
Jumat yang sangat panas, Aldi mengendap berjalan ke luar rumah, dia berniat untuk menemui temannya yang ahli perihal sosok. Saat langkahnya baru saja beberapa jarak dengan pintu depan rumah, Amar yang datang sehabis pulang sekolah berjalan cepat ketika melihat sang Ayah di hadapan.
"Ayah, mau ke mana? Mau ke teman Ayah pasti?" tebak Amar sangat yakin.
Aldi hanya mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya kembali, lagi-lagi dengan cepat Amar mencegahnya.
"Amar ikut, Amar mau bantu menyelesaikan masalah sosok David itu, Amar enggak mau teman Amar selalu diganggu dia, meskipun sebenarnya dia sendiri tidak masalah jika diganggu David."
Aldi yang tidak mengerti penuturan Amar, menatapnya bingung sembari mengerutkan kening. "Maksudmu? Dia ingin mati di tangan David?"
"Iya, ada masalah lain yang membuat dia seperti itu."
Tanpa respons kembali, Aldi melanjutkan langkahnya, kini Amar yang masih menggendong tas buru-buru dia lempar tasnya sembarang ke dalam rumah, lalu mengejar langkah Ayahnya yang sudah lebih dulu berjalan.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka sampai di tempat terpencil pendalaman hutan tersebut, sepertinya memang tidak banyak orang yang tahu akan teman Aldi itu. Dengan langkah pasti, Aldi dan Amar mendekati rumah yang terlihat kokoh dari kayu, mereka mengetukkan pintu berkali-kali dengan jeda.
Hingga akhirnya pintu pun terbuka dengan sendirinya, menampakkan seorang pria berpayuh baya yang sedang terduduk dengan kaki menyilang, dia tampak serius dengan sebuah benda di depan.
"Ayah, dia teman Ayah? Kok serem banget, ya penampilannya," celetuk Amar sedikit berbisik pada sang Ayah, agar suaranya tidak terdengar oleh orang di depan.
Sementara itu, Jukung namanya mulai tersadar akan kehadiran Aldi juga Amar, dia mempersilakannya untuk duduk. Setelahnya barulah Aldi menjelaskan maksud kehadirannya juga Amar, dia membutuhkan penjelasan dari Jukung tentang arwah David yang masih berkeliaran, padahal bukannya dia meneror hanya untuk membalaskan dendam saja pada Aldi karena telah membunuhnya.
Dengan singkat juga jelas Jukung menjelaskan setelah terdiam cukup lama, sama persis dengan yang Amar ketahui, arwah David masih bergentayangan seperti itu karena dendamnya memang bukan hanya dengan Aldi saja, tetapi dengan Nayya juga yang telah menganggu Camelia, putri David, dan tidak hanya tentang pembalasan dendam, salah satunya cara untuk membuat arwah David tenang adalah dengan menyelaraskan pesannya sebelum meninggal itu, dia ingin boneka kitty yang belum sempat sampai untuk sang Anak bisa disampaikan, begitu penuturan Jukung.
"Hanya itu Ayah ingin datang ke sini? Amar sudah tahu perihal itu, Ayah," bisik Amar sembari menatap Jukung sedikit kesal.
Aldi tidak menghiraukan perkataan Anaknya, dia kembali meluncurkan pertanyaan. "Bagaimana agar David bisa memberikan boneka itu pada Anaknya, apa ada cara yang terbaik?"
"Ya, ada! Saya bisa melihat bahkan bonekanya ada di tangan wanita itu sendiri, orang yang juga merasakan dendam David. Kamu bisa bawa Anaknya ke rumah itu dan menunjukkan boneka kitty di hadapannya langsung, saya yakin semuanya akan selesai setelahnya," tutur Jukung.
Amar masih terdiam dengan wajah sedikit kesal, karena semua penurutan Jukung tidak ada gunanya bagi dia, memang Amar sudah tahu tentang semua itu.
Sudah dirasa cukup akhirnya Aldi dan Amar berpamitan, Jukung hanya mengangguk, pandangannya masih menunduk saat pintu mulai tertutup kembali.
