
pintu lift terbuka Gwen membeku saat melihat siapa yang berada di dalam Lift, ia tau dan ia ingat. tanpa berfikir panjang Gwen membalikan badan dan tak jadi masuk lift.
sungguh jika di suruh menaiki tangga atau bersama orang itu ia akan lebih memilih menaiki tangga.
belum sempat melangkah seseorang itu menarik pinggangnya kedalam lift dan mempersempit jarak di antara keduanya.
"hallo ladies, senang berjumpa denganmu. bagaimana apa kau puas dengan isi dompet ku." suara bas yang mengalun di telinga Gwen membuat bulu kuduk berdiri. Gwen menelan ludah dengan perlahan.
sial sial sial......
hanya di dalam hati ia mengumpat, entah kenapa lidahnya kelu walau hanya untuk mengatakan satu katapun. ia benar benar mati kutu.
"apa telinga mu rusak? atau mulut mu yang sudah tak berfungsi."
Gwen mendongakkan kepalanya berbalik menatap dua mata tajam itu, ia dorong sekuat tenaga tubuh pria itu sampai ada jarak dengan tubuhnya. Gwen mendekati Felix lalu menarik kerah baju pria itu dengan kasar. "berhenti mengatakan hal yang tidak penting bung."
"lalu kenapa kau diam saat aku bertanya?" Felix bersedekap dada menatap Gwen dengan raut wajah datarnya.
pria itu Daguartha Felixio Alaric seseorang yang menyelamatkan dirinya dari kejaran warga dan seseorang yang ia curi dompetnya.
"kau perlu aku menjawab apa? aku banyak urusan jika kau meminta agar aku mengembalikan uang mu maka itu hal mustahil karena uang mu sudah habis." jelas Gwen dengan nada yang malas. pintu lift tak kunjung terbuka dan situasi ini membuat tak nyaman.
"saya tidak mengatakan itu,"
Gwen menoleh lalu tertawa pelan,
"oh pria kaya, aku suka gayamu terimakasih berkat uangmu yang tampan itu aku tidak perlu capek capek kerja." Gwen berbisik tepat di telinga Felix. pintu lift terbuka Gwen menyempatkan satu kecupan di leher Felix sebelum pergi.
tanda terimakasih? mungkin.
Felix tertawa menatap punggung kecil Gwen yang semakin menjauh.
"satu kecupan untuk satu dompet, dia harus membayar untuk satu dompet ku yang baru saja gadis itu ambil."
mengambil dompet? ya untuk kedua kalinya Felix kehilangan dompetnya beserta isi isinya.
"kelinci nakal." gumam Felix.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gwen mengehentikan motor tepat di depan Gendhis yang sudah menunggu sejak 20 menit yang lalu. sepulang sekolah ia mampir ke rumah sakit dan mendapatkan fakta yang mengejutkan. tas yang berisi seragam sekolah ia letakan di aspal tepat di bawah motornya.
"gimana?"
"langsung aja." keduanya berjalan menyusuri jalan setapak yang akan membawa mereka ke rumah kosong.
gwen dan gendhis bersembunyi di balik pohon yang ukurannya cukup besar, memandang rumah kosong dari jarak kurang lebih 7 meter. didepan sana banyak motor motor yang diketahui milik anggota geng layger terparkir rapi di halaman.
gwen mengikat rambutnya lebih rapi dan kuat agar tak cepat terurai saat nanti berkelahi. sedangkan gendis melepas kemeja kotak berwana merah dan mengikat kuat melingkar pada pinggangnya.
Gendhis memasukkan permen karet yang baru saja ia buka kedalam mulutnya mengunyah benda manis itu lalu melirik Gwen dan memberi isyarat agar gadis itu berjalan terlebih dahulu.
Brak....
pintu di tendang dari luar oleh Gwen, keduanya berjalan menuju ruangan yang memperlihatkan sekumpulan laki laki yang semula duduk kini berdiri siaga.
"DAMARES!!!!." Teriak Gwen menendang tong sampah yang di dekatnya.
"siapa lo berdua?" tanya salah satu dari mereka.
