Father's Love And Revenge

Father's Love And Revenge
BAB 46 | BONEKA KITTY



Tidak terasa, suasana hampir malam saja, Camelia dan Giska yang sedari tadi bergelut di dapur, telah kembali ke kamar Nayya dan membawakan hasil masakan mereka, khusus untuk Nayya, mereka buatkan bubur spesial.


Tidak ingin terlihat lemah, Nayya yang sudah bangun sedari tadi pun, mulai membangunkan diri, menumpu kepalanya pada bantal di ranjang kayu miliknya.


"Pintar sekali teman gue ini, jago masak, ya." Nayya mulai meraih sendok di mangkoknya.


Sementara itu, Camelia dan Giska hanya merespons dengan senyuman, lalu melanjutkan menyantap makanan mereka.


"Nay, kondisi lo gimana sekarang. Sudah baikan?" tanya Camelia disela suapan makannya.


Nayya mengangguk cepat. "Sudah, kok."


Setelahnya tidak ada perbincangan dari mereka, hingga saat sudah selesai makan, Camelia tanpa pamit ke luar dari kamar Nayya, tentu Giska dan Nayya sangat keheranan, tetapi tetap membiarkan Camelia pergi.


'Camelia mau ke mana, ya? Jangan sampai dia malah ke gudang,' batin Nayya sembari terus memperhatikan kepergian Camelia hingga pintu kamar tertutup kembali.


Camelia yang tiba-tiba pikirannya cemas mengingat pesan Ayahnya dalam mimpi, mulai menuruni anak tangga dengan pasti. Kali ini entah kenapa dia terdorong kembali untuk pergi ke gudang rumah Nayya, ikatannya masih kuat, seperti ada sesuatu di sana.


Bersama rasa penasaran juga keberaniannya, Camelia membuka pintu gudang yang untungnya tidak terkunci, kedua netra Camelia menangkap barang-barang yang berantakan juga beberapa tetesan darah yang terjatuh di lantai, tidak tahu saja dia kalau tadi pagi telah terjadi kerusuhan hebat antara Nayya dengan sosok David.


Camelia masih terus berjalan menelusuri gudang, langkahnya hati-hati sembari menyapu pandangan pada lantai gudang, hingga akhirnya dia menangkap sebuah boneka kitty, tergeletak di ujung ruangan.


Hati-hati Camelia meraih boneka tersebut, matanya perlahan melebar bersamaan dengan degup jantung yang kencang, jari-jarinya pun kian gemetar, ketika boneka kitty telah sampai di hadapan.


'Boneka ini?' batin Camelia terus memperhatikan boneka tersebut.


Camelia seperti teringat akan suatu hal, dia ingat sekali saat ulang tahun Nayya, Giska memberikan boneka ini untuk hadiah ulang tahun. Pikirannya semakin jauh ke sana kemari, mempertanyakan banyak hal tentang asal boneka ini, mengapa juga dia merasakan sesuatu yang berbeda, dia merasa boneka kitty ini yang Ayahnya maksud.


'Gue harus tanyakan ini kepada Nayya juga Giska!' batin Camelia.


Langkahnya pasti beranjak ke luar dari gudang, jari jemari yang masih gemetaran itu masih bertahan menggenggam boneka kitty. Bersama napas yang tidak beraturan, Camelia berjalan menaiki tangga dengan langkah lebar dan cepat. Saat sampai di depan kamar, Camelia menjaga emosinya agar stabil, dia menarik napas panjang dan menghembuskan dengan tenang, terlihat dalam kamar Nayya dan Giska sedang bertukar candaan. Keduanya sama-sama terkejut, ketika melihat Camelia yang tiba-tiba datang membawa boneka kitty.


Camelia dengan wajah datarnya, mengambil duduk di tengah-tengah mereka, lalu menatap kedua temannya itu bergantian.


"Coba jelaskan baik-baik ke gue tentang boneka ini?" Camelia menyodorkan boneka kitty yang dia bawa dari gudang.


