Father's Love And Revenge

Father's Love And Revenge
BAB 37 | MASIH TENTANG MASA LALU



Doni membawa boneka kitty pada tangan kirinya sedangkan tangan kanan memegang korek kayu yang entah dapat dari mana sembari berjalan ke luar dari rumah Nayya.


"Don, gue mohon jangan!" teriak Nayya terus menerus, masih mengejar langkah Doni yang cepat.


"Enggak ada gunanya lo mohon-mohon begitu, Nay, gue tetap mau bakar boneka ini! Doni masih melangkah cepat tanpa melirik ke arah belakangnya.


Terlihat tubuh lemas Nayya semakin memperlambat untuk jalan, dia berusaha terus mengejar Doni. Hingga akhirnya Doni sampai di halaman depan, dia melempar kasar boneka kitty pada tong tabung yang tersedia di hadapan, mendadak cuaca pun berubah menjadi mendung, kilat dari petir mulai terlihat, menyakitkan mata. Sementara Nayya yang baru sampai, mulai tersadar ada sosok seram yang berdiri di hadapan Doni, dilihat-lihat seperti Camelia.


Dengan degup jantung juga napas yang tidak teratur, Nayya berjalan cepat menghampiri Doni yang segera melayangkan korek kayu pada boneka kitty, meskipun tubuhnya masih sangat gemetar. Masih terlihat sosok Camelia di sana bersama mata merah yang menyorot tanpa senyuman sedikit.


"Doni, hentikan! Lihat di depanmu!" seru Nayya, berharap Doni menggubrisnya dan mengurungkan niat untuk membakar boneka kitty.


"Jangan bakar bonekanya!" geram makhluk di depan pada wajah Doni.


Doni yang menyadari hembusan angin kencang menabrak wajahnya buru-buru memundurkan langkah, lalu refleks melempar korek kayu itu sembarang pada tong tabung di depan. Dia benar-benar kewalahan dan sangat takut ketika di hadapannya sudah berdiri sosok Camelia yang entah kenapa rupanya seperti itu. Degup jantung kencang tentu membersamai langkah Doni yang gemetar mendekati Nayya. Sementara itu, Nayya yang tersadar korek kayu yang sudah menyala tadi terlempar ke tong tabung, buru-buru mendekatinya, dia tidak peduli akan sosok Camelia yang masih berdiri di depan dengan memakai baju seragam kumuh itu.


"Bonekanya!" Nayya dengan cepat mengulurkan tangan ke tong tersebut.


Api yang tadi kecil kini terlihat mulai menyebar ke arah boneka kitty, tanpa takut Nayya meraih boneka tersebut meskipun dia tahu jika nanti tangannya akan terluka. Nayya berteriak histeris, ketika jari-jari manisnya menyentuh api tersebut, buru-buru dia keluarkan boneka kitty itu, lalu melemparnya sembarang ke tanah, sementara kini fokus Nayya pada jari-jari yang terluka.


Rasa takut Doni yang perlahan memudar buru-buru mengambil tindakan untuk meraih lengan Nayya dan membawa ke mobilnya, Camelia masih berdiri di sana, kepalanya memutari ke mana Nayya dan Doni pergi.


"Don, kita mau ke mana?" Nayya masih tergesa melihat ke arah belakang, wajah Camelia menatap tajam Nayya.


"Sudah, ayo ikut gue! Kita ke rumah gue saja, lo enggak aman di sini!"


Bersama napas yang tersengal-sengal, mereka memasuki mobil, dan di saat yang bersamaan pun Camelia tiba-tiba muncul saja di balik jendela mobil, kini bibirnya tersenyum menyeringai.


"Doni! Cepat, jalankan mobilnya, Camelia muncul lagi!" teriak Nayya histeris seraya memukuli pundak Doni berkali-kali.


Doni yang gelagapan, mencoba untuk fokus menjalankan mobil, dia menancapkan gas buru-buru ke luar dari halaman rumah Nayya menuju rumah Doni, baginya itu pilihan terbaik untuk sementara Nayya tidak diganggu kembali, untung saja sepanjang perjalanan mereka tidak ada tanda-tanda sosok seram yang hadir atau mengikuti. Jadi, mereka bisa bersantai dan bernapas dengan tenang.


...***...


"Camelia di mana, ya, dia bilang mau ditemani cari Ayahnya lagi, ini gue sudah sampai di depan rumahnya, tetapi malah kayak enggak ada orang di dalam." Giska terus melihat ke arah sekitarnya.


