
Suasana yang sudah semakin petang, menenggelamkan matahari yang sedari pagi memberikan hangat dan cahayanya. Ibu Ida yang merasa Nayya semakin lemas, segera menghampirinya ketika jam pelajaran tambahan telah berakhir, pun dengan siswa-siswa yang mulai beranjak pergi.
"Nay, langsung pulang ya, istirahat yang cukup di rumah, kalau pun besok masih sakit kamu enggak papa izin saja, Ibu paham kondisi kamu, Ibu maklumi kejadian kemarin itu." Ibu Ida mengelus hangat pundak Nayya, layaknya kasih pada sang Anak.
Nayya yang sudah lama tidak merasakan ketulusan seorang Ibu tanpa sadar air matanya berkaca-kaca.
"Iya, Bu, terima kasih, ya. Nayya senang sekali bisa dapat perhatian dari Ibu."
Entah kenapa sebelum beranjak pergi Ibu Ida mendekap Nayya sejenak, membuat Nayya semakin tidak kuat menahan tangis, dadanya kian sesak, rasa senang dan sedih bercampur aduk. Sementara itu, Ibu Ida yang merasa tangisan Nayya histeris kian panik, lalu dengan hati-hati menyeka air mata Nayya seraya menatap netra siswinya itu dalam. Sama halnya siswa-siswi yang masih di kelas pun menatap haru kedekatan Ibu Ida dengan Nayya.
"Eh, Nay, kenapa nangis? Sudah, ya. Ya ampun, Sayang." Ibu Ida kembali mendekap Nayya, kali ini dengan mengelus rambutnya.
Nayya tidak menjawab, dia berusaha meredakan tangisan yang kian parah. Merasa sudah semakin tenang, Nayya merelakan dekapan tersebut, lalu menyeka air matanya kasar dibantu dengan Ibu Ida yang masih peduli dengannya.
"Saya enggak papa, Bu, terima kasih." Nayya menampakkan senyuman tulus, mencoba memberanikan diri untuk mendongakkan pandangan pada Ibu Ida.
"Ya sudah, Ibu pulang dulu, ya. Kalian langsung pulang, Anak-anak." Ibu Ida mulai berjalan pergi, setelah menepuk pelan pundak Nayya kesekian kali seraya senyuman.
Melihat Camelia yang juga ingin beranjak pulang, Nayya menghampirinya tergesa, menahan nyeri di kepala juga tangannya.
"Mel, antar gue ke kamar mandi!"
Tanpa persetujuan dari Camelia, Nayya sudah meraih lengannya saja, padahal setelah itu pun Camelia mengangguk menyetujuinya, baru beberapa langkah mereka berjalan, seseorang meneriaki dari dalam kelas.
"Nay, mau ke mana lo?" Doni berjalan cepat ke arah Camelia dan Nayya yang sudah di ambang pintu. "Gue ikut, ya!" lanjutnya.
"Ih, apaan sih, gue mau ke kamar mandi, lo tunggu sini saja, Don. Kita tetap pulang bareng, tunggu!"
Tidak ingin berlama-lama, karena suasana pun semakin petang, apalagi sekolahnya sudah senyap, Nayya kembali meraih tangan Camelia, kini langkahnya diperbesar dan dipercepat.
Saat sampai di kamar mandi, bukannya Nayya membasuh wajahnya, dia malah terus menarik lengan Camelia membawanya ke dalam salah satu ruangan kamar mandi.
"Nay, sebenarnya lo mau apa? Kenapa bawa gue ke sini?! Lepaskan, Nay, sakit!" Camelia terus memberontak, ketika Nayya berusaha mencengkeramnya erat.
Sekeras apa pun berontakan Camelia, Nayya tidak peduli, dia menggunakan sisa tenaga yang dia miliki untuk mendorong tubuh Camelia masuk ke dalam salah satu ruangan kamar mandi, lalu dengan sengaja juga tawa jahat, Nayya mengunci pintu ruangan tersebut tergesa.
Camelia berusaha mendobrak dan terus mengetuk pintunya berkali-kali dengan keras, tetapi tidak Nayya gubris, bahkan saat Camelia benar-benar memohon dan menangis pun Nayya tetap tidak peduli, dia mempertahankan dirinya berdiri di depan pintu, kedua tangannya bersedekap seraya senyuman jahat, ketika jeritan juga tangisan Camelia terdengar dari balik pintu. Namun, beberapa detik semuanya senyap, teriakan juga tangisan Camelia dari dalam mendadak redup dan tidak terdengar.