"Ayah, kalau hanya itu Amar pun sudah tahu. Ayah enggak usah ikut-ikutan masalah ini, biar Amar sama teman-teman yang lain saja coba selesaikan, karena kita lebih tahu bagaimana keadaan Nayya, Ayah," seru Amar sepanjang jalan.
Sementara itu Ayahnya hanya mengangguk-anggukkan kepala, mereka berjalan kembali pulang tanpa obrolan lagi, hanya ditemani angin sejuk yang bersepoi membuat daun pohon rindang menari-nari.
...***...
'Ayah, Camelia benar-benar enggak paham sama semua ini, Ayah sebenarnya di mana? Ayah masih hidup, kan, Yah?' batin Camelia.
Dadanya terasa sangat sesak, tangisan yang tadi hanya terbendung saja kini tercurahkan histeris. Dalam ruang kamar cukup luas dan senyap, terdengar sendu tangisan Camelia seorang, hingga tidak sadar karena kelelahan, Camelia memejamkan mata, bersama anggota tubuh yang bisa diistirahatkan tenang.
...***...
"Camelia, Sayang," seru suara lelaki yang tidak asing bagi Camelia.
Buru-buru Camelia membangunkan diri, dia bergerak cepat menuruni ranjang, ketika melihat sang Ayah di hadapan, lelaki itu sangat tampan. Dengan tubuh yang gemetar, juga degup jantung kencang, karena tidak percaya dengan apa yang dia lihat, Camelia berlari menghampiri sang Ayah, dia merentangkan kedua tangan berusaha untuk menggapai dan mendekap tubuh lelaki di depannya.
"Ayah!" seru Camelia bersama air mata yang tengah terjatuh ke lantai.
Mereka akhirnya bertemu dalam satu dekapan, terutama Camelia yang mendekapnya sangat erat, karena rasa rindu yang terpendam lama.
"Ayah, aku enggak akan lepaskan Ayah lagi. Camelia sayang banget sama Ayah," ucap Camelia sesenggukan.
Sementara itu, David dengan hangat mengusap rambut kepala Camelia, berusaha menenangkan Anak perempuan satu-satunya di depannya kini.
Cukup lama dekapan bertahan, hingga akhirnya perlahan David melepaskannya, dia menatap wajah sang putri sendu, lalu jari-jarinya bergerak menyeka air mata yang terjatuh dari netra Camelia.
"Sayang, maaf dulu Ayah mendadak hilang meninggalkanmu. Ayah enggak pernah lupa kok sama keinginan kamu. Kamu mau boneka kitty kan, kamu tahu? Ayah sudah membelikannya untukmu, Sayang." David menurunkan tubuhnya sejajar dengan Camelia.
Camelia yang merasa tidak enak berdiri, ikut menurunkan tubuhnya sembari menatap wajah sang Ayah dengan senyum bercampur tangisan. "Ayah, kau mengingatkanku kembali pada kejadian itu. Oh ya, di mana bonekanya Ayah? Amel ingin memeluknya seerat Amel memeluk Ayah."
David kembali memegang rambut kepala Camelia berserta senyuman, terlihat netra yang sipit itu mencoba menyembunyikan air mata yang ingin terjatuh.
"Ada di dekatmu, Sayang. Boneka kitty itu sudah berada di rumah temanmu, Ayah harap kamu bisa merasakan dan menemukannya."
"Ayah," Camelia menyenderkan kepalanya pada tubuh sang Ayah.
"Sayang, Ayah paham gimana kondisi kamu. Tenang saja, ya, Ayah akan selalu ada di samping kamu, dan akan lebih tenang ketika kamu sudah berhasil mendapatkan boneka kitty pemberian Ayah dulu. Ayah selalu hidup di hati kecilmu, Sayang." David membangunkan tubuh putrinya dengan hati-hati.
Dia menggenggam tangan yang dianggapnya masih mungil tersebut, lalu menghirupnya sembari terus menatap kedua netra Camelia yang semakin sembab. Sementara itu, Camelia hanya bisa terdiam, dia tidak bisa mengeluarkan kata-kata kembali, baginya kehadiran sosok sang Ayah walaupun Camelia sadar ini hanya sebuah mimpi adalah suatu ketenangan dan kebahagiaan besar.