
Sinta memasuki ruang kerja Felix, ini sudah jam istirahat tapi lelaki itu masih berkutat dengan kerjaan kantornya.
perempuan itu langsung memeluk Felix, "aku kesini karena ingin mengajakmu makan siang, karena hari ini aku ingin memakan makanan Cina. bisakah kau menemaniku." ucap Sinta tepat di samping telinga Felix.
Felix menyingkirkan tangan Sinta yang nakal membelai dadanya dan bahkan mengecup lehernya setelah mengungkapkan keinginannya.
"Sinta jaga batasan mu, keluar dari ruangan ku hari ini aku tidak makan siang kerjaku sangat banyak." ucap Felix masih sibuk dengan lembaran lembaran kerja yang berada di meja kerja.
Sinta mendengus tidak suka, merebut berkas yang di tangan Felix lalu menyembunyikan di belakang tubuhnya. "kau lupa beberapa hari yang lalu kau juga menolak makan bersama ku. Felix kita akan menjadi sepasang suami istri jadi bukankah seharusnya kita lebih sering menghabiskan waktu bersama?"
Felix menghembuskan nafas dengan pelan, merendam gejolak amarah yang siap meledak kapan saja. jika bukan mengingat perempuan didepannya ini yang mendonorkan darah padanya sehabis kecelakaan 5 bulan yang lalu mungkin Felix sudah memukul perempuan angkuh ini. karena tidak ingin memiliki hutang Budi alhasil ia menyetujui ucapan ibu tirinya agar bertunangan dengan perempuan bernama Sinta ini sebagai tanda terimakasih.
Sinta tulang punggung keluarganya, menghidupi dua adik adiknya yang masih sekolah dan mencukupi ekonomi keluarganya. setelah kematian ayah perempuan itu keluarga Sinta bangkrut. ibu Sinta yang sekarang sakit sakitan dan Sinta yang berusia 20 tahun harus mencukupi kebutuhan ketiga keluarganya setelah lebih dari satu bulan berada di rumah sakit ibu perempuan itu pergi kembali ke yang maha kuasa menyusul ayah Sinta.
dengan berat hati ia menerima pertunangan itu dan mengajukan syarat agar pernikahan mereka tidak dalam waktu dekat dan keluarga pun setuju.
awal bertemu ia merasa cocok dengan Sinta, pemikiran yang dewasa, sifat yang kalem membuat dirinya tak berfikir banyak kali untuk bertunangan tapi setelah beberapa bulan belakangan ini ia merasa tidak cocok. sifat wanita itu berubah dalam sekejap Sinta yang ia kenal kalem dan sekarang lebih agresif, Sinta dulu berpakaian sederhana dan sekarang perempuan itu sudah berani memakai pakaian seksi.
"Sinta beberapa Minggu ini pekerjaan banyak di tambah Tama yang di rawat di rumah sakit, hampir setiap malam aku harus berjaga jika suatu saat Tama kembali kejang kejang." jelas Felix menatap Sinta yang berdiri di sampingnya, meminta agar wanita itu memahami situasi saat ini.
Sinta memutar bola mata malas bahkan bibirnya berdecak tak suka.
"kan ada siapa itu namanya, Oh... Gwen jadi kamu nggak usah repot-repot ngurus Tama, biar Gwen aja baru setelah Tama sembuh kamu kasih uang ke Gwen sebagai tanda terimakasih sudah merawat Tama. selesaikan." Felix menatap tak suka Sinta setelah mendengar usulan perempuan itu.
memutar kursi duduknya agar menghadap sempurna pada sinta, "tidak semudah itu Gwen juga yang merawat Tama beberapa hari sebelum kecelakaan itu, jangan kamu lupakan Sinta Tama seperti sekarang gara gara kamu!"
Sinta bersedekap dada, "jadi kamu nyalahin aku?"
"aku banyak kerjaan kalau kamu udah nggak ada urusan silahkan pergi." ucap Felix malas berdebat dengan Sinta, karena ia tahu tidak akan ada habisnya.
Sinta mendengus kesal lalu pergi dari ruang kerja Felix dengan raut masam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gwen membaca novel online di ponselnya, satu tangan mengusap-usap pelan kepala Tama agar bocah itu segera terlelap. beberapa hari dugaannya tentang infus itu ternyata salah, tetapi setelah kejadian itu Gwen tidak akan membiarkan kecolongan Tama kembali kejang-kejang. sayangnya semalam bocah itu kejang kejang dan bahkan lebih parah entah apa penyebabnya semuanya masih di selidiki. cctv lorong ruang rawat Tama rusak sehingga membuat minim penyelidikan.
