Father's Love And Revenge

Father's Love And Revenge
BAB 24 | TRAGEDI BUS TRAVEL



Amar sangat tercengang, ketika melihat di depannya sang Ayah seperti dicekik paksa oleh bayangan seorang Anak kecil yang menurut Amar tidak asing, begitu pun dengan Camelia juga Giska yang baru saja datang dan melihat kejadian itu.


Bersama keberanian serta tekat yang kuat, Amar memaksakan diri untuk mendekati sang Ayah dah sesosok mahluk yang mengganggunya, bagaimana bisa dia hanya diam saja sementara sang Ayah sudah dalam keadaan ingin meninggal, wajahnya terlihat biru keunguan, seperti menahan pedih, karena napasnya terganggu oleh cekikan kuat itu, hanya suara rintihan kecil yang dapat Ayahnya upayakan untuk orang-orang bisa menolongnya, bahkan tubuhnya sudah terlihat semakin ambruk ke lantai, hanya kepala saja yang masih menenggak, akibat ulah makhluk tersebut.


"Hentikan! Annisa, apa yang kamu lakukan? Ini Ayah, kamu enggak boleh rebut Ayah dari Kakak, Nisa." Amar berusaha kuat melepaskan genggaman sosok Annisa.


Anak kecil itu masih saja bersikeras dan tidak menggubris perkataan sang Kakak, dia hanya ingin Ayahnya ikut segera ke dunia Annisa.


Camelia yang memiliki rasa penasaran tinggi, ikut mengintai Amar lebih dekat, sementara Giska yang sudah mencoba untuk menghentikan Camelia akhirnya menyerah dan memilih fokus untuk keselamatan diri. Giska berdiam di sana bersama ketakutan, memandangi bayangan mereka yang terpantul dari cahaya lampu pada tembok.


Camelia masih berusaha melihat keributan yang semakin besar tersebut, dia seperti ingin membantu Amar juga Ayahnya, apalagi kejadian aneh ini terjadi di rumahnya, sudah pasti Camelia mempunyai tanggung jawab penuh pada orang-orang yang bertamu ke rumah.


"Kak, aku mau bersama Ayah! Jangan halangi aku, Kak!" geram sosok Annisa.


Bukannya mereda, Annisa semakin menjadi, bahkan hingga tega mendorong tubuh sang Kakak sampai terbentur tembok, menimbulkan suara yang cukup kuat. Sementara itu, Camelia yang juga bisa melihat sosok Annisa, segera bertindak, dia ikut campur untuk melepas genggaman Annisa pada Ayah Amar yang kelihatan semakin tidak berdaya saja.


Tidak tahu kenapa, saat Camelia yang bertindak, energi Annisa kian mereda, dia perlahan pergi dan menghilang, setelah meluncurkan tatapan tajam juga kesal pada Camelia.


Semuanya yang ada di sana menghembuskan napas lega, pun dengan Giska yang menyadari suara-suara seram menghilang, segera menghampiri Camelia, Amar juga Aldi.


Camelia dan Amar yang menyadari tubuh Aldi ambruk, dengan sigap Amar memapahnya untuk meminta izin mengistirahatkan tubuh sang Ayah di salah satu kamar dalam rumah Camelia, netra sang Ayah mendadak terpejam, sempat membuat Amar dan teman-teman yang lain panik, tetapi untung saja detak jantung itu masih terdengar dan tarikan serta hembusan napasnya masih terlihat jelas.


...***...


Tidak membutuhkan waktu panjang untuk Nayya mengabsen teman-teman kelasnya yang ternyata semua sudah datang, tanpa berlama-lama menghabiskan waktu, Nayya memimpin teman-teman yang lain untuk segera masuk pada bus yang sudah dia booking bersama Doni mendadak saat pagi hari. Hujan yang masih tetap mengguyur bumi, membuat Nayya dan teman-temannya harus memakai jaket untuk menghindari penyakit-penyakit jahat dari luar juga menghangatkan tubuh dari dinginnya angin malam.


