
wanita paruh baya didepannya menatap Gwen dengan tajam di belakangnya ada Sinta yang berdiri dengan bersedekap dada menatap dirinya dengan angkuh.
"benar kamu yang fitnah anak saya jika dibalik penculikan Tama adalah anak saya?" wanita itu bertanya dengan mata yang memancar permusuhan.
Gwen bersedekap dada tak takut dengan tatapan tajam wanita di depannya.
"bukankah memang benar? Tama sendiri yang mengatakan jika kalian yang menyakiti Tama." ucap Gwen membalas tatapan wanita itu tak kalah tajam, keduanya berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.
"kemungkinan kalian berdua yang menyuruh seseorang untuk menculik Tama dari yang Tama ucapkan tidak menutup kemungkinan kalau kalian menginginkan Tama pergi dari keluarga kalian dengan cara menyewa seorang untuk menculik tama"lanjutnya membuat wanita itu naik pitam, belum sempat melayangkan tamparan untuk kedua kalinya Gwen mencegah terlebih dahulu. memegang erat tangan itu dan menghempaskan dengan kasar.
"jangan sentuh saya dengan tangan kotor mu, jika tidak ingin saya patahkan." ucap Gwen dengan menekan setiap kata yang keluar.
sinta yang tak terima mamanya di perlukan seperti itu lantas maju ke depan untuk lebih dekat dengan Gwen.
"yang sopan dengan yang lebih tua!" ucap Sinta menunjuk wajah Gwen dengan emosi.
Gwen tertawa ringan lalu menatap remeh kedua orang didepannya. "oh iya lupa, kan kita sebagai yang lebih muda harus menghormati yang lebih tua, ya sudah kalau begitu. saya minta maaf ya nenek." ucap Gwen di akhiri dengan tawa ringan setelah mengejek wanita itu.
Sinta dengan geram mendorong tubuh Gwen hingga hampir menabrak kursi yang semula ia duduki sebelum kehadiran keduanya .
"saya itu tidak kenal kamu tapi anak saya bilang kamu mengatakan jika yang menyakiti Tama itu anak saya, kamu bilang seperti itu sama saja kamu menghina kita."ucap wanita itu menggebu-gebu.
pintu ruangan dibuka Felix yang membukanya lantas menatap satu persatu orang yang berada di dalam sana dengan rasa penasaran. Felix berjalan menghampiri ketiganya.
"Felix kamu tahu siapa perempuan ini, dia memfitnah sinta dan mengatakan kalau dibalik penculikan Tama adalah sinta." cetus wanita itu mengadu pada Felix berharap agar anak tirinya itu membelanya.
Felix hanya diam pandangan terarah pada Gwen yang nampak santai mendengar ocehan wanita itu.
"saya tidak tahu benar atau tidaknya tapi saya yakin semua akan terungkap pelakunya besok." pungkas Felix dengan tenang, tak ingin membela mama tirinya maupun gadis itu karena kebenaran sedang ia selidiki.
"Lo bisa cari tahu lewat ini." ujar Gwen memberi anting yang beberapa hari lalu di berikan oleh Tama. anting berlian yang selalu ia bawa kemanapun entah untuk apa ia rasa akan berguna suatu saat nanti dan benar saja anting ini di butuhkan saat ini.
sinta melotot melihat benda yang di berikan Gwen kepada Felix, itu bukti nyata.
"dapat dari mana?" tanya Felix mengamati anting itu dengan teliti.
Gwen tersenyum puas kemungkinan benar dugaannya bahwa dua wanita itu dalang di balik penculikan Tama, sudah jelas wajah sinta pucat pasi. "Tama yang kasih katanya itu punya orang yang nyakitin Tama."jelas Gwen.
Felix menatap Sinta sekilas, lalu pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun, Sinta meremas rok bagian samping yang dipakai lalu menarik tangan calon mertua untuk pergi, tak lupa tatapan nyalang ia perlihatkan pada Gwen.
