
Tawa kelima siswa memenuhi koridor yang menghubungkan lantai dua dan satu,ke limanya tengah membully salah satu siswa kelas XI, junior mereka. cowok berkacamata dengan rambut keriting memunguti buku bukunya yang keluar dari tas akibat ulah Bram. tak ada sama sekali perlawanan hal yang membuat ke-lima nya merasa puas.
Bram menginjak punggung tangan siswa berkacamata itu saat hendak mengambil buku yang terletak dilantai tepat di bawah kakinya.
siswa itu meringis kesakitan, Bram semakin menekan kakinya menginjak punggung tangan dibawahnya. melihat raut wajah merah kesakitan siswa itu membuat ke-lima nya semakin tertawa senang.
"heh.. cupu sini." Angga menarik kerah satu siswa lain yang kebetulan lewat juga, baru saja akan putar balik ternyata Angga sudah melihatnya terlebih dahulu.
matanya melirik ke sana sini berharap ada guru yang lewat, setidaknya jika mereka tak kena hukuman ia bisa lolos dari kelima seniornya.
"maaf bang, maaf." cowok bertubuh pendek yang cukup berisi badannya menundukkan kepala dan berulang kali meminta maaf pada ke lima senior itu. entah apa salahnya yang ia harus lakukan adalah meminta maaf dan berharap di lepaskan tanpa harus di bully habis habisan terlebih dahulu.
Dodi mencengkeram erat rahang siswa itu, "lo kenapa tadi mau puter balik? sengaja nggak mau setor lo?" siswa itu gelagapan lalu menggeleng dengan cepat.
"enggak kok bang tadi langsung ingat kalau buku masih ketinggalan di perpus." alibinya yang sudah di pahami Dodi kalau cowok itu berbohong lantas dengan kejamnya Dodi menjambak rambut siswa itu.
"bohong lo! sini kasih duit lo." siswa itu dengan gemetar merogoh saku lalu mengambil uang nya dan langsung di rampas Dodi dengan kasar.
Dodi menghitung jumlah uang yang di dapat ternyata hanya 35 ribu lantas dengan geram Dodi mendorong siswa itu sampai terjungkal di lantai.
"pergi lo anjing! nggak guna. kalau sekolah bawa uang yang banyak." Ucap Dodi sebelum siswa itu pergi Dodi sempat menendang pantat siswa itu cukup keras.
Aksa dan Bram terkekeh geli. sedangkan Deril fokus dengan ponselnya.
kini matanya beralih menatap cowok berkacamata yang masih berada di tempat lantaran kerah bajunya masih di pegang erat oleh Angga.
pertanda tak boleh pergi karena masih ada urusan dengan mereka.
batinnya terus berdoa, berharap ada yang membantu. tapi lagi lagi ia harus menelan harapan mengingat mereka adalah sang penguasa SMARTA.
"bawa duit berapa lo?" Dodi merogoh saku cowok itu dan mengambil langsung uang yang di dalamnya.
"20 ribu, 40 ribu 75 ribu. nah bener kaya gini, jangan bawa sedikit." Dodi memasukkan uang itu kedalam kantong nya setelah di hitung.
menepuk nepuk pucuk kepala juniornya dengan senyum manis.
siswa itu yang melihat senyum Dodi membuatnya merinding setengah mati. mungkin jika yang melihat seorang perempuan mereka akan menjerit karena ketampanan seorang Dodi bertambah tapi berbeda dengan dirinya yang melihat. senyum manis itu bagaikan senyum seorang iblis.
"gini ya teman, kita kita itu laper jadi gue mau lo beliin kita mie ayam bakso di mas jajang di dekat perempatan." ucap Dodi yang langsung di angguk I ke empatnya.
siswa itu berkedip dengan ritme cepat, mie ayam bakso mas jajang cukup mahal satu porsi nya 25 ribu dan letaknya cukup jauh dari sekolahan. kemungkinan membutuhkan 10 menit jika jalan kaki, rasanya ingin menolak tapi....
"ngapain diem buruan goblok!." aksa mendorong pundak siswa itu setelah dengan kurang ajarnya menepuk kepala di bagian belakang untuk menyadarkan agar tidak bengong.
siswa itu membalikan badannya ke arah Dodi, menengadahkan tangan nya meminta uang. "u-uang nya mana?"
"kan semua uang nya ada sama bang Dodi." dengan gemetar menunjuk kearah Dodi yang bersandar di dinding dengan santai.
"heh! dengerin baik baik uang tadi punya kita. jadi buat beli mie ayam ya pake uang lo!" Aksa tertawa pelan saat melihat mata siswa itu berkaca-kaca hendak menangis ketika di bentak oleh Deril.
"u-dah nggak pun-nya uang bang gue."
"ya cari lah! kalau perlu ngemis. cocok banget sama muka lo." ucap Deril yang langsung membuat gelak tawa ke-lima nya.
siswa itu menitikkan air matanya lalu dengan cepat ia hapus. Angga yang melihat melotot kan matanya lalu maju dan berdiri di samping Deril.
"cowok kok nangis, besok besok jangan pake celana pake rok aja." ujar Angga yang langsung di sambut sorak sorak hinaan ke Empatnya.
"ampun bang jangan kaya gini." siswa itu berlutut dan memegang kaki kiri Angga, selama kurang lebih 2 bulan ia menjadi bahan bully an membuat mental nya perlahan menipis. kali ini ia tidak sanggup, hinaan serta kekerasan fisik selalu ia dapat melaporkan tindakan pada guru juga percuma karena semua itu pasti sia sia. jika ia disuruh mencium kaki ke-lima seniornya agar berhenti membully ia akan melakukan itu sekarang juga.
sekolah di SMA BINARTA adalah impiannya keluar dengan alasan di bully itu tidak mungkin. usaha masuk di SMARTA cukup sulit jadi sebisa mungkin ia akan pertahankan.
"oh lo minta Ampun. lo kalau udah nggak mau kita bully ada syarat nya." siswa itu mendongak menatap Angga dengan raut memelas.
"syarat nya lo harus keluar dari SMARTA, karena gue muak liat muka lo." ucap Angga yang langsung di setujui dengan yang lain.
Angga tertawa keras saat kembali melihat junior nya menangis.
"Jhahhhh nangis woy."
"mana coba mana, mau liat." Dodi menjambak rambut cepak itu lalu membuatnya menatap ke atas dan memperlihatkan wajah nya yang sudah bersimbah air mata bercampur keringat .
"oh iya nangis." Dodi ketawa keras.
Angga melotot saat melihat ingus siswa itu hampir menetes mengenai sepatunya. "yang bener dong sepatu mahal mau lo ingusin!" Sentak Angga mendorong pundak siswa itu dengan ujung sepatunya.
siswa itu oleng kebelakang sebelum pipinya berciuman dengan keramik koridor setelah kembali didorong oleh Deril.
Bram menggelengkan kepalanya lalu berjalan meninggalkan teman temannya yang masih sibuk membully siswa itu.
temannya memang tak akan pernah lepas dari membuat junior yang cupu menderita dan ia juga sama seperti mereka.
tanpa ada yang menyadari kamera kecil dari ponsel seseorang merekam semua kejadian barusan tanpa terlewatkan sedikitpun.
pemilik ponsel tersenyum miring lalu bergegas pergi saat Bram dan yang lain berlalu meninggalkan siswa itu setelah puas membully nya.
TO BE CONTINUED....