
Gwen memarkirkan motornya di parkiran rumah sakit, malam ini ia cukup bahagia uang hasil mencopet hari ini lebih dari cukup untuk membayar biaya rumah sakit. 12 dompet untuk malam ini.
kantong kresek berisi uang ia buat menjadi sebuah tas, ada 4 dompet cantik dan 2 tas yang nampak masih baru di tangannya.
matanya tersenyum saat melihat beberapa perempuan yang nampak asik nongkrong di cafe samping rumah sakit, otak kecilnya mengeluarkan ide cemerlang.
Gwen berlari menuju segerombolan perempuan itu yang jumlahnya ada 4 orang.
"permisi mbak." ucapnya dengan sopan tak lupa gadis itu juga tersenyum manis.
"ya ada apa ya?" tanya salah satu dari mereka.
Gwen berdeham kecil lalu menaruh barang barang yang di pegang di atas meja kecuali tas yang terbuat dari kantong kresek berisi uang.
"gini mbak kakak saya lagi di rawat di rumah sakit kebetulan biayanya cukup mahal nah kakak saya itu pengoleksi barang barang ini jadi karena kekurangan biasa saya di suruh jual ini semua " jelas nya tak lupa ia tersenyum.
salah satu dari mereka menatap Gwen dari atas sampai bawah, penampilan gadis itu benar benar berantakan.
"mau di jual berapa memang nya semua ini?"
" dua tas sama empat dompet semuanya 400 ribu nggak papa. masih bagus semua loh ini kak, bahannya juga bagus." ucap Gwen tak lupa memperlihatkan betapa bagusnya barang barang itu.
"serius ini semua 400 ribu aja?" tanya salah satu perempuan itu, matanya melihat kearah teman temannya yang nampak kegirangan.
ke empat orang itu langsung mengangguk dengan cepat, perempuan berbaju kuning dengan rambut yang pirang mengeluarkan dompetnya lalu memberikan uang berwarna merah sebanyak 6 lembar dan langsung memberikan kepada Gwen.
"loh mbak 400 ribu ini kebanyakan." Gwen menatap bingung uang di tangannya senilai 600 ribu kelebihannya cukup banyak.
"nggak papa kok anggap aja kita bantu kamu buat biaya kakak kamu itu." ucap perempuan itu tak kalah manis senyum nya.
Gwen ikut tersenyum selepasnya pamit untuk pergi dari sana.
"padahal ini harga aslinya aja 450 ribu brand nya cukup viral bulan ini. ih bodoh banget sih tu cewek." gadis berambut pendek tertawa mengejek kearah Gwen yang berjalan membelakangi mereka.
"iya bener banget ini juga dompet keluaran terbaru brand yang sama harganya di atas 200 ribu...eh ada yang jual murah kaya gini." salah satu dari mereka menimpali.
"biarin lah tampilannya aja tomboi mana tau beginian makanya jual nya murah." ke empat nya tertawa senang sembari mengambil barang yang mereka sukai.
"loh kok ada KTPnya?" ke tiganya menoleh lalu saling bertatapan.
"jangan jangan dompet orang lain yang baru aja di copet cewek tadi." ujar gadis berbaju kuning nampak shock karena di dompet yang ia pegang juga terdapat ktp serta beberapa surat lainnya.
"ah biarin lah cakep cakep juga nih barang."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gwen berjalan menyusuri lorong rumah sakit, saat ini menunjukkan pukul 07 malam. suasana rumah sakit cukup sepi bahkan hanya ada beberapa orang saja. Gwen melepehkan permen karet yang sudah hambar ke dalam tong sampah. mengambil kembali permen karet yang masih terbungkus lalu memakannya.
uang hasil menjual dompet dan tas dimasukkan kedalam tas kresek bergabung dengan yang lain.
sampai di meja kasir rumah sakit dengan penuh bangga ia serahkan kantong kresek berisi uang ia ke pada sang penjaga.
