
sepulang kerja Gwen menyempatkan mengajak Tama pergi ke supermarket terdekat untuk membeli keperluan dapur yang sudah habis, entah kenapa akhir akhir ini ia sedang beruntung tetangga kos nya yang memiliki hutang beberapa bulan lalu belum di bayar sekarang melunasinya. disaat keuangan sedang menurun tuhan selalu memberi kemudahan untuk nya.
pukul 9 malam supermarket ternyata masih ramai, beberapa pengunjung tampak sibuk memilih belanjaan yang akan mereka beli.
Gwen mengandeng tangan Tama dengan satu tangan yang lain mendorong troli. beberapa bahan makanan ia masukan ke troli yang ia bawa. "Tama mau beli apa?" tanya Gwen tanpa melirik Tama.
gadis itu fokus pada Snack makanan yang di rak.
"mau es krim." jawab Tama.
Gwen menoleh, beberapa cemilan masuk kedalam troli. "tama ambil sendiri ya, kalau udah nanti Tama ke sebelah sana." ucap Gwen menunjuk kearah berbagai macam sayuran.
Tama mengangguk lalu berlari ke arah kulkas es krim yang tak jauh dari mereka berdiri.
Gwen melanjutkan mendorong troli kearah berbagai macam sayuran, brokoli, kol tak lupa ia masukan bocah itu sangat menyukai dua sayuran itu. beberapa sayuran lainnya tak lupa ia ambil. mendorong sedikit troli untuk ke rak berisi buah. jeruk dan alpukat ia masukan ke troli, Tama menyukai jeruk dan alpukat untuk dirinya.
keningnya mengerut Tama tidak kembali kembali lantas memutar troli ke arah kulkas es krim, langkah ia percepatan saat melihat Tama di gendong seseorang.
"Tama!" Gwen merebut paksa Tama dari gendongan seorang pria berjas hitam.
Gwen terdiam saat kedua mata saling bertatapan, ia masih ingat siapa pria di depannya. setelah beberapa lama tidak bertemu sekarang ia dipertemukan dengan tiba tiba.
"kak Gwen, itu papa." Gwen tersadar, menatap wajah tama dan pria di depannya dengan bingung.
"Tama anak saya, beberapa bulan lalu dia diculik." pria itu merebut Tama kembali dan memeluknya dengan erat.
"papa."
Felix mendongakkan kepalanya menahan air mata agar tidak terjatuh, rasa rindu yang selama ini ia rasakan akhirnya terobati. ia di pertemuan kembali dengan Tama.
Gwen menelan ludah dengan perlahan, kenapa di saat ia sudah nyaman dengan Tama sekarang Tama di pertemukan dengan ayahnya.
"papa, Tama nggak mau pulang. Tama mau sama kak Gwen." Felix menatap Tama,matanya kini beralih menatap Gwen.
ia tak lupa dengan gadis itu, seseorang yang pernah mencuri perhatiannya. perempuan yang mencuri dompetnya dua kali.
"Felix." seorang perempuan dengan style serba mewah menghampiri ke tiganya.
Tama yang melihat langsung mengulurkan tangannya meminta gendong pada Gwen, Gwen langsung menyambut tubuh bocah itu dan memeluknya. pelukan Tama pada Gwen mengencang membuat Gwen mengerti bahwa Tama sedang ketakutan.
matanya melihat perempuan itu dari atas sampai bawah hanya beberapa detik, ia yakin jika perempuan di depannya adalah Tante Sinta yang di ucapkan Tama beberapa hari lalu.
"Tama! akhirnya." perempuan itu hendak mengambil Tama dalam gendongan Gwen, bocah itu menyentak kasar tangan perempuan itu, menolak untuk di sentuh.
"nggak mau Tante jahat! Tante udah bikin tama sakit."ucap tama memeluk erat leher Gwen. ucapan Tama barusan membuat Felix langsung menatap Sinta.
"Tama, perempuan ini yang bikin tama sakit?" tanya Gwen menatap tajam Sinta, Tama mengangguk pelan lalu menyentuh punggung nya beberapa detik. membuat Gwen yang paham langsung menurunkan Tama dari gendongan nya.
"jadi lo yang nyakitin Tama? Lo juga yang nyekap tama." Gwen mendorong Sinta dengan keras sampai wanita itu terjungkal kebelakang.
Sinta melotot kan matanya, "jangan asal fitnah ya lo? gue nggak kenal sama lo jangan ikut campur." Sinta membalas mendorong Gwen dengan kencang, beruntung dengan cepat gadis itu berpegang pada rak disampingnya sehingga tidak terjatuh.
"maksudnya apa?"
Gwen menatap Felix, lalu kembali menatap Sinta dengan tatapan bermusuhan, " dia yang culik anak lo, dia juga yang nyakitin Tama." ucap Gwen menunjuk tepat di wajah Sinta.
Felix menatap Sinta dengan pandangan yang sulit diartikan, "bener apa yang dia bilang?" Felix mencengkeram leher Sinta dengan erat. seolah ingin mematahkan tulang tulang leher perempuan itu.
Sinta yang di cekik hanya mampu menatap tanpa menjawab, untuk bernafas saja sangat berat.
Gwen menarik pelan pergelangan tangan Tama lalu menyikap kaos yang di pakai bocah itu sampai memperlihatkan punggung Tama dengan bekas cambukan yang sudah mengering. "benarkan Tama dia yang nyakitin Tama?" lagi lagi tama mengangguk.
"anak kecil nggak pernah berbohong."
Felix mengeraskan rahangnya, cengkraman pada leher sinta lebih erat, setelah melihat wanita itu hampir mati, Felix melepaskannya.
"benar-benar ya lo! gue pikir Lo bakal jadi yang terbaik buat Tama tapi ternyata." Felix hilang kendali, pria itu hampir memukul Sinta, sebelum akhirnya Gwen mencegah terlebih dahulu dan mengisyaratkan agar tidak dilanjutkan karena terdapat Tama yang masih kecil begitu juga dengan pengunjung supermarket yang melihat kearah mereka.
"ngapain juga jadi yang terbaik, Tama cuma anak pungut kamu Felix." Sinta berucap dengan songong, setelah mendapat cekikan dari Felix seolah tidak takut perempuan itu berkata dengan wajah angkuh.
"lagian Lo siapa sih ibu kandung Tama? bawa pulang gih kalau bener, kerjaan cuma rusuh." Gwen mendengar ucapan Sinta lantas menampar pipi Sinta dengan keras dan tak lupa mendorong tubuh Sinta hingga terjungkal.
Sinta yang terjungkal lantas bangun dan mendorong tubuh Gwen dengan keras sampai menabrak rak di belakangnya.
rak berisi makanan terjatuh menimpa Tama. Gwen menjerit memanggil Tama.
Felix langsung mengangkat rak makanan yang menimpa tubuh tama, cukup berat sehingga Gwen juga membantu. beberapa pelanggan juga membantu.
Tama terpejam terbaring dengan darah yang mengalir dari kepalanya. yang terkena ujung rak.
Gwen langsung menggendong Tama dengan tangan menekan sedikit luka bagian kepala agar darah yang keluar tak terlalu banyak. Gwen berlari keluar di ikuti Felix.
keduanya langsung berlari menuju mobil Felix yang terparkir di depan supermarket menuju rumah sakit terdekat.
TO BE CONTINUED......