
cuaca sedang bagus bagusnya, terik matahari benar benar menyengat kulit, kota Jakarta sangat panas. cuaca panas tak membuat para manusia berhenti bekerja.
Gwen memandang taman yang ramai dengan orang walau matahari masih sangat terik di jam 3 sore, gadis itu mengikat kemeja kotak kotak berwana biru di pinggangnya.
"kak."seseorang menarik celana yang ia pakai, Gwen menoleh.
gadis kecil dengan pipi penuh coklat menatap kearahnya penuh harap, "kakak cantik anna minta tolong, bisa bantu ambilkan balon Anna." gadis itu menunjuk balon pink yang tersangkut di dahan pohon di samping ia berdiri.
pohonnya cukup tinggi dan bolon itu berada di dahan yang terbilang tinggi, tidak mungkin ia ambil tanpa memanjat pohon.
"bentar." ucap Gwen lalu berjalan dan perlahan memanjat pohon dengan hati hati, usai di atas ia lihat dimana posisi balonnya.
bruk...
tanpa rasa takut setelah mendapatkan balon Gwen lebih memilih loncat dari pada menuruni pohon dengan hati hati.
"balon lo." gadis itu bertepuk tangan dengan senyum yang mengembang ia terima balon itu.
"anna sungguh berterima kasih, semoga hari ini hari keberuntungan kakak." ucap gadis kecil itu lalu berlari menuju segerombolan keluarga yang sedang duduk Santai di atas rumput yang sudah beralaskan karpet.
melihat keluarga kecil gadis tadi yang nampak harmonis Gwen membuang nafas dengan kasar, bohong jika ia tidak iri. munafik jika ia tidak menginginkan keluarga cemara.
Gwen melangkah menuju bangku taman yang kosong, 2jam sudah ia gunakan untuk mencari pekerjaan ternyata tidak semudah yang di bayangkan. menit terus berjalan sebentar lagi mata hari akan tenggelam ia belum memiliki pekerjaan, biaya rumah sakit jika berhenti kemungkinan kakak nya akan di usir . tidak mau tau seberapa parah pasien jika tidak membayar biaya rumah sakit akan di telantarkan, sejahat itu memang.
"anna bawa lolipop ini untuk kakak sebagai ucapan terimakasih." perkataan gadis kecil bernama anna membuat Gwen mengerutkan keningnya.
"gue nggak doyan, buat lo aja."
anna mengerucutkan bibirnya, menarik tangan Gwen dengan paksa lalu meletakkan lolipop itu di tangan Gwen. "kakak harus mau ini dari anna." ucap gadis itu memaksa tangan Gwen menggenggam lolipop.
Gwen menarik nafas panjang, cukup malas rasanya berurusan dengan mahluk kecil ini. "oke, gadis manis terimakasih kembali ya cantik."
Gwen terkekeh saat melihat gadis kecil bernama anna itu tersipu malu saat ia mengatakan cantik.
ia pandang lolipop itu seketika satu tempat muncul di otaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
pasar malam di taman kota Jakarta terlihat begitu ramai, selain ini hari ke-2 adanya pasar malam. cuaca di malam ini juga sangat bagus.
orang tua menemani anak mereka dan banyak juga para muda mudi yang asik berpacaran.
Gwen menatap bianglala yang nampak indah di kelilingi lampu warna warni. banyak wahana permainan yang mengundang para pengunjung untuk mencoba.
kali ini bukan untuk bermain wahana atau mencoba jajanan ringan tapi Ia kesini untuk mencari uang.
Gwen mengamati sekitar, wajahnya sudah tertutup kupluk Hoodie yang ia pakai, setelah situasi aman Gwen mendekati ibu ibu yang nampak asik menawar harga baju.
membuka resleting tas ibu itu dengan perlahan, sesekali menoleh kanan kiri untuk memastikan lebih aman. tas resleting sudah terbuka Gwen mengulurkan tangan untuk mengambil dompet dan hp.
