
"Ayah, bisa ceritakan ulang kejadian 5 tahun lalu itu?" Amar melangkah maju ke arah Aldi yang berusaha membangunkan tubuh untuk duduk.
Refleks Aldi terkejut mendengar pernyataan Amar, netranya semakin tajam menatap Amar. "Kenapa tiba-tiba kamu meminta seperti itu? Yang lalu biarkan, enggak perlu dibahas."
Amar menghembuskan napas berat, dia mengubah posisi berdirinya lebih condong ke arah sang Ayah.
"Ayah tahu? Teman sekelas Amar pun diganggu makhluk tersebut, Ayah pasti tahu bukan di mana jasad dia?" Amar semakin mendekat, berbisik ke telinga Ayah. "Ayah buang atau taruh di mana jasad itu?" lanjutnya pelan membuat Ayahnya bergidik ketakutan.
Buru-buru Aldi menjauhi tubuhnya dari Amar seraya mendorong pelan pundak Amar ke belakang. "Maksud kamu apa, apa urusannya sama kamu?"
Merasa sang Ayah semakin tidak nyaman, Amar perlahan memundurkan langkah, lalu berjalan ke sana kemari sembari memperhatikan langit-langit kamar juga sekelilingnya dengan posisi tangan yang bersedekap.
"Amar tahu kok Anak dari sosok itu siapa, yang Amar enggak paham kenapa sosok itu menganggu teman Amar juga, apa dia punya dendam yang sama dengan dendamnya kepada Ayah?" tebak Amar, lalu di ujung kalimat melemparkan tatapan mendalam pada sang Ayah.
Merasa dipojokkan, Aldi memperbaiki posisi duduknya lebih tegak, tatapan dalam ikut dia luncurkan kepada sang Anak. "Siapa Anaknya? Ayah rasa cuma dia yang bisa menghentikan teror tersebut."
"Mengapa Ayah balik bertanya, permintaan Amar di awal saja belum Ayah jawab, Ayah buang di mana jasad itu?!" tegas Amar.
Di saat yang bersamaan dengan kegugupan Aldi, sebuah barang berbahan kaca terdengar jelas, jatuh dari arah belakang ruangan rumahnya, terdengar berkali-kali, membuat mereka cukup terganggu juga merasa ada kejanggalan. Amar buru-buru melangkah ke arah belakang, sementara Aldi baru berusaha untuk beranjak dari tikar.
Jantungnya berdegup tidak normal, membuat napas Amar tidak terkendali, tubuhnya yang sudah gemetar dia terus paksa untuk berjalan cepat. Hingga saat sampai di ruangan belakang, benar saja dugaannya, dia melihat cukup banyak piring yang hancur di lantai. Bersama langkah perlahan juga kedipan mata takut, Amar mendekati kepingan piring tersebut, lalu menurunkan tubuh, berusaha meraih kepingan tersebut, dan semakin dia lihat lebih dekat, dia menemukan beberapa tetes darah, tidak jauh dari kepingan piring-piring itu.
"Siapa yang melakukan semua ini?" Amar menyapu pandangan ke sekitar.
Beberapa detik, pandangannya terhenti pada tembok paling ujung, dia menangkap sebuah tulisan berwarna merah, seperti bekas darah seseorang yang dimanfaatkan. Terpaksa kepingan tadi yang sudah cukup melukai jari-jari Amar, dia taruh kembali ke lantai, kini langkahnya beranjak mendekati tulisan yang semakin dekat semakin hilang keburaman netranya. Terdiam beku cukup lama Amar mengahadapi tulisan tersebut.
"Saya tidak akan terhentikan, sebelum dendam saya terbalaskan," ucap Amar membaca tulisan itu ulang.
Jantungnya refleks berdegup lebih kencang, rasa percaya diri kian runtuh, langkahnya mundur perlahan sembari melihat kejanggalan ke sekitarnya, pun kedua tangan yang direntangkan, mencoba mewaspadai jika makhluk tersebut tiba-tiba muncul.
"A--yah, Ayah!" teriak Amar yang semakin ketakutan.
Tidak menunggu lama, Aldi datang bersama napas yang tersengal-sengal, dia segera mendekati Amar yang masih memundurkan diri ketakutan, hampir sama responsnya saat pertama kali melihat kekacauan tersebut seperti Amar.
"I---ni semua siapa yang melakukan?" tanya Aldi getir.
Amar tidak menjawab, netranya berusaha memberikan kode kepada sang Ayah untuk melihat tulisan darah pada tembok di ujung, meski napasnya yang masih tidak beraturan. Untung saja sang Ayah langsung peka dan menyadarinya. Dengan langkah perlahan Aldi mendekati tulisan tersebut, matanya yang tidak lagi memandang dengan jelas sangat terlihat berusaha membaca tulisan itu, hingga kedua matanya tersipitkan agar lebih fokus.