Nayya buru-buru melihat kembali ke arah jendela, memiringkan tubuhnya juga, cukup lama bus berjalan, Nayya tidak menemukan apa pun selain pohon-pohon rindang.


"Doni, lo tadi melihat ada sesuatu enggak sih? Seseorang berdiri di samping jalan sendirian." Nayya menaruh makanan ringannya di samping, netranya saat ini fokus pada Doni.


"Hah? Enggak kok, gue enggak melihat apa-apa, paling hanya warga biasa, Nay," jawab Doni refleks ikut melirik ke arah jendela samping Nayya.


Nayya tampak kebingungan, rasa takutnya kembali muncul, apalagi tepat saat Nayya memiringkan pandangan ke jendela kembali, kini sosok tersebut tertangkap jelas, benar-benar sempurna wujudnya, sangat tampan dan gagah, tetapi aneh wajahnya sangat datar dengan pandangan yang selalu mengarah pada Nayya.


Merasa semakin janggal dan takut, Nayya meminta Doni untuk tukaran posisi duduk, rasa takutnya sudah tidak bisa diatur, Nayya merasa sosok itu semakin menjadi saja, selalu mengikuti ke mana pun Nayya pergi, berasa diawasi oleh makhluk jahat.


"Memang ada apa, Nay? Kenapa lo jadi ketakutan begitu? Enggak biasanya lo begini," ucap Doni terus memandangi jalanan dari balik jendela.


"Enggak kok, enggak ada apa-apa," jawab Nayya berbohong.


Hembusan napas lega akhirnya dapat Nayya keluarkan, dia mengistirahatkan tubuh sebentar, menyender pada bangku yang dia tempati dengan nyaman, berharap pikirannya segera tenang bersama angin yang bersepoi.


Baru saja beberapa menit Nayya merasakan ketenangan, dia merasa hembusan angin kuat dari sebelahnya, tercium juga bau anyir yang sangat tajam, dan begitu Nayya memfokuskan pandangan, yang pertama dia lihat yaitu bangku di sampingnya, bukan lagi ditempati oleh Doni, tetapi sosok yang selalu Nayya temukan, kini muka hancur yang seram juga seutas senyum lebar sangat terlihat jelas akan netra Nayya yang dengan cepat melebar. Tidak hanya Doni saja yang berubah, bahkan dari ujung belakang hingga ujung depan kursi bus dipenuhi makhluk tersebut, dia menampakkan ekspresi yang berbeda tiap tempat duduk, sangat ricuh, hancur pikiran Nayya, dia seperti trauma berat, bersama teriakan yang tidak terkendali, Nayya memegang erat kepalanya untuk menutupi wajah dari sosok-sosok jahat tersebut.


"Nay, sadar, Nayya. Sadar, Nayya." Doni beberapa kali menggoyangkan tubuh Nayya yang terus bergerak tidak karuan.


Teriakan Nayya tadi pun sempat menjadi perhatian teman-teman yang lain, dengan gelagapan Nayya terbangun, dia memperhatikan sekeliling dengan cepat, napasnya sudah ngos-ngosan, seperti dikejar, keringat yang seharusnya mustahil muncul pun, karena cuaca sangat dingin, kini terlihat jelas dari kening Nayya, dia merasakan sangat panas dan gerah, energi tadi di mimpinya masih terasa kuat. Dengan memaksakan tubuh untuk rileks, Nayya masih tergesa menatap sekitar, dia takut mimpinya menjadi kenyataan, dia pun takut jika sosok itu memang sedang menyamar menjadi salah satu temannya di bus.


"Nay, lo kenapa sih? Tenangkan diri lo, ya, sudah tidak usah khawatir dan takut lagi, mimpi buruk lo enggak akan jadi nyata kok," ucap Doni berusaha menenangkan Nayya.