Father's Love And Revenge

Father's Love And Revenge
BAB 40 | KEPRIBADIAN BARU NAYYA 2



"Nay! Lo di dalam, kan?" teriak Doni sembari memasuki halaman depan rumah Nayya.


Merasa pintunya tidak Nayya kunci, pun belum ada respons dari Nayya sedari tadi, Doni memutuskan untuk langsung masuk ke rumah Nayya. Dia tidak menangkap Nayya di ruangan depan, buru-buru Doni menaiki tangga, berjalan ke kamar Nayya di lantai 2.


Saat tubuhnya sudah berdiri di depan pintu kamar Nayya, Doni mengetuknya terlebih dahulu, lalu tanpa menunggu respon, jari-jarinya mulai berusaha meraih gagang pintu kamar.


Pandangan Doni mendadak buram, dia sangat terbelalak melihat kondisi Nayya yang duduk menghadap arah jendela bersama kedua tangan yang sudah berlumuran darah, pun satu tangannya yang tampak gemetar memegang sebuah cutter kecil.


"Nay, berhenti lakukan itu!" Doni berlarian masuk ke kamar Nayya sembari melempar gagang pintu yang tadi digenggamnya secara kasar.


Nayya yang tentu mendengarnya hanya membalikkan tubuh sebentar menatap Doni, lalu pandangannya fokus kembali ke arah jendela, dia mengayunkan kedua kaki membiarkan darah dari kedua tangannya ikut terjatuh, terlihat juga wajah yang sudah semakin pucat pun kedua netra yang tampak sembab masih dihantam air mata, tidak berhenti untuk berjatuhan. Tangisan Nayya perlahan mereda, tetapi masih sesenggukan, terasa jelas sesak di dadanya.


"Nay, kenapa lo lakukan ini?" Doni meraih kedua tangan Nayya dengan hati-hati.


Bersama perasaan yang sudah tergesa, Doni mencari obat di kamar Nayya untuk membantu membalut luka yang cukup parah di sebelah nadi tangan Nayya tersebut.


"Nay, ayo bersihin tangan lo dulu pakai air, bisa infeksi nanti." Doni membantu tubuh Nayya untuk berdiri.


Untung saja Nayya mau menuruti Doni, meskipun agak dipaksakan tubuhnya untuk bisa beranjak. Tepat saat air dikucurkan ke kedua tangannya walaupun perlahan, tetapi rasa sakit itu seperti menerobos paksa tanpa ampun, menjalar hingga membuat kepala Nayya ikut berdenyut nyeri.


"Sakit! Cukup, gue enggak mau diobati, gue mau begini saja, Don, enggak ada yang peduli juga kalau gue sakit selain lo!" Nayya menyeka tangan Doni yang membantu lukanya untuk dibersihkan.


Sisa tenaga tersebut, Nayya coba berjalan sendiri, terus melempari tangan Doni yang berusaha membantunya untuk berjalan ke sofa. Nayya terdiam cukup lama, mengistirahatkan tubuh juga air mata agar wajahnya tidak babak belur kembali. Sementara itu, Doni berusaha untuk membantu mengobati luka tangan Nayya, dia membalut dengan kapas bersama obat pereda nyeri dengan hati-hati.


"Nay, gue capek juga liat lo terus begini. Kalau lo punya masalah, cerita saja, gue siap bantu lo kok." Doni menatapi wajah Nayya yang tanpa sedikit pun membalas hadapannya ke arah Doni.


Seketika Nayya menyunggingkan senyum masam, netra yang tadi hanya terpaku ke arah depan, kini mulai melirik ke arah Doni.


"Lo belum sadar juga, Don?"


Doni sedikit terkejut mendengar jawaban Nayya, membuatnya semakin bersalah, karena seakan tidak mengerti kondisi Nayya.


"Maksud lo apa, kapan lo cerita?" tanya Doni.


Nayya kembali mengalihkan pandangan ke depan, lalu tertawa kecil. "Enggak jadi, mungkin sebentar lagi lo akan sadar."


Doni merenung sembari masih mengobati luka Nayya, dia mengerutkan kening berkali-kali seperti mengingat dengan keras maksud perkataan Nayya.


"Oh iya, gue paham, Nay. Sudah, ya, enggak usah terlalu dipikirin tentang orang tua lo, ada gue sama teman-teman yang lain selalu menemani lo. Jadi, gue harap lo bisa berhenti nyakitin diri sendiri lagi," tebak Doni dengan sangat yakin.


