GWEN Amartha

GWEN Amartha
Part 27



Gwen menyugar rambut kebelakang, matanya membaca satu persatu kata yang tertera di layar ponsel miliknya, usai mendapatkan informasi dari temannya dan menyuruh untuk membuka berita di dua bulan lalu kini ia mengetahui jika bocah yang di temukan kemarin adalah korban penculikan.


tertera berita itu di sebar dua bulan lalu itu artinya Tama di sekap selama dua bulan. lalu bagaimana bisa bocah itu lolos dari sang penculik. nomor telepon yang tertera di berita beberapa kali ia hubungi tetapi hasilnya nihil, tidak ada respon sama sekali.


"kak Gwen, tama laper." Gwen menoleh tama bocah itu duduk di sampingnya sembari memegang perut.


Gwen melirik jam dinding sekarang pukul 9 malam, padahal sore tadi keduanya sudah makan bersama di rumah makan dan menghabiskan cukup banyak makanan tapi ternyata itu masih kurang. beruntung untuk hari ini karena kakaknya mengirim uang yang cukup untuk makan seminggu dan lagi keberuntungan tak sampai disitu dirinya mendapatkan pekerjaan.


Gwen mengikat rambutnya asal, mengambil jaket dan memakai sepatunya. keduanya berjalan beriringan keluar dari gang. Gwen mengedarkan pandangannya ternyata beberapa penjual masih buka ada pula yang sebagian sudah tutup. saat saat seperti inilah ia merasa beruntung karena tempat tinggal yang ia tempati banyak penjual makanan jadi jika suatu saat kelaparan di jam jam seperti ini akan lebih memudahkannya mendapatkan makanan "mau makan apa?"


tama berfikir sejenak lalu jari telunjuk menunjuk kearah penjual nasi goreng. Gwen mengikuti arah tunjuk Tama, mengendong tama lalu berjalan menyebrangi jalan.


"nasi goreng satu bang nggak pedes," Gwen mendudukkan Tama di pangkuannya sembari menunggu. sedikit risih ternyata ada beberapa pelanggan yang berjenis kelamin laki-laki tengah menyantap makanan dan melihat kearahnya.


"janda bukan? kalau iya sabi lah."


"dia ngontrak di pak yanto sendirian."


"badannya bagus, cantik juga kalau beneran janda boleh lah."


beberapa bisikan masuk dalam telinga Gwen, buru buru Gadis itu membayar pesanan nya lalu melenggang pergi. biarpun laki laki itu berbisik bisik tetapi telinganya sangat peka terhadap suara walaupun itu pelan.


Tama berlari kecil menyeimbangi langkah Gwen yang cepat dan lebar.


"kak Gwen." tama mendongak seraya menggoyangkan tangan Gwen agar perempuan itu menoleh kearahnya.


Gwen menoleh lalu menghentikan langkahnya, karena kesal akan perkataan terakhir lelaki yang di warung itu alhasil dirinya lupa dengan tama. ia terus terusan berjalan cepat dengan langkah lebar tanpa menggendong bocah itu.


"maafin kakak, lagi kesel." Tama mengangguk lalu mengulurkan kedua tangan keatas agar di gendong Gwen.


Gwen yang mengerti langsung menggendong tama dan kembali melanjutkan langkahnya untuk balik lagi ke kontrakan.


"tama makan sendiri bisa? kakak ada urusan bentar." Tama mengangguk, berjalan kearah dapur untuk mengambil sendok dan piring.


Gwen membaca pesan yang tertera di ponsel, pesan dari temannya yang ia mintai tolong untuk mencari alamat rumah keluarga Tama. karena di berita yang menyebarkan tentang kehilangan tama tidak meninggalkan alamat hanya meninggalkan satu nomor telepon yang bahkan sampai sekarang tidak dapat di hubungi.


