GWEN Amartha

GWEN Amartha
COWOK BRENGSEK



ALWAYS happy 🤯


Deril menatap sedu foto gadis berambut panjang yang tengah tersenyum kearah kamera, gadis yang mampu menarik perhatiannya. gadis yang hampir merebut kewarasannya saat perempuan itu hilang begitu saja.


kali ini cowok itu hanya sendirian, memilih menjauh dari teman-temannya untuk menenangkan diri.


tebakan nya selama ini benar Raquella masih hidup! hanya saja ia tidak tau keberadaan gadis itu.


jam pelajaran berlangsung sudah lebih dari 20 menit, tapi yang dilakukan Deril hanya duduk diam di meja kantin yang berada di pojok.


menyugar rambutnya kebelakang lalu berdiri dari duduknya. ponsel ia masukan ke dalam saku, saat melihat sekeliling matanya menangkap sosok yang ia cari sendari tadi.


Gwen!


gadis itu berjalan tergesa-gesa dengan tas ransel yang di pundak kanan nya. terlihat wajah gadis itu menegang seolah tengah menghawatirkan sesuatu.


dengan cepat karena tak ingin ketinggalan mengejar Gwen, Deril berlari sebisa mungkin untuk dapat menyeimbangi langkah Gwen.


"Gwen." Deril menahan pergelangan tangan Gwen.


Gwen yang melihat siapa yang memegangi tangan nya adalah Deril, pria yang ia benci lantas menyentak tangan pria itu dengan kasar. "Mau apa lo?" dengan tatapan sinis, Gwen bersedekap dada.


"gue udah tau lo adik nya quella. sekarang gue tanya dimana kakak lo?"


Gwen yang mendengar terkekeh sinis, menatap tajam cowok di depannya. "nggak punya malu lo? cowok brengsek kaya lo yang udah ngerusak kakak gue dan sekarang nanya kakak gue dimana. mau ngapain? mau buat kakak gue menderita belum puas lo Bangsat...hah? belum puas lo!" Deril yang mendengar ucapan Gwen menggertakan giginya dengan kuat ia tak bermaksud untuk membuat Quella menderita.


ia sayang perempuan itu.


hanya saja cara ia mencintai gadis itu yang salah.


"gue sayang sama kakak lo."


"KALAU LO SAYANG KAKAK GUE NGAPAIN LO GILIR KAKAK GUE SAMA TEMEN ANJING LO! BANGSAT." Gwen berteriak tepat di telinga Deril. ia cengkram dengan kasar kerah Deril lalu menepuk-nepuk pipi kanan cowok itu. tidak keras tapi berulang kali membuat pipi Deril mulai memerah.


"dengerin baik baik, gara gara ulah lo Kakak gue hampir mati. jadi tunggu aja kapan gue bikin lo sama kaya kakak gue." ucap Gwen lalu meludah dan tepat mengenai ujung sepatu Deril.


kakak gue hampir mati!


kakak gue hampir mati!


kakak gue hampir mati!


kalimat laknat itu terus terngiang-ngiang di otak.


Deril menatap punggung Gwen yang semakin menjauh, laki laki itu berbalik lalu berlari menuju kelas untuk mengambil kunci motornya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gwen berjalan dengan tergesa-gesa di koridor rumah sakit, menekan tombol lift untuk kelantai 3. pintu lift terbuka gadis itu kembali berjalan dengan tergesa-gesa menuju satu lorong dengan ruangan paling pojok tujuan utamanya.


"gimana Dra?" tanya nya dengan menatap pintu ruangan Quella yang tertutup rapat.


"masih diperiksa dokter."


Gwen menghela nafas pelan, mendengar kondisi kakaknya semakin drop membuatnya kalang kabut. untung saja setelah dua jam berurusan dengan hukuman yang sempat ia dapat akibat ketiduran di kelas serta izin guru Bk akhirnya ia dibolehkan untuk keluar sekolah sebelum jam pulang.


"waktu gue telfon lo emang kakak lo sempet nge-drop, tapi berita baiknya kakak lo tadi udah sadar " Candra tersenyum simpul saat ada secerah harapan di mata Gwen. tangannya mengelus rambut Gwen dengan sayang lalu membawa gadis itu dalam pelukan.


"tapi kabar buruknya mungkin trauma kakak lo bakalan ke semua cowok, waktu mau diperiksa dokter Hendrawan kakak lo nangis histeris dan berakhir dokter susi yang turun tangan." tubuh Gwen menegang mendengar itu. satu tangannya mengepal kuat.


bagaimana bisa kakaknya Trauma hebat sedangkan pemicu trauma sang kakak masih bisa tertawa . ia tidak akan membiarkan tawa itu terjadi lama.


penderitaan harus dibayar penderitaan.


pintu ruang rawat terbuka, dokter cantik keluar menghampiri keduanya yang berpelukan.


"saudarinya pasien Raquella?" Gwen menunjuk dirinya sendiri dengan satu langkah lebih dekat dengan dokter susi.


"silahkan ikut keruangan saya, saya jelaskan dengan detail kondisi kakak kamu." Usai mengatakan itu Dokter susi berjalan menuju ruangan di ikuti dengan Gwen dibelakang.


"silahkan duduk." Gwen duduk di kursi yang berhadapan dengan Dokter susi,hanya meja yang membatasi jarak keduanya.


"jadi begini, Alhamdulillah kondisi kakak kamu sudah mulai membaik. kondisi janinnya juga sehat hanya saja Trauma kakak kamu mungkin butuh waktu yang cukup lama agar terbebas dari Trauma nya. saya sarankan temani kakak kamu terus dan bantu pasien cepat keluar dari ruang hitamnya. jangan dulu kakak kamu dipertemukan dengan laki laki." jelas Dokter susi. Gwen mendengar dengan baik setiap kalimat yang keluar dari mulut dokter muda itu.


"tapi masih bisa sembuh kan dok?"


"ya, jangan buat dia sedih dan mengingat kembali kejadian yang membuat kakakmu trauma, sebisa mungkin kamu harus selalu membuat pasien bahagia dan melupakan kejadian itu." Gwen mengangguk sebagai jawaban.


"kondisi janin sehat tapi masih rentan keguguran jadi nanti saya kasih resep vitamin agar janin lebih kuat,bisa di tebus di apotik rumah sakit ya." pena mulai menggores kertas putih polos, menuliskan resep resep obat yang harus di minum sang pasien.


Gwen menerima kertas itu lalu beranjak keluar ruangan.


ada rasa bahagia dan ada rasa sedihnya.


kabar baik dan kabar buruk selalu datang secara bersamaan.


Gwen memasuki ruang inap kakaknya, ternyata ada Candra di sana. di liriknya sang kakak ternyata terlelap, mungkin karena efek obat penenang yang di berikan karena sempat menangis histeris tadi.


"kakak gue trauma sama laki laki jadi gue harap lo paham." Gwen menaruh tas ransel nya di sofa sebelah Candra yang sedang duduk


lalu ikut duduk di sebelah cowok itu.


"iya gue paham." ucap Candra sembari memberikan sebotol kemasan kopi susu yang sudah ia buka tutupnya pada Gwen.


keduanya diam diri berperang dengan isi pikiran masing-masing.


TO BE CONTINUED...