
Nayya dan Doni menghembuskan napas lega, ketika mereka akhirnya bisa beristirahat di rumah Nayya, urusannya sudah selesai perihal bus yang akan mereka naiki untuk malam ini bersama teman-teman kelas yang lain.
Merasa penasaran juga dengan kado-kado yang diberikan teman-temannya saat Nayya ulang tahun, dengan raut ceria dan semangat Nayya mengajak Doni untuk ikut membantunya membuka kado-kado ulang tahun. Mereka kini bersantai di ruang depan yang megah milik orang tua Nayya, sembari menikmati camilan yang Nayya hidangkan.
Banyak sekali kado yang tertumpuk, bermacam bentuk dan beragam warna. Namun, seketika pandangan Nayya berubah saat melihat kantong plastik hitam cukup besar yang di dalamnya terlihat sebuah boneka. Dengan kecurigaan besar, Nayya meraih kantong tersebut secara kasar, lalu dia keluarkan kepala boneka yang sudah terlihat sedikit itu.
"Gila ya, Giska ngasih gue boneka hantu begini!" Nayya memegang erat boneka kitty di hadapannya.
Dia ingat betul kejadian tadi malam saat boneka kitty tiba-tiba berada di kamarnya, lalu mengapa sekarang bisa kembali di kantong plastik ini lagi?
Sementara itu, Doni yang penasaran dan tidak paham maksud tindakan Nayya segera membawa boneka kitty yang Nayya pegang pada genggamannya.
"Boneka ini kenapa, Nay?" tanya Doni.
Netra Nayya masih tampak tajam memandang boneka kitty tersebut. "Gue curiga sama boneka itu, taruh di gudang saja nanti kalau perlu dibuang pun tidak masalah!"
"Kenapa, sih? Apa yang membuat lo begini?" Doni memperbaiki posisi duduknya.
Nayya yang merasa kesal segera menarik bantal sofa di samping, lalu dia tumpu dengan kedua sikutnya. Bibir yang bergerak ingin berbicara itu dia hembuskan napas perlahan.
"Lo tahu? Tadi malam gue melihat boneka kitty ini ada di kamar gue! Muka dia seram banget, gue semakin bingung tujuan Giska kasih gue ini apa, sih? Dia mau menjebak gue, kah?"
Kedua tangan Nayya terus bergerak menunjukkan kekesalannya pada Giska. Sementara itu, Doni yang masih berusaha mencerna perkataan Nayya mulai menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Lo enggak bisa asal nebak gitu, Nay. Lagian kan mungkin Giska enggak tahu kalau bonekanya misterius, dia hanya pembeli," sergah Doni mencoba menjernihkan pikiran Nayya.
"Gue bakal tanyakan secepatnya saat berangkat sekolah, tetapi gue mau untuk saat ini boneka kitty simpan saja di gudang, diikat kalau perlu biar tidak lepas."
Nayya semakin memajukan bibirnya, kedua tangan terus bersedekap di dada seraya menatap boneka kitty dan Doni bergantian dengan kesal.
Tidak ingin membiarkan perasaan buruk Nayya berlama-lama, tanpa diminta Doni mulai meraih boneka kitty itu, dia yang sudah tahu semua ruangan di rumah Nayya segera melangkah ke arah gudang seraya menggeret tangan boneka kitty. Sementara Nayya hanya menatap kepergian Doni sebentar, lalu dia paksa perasaannya untuk bisa fokus kembali membuka kado-kado yang lain.
...***...
Selama belajar bersama, entah kenapa tatapan yang diberikan Aldi, Ayah Amar sangat tidak biasa apalagi kepada Camelia, seperti ingin menerkam mangsanya saja. Merasa cukup lama ditatap seperti itu, tentu membuat Camelia tidak nyaman dan tidak fokus untuk belajar, ingin mengatakan pun tidak enak hati pada Amar, yang bisa Camelia lakukan hanyalah balik menatap Aldi dengan keheranan.
"Mel, gue mau tahu tentang lo lebih dalam, boleh?" Giska meletakkan pulpennya sembarang.
