GWEN Amartha

GWEN Amartha
RAQUELLA



.


.


Mobil jeep wrangler rubicon berwarna silver melesat kencang membelah jalanan kota Jakarta di malam hari. usai berkumpul dengan anak anak Scorpio Deril memutuskan untuk pulang sebelum jam 10 malam.


rem berdecit saat ban mobil bergesekan dengan aspal. matanya memicing saat melihat seseorang yang ia kenali menyalip mobilnya dengan sembarangan seolah tidak takut mati. terlihat pengendara itu nampak sedang buru buru, Deril dengan cepat melajukan mobilnya mengikuti arah orang di depannya.


sosok itu berhenti di halaman rumah sakit yang cukup terkenal di Jakarta. Deril menatap tanpa berkedip sosok itu.


Gwen.


orang itu adalah Gwen.


terlihat Gwen buru buru melepas helm nya lalu berlari memasuki gedung berwarna putih itu. Deril membuka pintu mobil lalu ikut berlari di belakang Gwen.


jam 10 malam suasana rumah sakit cukup sepi, hanya ada beberapa suster yang berlalu lalang di koridor.


usai menaiki lift dan berakhir di lantai 3 Deril berjalan dengan hati hati tepat di belakang Gwen.


ruang mawar nomer 313 di bagian paling pojok, Gwen memasuki ruang itu. selang beberapa menit terdengar langkah seseorang yang menuju kearahnya.


Deril berbalik badan, memakai kacamata serta tudung jaketnya tak lupa ia pakai. berselancar di layar ponsel seolah tengah sibuk dengan benda itu.


Gwen tanpa curiga melihat begitu saja.


setelah punggung Gwen menghilang dari pandangan Deril. lantas lelaki itu dengan penasaran mendekati ruang yang sempat di masuki Gwen.


gorden jendela ruangan terbuka sedikit hal yang menguntungkan bagi Deril untuk mengintip siapa yang di dalam. perasaan mulai tak karuan saat melihat siluet seseorang yang selalu ia tunggu tengah berbaring.


Deril membuka pintu dengan cepat tanpa menimbulkan suara. langkah nya dengan mantap menuju lebih dekat ranjang rumah sakit.


jantung nya berdetak kencang saat melihat bekas cakaran yang cukup dalam di pergelangan tangan seseorang yang tengah tertidur pulas di ranjang rumah sakit.


Deril ingat bekas cakaran itu.


semakin mempercepat langkahnya dan berhenti tepat di samping orang tersebut.


matanya melotot ternyata dugaannya benar orang yang selama ini ia cari sekarang ada di depannya.


Raquella Amartha.


sosok perempuan yang membuat nya Frustasi.


Deril menundukkan wajahnya, terpaut jarak 10 cm dari wajah Quella. senyumnya mengembang saat mengetahui orang itu benar benar Raquella. tangan kasarnya mengelus lembut pipi Quella.


usapan demi usapan Deril lakukan. bibir pucat sang gadis membuat sebuah lengkungan manis yang tercipta di wajah Deril.


"you are always beautiful dear." bisik Deril tepat di telinga Quella.


"Darling I miss you." satu kecupan mendarat di kening Quella


"long time no see. do you miss me too?" dan satu kecupan kembali mendarat di wajah gadis itu, hanya saja kali ini bukan kening melainkan bibir Raquella.


Deril perlahan menggenggam tangan Quella yang terpasang infus. elusan penuh kelembutan menyapu punggung tangan Quella.


keberuntungan untuk malam ini, Quella tertidur tanpa penjagaan.


senyum Deril tak henti-henti. kembali lagi malam ini ia beruntung.


"hello Dear." sapa Deril saat kelopak mata yang sedari tadi tertutup sekarang sudah terbuka.


kedua mata yang saling bertatapan.


Deril dengan sangat jelas melihat binar ketakutan di mata sang pujaan hatinya.


*nggak Deril aku mohon!


lepasin! please....


kalau emang kamu suka jangan kaya gini.


MAU APA KAMU DERIL!


NGGAK JANGAN PLEASE*....


"NGGAK JANGAN!" teriak Quella. gadis itu langsung meronta-ronta saat Deril dengan cepat membawanya ke dalam dekapan pria itu.


"NGGAK PLEASE, JANGAN." Deril mendekap tubuh Quella semakin erat saat ronta an Quella semakin menjadi jadi.


Deril mencoba menenangkan Quella.


mengelus lembut rambu Quella dan mencium berkali kali pucuk kepala gadis itu.


infus di tangan Quella terlepas dengan kasar, darah segar langsung mengucur dan menetes di lantai serta di selimut.