Nayya yang keheranan, mulai mendekati diri pada pintu tersebut, tetapi tetap saja tidak ada suara yang dia tangkap. Hingga pada tiga detik terakhir, tiba-tiba pintu kamar mandi terdobrak kencang, membuat Nayya hampir terluka kembali.
Bersamaan dengan Nayya yang benar-benar sudah lemas, seperti jantungnya yang ingin terlepas, sosok Camelia di depan mengeluarkan tawa jahat, kini tubuh yang menghadap ke arah samping, pun pandangan yang terdongak ke atas, mulai menatap Nayya dengan cepat. Tidak ingin mengakhiri hidupnya di sana, Nayya memaksakan tubuh yang tengah kaku itu untuk beranjak meninggalkan Camelia, dia mengerahkan seluruh sisa tenaga yang masih ada, benar-benar rasanya tersiksa sekali, pikirannya yang negatif membuat dada Nayya semakin sesak juga luka di kepalanya yang mulai terasa sakit. Dia tidak berani menengok ke arah belakang sedetikpun, yang ada hanya fokus ke depan menyelamatkan diri.
Hingga tiba di luar kamar mandi, dan dirasa kondisinya telah aman, Nayya yang ingin menoleh ke belakang sebentar malah membuatnya menabrak seseorang, Nayya refleks memundurkan tubuh, berusaha menormalkan kembali degup jantung dan ketakutannya.
"Lo kenapa, Nay? Lo lihat Camelia enggak? Gue dari tadi nunggu di depan, dia belum ke luar juga, ya," seru Giska masih memandangi Nayya yang terlihat sedang menenangkan diri.
Bersama napas yang masih tersengal, Nayya menarik lengan Giska untuk membawanya ke kelas, tidak lucu bukan jika seandainya sosok seram Camelia itu muncul kembali, lalu mengejar mereka, karena posisi mereka saat itu pun masih berdekatan dengan kamar mandi.
Giska yang sudah pasrah, karena suasana kian petang, menurut saja mengikuti langkah Nayya, tubuh Nayya yang terlihat gemetaran menjadi bahan untuk Giska bertanya kembali.
"Nay, sebenarnya lo kenapa? Lo tahu kan Camelia di mana?"
"Sudahlah jangan banyak bicara, gue enggak tahu di mana dia," jawab Nayya tanpa menghadap ke arah Giska.
Sesampainya di kelas, Doni yang masih menunggu di ambang pintu mulai ikut masuk ke dalam kelas kembali, ketika Nayya menghiraukan pembicaraannya dan memilih masuk ke kelas.
Nayya melepaskan genggaman pada Giska, dia menduduki kursi sembarang di depan, kedua sikut tangannya dia tumpu ke meja, memegangi kepala yang mulai terasa pusing.
"Lo kenapa, Nay? Giska, lo ngapain Nayya?" tanya Doni menatap Nayya dan Giska bergantian.
"Baru datang juga bisanya fitnah saja lo! Tanyain saja sendiri sama Nayya!" ketus Giska tidak terima.
"Sudah-sudah, Giska enggak ngapa-ngapain gue kok, Don, jangan asal menuduh begitu."
Kini pandangan Nayya mulai ke depan, sepertinya dia sudah mulai membaik, pun tubuh yang gemetar perlahan mereda.
"Giska, gue mau tanya sesuatu sama lo." Nayya menarik kursi duduknya lebih dekat ke arah Giska yang ikut duduk juga di seberang. "Boneka kitty, itu kado dari lo saat gue ulang tahun ke-16, kan?"
Deg! Napas Giska mendadak tersengal, dia merasa terhantam secara tiba-tiba. Tidak menyangka jika Nayya menanyakan perihal boneka kitty.
'Duh, Kenapa Nayya bertanya begitu, apa jangan-jangan yang dikatakan Amar saat itu tentang boneka kitty benar-benar terjadi pada Nayya, Nayya dihantui, kah?' batin Giska seraya menatap ke arah lantai.
"Gis, Betul kan lo yang kasih? Lo dapat dari mana boneka itu?"
"Gu---e, gue belilah, Nay!" jawab Giska cepat, terpaksa dia harus berbohong.
Nayya hanya berdeham bersama hembusan napas, karena dirasa sudah cukup malam dia memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan saja, mengajak kedua temannya tersebut untuk buru-buru pulang, tidak peduli akan sosok Camelia di kamar mandi, yang terpenting dia bisa selamat sampai ke rumah.