
"Nay, menurut gue lo pulang saja deh, kelihatan masih lemas sekali, pasti Ibu Ida juga bakal izinin kok. Masalahnya kan ini sampai sore loh, lo beneran kuat?" Doni memandangi Nayya dengan posisi berdiri di samping meja Nayya.
Nayya yang merasa tidak nyaman dengan pelan mendorong tubuh Doni agar lebih jauh darinya. "Gue enggak papa, Don. Gue kuat kok sampai sore sekali pun."
"Ya sudah, jangan lupa diminum obat pereda nyerinya, sekarang kan lagi istirahat sebelum nanti ada pelajaran tambahan, lo makan dulu."
Sementara itu teman duduk di samping Nayya tentu mulai menggodanya, tidak biasa sekali Doni perhatian pada Nayya. Namun, Nayya hanya membalas dengan senyuman dan mulai mengeluarkan bekal roti di tas.
Saat Doni ingin beranjak ke luar untuk mencari bekal, dia melewati kursi Camelia, tatapan yang diluncurkan sedikit amarah dan kesal, ketika Camelia yang sibuk membaca buku tersebut ikut melirik Doni.
"Perjanjian itu masih berlaku, belajar yang rajin, cantik." Doni menampakkan senyum masam seraya masih melangkah ke luar kelas.
Camelia menggelengkan kepalanya seraya menatapi Doni hingga semakin tidak terlihat dari pandangan, dia kembali melanjutkan bacaan novelnya. Namun, baru beberapa detik Camelia lanjut membaca, Giska sudah muncul saja di hadapannya.
"Ke luar, yuk! Cari jajan, jangan baca terus, ih. Lo sudah pintar, Mel, gue yakin lo pasti bisa jadi ranking 1 di kelas ini." Giska mulai menduduki tubuhnya pada kursi sebelah Camelia yang kosong.
Camelia menutup buku bacaannya, lalu dia taruh di kolong meja. "Enggak juga enggak masalah kok, gue bisa cari tambahan uang di luar."
"Harus optimis, Mel!" Giska meraih lengan Camelia untuk membawanya beranjak ke luar kelas.
Camelia membalasnya dengan tersenyum, kemudian ikut menuruti Giska ke luar dari kelas.
Sementara itu tanpa Camelia dan Giska sadari, Amar sedari tadi terus memperhatikan gerak-gerik mereka, pikirannya masih sama seperti tadi malam, dia masih memikirkan tentang sosok tersebut, tentang jasadnya, pun tentang Camelia sebagai Anaknya. Entah kenapa mendadak langkah Amar tergerak untuk menghampiri Nayya yang sedang memakan rotinya, dia terpaksa menyuruh teman yang duduk di samping Nayya untuk pergi sebentar, karena memang ada hal yang harus Amar tanya juga bicarakan dengan Nayya. Sementara itu, Nayya yang terkejut melihat kehadiran Amar tiba-tiba, mulai menaruh roti yang ingin dia makan kembali pada wadahnya.
"Eh, kenapa, Mar?" tanya Nayya bersama mulutnya yang masih mengunyah sisa roti.
"Lo kalau mau sambil makan juga enggak papa, Nay, gue cuma mau tanya dan ngobrol biasa saja," jawab Amar seraya menaruh kedua tangannya di meja.
Nayya mengangguk, tetapi dia tidak melanjutkan makannya kembali, dia menghargai Amar yang ingin berbicara dengannya, setelah meneguk minuman yang dia bawa, Nayya memandangi Amar, lalu menaikkan kedua alisnya, seperti menanyakan apa yang ingin Amar bicarakan padanya.
"Kemarin kenapa pas kita jenguk, lampu ruangan lo mati, dan lo pingsan? Apa yang terjadi, Nay?"
Nayya tersentak, perasaan cemasnya lagi-lagi kambuh bersamaan dengan nyeri di kepala yang belum pulih total. Namun, sebisa mungkin Nayya terlihat tenang, tidak ingin berlama-lama berbincang dengan Amar, Nayya menjawab tanpa basa-basi.