Aldi jelas terbelalak, dia menggelengkan kepala cepat, lalu tubuhnya langsung beralih menghadap ke arah Amar.
"Dendam apalagi dia?" ucap Aldi bersama netra yang terus berkeliaran.
'Dendam? Apa soal Nayya yang selalu mengganggu Camelia di sekolah, lalu makhluk ini tidak terima, kah?' batin Amar terus mengingat-ingat.
...***...
Camelia yang sedari tadi termenung, kian menorehkan pandangan ke arah Giska, tatapannya sayu bercampur lelah dan sedih, bibirnya bergetar seperti ingin mengungkapkan sesuatu.
"Gue enggak mau berhenti, Gis. Gue yakin banget Ayah gue sudah menunggu lama untuk gue jemput," lirih Camelia.
Pandangan Camelia kini menyapu sekitar, jalanan yang perlahan kosong melenyapkan kendaraan.
"Mel, jangan paksakan diri lo. Gue paham perasaan lo gimana, gue paham apa yang lo inginkan, tapi lo juga harus peduli sama diri lo sendiri, kalau seandainya besok lo sakit, nanti malah semakin menunda pencarian Ayah lo. Pulang, ya, sekarang?" Giska meraih kedua tangan Camelia, berusaha membawanya beranjak dari tempat sepi itu.
"Ayah."
Bersama tubuh yang sudah lemas, Camelia menuruti uluran tangan Giska, dia terpaksa mengikutinya untuk beranjak dari sana, meskipun pandangan Camelia masih terus menatap ke arah belakang, mencari-cari sosok Ayah, yang kemungkinan terlihatnya memang sangat kecil.
"Giska, itu Ayah!" seru Camelia, ketika melihat sosok serupa dengan Ayahnya di ujung jalan.
Merasa temannya satu ini kembali halu, Giska terpaksa menahan lengan bahkan tubuh Camelia, meskipun Camelia terus memberontaknya.
"Mel, lo lihat gue, jangan begini, lo harus tenang. Kasihan tubuh lo, Mel," seru Giska bersama mata yang mulai berkaca-kaca.
"Enggak, Giska. Gue beneran lihat Ayah tadi, gue mau ke sana, gue mau ketemu Ayah!" balas Camelia tersedu-sedu.
Hanya air mata Giska dan Camelia yang tersisa mengisi kesepian jalan, tangisan histeris bersama deru angin yang membuat rambut mereka menari.
...***...
Doni dengan ketulusan membantu Nayya mengantarkannya hingga kembali ke rumah, untung saja dokter yang memeriksa Nayya sudah memperbolehkan Nayya jika pulang malam hari, karena besok pagi pun ada jadwal khusus yang harus mereka ikuti.
Saat Doni sedang bersantai di lantai bawah sembari menonton siaran televisi malam, Camelia berteriak histeris, terdengar di lantai atas, buru-buru Doni beranjak, menaiki Anak tangga dengan tergesa, berharap Nayya baik-baik saja. Dan saat sampai di sana, tangan Nayya sudah dipenuhi darah kembali, sementara tangan kirinya memegang sebuah cutter lancip yang juga berlumuran darah.
Dengan tubuh gemetar juga napas yang tersengal, Doni menyeka cutter itu dari tangan Nayya hati-hati, dia menatap cukup lama tubuh Nayya, seperti membawa aura sedih pada kedua netra yang terlihat lebam, pun kedua tangan yang sudah diobati saat di rumah sakit, Nayya lepas dan hancurkan.
"Lo kenapa, Nay? Cukup, lo makin ke sini makin enggak waras! Sebenarnya ada apa, apa yang terjadi sama lo akhir-akhir ini?" seru Doni sembari ke sana-kemari mencari-cari bahan untuk mengobati luka Nayya.
Sementara itu, Nayya masih menangis, kali ini tanpa suara, terlihat sesenggukan dan pasti dadanya terasa sangat sesak.
"Gue cuma mau diperhatiin, gue cuma mau orang tua gue ke sini," lirih Nayya sesenggukan
"Ya sudah, gue telefon sekarang ya, nomor orang tua lo masih yang lama?" Doni mengalihkan fokusnya pada ponsel, mulai mencari-cari nomor orang tua Nayya.
"Jangan, gue cuma mau mereka sadar sendiri, Don. Gue enggak mau dikata Anak yang mengganggu mereka terus."
Mendengar jawaban Nayya, Doni hanya bisa pasrah menuruti, dia lanjut mengobati luka Nayya dan menaruh ponselnya sembarang di lantai. Tatapan Doni perlahan ikut sendu melihat luka juga tubuh Nayya yang kaku, pandangan temannya satu itu pun kembali termenung ke arah jendela, tetapi masih dengan air mata yang terus menetes cepat.