GWEN Amartha

GWEN Amartha
28



"silahkan tuan." Gwen tersenyum tipis pada pelanggan, hari ini hari pertama ia bekerja di sebuah bar yang cukup terkenal. kebetulan dulu ia pernah menjadi bartender selama 2 bulan menggantikan temannya yang kecelakaan.


bermodal melihat internet dan belajar dengan bartender yang lama kini ia memberanikan diri melamar pekerjaan menjadi bartender dan kebetulan tuhan berada di pihaknya sehingga ia diterima dengan senang hati. tak sampai disitu ia diperbolehkan membawa Tama saat bekerja asal tidak menggangu kenyamanan pelanggan dan berkeliaran semaunya.


Gwen melirik ke arah Tama yang asik bermain Lego di bawah meja. bocah itu mengerti jika ia sedang bekerja tak mengganggu sedikitpun bahkan terus menyusun Lego seolah sedang berada di dunianya sendiri.


Gwen tersentak kaget saat sebuah tangan menyentuh dagunya.


"beri saya minuman yang nikmat nona." laki laki dewasa didepannya berucap dengan genit seraya mengedipkan sebelah matanya.


Gwen tersenyum tipis, tangannya mulai terampil menuangkan minuman yang banyak dipesan para tamu.


"siapa namamu gadis cantik? saya baru melihat, pekerja baru?" tanyanya dengan meneguk minuman.


Gwen mengangguk pelan, walau risih karena sendiri tadi di perhatikan sebisa mungkin ia tahan. tangannya dengan cekatan membersihkan meja yang kotor terkena cipratan alkohol yang ia tuang tadi.


"kau belum menjawab pertanyaan saya yang pertama,"


Gwen mendongakkan kepalanya menatap pria dewasa itu, "nama ku Riana." Gwen menjawab pertanyaan dengan ngawur.


"okay Riana, saya menyukai mu bagaimana jika kita berkencan semalam, kamu tidak perlu bekerja disini lagi selama mau melakukan kencan bersama saya. kemauannya mu akan saya turuti. apapun itu? uang, tas mahal selagi saya puas kamu akan mendapatkan yang kamu mau" di akhir dengan kecupan mesra yang di tinggalkan di pipi Gwen. pria itu kembali duduk dengan benar di kursinya.


sialan! Gwen kecolongan.


gadis itu meletakkan gelas yang baru saja ia isi kembali dengan kasar di atas meja. melupakan kesopanan Gwen menarik kerah kemeja pria dewasa itu agar mendekat dengannya.


"gue kasih tau sama lo, gue nggak butuh uang Lo. jangan harap ada kencan, pergi sana! gue bukan ******." Gwen mendorong tubuh pria itu dengan kasar. tidak penting jika didepannya adalah pelanggannya. ia bukan anak kecil yang tidak tau arti kencan yang di maksud pria itu.


seolah harga dirinya di rendahkan pria itu bangkit dari duduknya,


"gadis miskin aja jual mahal."ucapnya melangkah melewati meja yang menjadi sekat pembatas antara Gwen dan pria itu.


"saya tau kamu butuh uang maka dari itu saya tawarkan penawaran terbaik untuk mu, tinggal bilang iya, kita akan berkencan. saya puas dan kamu mendapatkan apa yang kamu mau. simpel dan sama sama menguntungkan. bagaimana?" penawaran terakhir dari pria itu, jarinya menyusuri lengan Gwen yang langsung di tepis kasar oleh si pemilik.


"sekarang lebih baik lo pergi dan cari yang lain." Gwen menggeser tubuhnya mempersilahkan pria itu pergi.


seolah belum menerima penolakan lelaki itu memegang tangan Gwen dengan cukup erat, "apa susahnya berkencan dengan ku? satu kali saja. oke hanya berkencan tidak dengan yang lain bisakah?" pria itu menatap wajah Gwen dengan tatapan mendalam. dari dua jam yang lalu ia memperhatikan Gwen membuat hatinya berdesir, wajah yang cantik senyum yang manis benar benar memabukkan dirinya.


"tidak terimakasih untuk tawarannya." Gwen melepas genggaman tangan pria itu dengan pelan dan kembali menyuruh pria itu untuk pergi. masih di jam kerja tidak enak jika nanti ada pelanggan dan pria itu masih merusuhi pekerjaannya.


"susah banget sih, kencan doang apa susahnya! saya tidak meminta yang lain dan saja juga bakal bayar kamu." ucapnya memegang erat pergelangan tangan Gwen. matanya menatap tajam.


Gwen meringis kesakitan, cengkraman di pergelangan tangan sangatlah keras.


"AWWW. ....sialan anak siapa ini." pria itu menatap tajam bocah laki laki yang baru saja menggigit lengannya dengan keras.


"PERGI!" Tama berteriak dengan telunjuk menunjuk kearah luar. bocah itu memasang badan di depan Gwen seolah melindungi wanita itu.


pria itu menatap Gwen dan Tama berganti, "oh sudah punya anak rupanya? tapi...." belum selesai dengan ucapannya Tama sudah kembali menggigit tangan pria itu dengan keras lalu mendorongnya.


"sialan!" berjalan pergi dengan menatap tajam keduanya. mengambil kunci mobil dan mengeluarkan beberapa lembar uang lalu pergi.


Gwen memeluk tubuh tama beberapa saat, "makasih Tama udah bantu kak Gwen." ucap Gwen mencium kedua pipi gembul tama.


Tama mengangguk, matanya menatap pergelangan tangan Gwen yang memerah akibat cengkraman pria tadi. Gwen mengerti akan kekhawatiran bocah itu lantas tersenyum, "kak Gwen nggak papa kamu nggak usah khawatir, sakit dikit nanti di kompres juga sembuh."


ucap Gwen mengelus puncak kepala Tama.


Tama mendongakkan kepalanya menatap wajah Gwen dari bawah, dengan pelan menarik tangan gadis itu lalu mengecupnya dua kali tepat di bagian yang memerah. "cepat sembuh." ucap tama dengan pelan.


walau pelan Gwen mendengar, tak kuat menahan senyum. Gwen tersenyum lebar melihat tingkah menggemaskan bocah itu. "sayang Tama deh pokoknya." Gwen kembali jongkok lalu kembali memeluk Tama dengan erat.


pelukan terurai saat kedatangan pelanggan.


TBC.....