
"Nay, gue rasa lo harus buang boneka kitty itu, yang di gudang," seru Doni mendadak bersama fokusnya ke depan, mengendarai mobil.
Nayya sedikit terbelalak, dia segera meluncurkan tatapan ke arah Doni. "Kenapa tiba-tiba bilang begitu? Gue enggak mau!"
"Bukannya lo pernah cerita kalau boneka itu menyeramkan, buktinya saat itu lo pernah nyuruh gue untuk simpan boneka ke gudang, kenapa enggak sekalian di buang saja?" Doni menatap sebentar ke arah Nayya.
"Enggak, Don." Nayya terdiam seraya bersedekap. "Gue hargain pemberian Giska, enggak mungkin gue buang begitu saja," lanjutnya.
Doni berdeham, tidak berapa lama mobilnya sampai di halaman depan rumah Nayya, suasananya sudah mulai gelap, membawa angin malam yang membuat bulu kuduk mereka berdiri.
"Mau gue temenin lagi enggak?" tawar Doni.
"Lo pulang saja, nanti orang tua lo nyariin. Gue bisa di rumah sendiri." Kedua tangan Nayya mulai bersiap merapikan barang untuk turun dari mobil Doni.
"Hm, ya sudah, kalau ada apa-apa bilang. Telefon gue saja, Nay!" seru Doni, ketika setengah tubuh Nayya mulai ke luar dari mobil.
"Iya, terima kasih, Don."
Baru saja Nayya berjalan beberapa langkah, sesaat terhenti mengingat sesuatu, buru-buru dia kembali mendekati mobil Doni, dan mengintip dari balik jendela.
"Don, gue juga bakal bantu lo untuk jadi ranking 1, gue bisa nyingkirin Camelia," ucap Nayya dengan senyuman licik.
Doni sedikit terkejut, tidak percaya dengan pembicaraan Nayya yang mendadak seperti itu.
"Oh i---iya, tetapi menurut gue enggak usah nyingkirin dia, gue pasti bisa ranking 1 tanpa kecurangan." Doni mendekati tubuhnya ke arah Nayya. "Lo jangan melakukan macam-macam lagi, Nay," lanjutnya dengan raut sedikit takut.
Nayya hanya menyunggingkan senyum masam, lalu kembali beranjak menjauh dari mobil Doni, hingga mobil itu melaju ke luar rumahnya barulah Nayya bisa memasuki rumah.
Dengan hembusan napas tenang, Nayya langsung mengistirahatkan tubuhnya pada ranjang yang sedari pagi tidak dia sentuh, tas sekolah masih diletakkan sembarang di samping, bahkan kedua kakinya pun masih memakai kaos kaki. Saat tubuhnya mulai dimiringkan ke samping kanan, lalu meraih ponsel di tasnya, merogoh kesulitan, lampu kamar Nayya mendadak mati.
"Loh, kok lampunya mati?" Nayya gelagapan beranjak dari tidurnya.
Perasaan yang sudah tenang itu kembali runyam, degup jantung Nayya mendadak kembali kencang, dia melihat sekitar dengan cepat masih bertahan pada posisi duduk. Saat Nayya tidak menangkap apa-apa di sekitarnya, dia segera beranjak untuk meraba-raba sakelar lampu kamar.
"Aaa!" teriak Nayya histeris.
Nayya memundurkan langkah dengan cepat hingga terjungkal dalam ranjangnya, ketika tepat sekali di hadapannya muncul sesosok seperti Camelia, mata merah yang masih Nayya ingat jelas saat di kamar mandi itu Camelia tampakkan kembali bersama senyuman menyeringai, bahkan sebelum tubuh Nayya terjungkal tadi, wajahnya juga wajah Camelia hampir saling menyentuh, terasa jelas bau anyir, pun dengan napas gelagapan Nayya yang berhembus pada wajah Camelia. Namun, sesaat Nayya mengambil sebuah guling, lalu berusaha melirik ke depan kembali, sosok itu telah hilang, napasnya yang masih tersengal akhirnya bisa menghembuskan tenang, tetapi ternyata semuanya belum berhenti.
Saat Nayya ingin kembali beranjak ke arah sakelar, dia merasakan bagian lehernya yang terkena sepoian angin, tampak menggelikan, membuat bulu kuduknya lagi-lagi berdiri.