Camelia yang sedang fokus membaca langsung teralihkan, dia menaikkan kedua alis seraya menatap Giska.
"Iya, kenapa, Giska?"
"Lo tadi malam tiba-tiba nangis kenapa? Masalahnya bukan satu kali loh, dua kali, Mel. Lo ada masalah apa sampai begitu?" Giska mencoba mendekatkan dirinya pada Camelia, berusaha merebut hati Camelia agar mau mengulik tentangnya.
Camelia tersentak, dia terdiam sejenak seraya menatap leher Giska yang tampak kemerahan.
"Ada suatu hal yang buat gue teringat sama almarhum Ayah, entah kenapa energinya kuat banget. Bukan pertama kalinya tadi malam itu, kemarin-kemarin juga gue pernah merasakan energi besar dari Ayah." Camelia menundukkan pandangan.
Dadanya semakin sesak untuk mengingat kembali ketika dia mendapat energi besar tersebut dari almarhum Ayah. Tidak sengaja air mata itu berjatuhan, tetapi Camelia segera menyeka dengan kasar, tidak ingin teman-temannya ikut bersedih.
Dengan bibirnya yang mulai gemetar, sulit untuk mengungkapkan kata-kata kembali, Camelia menatap Giska penuh sendu.
"Gue merasa Ayah gue selalu di sini, dia selalu mengawasi gue. Gue kangen banget sama Ayah, dia pergi tanpa kejelasan yang benar-benar jelas, Giska."
Tidak ingin melihat Camelia menangis kembali, Giska dengan sigap menepuk-nepuk pundak Camelia, berusaha menenangkan temannya itu.
"Eh sudah, Mel. Maafkan gue, lo jadi keinget lagi. Sudah, ya, Mel. Gue paham pasti rasanya sakit banget, tenang aja kalau lo butuh tempat untuk pulang gue sama Amar siap kok."
Tangisan yang dipaksa untuk terus ditahan akhirnya terpecah juga, ketika pembicaraan Giska berhenti, buru-buru Camelia mendekap Giska, tangisannya sudah histeris dan sesenggukan.
"Terima kasih, ya," ucap Camelia tersedu-sedu.
"Kamu, mengingatkan saya pada Annisa, Anak manis. Namamu siapa, Camelia?" Aldi dengan tiba-tiba menyentuh hangat pundak Camelia yang masih mencurahkan kesedihannya itu pada dekapan Giska.
Camelia yang menyadari dirinya diajak berbicara, langsung melepaskan dekapan itu, lalu pandangannya fokus pada Ayah Amar.
"I--iya, Pak, saya Camelia."
Dengan susah payah Camelia menyeka air matanya kembali, dia menarik napas panjang dan menghembuskan dengan tenang, berharap sesak di dadanya bisa segera mereda.
"Kamu sangat manis."
Amar yang mendengar perkataan sang Ayah hanya bisa melirik sedikit tajam, dia heran dengan sifat Ayahnya yang tiba-tiba seperti itu, tetapi di sisi lain juga Amar merasa tenang dan bahagia, karena Ayahnya sudah tidak lagi gila memikirkan Annisa yang belum bisa diterima kepergiannya.
"Terima kasih."
Kini seutas senyuman muncul dari bibir Camelia, dia mendadak merasa lega dengan cepat.
Tidak terasa hari semakin petang saja, bahkan awan yang tadi cerah mendadak berubah mendung, Amar dan Giska yang awalnya memutuskan untuk pulang kini terhalangi, karena air hujan yang perlahan turun membasahi bumi, ditemani benturan awan-awan di langit yang menciptakan kilat dan suara mengejutkan.
Dengan keramahannya, Camelia mengajak Giska, Amar dan Aldi, Ayah Amar untuk masuk ke dalam rumahnya saja, mereka terpaksa menunggu hujan reda hingga petang, kalau pun belum reda juga, mereka harus menginap di rumah Camelia, karena ada pengawasan orang dewasa, Camelia merasa tidak enggan atau tidak terganggu jika Amar harus menginap di rumahnya juga, yang terpenting ruangannya berbeda.