GWEN Amartha

GWEN Amartha
SEBUAH FAKTA



"Gue saudara nya Grasia." Gwen tersedak setelah mendengar ucapan Gendhis. buru buru ia mengambil minuman.


apa tadi katanya? saudaranya Grasia?


yang benar saja!


"lo beneran saudaranya Grasia?" tanya Gwen untuk memastikan sekali lagi, satu hal ucapan yang keluar dari mulut Gendhis membuatnya tak habis pikir. se-sempit itu dunia ini?


"iya gue saudara nya Grasia, makanya gue sebar video itu buat permulaan bales dendam gue ke anak anak Scorpio.


"sumpah! tapi muka lo sama Grasia beda." ucap Gwen menelisik wajah Gendhis lebih dekat, perempuan didepannya sangat beda jauh dengan wajah Grasia, seminggu yang lalu Aira memperlihatkan wajah Grasia dan ini sangat berbeda dengan yang di katakan sebuah saudara, bahkan satu persamaan saja tidak ada.


"demi apa lo?"


Gendhis memutar bola matanya malas, bukan untuk pertama kali ada yang mengatakan seperti itu karena yang terjadi benar adanya, ia dan kakaknya sangat berbeda jauh. kalau ada perumpamaan berlian dan batu itu lah dirinya dan sang kakak. jika kalian pikir dirinya yang seperti berlian jelas bukan, karena yang batu adalah dirinya.


kakaknya cantik, pintar, dan segalanya sedangkan dirinya biasa biasa saja dan apa adanya tanpa ada keistimewaan kecuali di sirkuit.


"sumpah ya bilang sama gue demi apa, lo sama Grasia saudara an?" ujar Gwen dengan mata yang memicing, sekali lagi wajah keduanya beda jauh jika dikatakan saudara. ia tidak percaya itu!


"demi....."


"KOPI ITEM SATU." teriakan seorang pria yang baru saja duduk di kursi kosong yang memotong pembicaraan kedua gadis itu.


"heh curut, bikinin gue kopi buru," Gendhis memutar bola matanya malas.


"nggak puasa om?" tanya Gendhis pada pria itu yang nampak asik memakan kacang goreng di piring.


"nggak." Gendhis menatap sinis pria tua itu, bulan ramadhan pesen kopi. sudah tau agamanya islam tapi tidak puasa, sudah tua bukannya tobat malah maksiat.


gang kecil yang di tempati Gendhis mayoritas warga non Islam tapi masih ada juga yang islam.


"pantes mukanya kek Dajjal." celetuk Gendhis menyajikan kopi pada pria itu.


"lo sendiri?" Gendhis mengangkat kalung salib yang terpasang di lehernya, memberi tau kalau dirinya non islam.


"ati ati aja om biasanya orang yang nggak puasa sering minum kopi besoknya mati, mending besok puasa aja deh lo om."


"heleh.... bocil lo tau apa? belajar aja lo nggak usah banyak bacot, contoh noh anak nya mpok kinar seumuran lo udah bisa beli motor sendiri." ucap pria itu sambil menyeruput kopi nya.


Gendhis tertawa kecil, ia tau anaknya mpok kinar beli motor dengan uang nya sendiri, tapi yang jelas ia tau pekerjaan sampingan anaknya mpok kinar itu. simpanan aki aki bau tanah.


"om juga banyakan ngopi mulu, suaminya mpok kinar seumuran om udah mati kenapa om belum."


"heh sembarangan bocah."Gendhis tertawa puas, melempar kembali bungkus rokok kosong yang semula di lempar pria itu.


berjalan kembali kearah Gwen, "gue tau lo mau ngajak gue buat bales dendam kan?"


Gendhis tersenyum tipis lalu keduanya bersalaman.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Angga menggebrak meja dengan keras, matanya memerah menahan amarah. bohong kalau ia tidak emosi karena kejadian ini. dirinya di hukum habis habisan oleh ayahnya, mulai dari semua aset yang dimiliki di sita oleh ayahnya, mobil, motor kartu dan bahkan apartemen yang ia tinggali selama ini juga tidak luput dari sitaan ayahnya.


lebam luka pukulan juga tak kalah ia dapatkan di beberapa tempat, hanya ada ktp dan uang 300 ribu yang ia bawa di dompet.


