Father's Love And Revenge

Father's Love And Revenge
BAB 45 | SUPPORT SYSTEM



Camelia dan Giska yang sedang asyik belajar untuk ujian selanjutnya sedikit terkejut, ketika dari kejauhan melihat Doni yang berjalan menghampiri mereka dengan langkah lebar.


"Doni, ya? Dia mau apa?" Giska memiringkan kepalanya menatap Doni yang semakin dekat dari pandangan.


Camelia hanya menggelengkan kepala, lalu beralih kembali pada buku bacaan mereka. Tidak lama, Doni sampai dan mulai menyapa kedua temannya, garis wajah Doni terlihat menyembunyikan cemas juga ketakutan.


"Camelia, Giska, sekarang ikut gue ke rumah Nayya, dia sudah enggak beres banget." Doni meraih kedua lengan temannya santai.


Camelia yang masih dipenuhi pertanyaan, mulai menyeka tangan Doni, begitu pun dengan Giska.


"Maksud lo, memang Nayya kenapa?" tanya Camelia sembari membangunkan tubuhnya, ketika Doni masih saja berdiri.


Doni menghembuskan napas, lalu menatap Camelia dan Giska bergantian. "Kalian tahu? Sudah beberapa kali gue pergoki dia ingin mengakhiri hidupnya, dia udah setres!"


Camelia dan Giska tidak heran dengan jawaban Doni, memang yang mereka tahu Nayya akhir-akhir ini sudah sedikit berbeda, tingkahnya semakin aneh, selalu mengatakan ingin meninggal.


"Sekarang gimana kondisinya? Mau apa lo ke sini?" tanya Giska yang ikut membangunkan tubuhnya.


"Kalian ikut gue dulu, biar kalian tahu sendiri gimana kondisi Nayya."


"Bentar, gue beres-beres ini dulu." Camelia mulai meraih buku-bukunya.


Giska yang merasa tidak enak, ikut juga membantu Camelia merapikan buku-buku, sementara buku-buku Giska dititipkan terlebih dahulu di rumah Camelia.


"Yuk!" ajak Camelia setelah berhasil mengunci pintu rumah.


Mereka bertiga berjalan ke depan jalan raya, lalu menaiki mobil Doni untuk segera ke rumah Nayya. Sejalan menuju tujuan mereka, tidak ada perbincangan dari ketiganya, mereka sama-sama terlihat cemas, apalagi Doni yang merasa bersalah meninggalkan Nayya sendirian dengan kondisinya yang seperti itu.


Akhirnya setelah beberapa menit, mereka sampai di rumah Nayya, dengan langkah tergesa mereka berjalan cepat masuk ke rumah, lalu menaiki tangga menuju kamar Nayya.


"Nayya!" seru Camelia yang membuka pintu kamar Nayya lebih dulu.


Dengan hati-hati, karena melihat kamar Nayya yang masih berserakan barang-barang, juga serpihan kaca, Camelia berlari mendekati Nayya, kedua tangannya siap mendekap teman satunya itu.


Sementara itu, Giska yang melihat barang-barang berserakan, mulai merapikannya dibantu Doni, membiarkan Camelia dan Nayya yang saling mendekap dan mencurahkan perasaan mereka.


"Kenapa lo lakuin ini, Nay? Ada kita, lo enggak sendiri, lo bebas cerita ke gue atau teman yang lain, Nay," tutur Camelia sembari menatap Nayya sendu, netranya masih terlihat jelas meninggalkan air mata.


Sementara itu, Nayya masih saja menangis, dia menggenggam tangan Camelia dengan lemas.


"Kalau seandainya orang tua gue ke sini dan gue sudah meninggal, lo tolong bilang ke mereka, ya, gue sayang banget sama mereka, gue sangat berharap mereka bisa selalu di samping gue, setiap hari bawakan bunga ke kuburan gue, ya, gue bakal senang banget nanti," ucap Nayya mulai melantur.


Tidak hanya Camelia yang berada di dekatnya itu terkejut, bahkan Giska juga Doni yang sebentar lagi selesai merapikan serpihan kaca juga kotoran yang membekas di lantai kamar pun ikut terkejut, mereka meninggalkan sebentar pekerjaannya, lalu ikut mendekati Nayya.