"mana bajingan itu! DAMARES KELUAR LO BANGSAT!" kini giliran Gendhis yang berteriak memanggil pria bernama Damares.
selain itu Damares juga yang mendirikan geng Layger untuk membuat gara gara pada anggota Scorpio. entah apa tujuannya misi pria itu berjalan dengan lancar.
"mana ketua kalian?" anggota inti geng layger saling melirik.
"mau apa? jangan sok jago kalian berdua." ucap Rio wakil geng layger.
"emang kenapa kalau kita sok jago? bawa ketua lo pada buat sujud di kaki gue." ucap Gendhis menatap sinis Rio.
"nggak usah banyak gaya lo berdua nggak takut sama kita kita huh? nggak takut kalau kita emmmm..." ucap seseorang yang berdiri di samping rio, anggota Layger tertawa saat coky mengatakan kalimat terakhir sembari memperagakan tangannya meremas sesuatu dengan wajah menampilkan ekspresi mesum.
Gwen yang merasa jijik mengambil tong sampah yang sempat ia tendang tadi, melempar benda itu sampai mengenai wajah Coky.
Gendhis memiringkan kepalanya lalu terkekeh geli melihat kelakuan Gwen.
"kenapa gue dan temen gue harus takut sama kalian. ingat ya seekor singa dengan gampang memburu sekumpulan rusa." ujar Gendhis membuat sekumpulan itu menatap remeh.
"singa? singa betina maksud lo?" tawa anggota Layger menggema di ruang itu. semuanya menatap remeh pada dua gadis itu.
Rio berjalan santai menuju keduanya, berdiri dua langkah di depan Gendhis dan Gwen.
"cantik, sebelum kita-kita jadi ganas lebih baik kalian berdua pergi dari sini. nanti di cariin mama loh." ucap Rio lalu mencolek dagu Gendhis sembari mengedipkan sebelah matanya.
"bacot lo anjing!" Gendhis menendang rahang Rio dengan keras.
lelaki itu mundur sampai tiga langkah. Rio memegang rahangnya yang sakit karena tendangan dari Gendhis.
"kita kesini nggak mau ribut sama lo pada, tujuan gue mau bawa mayat Damares. MANA DAMARES SI ANJING ITU." Gendhis berteriak kuat sembari menatap satu persatu wajah anggota Layger.
suara tepuk tangan dari lantai atas membuat semua orang mengalihkan pandangan.
"wow...wow...wow .. ternyata Layger kedatangan tamu penting." orang itu yang mereka cari. Damares berdiri di undakan tangga terakhir.
"hello girls are you two looking for me?" ucap Damares dengan santai.
Gwen mengepalkan tangannya saat melihat Damares tersenyum kearah.
"DAMARES!!! SHIBAL SAEKKI." Gwen berlari kearah Damares lalu menendang dada pria itu sampai terjungkal ke belakang.
nafas Gwen mulai tak beraturan itu tandanya amarah kini menyelimuti diri gadis itu.
"wow, girl calm down let's talk nicely." Damares berdiri lalu mendekati Gwen. tangannya memegang dadanya yang terasa nyeri akibat tendangan kuat dari Gwen, tetapi bibir pria itu tersenyum manis dengan kedua mata yang menyorot pada Gwen.
keduanya saling bertatapan satu sama lain, Gwen menatap benci pada pria yang berdiri satu langkah di depannya.
"what do you mean by all this?" desis Gwen mencengkeram erat leher Damares.
bukannya takut atau kesakitan pria itu malah tersenyum.
"membalas rasa sakit." tangan Damares terulur mengusap rambut Gwen dengan lembut.
"yang lo bikin. Gwen!" Gwen mendongak saat tangan Damares mencengkeram rambutnya dan menarik dengan kuat sehingga kepalanya menatap ke langit langit ruangan.
**Hallo semua cerita dari awal udah melenceng dari pemikiran jadi rada bingung buat nyari titik sambung sampai terjadi obsesi antara pemeran laki laki terhadap pemeran perempuan . jadi agak susah buat rajin update dan maaf jika tidak nyambung cerita nya.
makasih buat yang udah baca dan udah vote and komen.
TO BE CONTINUED..... SEMOGA SUKA 👋👋👋👋**