
Masih bersama air mata yang tidak pernah absen untuk terjatuh, Camelia berlari, dia buru-buru menuju sungai yang sempat terbesit dalam pikirannya kala itu, sungai di mana almarhum Ayahnya dibuang begitu saja dalam kondisi sadis.
"Ayah, aku sudah menggenggam boneka yang ingin Ayah berikan 5 tahun lalu, Ayah kemarilah. Aku ingin bicara denganmu sebentar saja." Camelia memukuli rumput pijakan, membiarkan air matanya tercampur air sungai.
Sementara itu, boneka kitty masih Camelia pegang erat, dia masih menundukkan tubuh, dadanya semakin sesak dan kepalanya sakit, kemudian tangannya yang sudah lemah mulai memainkan air sungai.
"Ayah, Camelia di sini, Ayah ayo kemari!" lirih Camelia, suaranya semakin serak.
Kini pandangan Camelia beralih ke depan, menatap sayu pada pohon rindang dan tinggi, lalu berhenti menatap boneka kitty yang dia pegang.
"Bonekanya sangat cantik, lucu sekali, matanya, wajahnya, sangat indah. Ayah, Camelia suka bonekanya, terima kasih sudah berjuang sejauh ini untuk Camelia bisa memegang erat boneka pemberian Ayah, terima kasih Ayah sudah menemani hari-hari Camelia walau dalam bentuk bayangan setiap malam. Di sini, Camelia masih sama, Yah, masih menunggu Ayah untuk kembali, maksud Camelia untuk sekadar menyapa saja tidak apa-apa, Ayah. Kemari duduk bersama Camelia, kalau pun Ayah mau Ayah bawa Camelia ke sana." Camelia memainkan jarinya pada wajah boneka kitty, hingga telunjuknya terhenti pada mulut boneka.
...***...
Suasana yang kian petang juga awan yang mulai men-abu diikuti kilat tidak membuat Amar, Doni, Nayya juga Giska memundurkan diri untuk mengejar Camelia, setelah tadi Nayya berbincang hangat meskipun sebentar bersama kedua orang tua yang baru Nayya lihat kembali.
"Mar, lo sebenarnya punya masalah apa sama Camelia, kenapa tiba-tiba dia bisa marah begitu sama lo?" tanya Giska sembari masih melebarkan juga mempercepat langkahnya yang tertinggal itu.
Amar yang terlihat masih panik dengan napas tersengal, mencoba membagi fokus pandangannya ke arah Giska juga selain jalanan di depan.
"Gue juga enggak tahu, Giska, Amel tiba-tiba begitu."
Merasa ada sesuatu yang teringat dalam pikirannya, Amar menghentikan langkah diikuti dengan teman-teman yang lain, dia terdiam sejenak, kemudian satu tangannya menumpu pada kening sembari satu kaki yang refleks menendang kerikil di depan.
"Argh! Gue baru ingat. Apa mungkin ... tentang 5 tahun yang lalu itu?" Amar menurunkan posisi tubuhnya, tubuh yang tegar itu mulai menyuarakan tangisan kian histeris.
"Mar, kenapa?" tanya Nayya sembari ikut menurunkan tubuh juga.
"Mar? Lo ada-ada saja, kenapa, Mar?" Doni memegangi pundak Amar dengan kepalanya yang mencoba menunduk menatap Amar.
Amar perlahan mendongakkan pandangannya, menyeka air mata secara kasar, lalu menatap teman-temannya bergantian yang melingkar di sekitar.
"Kalian tahu? Gue pikir Camelia seperti tadi itu, karena ...." Amar menarik napas dalam, lalu menghembuskan berat. "Karena Ayah gue yang sudah bunuh Ayah Camelia, salahnya gue memang enggak pernah cerita ke dia, gue belum siap menyakiti dia," lanjut Amar sembari melempar tangannya sendiri ke samping.
Mereka sama-sama terkejut, refleks memundurkan tubuh sembari menggelengkan kepala.
"Mar, lo salah bicara, kan? Katakan sekali lagi kalau itu enggak benar!" tegas Giska memegangi bahu Amar yang perlahan mulai terbangun untuk berdiri.
"Benar, Gis, itu benar." Amar mempertajam tatapannya kepada Giska.
Tubuhnya yang lemah itu berdiri kembali, melihat ke sekitar seperti orang yang sudah tidak waras.
"Kita harus susul Camelia, dia pasti ke sungai! Ikut gue!" Amar membuat langkah yang lebar kembali diikuti teman-teman yang lain.
Dengan hembusan napas lega, Doni, Amar, Nayya dan Giska berlari mendekati tubuh yang mereka tebak adalah Camelia.
