia menjual daging tadi. lantas gwen berlari ke pasar .
benda kotak itu ternyata masih ada di laci, Gwen menghela nafas lega. menyugar rambutnya kebelakang dengan pelan .
melangkah keluar dari area pasar, seperti hari sebelumnya ia harus pulang tanpa kabar yang akan membuat tidurnya tenang. positif thinking mungkin untuk saat ini ia tidak mendapatkan pekerjaan tapi tuhan selalu ada untuk nya dan kemungkinan pekerjaan yang akan ia dapat lebih baik dari yang ia cari sedari tadi. nyeluh boleh patah semangat jangan, walaupun mencari pekerjaan ternyata tak segampang yang dipikirkan.
Gwen memasuki mini market yang berada di sebarang jalan. mengambil satu bungkus roti coklat dan sebotol air mineral. membayar bayar belanja dan keluar dari toko.
matanya melihat bocah berusia 5 tahun seorang diri di pinggir jalan tengah menatap diam kedalam toko. dari mata bocah itu ia tau apa yang di inginkan. Gwen segera menghabiskan Roti coklat ditangannya dan menghampiri bocah laki laki tersebut.
"mau es krim?" tanya Gwen berdiri di samping bocah itu dengan mata yang mengikuti arah pandang menuju kulkas es krim.
"iya."
"masuk sana pilih yang lo suka biar gue bayarin." bocah laki laki itu nampak semangat, memandang sebentar Gwen lantas memeluk pinggang gadis itu dengan erat dan langsung Berlari ke arah mini market menuju kulkas es krim.
mengambil ponsel dari saku saat kembali menerima pesan, membaca pesan yang masuk tanpa membalasnya. Gwen mengikuti langkah bocah itu sembari meneguk air mineral yang ia pegang. seketika air yang di mulutnya keluar, kedua mata membelalak, keranjang belanja yang di bawa bocah itu dalam sepersekian detik terisi penuh dengan berbagai merek es krim maupun rasa, dan lagi yang membuat sesak nafas kedua tangan bocah itu memegang dua es krim yang sudah terlepas kemasannya.
"anjir lo mau bikin gue miskin apa gimana?" Gwen berjongkok menggeser tubuh bocah itu yang tengah menikmati eskrim dengan menatapnya. Gwen meletakan eskrim itu kembali sesuai varian rasa yang di ambil bocah itu. matanya berkaca kaca saat melihat dengan jelas bahwa eskrim yang barusan ia letakan kembali kemasannya sudah sobek.
Gwen meneliti semua kemasan eskrim itu dan dugaannya benar semua es krim yang terletak di keranjang sudah sobek yang memperlihatkan isi nya. nafasnya tercekat bagaimana bisa hanya dalam beberapa detik bocah itu menyobek satu persatu kemasan agar bisa di belikan oleh dirinya.
"sialan nemu bocil kematian." Gwen menarik kerah belakang baju bocah itu dan membawa sekeranjang eskrim ke kasir untuk membayar.
gwen menatap miris total harga yang tertera semuanya menghabiskan 160 ribu hanya untuk sekeranjang eskrim.
"sialan makan apa gue besok." Gwen menyugar rambut dengan frustasi. matanya melirik tajam pada bocah yang sekarang membuka kemasan eskrim untuk ke 4 kalinya.
"heh bocah nama lo siapa?"
"Tama."
"bapak sama emak lo mana? suruh ganti duit gue." tama mendongak ke menatap Gwen yang lebih tinggi darinya lalu menggeleng.
Gwen menahan nafas sepersekian detik. gadis itu berjongkok di depan bocah itu, "Tama anak ganteng, anak manis ibu sama ayah kamu dimana? biar kakak anterin kamu buat ketemu orang tua tama." Gwen berkata lembut dengan senyum manis serta elusan penuh kasih sayang pada kepala Tama.
