
"Telfonnya langsung mati, apa yang terjadi sama Doni?" Amar menatap Camelia dan Giska bergantian dengan raut wajah panik.
"Kita lapor sekolah saja besok!" ucap Giska asal seraya menggigit ujung-ujung jari.
Camelia yang ikut panik juga segera mengalihkan pandangan ke arah Giska. "Enggak, jangan, Giska. Bukannya nanti malah memperburuk, ya? Kita bisa dihukum berat."
Amar terdiam sejenak, masih memandangi kedua temannya, dagu Amar menumpu pada tangan kiri.
"Oh gini! Ke depannya kita kasih tahu kabar tentang kecelakaan ini ke pihak sekolah atau enggak, itu tetap saja sekolah akan tahu juga nantinya, entah itu dari warga yang menemukan identitas sekolah mereka, lalu menghubungi pihak terkait atau berita dari mana pun itu, pasti akan ketahuan juga," seru Amar bersama gerakan tangan untuk mempertegas kalimatnya.
"Nah betul, kita cari aman saja. Lebih baik sekolah tahu kabar kecelakaan teman-teman kelas dari orang lain daripada dari mulut kita sendiri, nanti kita malah dimusuhi lagi sama teman-teman sekelas, karena membocorkan rahasia mereka. Sudah, sekarang biarkan saja orang-orang di sana yang menolong teman-teman kita, pasti mereka segera ditangani, untuk saat ini karena sudah larut malam, kita istirahat, ya. Lanjutkan pembicaraan besok saja, bila memungkinkan kita bisa menyusul mereka di tempat yang tertuju," seru Camelia panjang lebar, diakhiri hembusan napas.
Sepanjang Camelia berbicara, Amar dan Giska hanya mengangguk, seperti fokus pada pembicaraan Camelia dan menyetujuinya. Tanpa menunggu Amar beranjak, Camelia lebih dulu membangunkan tubuh.
"Mar, lo istirahat di sini saja, ya sama Ayah lo, gue sama Giska di kamar gue. Langsung tidur, jangan mikir yang aneh-aneh lagi." Camelia melangkah pergi setelah memberikan senyuman jahil.
Mendengar arahan Camelia, Giska ikut beranjak. "Dengar tuh, langsung tidur."
Amar mengerutkan kening, merasa aneh dengan tingkah teman-temannya.
"Iya-iya," jawab Amar sembari mulai mengistirahatkan tubuh di samping sang Ayah yang masih belum tersadar.
Sementara itu, di kamar lain, Camelia yang mulai menarik selimut untuk segera beristirahat, teralihkan ketika Giska menyentuh pundaknya.
"Mel, kita besok mau nyusul mereka? Enggak usah saja deh, gue malas banget." Giska beranjak ke ranjang di samping Camelia.
Dengan tatapan yang perlahan sayu, Camelia menatap Giska cukup lama, lalu membuka suara pelan-pelan.
"Liat nanti saja, sepertinya enggak memungkinkan juga ke sana. Sudah ya, gue mau tidur."
Giska terdiam sejenak, menatapi Camelia yang mulai berbaring bersama selimut, menutupi ujung kaki hingga dadanya. Merasa sudah sangat lelah juga, Giska ikut berbaring di samping Camelia, ikut menarik selimut yang masih cukup untuk dirinya. Namun, mendadak rasa penasaran Giska muncul.
Giska menatap langit-langit kamar, lalu sejenak menatap ke arah Camelia. "Mel, kira-kira kenapa ya bus mereka bisa kecelakaan. Supir busnya mengantuk kah, atau rem blong atau mungkin ... ada sesuatu yang melintas cepat di jalan, kucing? Manusia? Makhluk?"
Giska asik bermonolog ketika menyadari lawan bicaranya sudah tertidur pulas, dia mengalikan pandangan kembali ke langit-langit kamar, lalu menyapu pandangan ke sekitar.
