
Sinta menekan nomor calon mertuanya, perempuan itu sedang di toilet wanita yang berada di mall yang sekarang ia kunjungi, setelah tersambung dengan Rima langsung saja sinta menempel benda itu pada telinganya.
"ma, Sinta kayanya lagi di ikuti orang, gimana ini." ucap Sinta dengan sesekali melongok keluar sudah pergikah dua orang berseragam itu dari tempat yang tak jauh dari toilet. Saat sedang asik memilih baju Sinta baru nyadar jika dua orang laki laki berseragam hitam yang sempat di temui di tempat makan ternyata mengikuti kemana ia pergi, saat pergi ke toko sepatu dua pria itu juga mengikuti walau masih ada jarak.
Dugaannya semakin benar saat ia memasuki toilet kedua pria itu juga mengikuti lalu berhenti di depan toilet wanita yang sedikit lebih berjarak. beberapa menit ia menelisik kedua orang itu juga belum pergi dan dari gerakan kedua pria itu sangat mencurigakan.
"baru saja mama mau nelfon kamu ada yang harus mama kasih tau sama kamu Sinta. Felix nyuruh anak buahnya untuk menyelidiki kegiatan kamu beberapa hari mereka mencurigai kalau kamu dalangnya perempuan suruhan mama buat pura pura jadi dalang penculik Tama seolah tidak berpengaruh lagi bagi mereka dan malah kamu yang di selidiki, prediksi perempuan bernama Gwen mampu mencuci otak Felix untuk lebih fokus ke kamu.Semua rencana sudah tersusun rapi Sinta! Tapi Semua gagal Tama di culik entah siapa orangnya. Jika Tama sadar dari obat yang selalu mama kasih kita bisa di penjara sangsi terbesar hanya Tama dan anting itu." ucap Rima di sebrang sana.
Sinta yang mendengar menggigit bibir bawahnya dengan panik. "terus gimana ma, aku nggak mau kalau kita di penjara." ucap Sinta dengan lirih, matanya berkaca-kaca.
Rencana yang disusun calon mertuanya gagal Dan bisa saja ia di penjara beberapa hari lagi kalau semua ini terbongkar, ia tidak mau dipenjara.
"kita harus menemukan Tama terlebih dahulu sebelum mereka menemukan Tama. Waktu Tama sadar dari obat yang sering mama kasih 3 jam lagi, kita punya kesempatan 3 jam buat cari Tama dan bunuh anak itu."ucapan Rima membuat Sinta kaget bukan main.
 Rencana awal hanya ingin membuat Tama koma selama beberapa bulan agar rencana pertama berhasil tapi sekarang beralih untuk membunuh Tama karena rencana melabuhi mereka dengan menyewa seorang untuk berpura pura jadi tersangka penculikan Tama gagal.
Awal dari terjadinya penculikan karena Rima ingin warisan keluarga suaminya jatuh ke tangan anak yang akan keluar dari rahim Sinta, tetapi karena Tama sudah menjadi bagian dari keluarga suaminya dan Tama seorang anak laki-laki tentu saja 45% warisan suaminya jatuh di tangan Tama jika sudah dewasa dan 10% lagi akan di berikan ke cucu kedua dan seterusnya Rima tidak mau itu terjadi. Jadi mau bagaimana caranya hanya satu cara agar 45% jatuh pada cucu kedua yaitu tidak adanya Tama.
Penculikan yang terjadi agar Tama hilang dari pandangan mereka, kesalahan karena lupa tidak membayar orang yang ia suruh untuk mengurung Tama alhasil Tama di buang dan ditemukan Gwen.
Jika Tama menghilang selama satu tahun dan dinyatakan meninggal maka 45% warisan itu akan jatuh di cucu kedua kalau itu terjadi maka Rima akan mengambil yang 25% nya dan sisanya untuk anak Sinta, Sinta sendiri setuju karena dirinya akan mendapatkan sendiri 5% dari Rima lagi pula jika Felix benar akan menjadi suami Sinta maka harta lelaki itu sudah jelas hartanya juga bukan?.
Semua terlalu rumit, Sinta lagi lagi panik mendengar ucapan ke dua Rima yang kemungkinan besar hanya dirinya yang di penjara karena sudah lebih dari 4 kali ia datang ke tempat Tama untuk menyiksa bocah itu lantaran terbawa emosi akibat perhatian Felix selalu tertuju bocah itu.
Sinta memasukkan ponselnya kedalam tas lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan, sebisa mungkin ia harus bersikap tenang dan tidak mencurigakan.
Sinta keluar dari toilet lalu berjalan melewati pria pria itu seolah memang tidak mengetahui kalau sedang di ikuti.
Sinta menyetop taksi lalu langsung masuk, memberitahu alamat rumah pada sang supir taksi. Sinta menoleh ke belakang dan benar saja saat taksi yang ia tumpangi berjalan, mobil hitam berisi orang yang mengikuti sedari tadi mengikuti taksinya.
Sinta menekan nomor telepon seseorang dan menempelkan ponsel itu pada telinganya. sudah ke 3 kalinya ia menelfon nomor itu dan 3 kalinya pula tidak terjawab, Bohong kalau ia tidak kesal.
"mana sih ni orang lagi genting kaya gini nggak jawab panggilan dari gue." gerutu Sinta dengan raut wajah kesal.
Sinta keluar dari taksi saat sudah sampai di rumahnya, usai membayar Sinta langsung masuk ke rumahnya. Sebelum menutup gerbang ia melirik ke belakang ternyata mobil itu parkir tepat di bawah pohon di sebrang jalan yang tak jauh dari rumahnya.
"BI...BI MURNI."teriak Sinta memanggil pembantunya. Tak ada respon Sinta lagi lagi di buat kesal, perempuan itu melempar tas nya di sofa lalu pergi berjalan menaiki tangga untuk ke kamar.
"maaf nyonya tadi saya di belakang."ucap bi murni menundukkan kepalanya.
Sinta tanpa membalikan badan mengusir art itu dengan mengibas-ngibas tangannya menyuruh pergi.
"siapin air hangat, sama cemilan."
"maaf nyonya apa tadi." tanya bi murni karena tidak mendengar ucapan Sinta barusan.
"UDAH TUA BUDEK LAGI, SIAPIN AIR HANGAT GUE MAU MANDI! BESOK NGGAK USAH KERJA LAGI." sentak Sinta lalu berlalu kembali melanjutkan langkahnya setelah menatap sinis pembantunya yang berusia 40 tahun itu.
BI murni mengehela nafas pelan, tersentak kaget saat ponsel jadul miliknya berdering.
"hallo."sapa bi murni mengawali pembicaraan kepada sang telfon.
"taruh benda tadi di kamar Sinta, jangan sampai ketahuan lalu tinggalkan saja karena sudah langsung terhubung ke ponsel saya."
BI murni merogoh sakunya memandang benda kotak berukuran mini dengan warna hitam seksama, ada rasa ragu dan takut tapi bagaimanapun ini adalah sebuah perintah yang bayarannya sudah ia ambil.
"baik saya akan menaruhnya sesuai arahan anda." ucap bi murni lalu mengantongi ponsel jadulnya ke kantong setelah panggilan terputus.
BI murni memejamkan matanya berdoa dalam hati semoga ini berjalan lancar.
To be continued