Sudah sekitar 10 menit dia berdiri di sana, tetapi Camelia belum juga terlihat, hingga saat Giska mengetukkan kembali pintu rumah Camelia, seseorang menepuk pundaknya dari belakang.


Giska buru-buru membalikkan tubuh, cukup terbelalak ketika melihat Camelia sudah ada di belakangnya saja.


"Eh, Mel, gue dari tadi nungguin lo. Memang lo dari mana?" tanya Giska mengamati tubuh Camelia yang terlihat agak kumuh baju seragamnya.


"Gue tadi ke luar bentar," jawab Camelia singkat.


Camelia terdiam sejenak, lalu beranjak pada sebuah kursi panjang di depan rumahnya, dia menduduki diri di sana, diikuti dengan Giska.


"Untuk malam ini gue rasa enggak dulu, tubuh gue sakit dan capek banget, gue juga enggak tahu kenapa," tutur Camelia seraya merilekskan kedua kaki dan tangannya.


Giska menghembuskan napas berat, lalu kembali menatap Camelia penuh heran.


"Lo sebenarnya dari mana sih, Mel? Kenapa lo masih pakai seragam?"


"Dari sana." Camelia menunjuk ke arah belakang bersama wajah datar, tidak dengan penuturan yang jelas.


Tidak ingin pikiran negatif terus menghantui Giska, dia mengalihkan pembicaraan untuk Camelia bisa lebih santai dan tidak kaku.


"Dari pada gue sudah datang ke sini terus langsung pulang, lo coba cerita deh tentang Ayah lo. Mengapa lo sangat yakin kalau Ayah lo belum meninggal?"


Tanpa menjeda lama Camelia menceritakan semuanya pada Giska, dari awal 5 tahun yang lalu Ayahnya mendadak hilang, hingga sampai sekarang belum diketahui kabarnya. Giska terkejut, ketika mendengarkan penuturan Camelia tentang boneka kitty itu, dia jadi mengingat boneka kitty yang sama saat diberikan untuk kado Nayya, semakin penasaran dengan semua ini, apa ada kaitannya dengan sosok yang Amar bilang menghantui keluarganya juga Nayya bahkan.


'Besok pagi selesai ulangan gue harus cepat-cepat minta penjelasan Amar tentang sosok tersebut. Mengapa bisa kebetulan seperti ini dengan cerita Camelia?' batin Giska seraya masih menatap Camelia.


Tidak berapa lama, air mata Camelia tiba-tiba terjatuh bebas, dia merasakan dadanya sangat sesak ketika mengingat semua itu, tangisannya sesenggukan, membuat dia kesulitan untuk berbicara kembali.


Giska yang menyadarinya tentu buru-buru menenangkan Camelia, dia terus mengelus punggung temannya satu itu perlahan.


"Sudah, Mel, bukan salah lo kok. Lo enggak salah minta boneka kitty itu sama Ayah lo, mungkin memang ditakdirkan saja Ayah lo harus pulang," seru Giska.


"Pulang? Enggak, Gis, Ayah gue belum meninggal! Gue yakin Ayah gue masih hidup dan sedang menunggu untuk gue temui," sangkal Camelia yang masih saja keras kepala.


Giska hanya bisa mendukung temannya itu, dia segera membawa Camelia dalam dekapan, sangat terasa tubuh Camelia yang dingin juga air mata yang membasahi bajunya kini.


...***...


Hari Rabu, hari pertama khusus X IPS 1 menjalankan ulangan, berbeda dengan kelas lainnya yang sudah mulai hari ketiga menjalankan ulangan.


Giska berjalan cepat menuju kelas untuk memanfaatkan waktu yang tersisa dengan belajar atau mengingat-ingat kembali materi yang sudah dia pelajari. Namun, langkahnya terhenti ketika menyadari lengannya ditarik oleh seseorang.


"Giska, sekarang juga lo harus jelaskan ke kita sejujur mungkin tentang kado yang lo berikan itu!" ucap Nayya dari belakang bersama Doni.


"Kenapa enggak pulang sekolah saja, bentar lagi ulangannya mulai," jawab Giska mengelak.


"Enggak! Sebentar saja, lo harus jelaskan sesingkat dan sejujur mungkin. Ayo ikut gue sama Doni!" Nayya semakin mempertegas lengannya.


Mereka berjalan tergesa ke arah depan sekolah, beberapa kali menabrak siswa-siswi lain, karena Giska yang terus memberontak, hingga mereka selalu menjadi pusat perhatian murid-murid sekolahnya.