Nayya melihat dengan cepat ke arah belakang. "Aaa! Pergi lo!"
Hingga sampai di halaman depan rumah, Nayya bertabrakan dengan Doni yang tiba-tiba saja datang ke rumahnya, refleks Nayya sembunyi di punggung Doni masih dengan napas yang tersengal juga tubuh yang gemetar, kedua tangan pun erat menggenggam baju Doni.
"Loh, kenapa, Nay?" tanya Doni keheranan.
Dia mencoba membawa Nayya pada hadapannya, berusaha menenangkan jari-jari yang tampak gemetar itu tanpa sebab.
"Sudah-sudah, sini kita ke halaman depan saja." Doni meraih lengan Nayya beranjak ke taman depan rumah orang tua Nayya.
Mereka duduk di sana, sembari Doni yang masih sibuk membuat Nayya agar bisa tenang. Beberapa kali Nayya coba menarik dan menghembuskan napasnya, hingga akhirnya dia bisa lebih mudah untuk berbicara kepada Doni.
"Don, terima kasih sekali lo datang di waktu yang tepat. Gue enggak tahu kalau seandainya gue benar-benar di rumah ini sendiri, bisa mati gue!" Nayya menumpukan salah satu kakinya pada kaki yang lain, perlahan sudah meninggalkan ketegangan.
Merasa Nayya sudah jauh lebih tenang, Doni menghembuskan napas lega, lalu menampakkan senyuman tulus. "Iya, tadi gue sudah izin juga sama orang tua gue, mereka ngebolehin kalau gue jaga lo lagi untuk malam ini, ternyata benar saja lo dihantui lagi.
Nayya mengangguk pelan, pandangannya ke bawah sambil memainkan kedua kaki yang beralas kaos kaki itu pada rumput hijau, kaos kaki putihnya tampak darah jelas di bagian jari-jari manis, karena terpentok kursi tadi saat berlari.
"Sebenarnya apa yang terjadi sama lo, Nay? Siapa yang selalu meneror lo, cerita saja sama gue." Doni memperbaiki posisi duduknya lebih condong ke arah Nayya.
Nayya masih terdiam, dia menatapi Doni cukup lama, bingung mau mengungkapkan yang sebenarnya atau tidak perlu.
Belum sempat Nayya menjawab, Doni sudah menyuguhkan tebakannya yang aneh saja. "Oh gue tahu! Pasti boneka kitty itu lagi."
Nayya terbelalak, dia menggelengkan kepalanya ragu, karena takut Doni akan mengambil tindakan tergesa.
"Iya, kan, Nay?" tanya Doni kembali memastikan.
Tidak ada jawaban dari Nayya, Doni yang merasa tebakannya benar, dengan raut wajah dipenuhi emosi juga kedua tangan yang sudah mengepal, mulai beranjak dari duduknya. Namun, Nayya dengan cepat menahan lengan Doni.
"Lo mau ke mana, Don? Lo mau apa?" tanya Nayya bersama wajahnya yang kian panik.
"Gue mau kasih pelajaran sama boneka itu, kalau lo enggak mau buang, biar gue saja yang sekalian bakar!"
"Eh, jangan, Doni! Gue enggak setuju kalau lo bakar boneka itu!"
Bersama sisa tenaganya, Nayya masih menahan erat lengan Doni dengan kedua tangan, dia benar-benar takut dan tidak ingin jika Doni membakar boneka tersebut.
"Lepaskan, Nay! Kali ini lo harus nurut sama gue, ini demi kebaikan lo, Nay."
Terpaksa Doni menyeka kasar kedua tangan Nayya, dia berusaha kembali untuk berjalan cepat masuk ke dalam rumah, berharap Nayya tidak menyangkalnya kembali. Namun, dengan langkah terbata Nayya masih berteriak histeris agar Doni tidak melakukan tindakan aneh itu, bahkan air mata hingga rela terjatuh agar bonekanya tidak dibakar, apalah daya Nayya, emosi Doni sudah meluap, dia benar-benar tidak terima melihat kondisi Nayya yang setiap hari selalu dipenuhi ketakutan, terpaksa dia harus mengambil tindakan untuk membakar boneka kitty tersebut.