Gwen tersenyum miring lalu melirik jam dinding yang ternyata menunjukkan pukul setengah 1 pagi. pantas saja ia merasa mengantuk tadi hanya saja dua wanita sialan itu membuat dirinya tak mengantuk lagi.
Gwen berjalan menuju toilet yang berada di ruang rawat Tama, pipinya panas sehabis di tampar tadi tapi percayalah tamparan tadi bukan apa-apa karena tamparan paling menyakitkan itu ketika yang menampar adalah panutannya. yaitu ayah.
baru keluar dari toilet, Gwen di kaget kan dengan kehadiran Felix yang duduk di sofa dengan memainkan ponselnya. tanpa mau bertanya kapan datang atau basa basi lainnya Gwen lebih memilih untuk kembali duduk di kursi samping ranjang Tama dengan bermain ponsel sambil menunggu rasa mengantuk menyelimuti dirinya.
"long time no see baby girl." bisik Felix tepat di telinga Gwen.
lelaki itu berdiri di belakang Gwen dengan kepala yang condong ke depan tepat di samping wajah Gwen.
sontak saja membuat Gwen kaget dan refleks menoleh alhasil kedua bibir itu bersentuhan, hanya beberapa detik setelahnya Gwen menjaga jarak.
"nggak nyangka aja orang yang dulu nyopet gue sekarang berdiri di hadapan gue."ucap Felix.
Gwen memutar bola matanya masalah mendengar ucapan Felix, tak mau menanggapi Gwen lebih memilik untuk berjalan kearah sofa dan membaringkan tubuhnya. sepertinya ia akan segera terlelap karena sendiri tadi ia menguap.
berbaring membelakangi Felix yang tengah menatapnya.
Felix tertawa Pelan melihat wajah galak Gwen.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sinta termenung dengan tatapan keluar jendela mobil, Rima calon mertua Sinta sekaligus mama tiri Felix menatap Sinta dengan penasaran.
calon mantunya itu termenung seolah memiliki beban pikiran yang dapat meledakkan kepala.
"arghhhh...." Rima menoleh lalu menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"kenapa sih? nggak usah cemas lagian nggak bakal ketahuan." ucap Rima menenangkan Sinta.
"ma itu anting punya aku, waktu itu aku sempet ke sana. aku nggak sadar ternyata yang satu jatuh di sana aku kirain hilang di mana." ucap Sinta dengan pelan.
Rima menoleh, "jadi anting itu punya kamu Sinta?" tanya Rima yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Sinta.
"kamu itu gimana sih ceroboh banget." Sinta menundukkan kepalanya melihat calon mertuanya marah. berkali kali Sinta meminta maaf yang di hiraukan oleh Rima.
mobil kembali berjalan kali ini kecepatannya cukup tinggi.
Rima menghembuskan nafas dengan kasar lalu memelankan kembali mobilnya sehingga kecepatan kendaraan normal.
"kamu nggak usah khawatir biar mama yang atur masalah ini." ucap Rima menoleh pada Gwen dengan senyum misterius.
Sinta menatap bingung mama mertuanya.
Rima membisikan sesuatu pada Sinta yang langsung membuat perempuan itu terdiam.
"gimana?"
"ma,tapi rencana mama bahaya" ucap Sinta.
Rima mengangguk lalu menggenggam tangan Sinta dengan lembut mencoba menenangkan Sinta dan memercayai rencananya akan berjalan lancar.
"iya mama tahu ini bahaya tapi akan lebih bahaya lagi kalau kita ketahuan yang bikin tama menghilang."ujar Rima.
"kamu tenang aja biar ini jadi urusan mama." lanjutkan dengan tersenyum miring.
Sinta tak habis pikir dengan rencana yang akan mereka jalankan, ini terlalu bahaya tapi bagaimana pun kemungkinan rencana mamanya itu akan berhasil.
"kamu tenang aja, tetep bersikap santai oke, kita main cantik aja." ucap Rima pada Sinta calon mantunya yang sudah ia anggap sebagai anak.
TBC....