
"Coba lo goyangkan lagi tubuh Ayah lo, Mar! Enggak mungkin dia meninggal, lo harus tenang dulu." Camelia meraih kedua pundak Amar seraya meluncurkan tatapan dalam untuk meyakinkan Amar yang sudah kewalahan.
"Iya, Mar lo tenang, ya." Giska ikut meraih pundak Amar dengan satu tangan.
Bersama harapan yang kian tumbuh kembali, Amar bergerak mendekati sang Ayah, jantungnya benar-benar sudah lemas, bahkan tubuh pun rasanya tidak kuat untuk berdiri, tetapi dengan keberanian Amar memperhatikan tubuh Ayahnya sekali lagi, dia mendekatkan telinga pada dada sang Ayah dengan gemetar, air mata pun tidak sengaja terjatuh cepat membasahi baju Ayahnya.
Amar masih terdiam, dia belum menemukan atau mendengar detak jantung itu, saat harapannya sudah perlahan pupus, dia menaruh kedua tangan di tubuh sang Ayah dengan posisi masih berusaha mendengar detak jantung tersebut. Hingga akhirnya, saat Amar benar-benar putus asa, dia merasakan tubuh Ayahnya sudah mulai bernapas, detak jantung pun terdengar jelas dalam telinga Amar, walaupun masih melemah. Buru-buru dia mengangkat kepalanya, lalu menatap wajah sang Ayah, yang kelihatannya netra pun perlahan terbuka.
Camelia dan Giska yang menyadari juga akhirnya bisa bernapas lega, mereka ikut tenang ketika Ayah Amar perlahan membukakan mata, bahkan Giska hingga berjingkrak kecil seraya tawa, Camelia yang melihat tingkah temannya satu itu hanya bisa menggelengkan kepala, lalu kembali fokus pada Ayah Amar.
"Mar, kalau dirasa sudah membaik lo bisa bawa Ayah lo untuk istirahat di rumah saja ya, gue khawatir kalau di sini Ayah lo diganggu terus, biar bisa istirahat dengan tenang juga Ayah lo kalau di rumah, Mar," bisik Camelia.
Amar hanya melirik ke arah belakang tanpa mengubah posisi tubuhnya yang masih fokus pada sang Ayah.
"Iya, terima kasih sudah peduli. Nanti kalau Ayah gue sudah sadar total dan dirasa kuat berdiri, gue bakal balik ke rumah."
Giska yang ikut mengangguk mendengar pembicaraan Camelia dan Amar, kini mengalihkan fokus pada Camelia, dia mendadak teringat suatu hal.
"Mel, teman-teman kita gimana? Jadi, kita mau menyusul ke sana atau lihat hari Senin saja?"
Camelia terdiam sejenak, dagunya menumpu pada jari-jari lentik milik Camelia, lalu dia lepaskan dengan cepat, membiarkan kedua tangannya di samping.
"Mending Senin saja, gimana? Soalnya kalau kita mau menyusul sekarang pun kita enggak tahu persis tempat kecelakaannya di mana dan mereka sekarang sudah ditangani atau belum, kita kurang informasi tentang mereka. Jadi, lebih baik Senin saja deh pas berangkat sekolah, berdoa saja ya semoga pihak sekolah terutama wali kelas kita enggak mengamuk atau kasih hukuman," jawab Camelia panjang lebar.
Giska menghembuskan napas berat ketika mendengar perkataan akhir Camelia.
"Iya juga, Mel. Duh, firasat gue sudah enggak enak, enggak mungkin kalau kita enggak dapat hukuman, pasti mereka sudah tahu dulu tentang kabar kecelakaan ini," tebak Giska.
Hanya beberapa detik fokus mereka kembali teralihkan pada Ayah Amar, kini Amar tengah membantu sang Ayah untuk duduk.
"Om, gimana kondisinya? Ada yang sakit enggak, Om." Camelia berjalan mendekat ke arah Ayah Amar.
Aldi yang tersadar Camelia mendekatinya, refleks meluncurkan tatapan tulus, netranya tampak puas dan tenang melihat kehadiran Camelia seperti melihat putrinya, Annisa yang sudah tiada.
"Baik, Camelia. Terima kasih ya, Nak kamu sudah bersedia menerima kita di rumah kamu."
