
"Kenapa orang-orang selalu bilang Ayah gue sudah meninggal?! Tolong, hentikan!"
Camelia memundurkan langkah ke pojok ruangan, hingga tubuhnya menyentuh pada tembok. Dia menutupi wajahnya yang mulai menangis histeris.
Nayya yang sudah muak akan Camelia juga misi yang menggebu itu, tanpa berpikir panjang memegang erat kepala Camelia dengan kedua tangan. Dia menajamkan netra pada Camelia yang kini dipaksa untuk terbuka tangannya, tidak menutupi wajah.
"Ya memang Ayah lo sudah meninggal! Gue korbannya! Gue korban yang selalu dihantui Ayah lo!" Nayya mendorong pelan kepala Camelia ke belakang, tidak sampai tersentuh tembok. "Lo tahu kenapa? Karena gue selalu nyakitin lo, dan gue bakal selalu nyakitin lo supaya sosok Ayah lo itu bisa sekalian bunuh gue," lanjut Nayya secara tegas, diakhiri dengan tawa geli.
Refleks Camelia sejenak tersadarkan, degup jantungnya memompa dengan cepat, pun napas yang tersengal-sengal mulai tidak beraturan itu terlihat dari raut wajahnya. Dia terus menggelengkan kepala, langkahnya gontai menduduki tubuh ke kursi di samping. Sejenak Camelia menumpu kepalanya pada jari-jari, lalu mulai melirik ke arah Nayya masih dengan gelengan kepala.
"Lo gila, Nay! Lo gila!"
Nayya menyunggingkan senyum masam, lalu menurunkan tubuhnya agar sejajar dengan Camelia.
"Gue masih waras, gue waras kok. Memang keinginan untuk meninggal di tangan almarhum Ayah lo itu ketidakwarasan, ya?"
"Nay, cukup! Dada gue sakit banget!" Camelia mendorong pelan tubuh Nayya sedikit jauh dari pandangannya.
Camelia menundukkan kepala sembari memegang dadanya yang sangat sesak, tidak lama air mata kembali terjatuh berebutan.
Tidak ingin berlama-lama, Nayya segera menjalankan misinya, dia beranjak cepat ke arah pintu kelas sembari membawa tas gendong yang sedikit merepotkan ketika berlari. Camelia yang menyadari pergerakan Nayya, dengan susah payah ikut beranjak bahkan berjalan cepat.
"Sampai bertemu pagi hari, Cantik." Nayya meluncurkan raut ledekan kepada Camelia saat sampai di ambang pintu kelas.
"Nay, maksud lo apa? Gue enggak mau di sini semalaman!" Camelia berusaha mengulurkan kedua tangannya, berharap bisa menyentuh gagang pintu secara cepat.
Namun, pergerakan Nayya lebih cepat dari Camelia, dia buru-buru mengatur kunci yang sudah dia siapkan di saku baju pada gembok pintu kelas, meskipun tergesa dan sedikit gemetar, pada akhirnya Nayya berhasil juga membuat Camelia terkunci sendiri di dalam kelas.
"Rasain lo, Mel!" Nayya meraih kunci yang masih bergelantungan di gembok, lalu membawanya tepat di hadapan kedua netra sembari menyeringai senyuman kejam. "Gue tunggu kehadiran Ayah lo di rumah, ya!" lanjutnya, kali ini sedikit teriak ke celah pintu kelas, agar Camelia mendengarnya.
"Nay, buka pintunya! Gue enggak mau di sini, Nay! Gue mohon." Camelia mendobrak pintu terus-menerus.
Merasa sudah puas, Nayya tanpa bersalah beranjak dari sana, membiarkan Camelia terkunci di kelas. Dia berjalan ke luar halaman sekolah tanpa sadar jika Doni ternyata masih di sana, Doni sengaja menunggu di sekolah, karena merasa aneh dengan sikap Nayya, dan betul saja dugaannya, Nayya ke luar dari sekolah tanpa bersama dengan Camelia.
Sembari merapikan seragam, Doni mengeluarkan diri dari mobil. Dia buru-buru melangkah kembali masuk ke arah sekolah, tanpa sadar Giska yang sedari tadi menunggu Camelia di luar pun mengikuti langkah Doni dari belakang, dia penasaran juga mengapa Camelia belum ke luar sedari tadi, padahal Nayya sudah pulang terlebih dahulu.