'Duh, rumah Camelia seram juga ya. Bisa-bisanya tadi ada makhluk muncul yang ingin mencelakakan Ayah Amar, makhluk itu siapa ya, mengapa dia melakukan hal itu? Gimana kalau tiba-tiba sekarang dia muncul juga di kamar ini, tepatnya di hadapan gue? Ah, enggak mungkin, tapi ... kalau benar muncul bagiamana, Camelia sudah tidur lagi. Mending tidur saja, ah!"
'Ya Allah, itu siapa di samping Camelia. Mengapa pria tersebut seperti dekat sekali dengan Camelia. Argh, baru saja gue tadi mikirin sosok Anak kecil yang ingin membunuh Ayah Amar, sekarang malah muncul sosok baru saja. Ya Allah, lindungi gue, gue harus apa? Takut banget, gue takut sosok itu tiba-tiba menerkam gue. Siapa sih tuh makhluk, rese deh, kenapa munculnya harus malam-malam. Oh ... jangan-jangan itu almarhum Ayahnya Camelia lagi! Ya Allah, Om jangan ganggu Giska, ya, mati kaku gue bisa-bisa di kasur ini,' batin Giska bersama keringat yang mulai bermunculan.
Ketakutan yang semakin menguasai tubuhnya itu, membuat Giska benar-benar kaku, ingin mengerakkan tubuh atau kaki dan tangan pun dia tidak berani. Giska lebih baik membeku semalaman daripada harus ketahuan sosok tersebut, bisa jadi tumbal dia.
Menahan napas yang kian sesak juga suhu panas yang menguasai tubuhnya, Giska memaksakan diri untuk segera tertidur, memejamkan mata walau ekor netranya masih menangkap sosok tersebut di samping Camelia. Giska terpaksa menahan kondisi yang sangat menyiksa malam itu hingga pagi hari tiba.
"Giska!" Camelia menepuk berkali-kali pundak Giska, seraya masih memfokuskan netra yang tampak kurang tidur.
Giska yang awalnya belum bangun juga, akhirnya saat Camelia memanggil namanya, Giska mendadak bangun, bahkan hingga terkejut, refleks membangunkan tubuh.
"Aaa, hantu!" teriak Giska bersama gerakan tubuh melawan, padahal kedua matanya saja masih sulit untuk dibuka lebar.
Camelia yang terkejut akan respons Giska, menepuk pundaknya membuat Giska gelagapan.
"Eh, apaan sih, sudah pagi tahu! Pasti lo tadi malam mimpi seram, ya?" seru Camelia, menebak-nebak dari raut wajah Giska yang terlihat benar-benar panik.
Giska masih terdiam, pandangannya terus fokus ke arah belakang Camelia, bahkan tubuhnya refleks mendekatkan diri pada Camelia, memastikan bahwa tidak ada sosok seram kembali seperti yang dia lihat tadi malam.
"Kenapa, Giska?" Camelia mendorong pelan tubuh Giska yang semakin mendekati dan memperhatikan sekelilingnya.
"Enggak kok, nggak kenapa-kenapa," jawab Giska cepat.
Saat keduanya terdiam beberapa saat, tiba-tiba suara teriakan Amar terdengar jelas dari kamar sebelas.
"Camelia, Giska!"
Setelah saling pandang, Camelia dan Giska segera beranjak ke luar kamar, mereka melempar sembarang selimut yang tadi masih hinggap di kakinya, hingga membuat Giska hampir saja terjungkal, tetapi tidak Camelia pedulikan, dia terlalu fokus pada suara Amar sampai-sampai tidak sadar kalau temannya pun hampir celaka tadi.
"Ada apa, Mar?" Camelia perlahan mendekati Amar yang wajahnya sudah dipenuhi tangisan seraya mendekap sang Ayah.
"Ayah gue sudah enggak bernapas!" ucap Amar histeris.
Dia terus memukuli dirinya, bahkan tega hingga membenturkan kepala berkali-kali ke tembok, Giska yang baru saja datang ke kamar ikut membantu Camelia untuk menghentikan Amar ketika semakin menyakiti dirinya sendiri.