"woy copet ya lo!" teriakan seseorang dari sebelah nya membuat Gwen tersentak kaget. dompet dan ponsel ibu tadi sudah berada di tangan ia masukan kedalam kantong celananya lantas dengan cepat berlari.
gerobak bakso yang tutup tidak di gunakan ia dorong ke belakang untuk menghalangi jalan yang mengejarnya. keranjang anyaman yang kosong ia lempar lempar dengan gerakan cepat.
sial! nafasnya memburu tak beraturan sedangkan jarak antara dirinya dan warga sangat dekat. kakinya hampir kebas seperti tidak mau di gunakan untuk berlari.
otaknya berfikir dengan cepat tempat mana yang cocok untuk ia bersembunyi.
"COPET COPET." Gwen menoleh kebelakang sekali lagi, matanya dengan jeli menangkap rumah kosong di ujung jalan. lantas lebih mempercepat langkahnya.
"sialan."umpatnya saat hampir tertangkap. Gwen merapatkan tubuhnya lebih rapat ke dinding, ia melihat jelas para warga juga memasuki rumah kosong ini.
"mana tu copet!" ucap seseorang membuat Gwen menahan nafas, pria yang berucap tadi tepat di depannya. ia tidak bisa apa apa karena di belakangnya sebuah lemari dan badannya hanya tertutup setengah saja.
Gwen memejamkan matanya saat orang di depannya menoleh kearah nya, seandainya ia akan tertangkap dan di pukuli untuk kali ini ia siap karena memang kesalahannya tidak terlalu hati hati dalam mencopet sehingga ketahuan, belum sempat bernafas dengan lega seseorang membekam mulutnya dan menarik tubuh Gwen kebelakang.
jantung Gwen berdetak kencang seakan siap untuk keluar dari tempatnya, mulutnya masih di bekap seseorang yang entah siapa ia tidak tau.
matanya berkedip beberapa kali saat melihat ruangan kosong berwarna putih yang nampak bersih di depannya.
terkejut? bahkan ia sangat terkejut.
melirik kebelakang ternyata sosok pakaian hitam yang berada di belakangnya, dan yang tak ia sangka di balik lemari terdapat ruang rahasia.
"ceroboh." suara bas yang mengalun indah di telinga Gwen membuat sekujur tubuh gadis itu meremang.
"siapa lo?" Gwen menoleh menatap sosok yang sedari tadi membekap mulutnya.
seorang pria yang memakai penutup kepala dan penutup sebagian wajahnya nampak juga menatap dirinya, tinggi badan Gwen yang hanya sedada lelaki itu membuatnya mendongak.
"nice to see you again." ucap pria itu, dengan lancang mengelus pipi Gwen dengan pelan dan lembut.
"heh jangan pegang pegang ya bangsat." Gwen menepis tangan pria itu dengan kasar, berjalan kebelakang dua langkah untuk memberi jarak di antara kedua.
"siapa sih lo? kenapa tiba tiba lo nolongin gue?" Gwen mengepalkan tangannya saat pria yang di depannya hanya diam dan tak merespon apa yang ia ucapkan.
Gwen mendorong tubuh pria itu untuk menyingkir dari jalan, sebelum pergi Gwen menabrak pundak pria itu dengan kasar.
tersenyum miring lalu berjalan pergi dengan tatapan angkuh.
matanya menatap sekeliling siapa tau masih ada warga yang mengejarnya tadi di sekitar rumah kosong dan ternyata sudah tidak ada orang. Gwen menoleh ke belakang, pria itu tidak ikut keluar . mengedikan bahunya dengan acuh lalu tertawa pelan.
ia pandangi dompet coklat di tangannya yang nampak tebal, sebelum pergi ia sempatkan untuk mencopet dompet pria itu. anggap saja balasan karena telah mengacuhkan dirinya sewaktu ia bertanya.
membuka dompet itu dengan pelan, hal pertama yang ia lihat membuat kedua matanya melotot. dompet yang ia pegang terdapat banyak uang berwarna merah di dalamnya.
bahkan bisa ia lihat juga kalau banyak kartu kartu berwarna hitam yang ia yakini adalah kartu black card. Gwen menahan nafas saat membaca siapa pemilik dompet yang ia pegang.
Daguartha Felixio Alaric.