GWEN Amartha

GWEN Amartha
PART 25



1 tahun kemudian


semenjak Raquella menikah dan memulai kehidupan baru 1 tahun yang lalu, Gwen lebih memilih untuk memisahkan diri dari sepasang pengantin itu, kini Gwen tinggal sendiri di kontrakan kecil dan memulai hidup baru dengan menjadi seorang penjual bunga di kios pinggir jalan namun pekerjaan nya harus terhenti karena ada satu hal yang membuat kios itu tutup selama lamanya. sekarang ia dalam keadaan tak memiliki pekerjaan alias nganggur.


hari kelulusan sekolah 3 bulan yang lalu, gwen lebih memilih tidak melanjutkan kuliah walau kakaknya meminta untuk melanjutkan pendidikan dan akan membiayai kuliahnya.


helaan nafas panjang terbuang dengan kasar, sudah hampir dua minggu ia tidak mendapatkan kerja, lontang lantung kesana kemarin tidak membuahkan hasil. setiap ingin melamar syarat utama selalu berpenampilan menarik, hal yang cukup sulit untuk dirinya lakukan bukan tanpa alasan selain harus bisa make up, penampilan juga dilihat dan untuk situasi ini ia menyesal setiap membeli pakaian selalu pakaian cowok jadi keseharian nya memakai celana jeans pendek dan kaos oversize.


ponsel di tangannya berbunyi menandakan ada pesan teks yang masuk di nomer ponsel yang di pegang, terpampang nama candra di layar hp.


candra: udah nemu kerjaan? lo nggak usah sungkan kerja di tempat gue, apa susahnya sih Nerima tawaran dari gue, Gwen. kalau belum nemu datang aja.


usai membaca pesan dari Candra lagi lagi helaan nafas panjang keluar, tempat tinggal yang sekarang ia tinggali saja candra yang bantu, kehidupan satu bulan ini banyak campur tangan pria itu, untuk sekarang ia harus bisa tanpa bantuan Candra bagaimana pun.


Gwen membuka botol minuman yang di tangannya baru saja ingin menenggak minuman tersebut, sesuatu tertangkap di indra penglihatannya dan mampu menarik perhatian dalam dua detik. Gwen berlari menyebrangi jalan dengan tangan yang menutup kembali botol minumannya.


"ibu nggak papa? ibu kenapa, lagi sakit ya?" Gwen memapah tubuh ibu ibu yang saat akan menyebrang hilang kendali dan hampir terserempet kendaraan yang lalu-lalang untuk pergi ke tepi jalan, matanya menatap pohon tumbang yang berada di samping trotoar lantas perlahan menuntun wanita paruh baya itu dengan sangat hati hati agar bisa beristirahat di batang pohon itu.


"saya hanya kecapean, terimakasih banyak dek." wanita tua itu mengelap keringat yang mengucur di kening. tangannya mengelus lembut lengan Gwen "sekali lagi terimakasih mungkin kalau nggak ada kamu saya udah jatuh dan terserempet mobil."


Gwen mengangguk membuka kembali botol yang tadi ia pegang, "minum dulu buk biar nggak deg-degan." menyerahkan botol air mineral yang sudah di buka dan langsung di sambut baik si ibu.


"rumahnya dimana buk biar saya antar, badan ibu panas banget." Gwen menatap iba, wanita di samping suhu tubuhnya sangat tinggi, ia yakin ibu itu sedang sakit tetapi dipaksa untuk berjalan keluar rumah.


"nggak perlu dek, saya mau ke pasar mau jual daging, kalau saya pulang nanti saya dan cucu saya makan apa besok."


"loh anak ibu kemana?


"anak saya dan mantu udah meninggal, saya tinggal bareng cucu saya yang berusia 12 tahun." Gwen mengangguk mengerti. andai saja dirinya kaya mungkin tak segan untuk memberikan beberapa lembar uang agar ibu disampingnya bisa istirahat tanpa memikirkan mau makan apa besok pagi. tapi sayang dirinya bahkan juga sama bingung apakah ia bisa makan kenyang minggu depan sedangkan uang yang ia pegang hanya tinggal 120 ribu.


"ibu jual daging sapi di pasar? yaudah saya antar ibu pulang nanti saya yang jualin dagingnya, saya nggak minta imbalan saya ikhlas asalkan ibu bisa istirahat untuk beberapa hari." ucap Gwen sembari tersenyum tipis.


melihat wajah lelah ibu-ibu disampingnya membuat Gwen merasa iba, ia yakin seratus persen jika wanita yang berusia kurang lebih 70 tahun ini adalah seorang janda yang sudah lama hidup dengan mencari nafkah sendiri.


"apa itu tidak merepotkan mu?" wanita itu menggenggam tangan Gwen dengan berkata lirih, matanya terpejam erat seolah menahan rasa sakit yang amat luar biasa.


"ibu kenapa?" Gwen bangun dari duduknya, panik seketika wanita itu meringis hebat.


"kepala saya sakit, ini sudah biasa." ujar ibu itu menenangkan Gwen yang nampak panik.