Sesampainya di sana, Doni sudah keheranan akan suara tangisan Camelia dari dalam kelas, tersadar pintunya digembok, dia terus mondar-mandir mencari cara agar bisa masuk ke sana. Tidak berapa lama dari itu, Giska mengejutkannya dari belakang, lalu ikut berusaha membuka gembok tersebut.
"Mel? Lo ada di dalam?" teriak Giska sembari mendekati diri pada pintu kelas.
Camelia menghentikan tangisnya sejenak, lalu terdengar suara ketukan dari dalam kelas.
Mendengar jawaban tersebut, Giska semakin panik bersama Doni, mereka terus berusaha mencari cara agar Camelia bisa ke luar dari sana. Merasa tidak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali mendobrak pintu, Doni terpaksa melakukannya. Ingin meminta kunci cadangan kepada Ibu Ida pun tidak mungkin, karena ketika mereka melewati ruang guru saja terasa sudah senyap, suasananya semakin petang.
"Mel, lo jauh-jauh dari pintunya, gue akan berusaha mendobrak!" seru Doni sembari memberikan arahan kepada Giska juga untuk mundur beberapa langkah.
Beberapa kali usaha dobrakan yang Doni lakukan akhirnya berhasil juga, pintu terbuka memperlihatkan Camelia yang sudah lemas kondisinya, kedua netra gadis itu tampak sembab bersama tubuhnya yang terduduk di lantai.
"Mel, lo tenang, ya. Sudah ada gue di sini sama Doni." Giska mendekap tubuh temannya itu dengan cukup erat.
Hanya sebentar saja dekapan itu, karena takut Camelia malah semakin sesak, Giska menatap kedua netra Camelia dalam-dalam sembari terus menyeka air mata Camelia yang terjatuh.
"Mel, siapa yang sudah kunci lo di kelas ini? Nayya, ya?" tanya Doni masih dengan posisi berdirinya.
Camelia hanya terdiam, tidak ingin menjawab pertanyaan dari Doni, bersama tubuh yang terus dikuatkan Camelia meraih kembali tas gendongnya, lalu meraih lengan Giska untuk beranjak berdiri dan meninggalkan kelas.
"Terima kasih sudah menolong gue, gue mau buru-buru pulang saja, lelah rasanya." Camelia menerobos tubuh Doni bersama genggamannya pada lengan Giska untuk beranjak bersama.
Doni yang mengerti perasaan Camelia ditambah emosi yang mulai memuncak pada Nayya buru-buru ikut melangkah ke luar juga, lalu membiarkan pintu yang sudah tidak baik itu terbuka celah sedikit.
...***...
"Ayah! Ayah mau ke mana?" tanya Amar sembari berjalan mendekati Ayah yang tengah memegang gagang pintu.
Aldi merespons baik, dia membalikkan tubuhnya, lalu menatap Amar penuh tanya. "Ayah mau ke teman Ayah. Perihal sosok David tersebut ingin Ayah selesaikan."
"David? Almarhum Ayah Camelia ya, Yah?"
Aldi menganggukkan kepala, lalu beranjak ke arah tikar di depan, mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Ceritakan sekarang juga ke Ayah, apa yang kamu ketahui tentang David. Mengapa saat itu kamu bilang temanmu juga ikut dihantui? Dia memang melakukan apa?"
Amar merasa terpojokkan, ternyata Ayahnya masih ingat saja perihal itu. Bersama hembusan napas berat, Amar membawa tubuhnya duduk di depan sang Ayah. "Iya, Ayah. Teman Amar, Nayya. Dia memang orang yang sangat licik, dia selalu ingin mencelakakan Camelia, Anak dari sosok yang Ayah maksud."
Merasa pernah mendengar nama itu, bibir Aldi gemetar mencoba mengucap seutas kalimat.
"Camelia? Temanmu yang pernah membelikan Annisa buku itu, kan? Dia yang pernah belajar bersama kamu juga, bukan? Jadi, selama ini Camelia Anak dari David?" tanya Aldi bersama napas yang tersengal.
Amar membalas dengan anggukan, sedikit merasa aneh dengan respons Ayahnya yang terkejut seperti itu.
"Cepat temukan boneka kittynya, lalu bawa pada Camelia, Mar!" seru Aldi mendadak sembari meluncurkan telunjuknya tegas.