Giska dan Camelia refleks menampakkan raut cemas melihat Amar yang dengan mudahnya menyuruh sang Ayah untuk beranjak.
"Eh, Mar. Lo gimana sih enggak pengertian banget, Ayah lo baru sadar masa sudah diajak pulang saja, kasihan dia, istirahat dulu." Giska menyeka lengan Amar yang ingin membantu Ayahnya untuk beranjak.
"Iya, Mar, enggak usah buru-buru. Kasihan Ayah lo kalau diajak pulang sekarang, biarkan istirahat dulu. Ada-ada saja deh lo, Amar ... Amar ...." Camelia menggelengkan kepalanya seraya senyuman jail menatap Amar.
"Enggak papa kok, Nak. Ayah nanti bisa dibantu sama Amar juga, sudah baikan," ucap sang Ayah seraya menatap Camelia dan Giska bergantian.
Merasa Ayah Amar yang terus memaksa juga untuk beranjak, Camelia dan Giska tidak bisa menangkal kembali, mereka hanya bisa membantu Amar untuk menuntun sang Ayah dari kasur, lalu beranjak ke luar rumah, walaupun dengan langkah yang sudah pasti dan tubuh yang mencoba untuk kuat, tetapi Camelia dan Giska tidak mungkin membiarkan Ayah Amar berjalan begitu saja, dengan kondisinya yang baru tersadar.
"Ya sudah ya gue sama Ayah pulang, terima kasih Camelia, Giska." Amar menuntun langkah sang Ayah dengan perlahan.
Sementara itu Giska yang merasa orang tuanya di rumah pun pasti akan mencari dan menunggunya, ikut berpamitan pada Camelia.
"Eh, Mel, gue pulang juga ya, takut orang tua gue nyariin. Terima kasih, Camelia, semoga hari Senin semuanya baik-baik saja deh." Giska melambaikan tangannya perlahan meninggalkan Camelia seorang diri di depan rumah.
...***...
Hanya memerlukan waktu beberapa menit saja, akhirnya Amar dan Aldi telah sampai di rumah, Amar membawa sang Ayah masuk ke kamarnya, membantu tubuh yang masih lemas itu untuk berbaring kembali, walaupun hanya pada sebuah tikar, karena memang keluarganya masih belum mampu. Setelah dirasa lega, Amar ke luar dari kamar, beranjak pada ruangan depan, entah kenapa netra Amar langsung tertuju pada sebuah boneka beruang, boneka milik Annisa dari Ayah saat ulang tahun, dan belum sekali disentuhnya atau dimainkan.
Dengan berat hati, pikirannya mengingat Annisa kembali, Amar meraih boneka tersebut, lalu dia pegang erat-erat bersama tangan yang gemetar.
'Kakak bingung sama kamu, kenapa malam itu kamu ingin bersikeras membawa Ayah ikut bersamamu, kenapa kamu sejahat itu, Nisa. Apa karena boneka beruang ini, kamu belum sempat memainkannya? Sepertinya sekarang juga sebelum petang gue harus bawa boneka ini ke kuburan Annisa, mungkin itu akan membuatnya semakin tenang dan tidak menganggu Ayah kembali,' batin Amar masih menatap boneka tersebut sendu.
Tidak ingin berlama-lama setelah anggukannya di akhir kalimat yang berarti sangat yakin akan keputusan yang dia buat sendiri, Amar melangkahkan kaki untuk segera ke luar dari kamar tanpa membersihkan tubuhnya terlebih dahulu atau mengambil sesuatu barang, dia pergi dengan tangan yang hanya memegang boneka beruang saja.
Namun, baru saja tangan Amar hendak memegang gagang pintu, seseorang memanggil namanya dari arah kamar.
"Amar, jangan pergi sekarang, Ayah masih mau ditemani kamu. Ayah enggak mau sendirian, Mar," ucap sang Ayah dengan suara yang lemah.
Refleks Amar terhenti, dia mengurungkan niatnya untuk ke kuburan Annisa, sekaligus dia bingung juga mengapa Ayahnya bisa tahu kalau dia ingin pergi, padahal saat dia meninggalkannya sang Ayah sudah ingin tertidur.