"awww..." eskrim di tangan tama jatuh, bocah itu meringis kesakitan saat pergelangan tangan di pegang Gwen. sontak langsung saja Gwen melihat pergelangan tangan bocah itu, tak dapat menyembunyikan raut wajah terkejutnya. kedua matanya membelalak tak menyangka apa yang ia lihat.
bocah itu membalikan badannya tanpa berucap satu kata pun, Gwen dengan gemetar menyibak baju yang di pakai tama. nafasnya tercekat pasokan udara oksigen seakan tak dapat mengalir semestinya. punggung bocah itu penuh dengan luka bekas cambukan.
Gwen langsung menggendong Tama tak lupa untuk menyahut kantong plastik berisi es krim. Gadis itu berlarian saat bus yang akan ia tumpangi berhenti di halte bus, 10 detik saja langkahnya pelan kemungkinan akan tertinggal.
gwen mendudukkan Tama di pangkuannya, bocah itu anteng duduk dipangkuan sembari melanjutkan makan es krim rasa coklat.
Gwen mengelus rambut Tama pelan sepanjang jalan.
selang beberapa menit bus berhenti, gwen langsung membawa Tama untuk turun dari bus tak lupa juga untuk membayar ongkos. Tiba di kontrakan gadis itu langsung mengambil kotak obat yang di simpan di samping lemari baju.
membuka baju tama dengan perlahan lalu mulai mengobati setiap luka bocah itu dengan pelan dan hati-hati. seketika gerakan tangan Gwen yang mengobati punggung Tama terhenti. di bagian pinggang terdapat bekas cambukan yang sudah mengering, jika dilihat sepertinya luka cambukan itu sudah lama.
"tama? dengerin kak Gwen, siapa yang bikin tama terluka kaya gini." Gwen beralih duduk di depan bocah itu dan lagi lagi tama tidak menjawab bahkan sekedar untuk menggeleng atau mengangguk pun tidak di lakukan.
"hey anak ganteng, ayah tama yang buat tama luka?" kali ini Tama menggeleng.
"nenek kamu? atau kakek tama yang bikin tama luka." Tama menggeleng pelan sebagai jawaban.
gwen menghela nafas pelan, "ibu tama?"
"ibu? tama nggak punya ibu. apakah ibu seorang yang sayang sama tama?" Gwen menatap kedua bola mata Tama, mendengar jawaban tama itu berarti bocah di depannya tidak memiliki ibu sejak bocah itu melihat.
"jadi yang bikin tama sakit siapa? atau mungkin tama ingat orangnya."
"tante jahat yang jalan sama papa dan nenek," lantas Tama mengeluarkan sesuatu dari dalam saku. sebuah anting berlian dengan ukiran mawar yang terdapat dua huruf yang kemungkinan singkatan sebuah nama.
Gwen mengamati dengan detail, ia yakin bahkan sangat yakin jika anting ini berharga fantastis, kemungkinannya yang menyiksa tama adalah perempuan kaya raya.
mungkinkah jika ayah tama seorang duda yang berpacaran dengan gadis muda tetapi tidak menyukai anak kecil lantas menculik tama dan menyiksanya agar segera meninggal dan berakhir menikahi ayah tama tanpa mengurus tama.
sedikit berlebihan tapi kemungkinan itu semua benar adanya.
Gwen meletakan Anting itu pada laci lemari baju, lalu kembali mengobati luka luka yang berada di tubuh tama.
rencananya setelah ini kemungkinan akan mencari tau identitas tama melalui internet atau mungkin nanti akan meminta bantuan teman lamanya. jika mengurus tama kelamaan bisa saja dua hari lagi ia akan mati kelaparan. dirinya masih harus mencari pekerjaan jika membawa tama akan menyulitkan dirinya tetapi jika ditinggal sendirian di kontrakan itu sangat berbahaya. satu jalan keluar adalah secepatnya mengembalikan bocah bernama tama kembali ke keluarganya.
TO BE CONTINUED......