"saya anterin ibu ke rumah, masalah daging di pasar saya yang jualin sementara sampai ibu sembuh dari sakitnya." Gwen menyampirkan tangan ibu itu pada pundaknya dan mulai memapah secara perlahan, untung saja tubuh ibu itu terbilang kurus jadi tidak terlalu susah dirinya memapah.


setelah 7 menit berjalan kaki tiba di mana Gwen berdiri di pintu rumah kecil yang sudah keropos, pintu di buka. Gwen dan ibu itu memasuki rumah yang langsung disambut pekikan keras dari Gadis kecil berusia 12 tahun. Gwen menebak gadis kecil itu cucu dari ibu ibu yang ia papah.


"nenek kenapa?" tanya gadis itu saat sang nenek baru saja mendudukkan tubuhnya di kursi kayu. terlihat gadis itu khawatir pada sang nenek setelah melihat neneknya dipapah seseorang.


ibu itu mengusap rambut cucunya dengan pelan seraya tersenyum manis " nenek nggak papa? alia ambilkan minum kakak ini."


gadis kecil dengan rambut yang di kepang menjadi dua menoleh ke arah Gwen yang berdiri di samping neneknya, Alia menundukkan kepala saat ditatap Gwen tanpa Ekspresi.


gadis itu melirik neneknya dan melirik Gwen, seolah bertanya siapa perempuan dewasa itu. alia menoleh saat tangannya di pegang sang nenek. "alia ambilkan minum."


gadis itu langsung mengangguk dan berlari kecil ke arah dapur untuk mengambil minuman dan makanan untuk ia sajikan pada perempuan dewasa yang telah menolong neneknya.


gwen menerima gelas yang berisi air putih, meminum hingga tinggal setengah. melirik singkong tanpa minat, hanya melirik tak mengambilnya.


"ibu dimana pasarnya biar saya langsung kesana saja." ucap Gwen menatap ibu itu.


ibu itu menarik pelan pergelangan tangan cucunya, "bawa dia, cucuku tau tempatnya."


alia menatap sang nenek dengan bingung.


mengetahui cucunya bingung lantas menjelaskan dengan pelan. sebelum keduanya pergi Gwen membantu ibu ibu itu meminum obat dan membantu wanita tua itu untuk berbaring di ranjang kamar.


Gwen berjalan beriringan dengan alia, keduanya diam tidak ada satupun dari mereka yang memulai percakapan.


hanya memerlukan beberapa menit keduanya sudah berada di pasar, Gwen dan alia berjalan menuju meja kosong tempat ibu ibu yang ia tolong tadi berjualan.


"dagingnya mana?" tanya Gwen pada alia, gadis itu terdiam sejenak dengan kepala celingukan mencari seseorang.


"bang somat!" lengkingan suara Alia membuat beberapa pengunjung pasar menoleh termasuk juga pria yang di panggil.


bang somat, pria itu berjalan dengan mendorong gerobak yang entah apa isinya tidak terlihat, "loh alia nenek kamu dimana?"


"neneknya sakit." sahut Gwen dengan ketus, ia risih saat orang yang bernama somat itu menatap dirinya dari atas kebawah seolah tengah menilai penampilan.


somat meletakan daging sapi di meja depan Gwen dan alia, tak hanya daging sapi beberapa bagian sapi lainnya juga diletakkan seperti hati sapi, kaki sapi yang sudah dipotong dan kulit sapi.


usai meletakkan semuanya somat pergi berpamitan dengan mata yang terus menatap Gwen.


"bang somat itu yang punya peternakan sapi, daging daging ini punya dia, nenek ambil beberapa kilo lalu dijual kembali dengan sistem bagi hasil," jelas Alia menerangkan sistem penjualan daging di pasar itu.


Gwen mengangguk mengerti, selang beberapa saat ia terdiam. "ini daging satu kilonya berapa? terus buat yang ini, terus ini juga berapa harganya." gwen menatap gadis itu dengan tatapan bertanya. sedangkan alia menggelengkan kepala, dirinya tidak tau.


pandangan gwen terpaku pada pedagang daging lainnya yang berjarak cukup jauh dari tempat ia berdiri. "tu orang juga ngambil daging di somat juga nggak?"


"iya."


gwen berjalan kearah pedangan daging, "buk sekilo berapa dagingnya?"


"sekilonya 60."


Gwen mengangguk paham lalu satu persatu dagangan yang di mejanya ia tanyakan harga perkilo setelah mengetahui semua, Gwen pergi tanpa membeli dengan trik seolah ada seseorang yang menelfon dan mengatakan harus segera pergi, padahal sebelumnya ia sudah memasang alarm di hp agar dering pengingat alarm berbunyi dan dikira benar ada dering ponsel.


berbalik kearah tempat dagang nya dan mulai menjual daging daging itu sesuai harga yang ia ketahui dari penjual lain hanya saja Gwen menjual daging itu untuk lebih murah. 1 kilonya 56 ribu.


jika semua terjual mungkin akan dapat sedikit keuntungan tapi jika terjual semua itu lebih baik.


MO MAAF KEHABISAN IDE DAN LAGI MALAS JUGA LANJUTIN JADI TERBENGKALAI.


EMANG NGGAK NYAMBUNG sih JADI AKU SARANIN BUAT NUNGGU CERITA INI DAN LANJUT BACA KALAU PART UDAH DI ANGKA 40.


SEE YOU...