Suasana yang kian larut malam, membuat Doni terpaksa harus pulang dan meninggalkan Nayya sendiri di rumah. Saat bersamaan Doni selesai membantu mengobati luka Nayya dan ingin beranjak ke bawah, dia mendengar suara pintu depan yang diketuk beberapa kali, tiap ketukannya diberi jarak beberapa detik, kemudian mengetuk kembali. Merasa penasaran, Doni mempercepat langkahnya untuk menuruni tangga, tanpa ragu saat sampai di depan pintu, Doni mulai meraih gagangnya, lalu membuka pintu cepat, tertangkap Camelia dan Giska di sana, pakaian mereka sudah rapi tidak lagi memakai seragam, pun dengan tas kecil yang sepertinya berisikan buku-buku pelajaran juga baju mereka.


Merasa heran, Doni menaikkan kedua alis. "Amel, Giska? Kalian mau apa ke sini? Tumben sekali."


"Belajar bareng sambil nginep di rumah Nayya," jawab Giska dengan senyuman.


Doni terbelalak, merasa ada yang aneh dengan kedua temannya itu, apalagi sudah jelas-jelas Camelia baru saja tadi siang dikunci oleh Nayya di kelas, lalu benar tujuannya hanya sekadar belajar bersama?


Doni menghilangkan pikiran-pikiran negatif itu, lalu menyuruh kedua teman di hadapannya masuk.


"Masuk saja, Nayya ada di kamar lantai 2. Kalian ke sana saja, ya, gue mau pulang dulu." Doni menepuk pelan pundak Giska yang bersebelahan dengannya, lalu beranjak pergi dari sana menuju mobil Doni.


Setelah Doni tidak terlihat dari pandangan, Giska dan Camelia memasuki rumah Nayya dengan perlahan. Sepanjang jalan ke lantai dua, Giska terus menepuk pundak teman dekatnya itu yang raut wajahnya masih meninggalkan kedua netra sembab.


"Mel, lo kuat? Lo bakal baik-baik saja, kan?" tanya Giska sembari memiringkan kepalanya ke arah Camelia.


"Iya, gue baik-baik saja. Gue anggap kejadian siang itu memang enggak pernah terjadi, kita kan ke sini hanya ingin belajar bersama," jawab Camelia yakin, raut wajahnya seperti benar-benar tulus.


Sudah beberapa pintu mereka lewati di lantai dua, tetapi tidak ada yang cocok, hingga akhirnya mereka sampai di depan pintu coklat dengan hiasan elemen langit.


"Ini pasti kamar Nayya!" seru Giska.


Dengan keyakinan penuh, Giska membuka pintunya, terlihat dari sedikit celah pintu yang terbuka, Giska menangkap punggung Nayya yang masih menghadap ke arah jendela selalu. Sementara itu Camelia hanya berdiri di belakang Giska, tanpa melihat sebenarnya di depan ada sesuatu apa yang Giska lihat.


Merasa pintu kamarnya terbuka kembali, Nayya masih tidak merespons, karena dia anggap itu paling hanya Doni ingin mengambil sesuatu yang ketinggalan. Namun, responsnya berubah ketika mendengar suara ribut-ribut kecil yang tidak asing bagi Nayya, ya dia mengenal jelas asal suara itu seperti Camelia juga Giska.


Buru-buru Nayya membalikkan tubuh, menghadap ke arah pintu, dia terbelalak ketika dugaannya benar, Camelia dan Giska berada di hadapannya. Merasa tidak enak akan tindakan Nayya tadi siang kepada Camelia, membuatnya sedikit canggung untuk berbicara.


"Kalian? Mau apa? Enggak sopan banget sih, asal masuk saja," seru Nayya gemetar sembari memperbaiki posisi duduknya mencoba untuk beranjak berdiri.


"Oh iya maaf, Nay. Tadi kita ketemu Doni di depan, dia suruh kita masuk saja ke sini," jawab Camelia tanpa merasa kesal pada Nayya.


Nayya menganggukkan kepala, lalu menatap kedua temannya itu bergantian tanpa senyum. "Jadi, kalian mau apa?"


"Kita belajar bareng, yuk! Kita numpang tidur juga, ya, di sini." Giska mulai meraih lengan Camelia, membawanya berjalan lebih dekat ke arah Nayya.


Entah kenapa mendengar jawaban tersebut, hati Nayya seperti tersentuh, baru pertama ini ada temannya yang ingin belajar bersama, bahkan ingin menginap juga menemani Nayya semalaman. Bersama senyuman yang mencoba terukir, Nayya mempersilakan Camelia dan Giska untuk duduk di sampingnya.