"hey what's up, I'm sorry to all." bisik Deril masih mencoba menenangkan Quella.


"ENGGAK!...LEPASIN PLEASE! SAKIT. CUKUP,CUKUP AMPUN." Jeritan Quella semakin menjadi pintu ruangan berkali kali ada yang mencoba membuka. pintu sebelumnya di kunci dari dalam oleh Deril alhasil orang di luar mencoba keras untuk membuka.


di luar ruangan, dua suster tengah mencoba membuka pintu, satu suster lainnya menghubungi pihak satpam. jeritan pasien benar benar kencang alhasil terdengar langsung oleh beberapa orang.


lorong di tempat itu hanya ada 4 ruangan dan hanya 2 ruangan saja yang terisi.


dokter susi berjalan cepat menuju dimana ada dua suster yang sedang mencoba membuka pintu, di belakangnya ada satu satpam yang mengikuti langkah dokter susi.


"tidak bisa di buka dok, lagian juga pasien tidak mungkin mengunci begitu saja. saya rasa ada orang lain di dalam karena saya sempat mendengar suara seorang laki laki." jelas salah satu suster.


Dokter susi mendekati pintu lalu mengetuk pintu dengan keras.


"siapa pun didalam tolong keluar, pasien punya trauma terhadap laki laki. tolong keluar saya mohon! teriakan pasien sangat keras dan itu mengganggu pasien lainnya." ucap Dokter susi, tangannya berkali kali mencoba membuka pintu dengan mengotak-atik kunci.


teriakan di dalam semakin keras hal yang membuat pasien di kamar sebelah langsung keluar.


"sus tolong telfon keluarga pasien." ujar dokter susi yang di angguki suster.


"biar saya yang mencoba bu." Dokter susi bergeser saat salah satu satpam ingin mencoba.


dokter susi mengintip dalam ruangan siapa yang ada di dalam. ada sedikit celah untuk melihat, pria berjaket hitam tengah memeluk pasiennya yang terus meronta ronta minta di lepaskan.


siapa pria itu? tubuh orang itu lebih tegap dari pria yang selalu menemani Raquella. lebih kekar dan nampak lebih tinggi.


"sepertinya kunci di dalam masih tergantung jadi tidak bisa." satpam itu berujar setelah mencoba memasukkan kunci dan tidak bisa.


30 menit berlalu.....


Gwen datang bersama candra.


keduanya berlarian menyusuri koridor rumah sakit dengan buru buru.


Gwen menggigit bibir bawahnya saat mendengar kabar bahwa ada seseorang di dalam ruang kakaknya sehingga membuat Quella menjerit histeris.


"masih belum bisa dibuka?" tanya Candra setelah berdiri di dekat satpam.


"kunci di dalam masih tergantung jadi tidak bisa."


"minggir semua." pinta Gwen, gadis itu berancang-ancang untuk mendobrak pintu.


cobaan pertama gagal, cobaan kedua juga gagal. pak satpam dan candra membantu mendobrak pintu secara bersamaan. percobaan kelima pintu terbuka.


Gwen berlari kearah kakaknya. memeluk gadis itu dengan erat.


" LEPAS! JANGAN SIKSA AKU!" quella terus memberontak saat Gwen mencoba menenangkan.


candra membuka pintu kamar mandi menyusuri setiap ruangan di bantu juga dengan pak satpam dan suster. ternyata pria itu sudah tidak ada.


Dokter susi mengambil suntikan yang sudah berisi cairan bening dan segera menyuntikkan cairan itu.


"ini Gwen kak Quella, jangan takut." berkali kali Gwen mencoba menenangkan Quella agar tidak memberontak. tapi nihil semakin di dekap semakin meronta ronta.


suara Quella merendah, bahkan hampir tak terdengar mungkin akibat banyak berteriak. dahi dan tubuh perempuan itu mengeluarkan keringat dingin.


perlahan tubuh Quella meluruh, tenaganya seolah terkuras habis. matanya masih terbuka tetapi mulutnya tertutup rapat dengan wajah pusat pasi.


Gwen menghapus air matanya. mengecup kening Quella lalu ikut duduk di ranjang.


semua orang sudah keluar dari ruangan hanya tinggal Gwen dan Quella.


disisi lain Deril berdiri di balkon kamar sebelah ruangan Quella. lelaki itu terduduk lesu bersandar di dinding,air mata perlahan meluruh di kedua pipinya.


beruntung balkon kamar quella dengan kamar sebelah hanya berjarak satu meter. hal yang memudahkan Deril untuk melompat dan berganti tempat.


"Raquella." gumam Deril menjambak rambutnya dengan Frustasi.


^^^TO BE CONTINUED.....^^^