
Gwen berlari menyusuri lorong rumah sakit dengan tergesa-gesa, saat bekerja ia di telfon suster yang menjaga Tama, suster itu mengatakan dengan tiba tiba Tama kejang kejang entah apa penyebabnya belum di ketahui.
Gwen membuka pintu ruang rawat Tama di dalam hanya ada Felix dan sebelumnya di luar ruangan ada Rima, Sinta dan Arkan. Gwen berjalan menuju ranjang di mana Tama terbaring dengan berbagai alat medis menempel tubuh bocah itu.
dadanya bergemuruh, entah bagaimana emosinya memuncak. ia menyesal telah meninggalkan Tama untuk kembali bekerja dan sekarang kejadian yang tak di inginkan terjadi.
Tama kejang-kejang bagaimana bisa? kondisi Tama mulai membaik saat mendapat donor darah dan kenapa jadi seperti ini.
"apa yang terjadi Felix?" tanya Gwen sembari mengelus rambut Tama, mungkin kini Tama tertidur akibat efek obat.
Felix memijat pangkal hidungnya, dirinya juga tidak tahu baru saja di tinggal 5 menit untuk membeli makanan di kantin rumah sakit tapi setelah kembali melihat Tama yang kejang kejang.
Gwen yang tak mendapat jawaban dari Felix ia mengerti kemungkinan pria itu sendiri belum tahu.
"masih di selidiki penyebab Tama kejang-kejang." ucap Felix dengan pelan, lelaki itu melepas kemeja yang di pakai hingga menyisakan kaos hitam, duduk di sofa dengan mata terpejam. pelaku penculikan Tama belum di ketahui, entah siapa orangnya cara bermainnya sungguh rapi bahkan ia meminta bantuan pada Anggota Scorpio untuk mencoba mencari tahu tapi sampai sekarang belum ketemu pelakunya.
Felix sudah tidak menjadi ketua Scorpio tapi ia masih dalam bagian geng itu karena dirinya yang membuat nama geng Scorpio di kenal banyak orang.
Gwen menyugar rambutnya kebelakang hatinya mengatakan kalau ada yang tidak benar dengan semua ini. Gwen berjalan ke arah kiri ranjang Tama kedua mata menatap curiga pada cairan infus Tama dan benar saja beda dari biasanya.
Lebel yang selalu di cairan infus berwarna merah kenapa sekarang berganti kuning tidak mungkin di sengaja karena sebelum berangkat kerja berwarna merah jika di lihat dari jarak habisnya infus sangat memungkinkan jika infus pagi tadi seharusnya masih ada belum waktunya di ganti.
Gwen menekan tombol nurse call sebanyak dua kali agar dokter ataupun perawat segera datang.
Felix yang melihat menunjukkan raut kebingungan saat Gwen menekan tombol nurse call pasalnya tidak terjadi apa-apa pada Tama tapi kenapa harus memanggil perawat.
belum sempat menanyakan pada Gwen, dokter yang menangani Tama datang dengan satu suster di belakangnya.
"cek dan periksa cairan infus ini." titah Gwen menunjuk pada cairan infus yang menggantung.
"sebelumnya terakhir kemarin sore," jawab suster itu lalu pergi meninggalkan ruangan untuk mengambil cairan infus yang baru.
tak lama suster tadi membawa cairan infus baru dengan label yang sama berwarna merah. Menganti dengan yang baru dan membawa yang sempat ia curigai tadi.
"Felix cek semua cctv rumah sakit, gue yakin ada yang nggak beres." ucap Gwen yang membuat Felix mengerutkan keningnya bingung tapi tak ayal lelaki itu pergi untuk menjalankan apa yang di ucapkan Gwen.
Felix keluar dari ruangan, tak selang lama Arkan dan Rima masuk. Gwen hanya melirik sekilas.
"Gwen, Felix mau kemana?" tanya Arkan menghampirinya Gwen yang duduk di kursi samping ranjang Tama.
Gwen menghembuskan nafas pelan sejujurnya jika sedang tidak mood seperti ini berbicara adalah hal yang ia benci tapi mau bagaimana mana lagi yang melontarkan pertanyaan adalah orang tua mau tak mau dengan malas ia harus menjawabnya. "ada urusan."
Rima menoleh ke arah Arkan suaminya lalu berpamitan untuk pulang ke rumah karena ada urusan.
Arkan hanya mengangguk sekilas tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Rima keluar ruangan dan menghampiri Sinta calon menantunya yang sudah di anggap sebagai anak mengandeng tangan Sinta untuk pergi keluar dari rumah sakit.
Sinta sempat menolak karena sebenarnya dirinya pergi ke rumah sakit karena ingin menemani Felix tapi karena Rima membisikan sesuatu yang membuat dirinya harus mengikuti wanita itu mau tak mau Sinta mengikuti langkah Rima.
sampai di mobil Rima tersenyum puas sembari menatap Sinta dengan bahagia. "permainan akan segera dimulai Sinta. jadi kita berdua bisa santai." ucap Rima menyenderkan tubuhnya di kursi mobil.
"terus buat orangnya udah ketemu ma?" tanya Sinta penasaran, semua rencana di serahkan pada Rima itu artinya Sinta tak perlu repot-repot untuk urusan ini. semua sudah di atur wanita itu jadi banyak pula yang dirinya tidak tahu.
"tenang aja sudah semuanya." ucap Rima tersenyum puas lalu menjalankan mobilnya keluar dari parkiran rumah sakit.
TO BE CONTINUED....