Pikiran Amar merespons untuk mengingat-ingat kejadian saat ulang tahun Nayya, dia menemukan perkiraan yang tepat, ternyata benar saja kado yang Giska berikan yaitu boneka kitty yang selama ini menjadi penyebab Nayya dihantui sosok David.
"Lo pasti sudah tahu sosok itu dari mana? Saran gue lo buang barang tersebut, yang menurut lo mengganggu," seru Amar dengan tatapan yang semakin dalam ke arah Nayya.
Nayya yang memang sudah tahu maksud arah pembicaraan Amar, segera meluncurkan pernyataan kembali.
"Boneka ya maksud lo? Boneka kitty, iya gue tahu, tapi gue rasa gue enggak perlu buang boneka itu, biarkan saja. Memang sosok itu siapa? Seingat gue boneka kitty itu pemberian dari Giska, sepertinya gue harus tanya langsung ke dia." Camelia menumpu sikut tangan kanannya ke meja seraya masih menatap Amar.
Amar terdiam sejenak, sedikit terkejut mengetahui jika Nayya menyadari semua itu.
"I---iya, lo bisa tanyakan ke Giska saja," jawab Amar terbata.
Mendengar jawaban Amar yang ragu, Nayya mengerutkan keningnya, dia menatap Amar dalam. "Lo menyembunyikan sesuatu? Lo pasti tahu kan asal-usul sosok itu?"
Amar terdiam, dia mengetukkan jari-jarinya ke meja, mencoba mengambil keputusan yang tepat, kemudian tidak lama Amar semakin mendekati Nayya, dia berusaha membisikkan sesuatu pada telinga Nayya.
"Lo tahu? Sosok itu arwah dari Ayah Camelia, dia masih belum tenang, karena dendamnya, sedangkan Camelia sendiri masih belum percaya Ayahnya meninggal, padahal sudah jelas kejadian 5 tahun lalu Ayahnya tiada, tapi memang Camelia sampai sekarang belum menemukan jasad Ayahnya," bisik Amar perlahan tiap katanya.
Bisikan Amar membuat Nayya yang sedari tadi mendengarkan bergidik ngeri, rasa terkejut dan takut tengah bercampur. Dia tidak menyangka akan penuturan Amar, kedua netra yang sudah terbelalak itu terus menatap Amar, pun dengan bibir yang gemetar.
"Lo serius? I---tu jadi A---yah Camelia?" tanya Nayya terbata.
Napas yang masih tersengal-sengal, mencoba Nayya atur, ketika dia melihat Camelia dan Giska memasuki kelas sehabis membeli camilan ringan. Nayya juga memberikan kode kepada Amar untuk segera berpindah tempat duduk, khawatir Camelia dan Giska curiga melihat dia dan Amar berbicara berdua.
"Jadi, berhentilah untuk mengganggu Camelia, atau lo bakal dapatin akibatnya!" tegas Amar sebelum akhirnya pergi beranjak ke tempat duduknya kembali.
Nayya masih menatap kepergian Amar hingga dia kembali duduk di bangku, lalu pandangannya beralih menatap ke arah Camelia juga Giska yang sedang menikmati makanan seraya bercanda.
'Jika sosok itu adalah almarhum Ayah Camelia, lantas kenapa boneka kitty bisa ada pada Giska. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Ayah Camelia, mengapa arwahnya bisa terjebak dalam boneka itu? Gue harus jaga rahasia ini, gue enggak akan biarin Camelia tahu tentang boneka kitty ini,' batin Nayya masih menatap Camelia penuh cemas dan sedikit gairah untuk memulai misi barunya.
Sementara Amar yang merasa penuturan tersebut jalan terbaik, terlihat tenang menyiapkan buku-buku untuk pelajaran tambahan. Amar harap, ketika Nayya tahu sosok yang selama ini menghantui dirinya adalah David, almarhum Ayah Camelia, Nayya tidak mengganggu atau bahkan melukai Camelia kembali, karena jikalau pun Nayya masih melakukannya, dia jelas sudah tahu betul akibat yang akan dia terima, balasannya adalah langsung dari sosok Ayah Camelia.