"Gue mau mereka sadar sendiri, Gis. Terima kasih, ya," jawab Nayya lemas.


"Nih, obatin luka Nayya, gue mau lanjut beres-beres barang yang berserakan." Doni menyodorkan sekotak obat-obatan kepada Camelia.


Camelia menerimanya dengan tersenyum, lalu dengan bantuan Giska, dia mulai mengobati luka di tangan Nayya. Sementara itu, lagi-lagi Nayya merasa haru dengan teman-temannya yang sepeduli dan seperhatian kini, dia hanya bisa termenung, menatap Camelia dan Giska bergantian diselangi jeda, tidak jarang pun pikirannya terus mengingatkan Nayya pada kedua orang tua, dia selalu berandai-andai jika orang tuanya bisa datang lalu mendekapnya erat, tetapi rasanya seperti menggapai bintang di langit siang, sangat mustahil.


"Sudah, jangan lagi-lagi begini ya, Nay," seru Camelia dengan senyuman tulus.


Nayya yang sedang termenung seketika tersadarkan, dia ikut membalas senyum Camelia, lalu berterima kasih kepadanya juga Giska.


"Kita mau menginap lagi saja di sini supaya bisa jaga lo, enggak boleh lo macam-macam lagi, Nay," seru Giska diakhiri candaan.


"Iya-iya boleh kok, gue senang sekali kalian mau menemani gue, gue bersyukur deh punya teman-teman kayak kalian." Nayya memegangi tangan kedua temannya. "Dan untuk lo, gue minta maaf ya, Mel, gue sering nyakitin lo, maaf untuk semua perlakuan kasar gue," lanjutnya sembari menatap dalam Camelia.


Kini Camelia yang membalas genggaman Nayya, sembari menatapnya tulus. "Iya, gue sudah maafin, Nay. Intinya sekarang kita fokus sama diri lo, ya."


Doni yang sudah selesai dengan pekerjaannya, segera menghampiri ketiga temannya itu.


"Nay, gue pulang, ya, karena sudah ada Camelia sama Giska juga. Jaga diri kalian baik-baik." Doni menepuk pelan pundak Nayya. "Mel, Gis, gue titip Nayya sama kalian, ya. Kalau ada sesuatu atau butuh bantuan kabarin gue saja, telefon," lanjut Doni sembari beranjak pergi dari kamar Nayya.


"Iya, Doni. Terima kasih!" seru Nayya menaikkan sedikit kepalanya.


"Hati-hati, Doni!" ucap Giska, ketika tubuh Doni telah sampai di ambang pintu kamar.


"Lo istirahat saja, Nay, tidur." Camelia mulai menaiki ranjang Nayya dan duduk di sana.


"Masih siang ini, Mel," tolak Nayya.


"Enggak harus nunggu malam dulu untuk istirahat, Nay. Lo kan sekarang kondisinya lagi kurang baik, mending istirahat saja, tenangkan pikiran lo, tidur," timpal Giska membantu Camelia.


Merasa Nayya sudah mulai menuruti perkataan mereka, Camelia inisiatif beranjak dari ranjang, menuju sofa panjang di depan jendela kamar Nayya, dia menduduki diri di sana, cukup lama termenung menatapi sekitar. Sementara itu, Giska yang juga tidak ingin mengganggu Nayya istirahat, mengikuti Camelia, duduk di sampingnya.


'Pokoknya nanti malam gue harus ambil boneka itu, gue tanya baik-baik ke Nayya dan Giska, sebenarnya asal boneka itu dari mana. Mengapa tadi malam Ayah memberikan petunjuk kalau boneka kitty yang gue inginkan 5 tahun lalu dan belum sempat tersampaikan itu ada di rumah teman gue? Selama ini, gue memang selalu mencurigai Nayya, gue pikir rumah Nayyalah yang dimaksud Ayah,' batin Camelia sembari menumpu dagunya pada satu tangan.


Giska menepuk pundak Camelia pelan, membuat Camelia terbelalak.


"Mel, lo ngelamunin apa? Lo ada masalah? Cerita saja," Giska menatap wajah Camelia serius.


Sementara itu, Camelia hanya membalas dengan senyuman masam, lalu tawa kecil sembari menggelengkan kepalanya.