Gwen mencatat alamat rumah Tama di kertas kecil, besok setelah bekerja akan ia antar tama kerumahnya.


gwen beranjak dan mendekati bocah itu, "tama kak gwen udah dapat alamat rumah tama, besok kita kesana ya."


tama menghentikan kunyahan di mulutnya, lalu menggeleng. "nanti nggak ketemu kak gwen lagi dong, tama ngga suka. di sana tama sendirinya. banyak orang jahat kak Gwen." ucap tama, bibir bocah itu melengkung kebawah matanya berkaca-kaca bersiap akan menumpahkan air mata itu.


"loh kok banyak orang jahat, siapa yang jahat bilang sama kak Gwen biar kakak pukul." Gwen menatap Tama dengan rasa penasaran sekaligus khawatir. bagaimanapun tama masih kecil walau baru mengenal ia sudah mulai menyayangi tama, anak kecil tak seharusnya mendapatkan perlakukan yang tidak menyenangkan.


"tama nggak mau pulang, mau sama kakak terus," bocah itu menggeleng cepat dan menolak mentah mentah dengan bersedekap dada tanpa melihatnya.


gwen memegang kedua pipi gembul tama menatap kedua bola mata bulat tama. "kamu nggak kangen sama ayah kamu?"


"kangen." jawab Tama dengan lirih nyaris tak terdengar.


"terus kenapa nggak mau pulang?"


"nenek jahat, tante sinta juga jahat. mereka sering pukul tama kalau ayah pergi." Gwen menelan ludah dengan perlahan, tak mengeluarkan satu katapun. ternyata ini alasan tama tidak mau pulang ke rumahnya. Gwen membawa tubuh kecil tama dalam pelukannya. mendengar ucapan dari mulut kecil itu membuat nyeri di dadanya.


mungkinkah yang menculik dan menyiksa tama adalah orang utusan dari nenek dan tante yang di katakan tama?


"kalau tama di culik? kenapa tama bisa ada di depan toko kemarin?" Gwen mengelus lembut punggung tama, sesekali mengecup puncak kepala bocah itu.


"enggak tau, tama tidur terus bangun ada di bawah pohon. tama liat es krim dari jauh, tama mau es krim itu tapi tama nggak punya uang. kata ayah kalau mau es krim di toko kita harus punya uang. terus ada kak Gwen jadi tama bisa makan es krim" jelas tama suara tama perlahan mengecil. tak ada gerakan dari bocah itu pelukan yang semula ia rasakan kini memudar.


Gwen menundukkan kepalanya untuk melihat wajah tama, ternyata kedua mata tama tertutup. bocah itu tertidur dengan mudahnya.


mempertahankan posisinya selama beberapa saat, Gwen berjalan pelan menuju kamar. membaringkan tubuh tama di kasur secara perlahan lalu keluar dan tak lupa menutup pintunya.


Gwen menyugar rambutnya kebelakang dengan kedua kakinya berjalan kearah dapur. menuangkan air ke dalam gelas lalu meneguknya.


mungkin bukan saat ini ia mengembalikan tama pada keluarganya, waktu yang tepat adalah menunggu bocah itu bersedia dengan sendirinya. untuk saat ini tama akan tetap tinggal dengan dirinya dan saat bekerja ia akan membawa bocah itu. semoga bos barunya tidak akan keberatan akan kehadiran tama.


selama bersama tama ia mengamati kalau bocah itu berbeda dari yang lain, sangat jarang rewel dan berusaha mengerti dirinya jika dalam melakukan sesuatu seperti mencuci baju atau piring tama lebih banyak bermain sendiri tanpa mengganggu aktivitas nya selain itu tama juga Mengerti apa bila ia perintahkan sesuatu maka dengan senang hati tama melakukan. tak terlalu merepotkan hanya jika bangun tidur bocah itu akan menangis dan meminta untuk di peluk selepas dari itu akan kembali pada tama yang mandiri.


TO BE CONTINUED....