Deril menatap kosong, pada benda pipih di tangannya. ia memasang kamera pengintai di ruang Quella, setiap menit tak pernah mengalihkan pandangannya barang sedetik pun. kelimanya sama sama memiliki luka di wajah akibat pukulan dari ayah mereka masing masing hanya Dodi yang memiliki luka cukup ringan di banding yang lain.


"obati dulu muka lo." Deril sama sekali tak menggubris perkataan Dodi yang meminta untuk mengobati luka lebam di wajahnya, Pukulan dari ayahnya cukup parah di tambah lagi kakak nya juga sama memberi beberapa pukulan di wajah, bukan sebab kelakuan nakalnya hanya saja ia telah membentak ibunya di depan kakak serta ayahnya hanya karena tidak mau berhenti menangis alhasil kedua laki laki itu memukul dirinya habis habisan.


Felix tersenyum saat melihat kelima sahabatnya yang babak belur dipukuli ayah mereka sendiri, bukanya ia tidak prihatin terhadap teman temannya hanya saja ini bentuk peringatan kalau bermain cantik saat nakal itu perlu.


Leon mengambil kaleng minuman bersoda lalu menenggak sembari berjalan dan duduk di samping Deril.


"siapa?" tanya Leon saat mengintip apa yang di lihat Deril di ponsel lelaki itu, seorang perempuan yang nampak berganti pakaian di bantu oleh perempuan lainnya dan satu suster perempuan di ruang itu.


Leon mengalihkan pandangannya saat bagian buah dada si perempuan nampan terlihat jelas usai di copot bajunya. "emang udah gila ni anak." gumam nya ternyata seseorang yang tengah berganti pakaian itu adalah Quella. ia cukup tau sekilas cerita keduanya.


dan Leon simpulkan bahwa Deril, temannya selain Brengsek juga sudah tidak waras. obsesi pada perempuan itu membuat otak kecil Deril semakin menyusut.


ibarat otak Deril yang sebelumnya sebesar kedondong kini sudah menyusut dan berakhir seberapa tai cicak....ah bahwa mungkin Deril tidak punya otak lagi.


Felix mengambil korek lalu membakar ujung nikotin yang ia selipkan di bibirnya, setelah menghisap benda itu kini asap mulai berterbangan di sekitarnya.


"yang nyebar video siapa?"


Leon menatap Felix yang bertanya dengan nada santai. kemudian matanya beralih menatap Dodi dan yang lain. sama sekali tidak ada yang menyauti ucapan Felix. pertanda belum ada yang tau si pelaku.


"ada nyali juga." ucap Leon.


Dodi mengambil jaketnya lalu memakai benda itu di badan, "gue udah telfon temen gue buat bantu, kebetulan dia hacker profesional. gue yakin nggak sampai 2 jam kita udah tau siapa pelakunya." ujar Dodi lalu menyambar kunci motor lalu melenggang pergi begitu saja.


baru tiga langkah Dodi berbalik badan, menyugar rambutnya dengan kasar saat membaca notifikasi dari temannya.


"ternyata gue salah bahkan yang share video udah hampir 13 juta akun sosial media. jelas buat nyari siapa pemilik akun pertama yang menyebar bakal memerlukan waktu yang lama dan skill yang benar benar Pro." ucap Dodi, lagi lagi semuanya hanya diam tak ada satupun yang menyauti ucapan Dodi.


"dan kata temen gue kemungkinan besok kita taunya, itu hasil cepat kalau nggak nambah yang share video." lanjutnya lalu menatap satu persatu wajah teman-temannya.


...**UDAH MALES BANGET BUAT LANJUT NULIS, SELAIN IDENYA NGGAK ADA, YANG KOMEN JUGA NGGAK ADA ITU BERARTI NGGAK ADA JUGA YANG NUNGGU CERITA GWEN UPDATE 😭😶...


YA UDAHLAH YA.......


SEE YOU** ...