
ALWAYS HAPPY 🤯
⚠️BAKAL ADA BEBERAPA PART ADEGAN PENYIKSAAN DAN IDENTIK KATA KATA KASAR🙏 MOHON MAKLUMI KARENA SAYA MENCIPTAKAN CERITA BUKAN TENTANG TOKOH YANG MENYE MENYE.
Pagi ini Gwen terbangun dengan mata yang sedikit sembab, jam menunjukkan pukul setengah 5 pagi masih banyak waktu sebelum berangkat sekolah.
mengambil air mineral yang di atas meja samping ranjang lalu menenggak sampai setengah gelas. meregangkan otot-otot lalu turun ranjang dan mengambil handuk.
25 menit berlalu...
gadis itu nampak sudah siap dengan seragam sekolah yang sudah lengkap di tubuh. menyemprotkan parfum lalu menyampirkan tasnya di pundak kanan. tidak sarapan dulu gadis itu langsung ngacir keluar rumah.
gedung rumah sakit tujuan sekarang, diparkirkan motor Scoopy lalu bergegas masuk.
"lho.. mbok disini ?" Gwen menyalami tangan wanita paruh baya yang notabene adalah pembantu di rumah Candra. ternyata pagi ini bukan Candra yang menemani sang kakak tetapi wanita paruh baya itu.
"di suruh aden nginep semalam." jawabnya sambil membenarkan tata letak selimut di tubuh Quella.
Gwen mengangguk, meletakkan plastik kreseknya di atas meja nakas. "mbok udah makan?"
"belum non kebetulan mbok baru bangun."
"ya udah makan sama Gwen mbok, Gwen tadi mampir di warung bubur ayam sekalian beli dua tadi." Gwen mengeluarkan dua bubur ayam yang ia beli serta dua botol air mineral.
"kok udah beli dua?"
gwen tersenyum, "kan biasanya ada Candra mbok, jadi tadi beli dua." wanita berusia setengah abad itu mengangguk, menghampiri Gwen lalu duduk di sofa sebelah gadis itu.
keduanya sudah akrab layaknya ibu dan anak, mengobrol bersama dan tak jarang keduanya bercanda sampai tertawa lepas.
setidaknya sebelum berangkat sekolah ia bisa tertawa bersama mbok Darmi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Gwen!" gadis yang di panggil menoleh saat suara cempreng yang ia kenali memasuki gendang telinga.
Aira tersenyum lebar, berlari kecil menghampiri sang teman, gadis itu juga baru berangkat ternyata.
"pagi,Gwen Amartha." Gwen menjawab dengan senyuman.
"mata lo kenapa semb..." belum sempat melanjutkan kalimatnya
deru mesin motor terdengar berurutan memasuki halaman sekolah. semua mata tertuju pada segerombolan itu.
Aira memepetkan badannya ke arah Gwen yang berdiri.
kedua mata gadis itu mengikuti setiap gerak gerik 5 orang yang baru saja menarik perhatian para siswi yang berada di parkiran.
"lo tau Gwen yang pake bandana hijau itu Deril." bisik Aira, Gwen menoleh kearah gadis itu. lalu kembali melihat pria ber bandana hijau yang tengah merapikan tatanan rambut.
Aira mengangguk, "kalau yang satunya lagi Aksa. dua-duanya bejat tapi yang lebih bejat Deril."
"dia Deril ingat itu Gwen. Deril!"
Gwen menatap dengan tenang ke lima orang di sana, matanya mulai menatap tajam ke arah Deril yang nampak bercanda ria dengan teman temannya. mendengar namanya saja membuat nya ingin meremukkan tulang tulang laki-laki itu.
tidak akan ia biarkan pria brengsek itu tertawa di saat kakaknya terbaring lemah akibat ulah mereka.
"apa apaan lo?" ucap Angga menatap sengit ke arah Gwen yang berdiri menghalangi jalan.
Gwen tak menghiraukan ucapan Angga, mata gadis itu menatap tajam Deril. Aira menggenggam tangan Gwen yang sedari tadi terkepal kuat. "hey wait, it's at school." ucap Aira menarik pelan pergelangan tangan Gwen.
"I don't care, I have to do it now."
Aira panik mendengar jawaban Gwen.
detik berikutnya kejadian yang begitu cepat membuat semua orang tercengang, gadis itu memberi satu bogeman pada Deril.
"WOY ANJING APA APAAN LO!" sentak Angga mendorong kasar tubuh Gwen.
Angga dan Aksa segera membantu Deril. pukulan yang tiba tiba membuat lelaki itu kaget dan berakhir terhuyung ke belakang.
"GUE GWEN AMARTHA, GUE TANDAI MUKA LO SEMUA BANGSAT!" nafas gadis itu memburu sebelum pergi dari sana Gwen meludah tepat mengenai baju Deril.
"MASALAH LO APA?" Deril berteriak sebelum kepergian Gwen semakin menjauh.
apa apaan kenal saja tidak sudah berani sekali dengannya.
sial!
tak ada jawaban yang ia dapat, gadis itu hanya mengacungkan jari tengah tanpa membalikan badan.
"siapa si tu cewek berani banget?" lelaki itu mendesis ngilu, pipinya ia rasa membiru. satu pukulan gadis itu setara dengan satu pukulan Felix.
cukup mengejutkan ternyata tenaga gadis itu tak main main.
"nggak tau cewek sinting." Dodi menjawab dengan santai, tangannya dengan cekatan membuka bungkus permen karet yang ia ambil dari saku celana Bram. "tapi cantik."lanjutnya di akhiri dengan cengiran lebar.
"masih pagi udah kena bogem." Bram menepuk pundak Deril sebelum kembali berjalan. di belakang nya di ikuti Aksa dan Dodi.
Angga merangkul pundak Deril, "kalau mau bales dendam sama tu cewek ajak gue, gue juga pengen bikin dia nangis minta ampun."
Deril tersenyum miring, satu hal yang selalu menarik perhatian. perempuan yang berani padanya.
"Gwen ya? cantik, berani juga, Menarik." gumam Deril dengan pelan.
Angga yang memiliki pendengaran tajam dapat menangkap apa yang di ucapkan Deril. dahi nya mengerut,"lo nggak tertarik kan?"
Deril melirik sekilas Angga, "tertarik." jawab Deril. Angga yang mendengar gelagapan.
"jadiin mainan."lanjutnya membuat Angga merasa lega.
bisa gawat seandainya Deril suka, bisa bisa rencananya membuat gadis itu menangis minta ampun gagal lagi.
"yok." Deril menarik kerah belakang Angga saat laki laki itu hanya diam tak bergerak.
"weh anjing lo." menyentak kasar tangan Deril lalu menoyor kepala belakang Deril.
Deril melirik sekilas Angga lalu berjalan dengan santai ke arah kelas.
TO BE CONTINUED....