Gwen mematikan ponselnya saat merasa mules menyerang perutnya sepertinya ia akan buang air besar. gadis itu mengecup pipi gembul tama lalu pergi ke toilet untuk menuntaskan hajat nya.
Gwen merasa aneh akhir akhir ini, badannya lebih sering kecapekan dan nafsu makannya kurang, mungkin dirinya kurang tidur setelah keluar dari pekerjaan nya dan fokus mendampingi Tama jam tidur berantakan karena ia harus lebih ekstra merawat Tama yang setelah kejadian kejang kejang bocah itu lebih manja.
baru saja membuka pintu kamar mandi setelah menyelesaikan urusan hajat matanya melotot kaget melihat seorang suster yang membekap wajah Tama dengan bantal.
Gwen memutar arah ke tangga darurat saat tertinggal lift yang di naiki suster itu, menuruni tangga dengan langkah lebar bahkan gadis itu tidak takut jika sewaktu-waktu akan tergelincir dan jatuh dari tangga.
usai berada di lantai bahwa matanya mengedar ke lobi rumah sakit, Gwen kalah cepat suster itu sudah pergi entah kemana. dikarenakan suster itu menggunakan masker sehingga ia tidak mengenali wajahnya.
marah! satu kata yang menyelimuti aura Gwen.
dengan mata kepala sendiri ia melihat dengan jelas bahkan seseorang berusaha membunuh Tama, mengingat nama Tama Gwen kembali panik berlarian di lorong rumah sakit dengan secepat mungkin. menekan tombol lift dengan cepat, hilang kesabaran karena tak kunjung terbuka Gwen kembali berlari menuju tangga darurat.
menaiki tangga tanpa melihat dengan benar, jantungnya berdetak kencang, firasat mengatakan sesuatu akan terjadi.
tubuhnya langsung lemas seketika melihat ruang rawat Tama kosong. masih belum mempercayai apa yang dilihat Gwen berlari ke sisi ranjang siapa tahu Tama terguling ke samping dugaannya salah. tidak ada Tama di sana. Gwen berjalan cepat menuju kamar mandi memeriksa setiap sudut.
tidak ada.
tubuh Gwen lemas seketika keringat dingin membanjiri kening, tangannya bergetar ia kecolongan lagi. kakinya melangkah lebar pergi keluar untuk mencari siapa tahu Tama dibawa keluarganya jalan jalan di sekitar rumah sakit. semua sudut rumah sakit di telusuri, hampir 20 menit telah berlalu tidak ada tanda bahwa Tama di sekitar rumah sakit.
Gwen meremas rambutnya Frustasi. membalikan badan untuk pergi ke resepsionis untuk meminta izin melihat cctv yang tidak rusak.
beruntung pihak rumah sakit mengizinkan untuk melihat.
Gwen fokus pada layar komputer yang menampilkan cctv lobi rumah sakit dan parkiran rumah sakit beberapa menit yang lalu.
matanya menajam saat melihat seorang wanita paruh baya sedang membopong tubuh kecil bocah laki laki, Gwen tidak buta untuk tidak mengenalinya, menyalin nomer plat mobil yang di kendarai wanita itu lalu segera pergi.
"GWEN!" panggil Felix yang menyamakan langkah cepat Gwen, lelaki itu datang setelah mendengar kabar dari Gwen jika Tama hilang.
"kenapa bisa?"
tidak menjawab pertanyaan Felix,Gwen memberi isyarat untuk Felix memberikan kunci mobil, Felix menuruti perintah Gwen dan memberikan kunci mobil, keduanya langsung memasuki mobil.
Gwen memberikan ponselnya pada Felix, "kirim nomer plat mobil itu ke nomor *******." Felix mengangguk langsung cekatan apa yang di minta Gwen.
tak lama pesan masuk dari ponsel Gwen, matanya melihat ponsel dan sesekali melihat jalanan.
"puncak." tak bisa untuk tidak kaget mobil yang membawa Tama memasuki kawasan puncak, dari yang terlihat di ponsel Gwen mobil itu mengendarai dengan kecepatan tinggi. tak mau kehilangan banyak waktu Gwen menambah kecepatan mobil tanpa pikir panjang. menyalip setiap kendaraan di depannya dengan lihai. walaupun baru beberapa kali mengendarai mobil tapi ia dengan cepat menguasai teknik mengendarai mobil layaknya seorang pembalap.
AUTHOR PELUPA+MALES REVISI JADI KALAU ADA KESALAHAN MON MAAF YA.
TO BE CONTINUED.....