Father's Love And Revenge

Father's Love And Revenge
BAB 30 | DAVID



Kedua netra Giska terbelalak, mulutnya melebar tidak bisa dikondisikan, ketika melihat Camelia yang sedang bercermin ditemani sosok laki-laki tinggi, pucat, berlumur luka parah di tengah perut yang menampakkan organ-organ dalam, terlihat sosok itu seperti sedang mengelus kepala Camelia dari cermin seraya bibirnya yang menyeringai seram. Sementara Camelia, seperti tidak menyadari hal itu, dia masih fokus merapikan rambut dan mencuci mukanya dengan tenang.


Tubuh yang perlahan gemetar juga degup jantung tidak normal, Giska berjalan cepat ke belakang, tanpa sadar dia menabrak seseorang.


Bruk! Giska hampir terjungkal ke belakang, tetapi untungnya orang di depan dengan sigap menangkap Giska. Awalnya refleks Giska terkejut hingga berteriak sedikit, tetapi buru-buru dia menepuk-nepuk mulutnya, menatap fokus seseorang di depan yang tidak lain adalah Amar.


"Mar! Lo ngagetin gue saja!" seru Giska bersama napas yang tersengal.


Amar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal seraya menatap Giska penuh heran. "Kenapa? Lo lagian jalan enggak lihat-lihat, lo liat apa memang?"


Giska mencoba menarik napas lalu menghembuskan dengan tenang, setelah lirikan ke belakang pada Camelia, Giska kembali menatap Amar penuh cemas.


"Lo tahu? Gue lihat sosok seram di belakang Camelia dari cermin!" tegas Giska dengan volume suara yang sengaja diperkecil.


Belum sempat Amar menjawab pernyataan Giska, Camelia mendadak muncul saja dari arah belakang, lalu menepuk pundak Giska pelan.


Refleks Giska berteriak dan berlari ke arah belakang Amar, dia semakin tidak menyangka dan takut ketika seseorang tersebut ternyata Camelia. Bersama wajah bersalah juga senyum malu, Giska mendekati Camelia.


"Mel, maaf, gue enggak bermaksud apa-apa tadi. Beneran deh tadi gue lihat ---"


Belum sempat Giska menyelesaikan pembicaraan, Camelia sudah dulu menyangkal.


"Apaan sih, Gis, gue baru datang juga lo tiba-tiba minta maaf begitu," jawab Camelia, memperhatikan Giska dan Amar bergantian.


Giska terdiam sejenak, ada rasa lega yang dia salurkan dengan hembusan napas.


'Ternyata Camelia tidak mendengarnya tadi, untung saja, gue selamat,' batin Giska masih menatapi Camelia.


"Ya sudah yuk, ini jadi kan mau jenguk Nayya? Keburu petang dulu, sudah mendung sore ini cuacanya." Camelia memperhatikan langit-langit yang perlahan menghitam awannya.


Tanpa respons pembicara kembali, Giska dan Amar jalan terlebih dahulu, lalu diikuti Camelia, kini mereka berjalan dengan posisi Amar paling depan, sementara Giska dan Camelia beriringan di belakangnya.


...***...


Nayya yang ingin segera pulang dari rumah sakit, dengan susah payah meraih ponsel di laci samping untuk menghubungi Doni, orang tua Nayya tidak tahu akan kejadian ini, mereka sibuk bekerja di luar kota, sementara Nayya berusaha beradaptasi setiap harinya untuk hidup mandiri tanpa mengabari hal-hal buruk pada orang tuanya.


Baru saja jari-jari yang terlihat lemas tersebut berhasil meraih gagang pintu. Namun, sesuatu tiba-tiba menarik tubuhnya, hingga membuat Nayya terpental keras.


"Jangan pernah kamu ganggu Anak saya lagi! Jangan ganggu dia lagi atau kamu akan terus menderita," ucap sosok tersebut geram.


