
⚠️BAKAL ADA BEBERAPA PART ADEGAN PENYIKSAAN DAN IDENTIK KATA KATA KASAR🙏 MOHON MAKLUMI KARENA SAYA MENCIPTAKAN CERITA BUKAN TENTANG TOKOH YANG MENYE MENYE.
ALWAYS HAPPY 🤯
Jam istirahat sudah berlangsung 5 menit yang lalu, kelima siswa berpakaian acak acakan sesuai ciri khas mereka, beruntun berjalan di koridor sekolah menuju gudang yang terletak di lantai bawah.
pintu gudang yang nampak sudah keropos dibuka kasar oleh Angga, bukan Angga namanya kalau tidak bar-bar serta emosian.
"Sa, korek mana?" Aksa merogoh kantong celana nya lalu mengambil benda yang di tanyakan Angga.
"nih tangkap nggak." Aksa melempar korek dan langsung di tangkap Angga.
Angga membakar ujung nikotin yang ia selipkan di bibir nya, melempar kembali korek kearah Bram, ke-lima nya menyalakan rokok masing masing . rutinitas jika malas mengikuti pelajaran kelimanya akan berada di gudang sampai jam pulang sekolah atau mungkin akan ke roof top sekolah.
pintu gudang dibuka seorang gadis muncul dibalik pintu. "kak Bram ini pesanan nya." siswi cantik anak kelas X memberikan satu kantong kresek yang lumayan besar titipan dari Bram.
Bram menerima kantong yang di sodorkan gadis itu. "nama lo siapa?" tanya Bram.
gadis itu tersenyum malu, Bram itu idolanya dan sekarang ia ada kesempatan untuk berdekatan seperti hal yang membuat semburat merah di pipinya. ia menyelipkan sedikit rambut nya kebelakang telinga. "gisha kak." jawab Gisha dengan pelan.
Bram mengangguk lalu menaruh kantung plastik itu di atas meja rusak di samping. laki laki itu mendekati Gisha,mengikis jarak antara keduanya. Bram mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Gisha detik berikut nya kedua bibir itu saling ******* satu sama lain. keduanya berciuman. tangan Bram tak tinggal diam, meremas payudara gadis itu dengan pelan.
kegiatan berlangsung 5 menit seolah tak malu disaksikan ke empat temannya. Bram menjilat bibir bawahnya dengan gerakan seksual.
"thanks ya cantik." ucap Bram mengelap bibir Gisha yang basah menggunakan ibu jari.
"Btw tulis nomer lo disini." Bram menyerahkan ponselnya pada Gisha. gadis itu menerima dengan senang hati dan mengetik angka angka nomer hpnya setelah memberikan ponsel pada pemiliknya Gisha pergi berlalu meninggalkan gudang.
"woy anjir gile lu main sosor aja." Dodi melempar bungkus rokok yang kosong ke arah Bram.
Bram tersenyum miring memasukan ponselnya ke kantong lalu meludah ke lantai dan mengelap bibir nya dengan kasar. seolah ingin menghapus noda kotor yang menempel di bibirnya.
"lumayan lah buat mainan kalau lagi pengen." ucap nya membuka kantong kresek. "tapi tetep paling enak bibirnya Quella." ucapan Bram membuat ke empatnya tertawa.
Aksa mengangguk hanya perempuan itu yang mampu membuatnya bergairah, Aksa tersenyum miring saat membayangkan kejadian beberapa bulan lalu. "selalu nikmat."
"yoi... tapi baru digituin aja udah ngilang, kemana ya tu cewek padahal gue tiap malem bawaan nya pengen dengerin Quella mendesah" ucap Deril. pria itu mengotak- ngatik ponselnya lalu menunjukkan sebuah foto yang langsung membuat yang lain bersorak.
Quella selalu jadi candu nya. benar bukan?
"anjir, lo ada fotonya?" tanya Angga merebut ponsel Deril. foto gadis yang terlentang dengan posisi bugil, jelas di foto itu adalah Quella.
foto terakhir mereka bertemu.
"foto sama video. lumayan buat bahan kalau lagi pengen." Deril kembali merebut ponsel nya yang semula di genggam Angga. terlalu lama di tangan lelaki itu takutnya menimbulkan rasa cinta dan Deril tidak akan membiarkan itu terjadi.
"cuma Quella doang yang selalu bikin gue gairah. selalu bikin gue semangat, apalagi senyum nya ah sial... kenapa si tu cewek bikin gue gila gara gara cinta" Deril memejamkan matanya dengan bibir yang menunjukkan seringai an. detik berikutnya tembok di samping menjadi sasaran untuk melampiaskan emosi. pria itu menonjok beberapa kali dinding di sampingnya.
Bram menimpuk kepala belakang Deril, "orang nya udah Mati nggak usah di bayangin yang iya-iya." ucap Bram.
"Ella nggak mati! anjing Quella ada." Deril menyentak kasar tangan Bram.
jelas jelas gadis itu masih hidup, masih ada di dunia ini dan sahabatnya dengan santai mengatakan kalau gadis itu tidak ada?
His brain is empty! ya itu memang Bram.
Deril meremas rambut kepalanya Frustasi. bayang bayang wajah Quella yang menangis minta tolong memenuhi otaknya. seketika rasa sakit di kepalanya menyerang ,Aksa yang melihat itu merogoh saku celana Deril dan mencari obat yang selalu sahabat nya minum.
"nih minum." Aksa mengambil dua obat serta minuman dan memberikan pada Deril yang langsung di terima pria itu.
"mulai gilanya." Dodi berucap sembari menatap malas Deril yang bergetar mengendalikan emosi nya. sudah sering kejadian,
"Quella, Quella, Raquella Amartha!." Deril terus bergumam memanggil nama Raquella tak lama Deril mulai kehilangan kesadarannya akibat efek samping obat yang baru saja ia konsumi. masih terdengar samar-samar Deril menyebut nama gadis itu sebelum akhirnya benar benar kehilangan kesadaran.
Raquella Amartha.
"Raquella Amartha gue bener bener sayang sama lo." Aksa menangkap tubuh Deril yang hilang kesadaran. Bram membantu Aksa memapah tubuh Deril dan membaringkan tubuh pria itu di lantai yang beralas karpet plastik.
"Raquella Amartha?" semua orang menoleh ke arah Angga yang tiba tiba menyebutkan nama panjang Quella.
"Gue Gwen Amartha gue tandai muka lo semua brengsek." Angga mengulang ucapan Gwen pagi tadi.
semua orang terdiam,
seketika keadaan hening.
benar, dua orang yang ternyata nama belakang mereka sama.
Amartha sebuah marga?
sebuah kebetulan yang mengejutkan.
berbagai opsi mulai bermunculan di otak mereka.
"itu artinya mereka saudara? atau cuma kebetulan namanya?"
Angga terdiam ada sesuatu yang tiba tiba membuat hatinya gelisah. "cari tau identitas Gwen." ucap Angga pada Dodi.
harus ia pastikan, hatinya mengatakan akan ada fakta yang mengejutkan.
TO BE CONTINUED....