"bayar biaya rumah sakit atas nama Raquella." ucap Gwen menekan setiap kata yang keluar dari mulut.
si penjaga lantas mengangguk, mengambil plastik kresek itu lalu mulai menghitung jumlah uang di dalamnya.
dengan pelan mengambil barang itu dan tak lupa ia tersenyum tipis. "makasih mbak."
belum sempat melangkah ternyata lolipop dari anak kecil itu belum ia ambil lantas kembali menghampiri penjaga kasir dan mengambil lolipop itu.
setelah semuanya selesai dengan semangat berjalan riang, kali ini ia benar-benar bahagia usai membayar biaya rumah sakit Gwen lanjut berjalan menuju ruang rawat kakaknya.
bebannya satu persatu berkurang.
dering telepon di sakunya membuat langkah gadis itu terhenti. panggilan dari Gendhis, tanpa menunggu lama jarinya menggeser tombol hijau dan langsung menempelkan benda pipih tersebut di telinga.
"........"
ucapan Gendhis membuat Gwen mengepalkan tangannya, dengan cepat mematikan sambungan dan Langsung berlari menyusuri lorong rumah sakit menuju parkiran.
"sialan." umpatnya dengan keras saat helm motor nya terjatuh disaat waktu genting seperti ini. tanpa mengambil helm yang jatuh Gwen lebih memilih menendang helm yang berada di bawah lalu langsung menarik gas motor dengan kecepatan tinggi.
membelah jalanan Jakarta di malam hari, menerobos lampu lalu lintas dan tak mempedulikan beberapa umpatan pengendara lain yang melihatnya ia ugal ugalan.
ponsel di sakunya berdering terus menerus tanpa ia pedulikan, tujuan nya sekarang benar benar penting.
jalan yang sepi dan di kelilingi pepohonan iki ia lewati, bahkan tanpa lampu penerangan jalan.
Gwen menghentikan motornya di daerah yang sangat sepi, Gendhis sudah menunggu di samping motor trail nya.
"mana tu bajingan?" Gendhis tak menjawab gadis itu memilih untuk menarik pergelangan tangan Gwen agar mengikuti langkah nya untuk memasuki hutan.
hanya memerlukan waktu 10 menit ternyata di tengah hutan terdapat rumah kosong bertingkat dua, Gwen dan Gendhis saling menatap.
"gue berhasil ngelacak keberadaan Deril, dan gue udah pastikan kalau tu anjing di dalam." ucap Gendhis sembari menunjuk kearah rumah itu.
sial...
dua hari ia mencari keberadaan Deril ternyata berada di rumah kosong yang letaknya cukup jauh dari perkotaan, bagaimana bisa ada rumah kosong di dalam hutan.
"kapan lo ngeliat kalau di dalam ada tu anjing." Gwen mengamati rumah itu, nampak sunyi tak ada tanda tanda kehidupan. di depan rumah itu nampak banyak di tumbuhi ilalang yang tinggi tinggi tapi jika di lihat lantai rumah itu nampak bersih dan terawat.
Gendhis menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "gue liat deril di sana 1 jam yang lalu, gue sempet pergi ada urusan."
"kenapa lo nggak bilang gue lebih awal?" Gwen dengan gemas menjambak rambut Gendhis sampai gadis itu mendongak.
Gendhis tertawa lalu menampik kasar tangan Gwen. "seandainya gue bilang lo lebih awal mungkin lo udah mati." Gendhis tersenyum miring ia menoleh kearah Gwen lalu kembali menatap rumah kosong itu. "lo lihat itu." Gwen menatap kearah yang ditunjuk Gendhis. lalu menatap bingung kearah gadis di sampingnya.
"itu ada bendera ."
Gwen tertawa kecil lalu mengambil rokok yang terselip di bibir Gendhis, menghisap rokok itu lalu menghembuskan asap rokok secara perlahan. "itu artinya?....."
"Yes.. kita rencanakan besok malam dan jangan lupa ratakan orang orang itu." ucap Gendhis berbalik badan berlalu meninggalkan Gwen yang masih bersandar di pohon.
"itu artinya semua ini salah?" Gwen tertawa kecil, menatap rumah satu satunya di tengah hutan yang terang akibat obor obor di sekitar rumah itu.
JANGAN LUPA KOMEN DAN VOTE KARENA ITU MEMBUATKU SEMANGAT DALAM MENULIS🐳
TO BE CONTINUED.....