Kini wajah seramnya mulai ditampakkan bersamaan dengan tubuh tinggi yang terlihat pucat, lukanya masih sama di bagian tengah perut, hanya wajahnya yang terlihat berbeda, lebih mengkerut seperti ingin lebur atau meleleh. Nayya mengenali betul sosok tersebut, karena ini bukan pertama kalinya dia diganggu, sebelum-sebelumnya pun sudah dan masih terngiang dalam benak Nayya bagaimana rupanya.


"Tolong jangan ganggu saya! Kamu siapa sebenarnya, kenapa ganggu saya? Saya enggak pernah ganggu Anak kamu!"


Nayya menyuarakan sisa suaranya dengan tegas dan serak, tubuhnya yang semakin lemah karena terbanting tadi mencoba untuk bangkit, keringat pun mendadak mengucur dari kening Nayya, dadanya semakin sakit dan sesak. Ditambah lampu ruangan yang masih mati, membuat Nayya tidak bisa melihat dengan jelas. Luka di kepala pun yang belum pulih total semakin sakit saja, membuat nyeri di kepala.


Baru saja Nayya ingin bangkit, sosok itu kini menggenggam erat tubuh Nayya tanpa kesusahan, seperti layaknya sebuah kapas yang digenggam. Nayya yang sudah sangat ketakutan dan lemas hanya bisa memberontak dengan sisa-sisa tenaga yang ada, dia tetap berteriak meski terasa sulit. Hitungan detik tubuh Nayya kembali terlempar bersamaan dengan geraman sosok tersebut penuh emosi, Nayya terhempas ke lantai rumah sakit, posisi kedua tangannya tidak sengaja menancap paku yang tiba-tiba muncul saja di bagian ujung sofa, membuat darah kian bercucuran membasahi lantai putih di pijakannya.


"Aw, ini sangat perih sekali. Saya mohon hentikan ini!" Nayya menangis tersedu-sedu.


Dia benar-benar memohon untuk tidak disakiti atau diganggu kembali pada makhluk di depan, kepalanya yang sakit malah ditambah kedua telapak tangannya terluka parah, Nayya semakin kehilangan tenaga untuk bergerak, getar di sekujur tubuh kian menguasai, membuatnya kaku. Hingga akhirnya, pintu ruangan terbuka, diikuti dengan lampu yang sudah menyala, membuat sosok seram di depan ikut menghilang.


"Doni, Amar, Camelia, Giska?" bibir Nayya gemetar.


Perlahan pandangan Nayya redup, matanya terpejam bersama tubuh yang perlahan ambruk. Refleks teman-temannya yang sudah di hadapan, berlari-lari mendekati Nayya, bersama raut cemas juga panik mereka membawa tubuh Nayya bersama ke atas ranjangnya dengan hati-hati.


"Sebenernya apa yang terjadi barusan, ya? Mengapa mendadak lampu ruangan ini mati? tanya Doni seraya menatap ketiga temannya bergantian.


Sementara itu, Camelia yang merasa perasaannya mulai aneh kembali terpenuhi energi negatif akan sang Ayah, menyapu pandangan ke sekitar, netranya semakin fokus pada langit-langit kamar bersama mata yang berkaca-kaca juga napas yang semakin tidak terkendali.


"Eh Mel, lo kenapa?" tanya Giska memandangi Camelia penuh ketakutan.


Camelia hanya terdiam seraya tangan kanannya yang mulai memegangi dada, dia masih menggelengkan kepala ketika teman-teman yang lain pun menanyakan keadaannya. Merasa tidak kuat dengan emosi tersebut, Camelia berjalan sempoyongan ke arah sofa yang masih terlihat bekas darah Nayya, sementara itu Doni buru-buru memanggil dokter atau suster untuk menangani Nayya yang baru mereka sadari tangannya terluka parah.


Giska yang merasa Camelia tidak baik-baik saja dah butuh penenang, mulai berjalan mendekat. Namun, baru saja tubuhnya ingin menduduki sofa samping Camelia, Amar lebih dulu menarik lengannya, membuat Giska teralihkan fokus.


"Gue mau bicara sama lo, ayo ikut gue!" Amar memegangi lengan Giska seraya menatapnya penuh serius.