GWEN Amartha

GWEN Amartha
BROKEN HOME



ALWAYS HAPPY 🤯


Gwen menatap nanar kakaknya yang terbaring lemah di brankar rumah sakit, tubuh yang ramping ditempeli berbagai alat medis. wajah pucat kakaknya selalu terngiang-ngiang di otak.


"Gwen?"


tanpa menoleh ia tau siapa yang memanggil nya, "kenapa lo baru ngasih tau gue seminggu yang lalu sih Dra?" bibirnya bergetar, matanya berkaca-kaca dengan cepat Gwen menepuk-nepuk pipinya dengan keras agar air mata itu tidak keluar.


Candra menghela nafas panjang, "sebelum kakak lo nekat nabrakin diri ke truk dia sempet sujud di kaki gue, biar apapun yang terjadi gue nggak boleh ngomong sama lo. gue udah janji tapi gue langgar." Gwen menoleh dengan cepat.


"terus ayah?"


"lo masih nanya bokap lo?"


Gwen menundukkan kepalanya, dua tahun berpisah dengan sang ayah ia cukup percaya bahwa sang ayah akan berubah tapi ternyata kenyataan menampar harapan yang selama ini ia nantikan. ternyata benar pria brengsek akan sulit berubah.


"Gwen,are you oke?." Candra memeluk tubuh Gwen saat gadis itu mulai terisak.


"gue udah tau Dra, gue udah tau siapa pelaku yang bikin kakak gue stress dan trauma. gue kecewa sama keadaan Dra" untuk pertama kalinya setelah sekian lama Gadis itu kembali menitikkan air mata.


Candra memeluk sahabatnya dengan erat, berkali kali ia kecup puncak kepala Gwen.


gadis itu bersedih ia juga sedih.


"gue benci Deril Dra, gue benci anak Scorpio!"


Deg...


jantung Candra berdetak tak karuan saat mendengar nama itu. tangannya terkepal kuat entah kenapa kali ini ia benar benar emosi hanya mendengar satu nama.


"gue mau pulang, berapa yang perlu gue ganti lo kirim aja nomer rekening lo." setelah berucap Gwen menghampiri Raquella dan mengecup kening sang kakak.


"kak, Gwen pergi dulu nanti malam kesini lagi."


"Gwen?" Candra menahan pergelangan tangan gadis itu saat Gwen baru saja melewati dirinya.


"lo anggep gue apa sih?, kenapa lo bilang kaya tadi." Candra kesal saat Gwen mengatakan nominal biaya perawatan Raquella yang akan di ganti. ia iklas melakukan nya.


"gue anggep lo abang gue Dra, tapi kalau soal ini kita sendiri sendiri." sudah cukup Candra merawat kakaknya selama sebulan sebelum dirinya ke Jakarta, ia tidak ingin merepotkan lelaki itu.


"kalau nggak gue, emang lo bisa? biaya kakak lo sebulan lalu hampir 70 juta Gwen, inget kakak lo pernah operasi 2 kali. kalau nggak gue emang lo bisa bayar, bisa nganti nggak lo? nggak usah sok deh." Gwen terdiam ia tidak bisa mengganti biaya kakaknya yang telah di tanggung Candra. bisa sekolah di SMA BINARTA saja ada campur tangan oleh ayahnya Candra. tapi tidak mungkin jika ia tergantungan oleh pria itu, ia harus mencari uang bagaimana pun caranya.


kalau bisa Gwen yang dulu harus kembali.


"gue bakal ganti secepatnya! makasih udah selalu bantu keluarga gue." Gwen melangkah pergi meninggalkan ruang rawat kakaknya.


Candra mengacak rambutnya frustasi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gwen tersenyum sinis, motor di depannya bahkan pemberian Candra minggu lalu, apakah ia bisa menganti semua uang yang di keluarkan Candra?


Gwen memakai helm lalu menaiki motor Scoopy biru miliknya, jalanan ibukota Jakarta cukup lenggang mungkin karena masih jam kerja.


15 menit berlalu....


ditaruhnya helm biru di tempatnya dan melangkah menuju pintu utama,


terbuka? tanpa di kunci?


perasaan tidak enak, dengan cepat Gwen membuka pintu. benar saja dugaan nya sang ayah tengah berciuman dengan seorang wanita seksi di ruang tamu.


Keduanya masih belum sadar jika ada anaknya di sana.


Gwen pergi ke samping rumah dan membawa se-ember penuh air keruh bekas pel lantai pagi tadi.


BYUR...


"PERGI LO ******!" perempuan yang berada di pangkuan sang ayah menoleh cepat, wanita itu yang banyak basahnya karena membelakangi dirinya.


"GWEN!" paruh baya yang dulu Gwen banggakan kini telah berubah. satu tamparan keras mendarat di pipi kanan. Gwen memejamkan matanya rasa panas serta perih langsung ia rasakan setelah tamparan itu mengenai pipi.


"APA APAAN KAMU!"


"AYAH YANG APA APAAN!"


bruk...


ember yang ditangannya ia lempar kearah perempuan itu, tidak kena tapi cukup mengejutkannya Karena gerakan yang secara tiba tiba.


"PERGI LO ******!" Gwen berteriak kesal saat perempuan itu hanya diam mematung tak pergi.


"AYAH ENAK ENAKAN CIUMAN SAMA PEREMPUAN LAIN SEDANGKAN PUTRI PERTAMA AYAH SEDANG KOMA! AYAH PUNYA OTAK NGGAK SIH." Gwen menatap sedu ayahnya yang semakin hari semakin brengsek kelakuannya.


"ngapain ayah pikiran bentar lagi juga mati tu anak!"


"AYAH!" pecah sudah air mata Gwen saat mendengar ucapan sang ayahnya. semua hancur ia benci keadaan ini.


"kenapa ayah kaya gitu?" lirihnya menundukkan kepala.


"tanya aja sama mayat emak lo!" Gwen langsung mendongakkan kepalanya. tangannya terkepal kuat.


ayahnya berubah semenjak sang ibu mengakhiri hidupnya setelah mengetahui bahwa ia dan sang kakak bukan anak kandung pria itu. ayahnya tidak terima jika kedua putrinya selama ini bukan darah dagingnya. pria itu mandul sehingga dengan lancang sang ibu selingkuh dengan adik sang ayah dan menghasilkan dirinya dan kakak.


pria itu memandang sengit Gwen lalu tanpa berkata-kata pria itu pergi begitu saja.


"ayah."


"jangan panggil gue ayah! gue bukan ayah lo."


tubuhnya meluruh ke lantai, tangannya mengacak rambut dengan bruntal.


ia benci!


ia benci kehidupannya yang hancur.


semua berantakan, semua berbeda dengan yang dulu.


TO BE CONTINUED....