Amar menatap ketiga temannya bergantian, langkahnya sangat ragu untuk semakin mendekati Camelia.
"Mel, gue Amar. Maafin gue, Mel." Amar menepuk pelan pundak Camelia bersama suara yang sudah gemetaran.
Tidak ada jawaban dari Camelia, bahkan saat teman-teman yang lain ikut menepuk pundak Camelia dan terus membujuknya untuk bisa memaafkan Amar, Camelia masih terdiam, tidak ada sepatah kata pun atau pergerakan dari tubuhnya.
Di saat yang bersamaan dengan sapaan kilat diikuti Guntur, mendadak Camelia membangunkan kepalanya, lalu beralih pada teman-temannya secara cepat.
"Amel! Lo ..." seru Giska histeris.
Tidak hanya Giska, Doni, dan Nayya juga refleks memundurkan tubuh dengan cepat, jantung mereka rasanya ingin terlepas, membuat napas mereka kini tersengal-sengal, ketika melihat rupa Camelia yang menyeramkan, tubuhnya pun wajah manisnya hancur dipenuhi luka juga darah segar, dilihat-lihat hampir mirip wajah Camelia kini dengan boneka kitty yang dia masih pegang erat. Berbeda dengan Amar, dia masih bertahan dalam posisi berdirinya, entah kenapa rasa takutnya memudar, ketika terlihat secercah kesedihan dari balik raut wajah Camelia yang hancur itu.
Dengan segala keberanian, Amar malah berjalan mendekati Camelia, dia mendekap tubuh Camelia yang telah menjadi arwah itu dengan sangat erat, rasanya seperti memeluk sebuah bayangan, tetapi entah kenapa terasa sangat dekat dan dalam.
"Mel, gue minta maaf sama lo, maafin Ayah gue, ya, maafin gue juga. Gue tahu gue salah, gue enggak ngasih tahu lo dari awal, karena gue enggak mau pertemanan kita jadi renggang, gue enggak mau lo sakit hati, Mel," ucap Amar sesenggukan, masih bertahan mendekap tubuh Camelia.
Sementara itu teman-teman lain yang berada di belakang, cukup jauh dari Amar dan Camelia terheran-heran pun berteriak histeris, karena Amar yang beraninya mendekap arwah seram.
Setelah penuturan Amar tadi, pikirannya seperti dipaksa oleh Camelia untuk menjelajah beberapa jam yang lalu, terlihat jelas dalam pikiran Amar, almarhum Ayah Camelia sendiri yang menjemput Anaknya itu, entah apa yang David lakukan pada sang Anak, Camelia hingga membuatnya harus meninggal seperti ini, yang jelas tergambar sosok David sedang memainkan jari-jarinya melingkari Camelia.
"Amar! Lari dari sana!" teriak Doni.
Seketika Amar tersadar dari lamunan tadi, pikirannya telah terbawa kembali ke masa kini.
"Mel, lo kenapa pergi secepat ini, lo enggak kasihan sama kita? Kenapa lo tega ninggalin kita, Mel? Gue harap lo bisa tenang di sana, ya."
Deg! Seketika jantung Doni, Giska dan Nayya berdegup kencang kembali, ketika mendengar penuturan Amar, ternyata Camelia memang sudah tiada. Bersama keberanian yang kian tumbuh, mereka pun ikut berjalan mendekati Amar dan Camelia, bahkan tanpa ragu kembali mereka berlari bersama tangisan yang tidak pernah padam.
"Amel!" seru Giska diselingi isak tangis.
Mereka mendekap satu sama lainnya, posisi Camelia di tengah-tengah, dilingkari oleh teman-teman baiknya.
"Lo enggak boleh ninggalin kita, Mel. Gue sayang sama lo, gue enggak mau kehilangan lo," lirih Giska masih mempertahankan dekapannya.
Namun, waktu berkata lain, perlahan arwah Camelia menghilang dari tengah-tengah mereka, setelah mengucapkan ini.
"Teman-teman, Camelia juga sayang sama kalian. Camelia sudah mencoba ikhlas dan maafin kalian jauh sebelum kalian minta maaf, terima kasih, ya untuk waktu yang sejauh ini. Camelia senang sekarang bisa bersama Ayah."
Hingga pada akhirnya, bersama Camelia yang melebur terbawa angin dan gerimis, Doni, Amar, Nayya juga Giska saling merangkul, mereka mencurahkan kesedihan bersama, terutama Giska yang terlihat sangat mendalam sedihnya. Kini yang masih tersisa di tengah-tengah mereka, hanya boneka kitty, boneka yang mungkin diisi arwah Camelia setelah Ayahnya, David kala itu.