Refleks Giska memandangi Nayya dan Camelia bergantian. "Lo dapat dari mana, Mel?"


"Gue dapat dari gudang," jawab Camelia.


Seketika itu, Giska meluncurkan tatapan kecewa kepada Nayya, netra yang tadi baik-baik saja kini mulai berkaca-kaca terpenuhi air mata.


Nayya yang masih lemas, sangat terlihat jelas dalam rautnya tampak ketakutan dan gugup.


"I-iya, Giska, tapi enggak gitu maksud gue. Gue sudah pernah cerita juga, kan sama kalian? Boneka itu gila! Sosok di dalamnya yang sudah meneror gue, lo lebih tahu pastinya, Gis," jawab Nayya masih membela dirinya.


Bukannya membuat suasana semakin tenang, malah runyam. Camelia semakin curiga akan penuturan yang Nayya berikan.


"Gila, sosok dalam boneka? Maksud lo gimana, Nay? Boneka ini hidup? Ada penunggunya, siapa?" Camelia mendekati tubuhnya ke arah Nayya.


Refleks Nayya menutup mulut dengan kedua tangan, lalu menatap Giska panik. "Eh, enggak, Mel. Gue salah ngomong tadi."


Camelia menghembuskan napas berat, pandangannya kini beralih ke arah Giska. "Gis, lo tahu apa tentang boneka ini? Apa maksud Nayya tadi? Sosok itu siapa, Ayah gue?"


Deg! Mendadak degup jantung Giska dan Nayya memompa dengan kencang, bahkan seakan ingin terputus dari tempatnya, terlihat jelas raut takut dan cemas dari mereka.


"Nay, Gis, jawab?! Sosok yang Nayya maksud tadi Ayah gue? Benar, kan?" tegas Camelia.


"Mel, gue benar enggak tahu," jawab Giska gemetar, tangannya berusaha meraih bahu Camelia.


Tangis ketakutan yang Nayya sembunyikan akhirnya tercurahkan juga, dia merentangkan kedua tangan yang masih sakit itu ke samping.


"Cukup! Camelia, dengar ini baik-baik. Lo mau tahu sosok dalam boneka itu?" bisik Nayya pada telinga Camelia, suaranya terdengar pelan dan gemetar. "Lo tahu? Itu memang almarhum Ayah lo! Dia mau balas dendam sama gue, karena gue selalu nyakitin lo!" lanjutnya.


Dengan sisa tenaga yang ada, Nayya membangunkan dirinya dari ranjang. Sementara itu, Giska yang berusaha membantu untuk Nayya berdiri, Nayya tolak dengan cepat, meskipun sakit Nayya memaksakan dirinya berjalan ke sana-kemari sembari meluncurkan tatapan dalam juga tajam ke arah Camelia dan Giska bergantian, tidak ketinggalan dengan telunjuk yang bergerak ke sana-sini.


"Dari awal gue sudah merasa enggak beres sama boneka itu, gue sudah diteror dengan hal-hal aneh, karena gue takut dan enggak mau terjadi hal-hal yang lebih buruk ke depannya gue memutuskan untuk menaruh boneka itu di gudang, atas saran dari Doni juga. Namun, ternyata keputusan yang gue ambil enggak memberikan pengaruh sama sekali, teror itu masih berjalan menyakiti mental gue, hingga akhirnya gue merasa memang lebih baik seperti itu saja. Gue merasa dengan diri gue yang semakin sakit dan lemah bakal meluluhkan hati orang tua gue atau firasat mereka minimal tentang gue, tetapi apa? Gue enggak dapat ketulusan itu, mereka masih belum datang ke rumah, dan pada akhirnya membuat gue terbiasa untuk terus menyakiti diri bahkan hingga meninggal sekali pun, sangat ingin gue rasanya melihat orang tua gue menyesal atas apa yang mereka perbuat ke gue, sangat ingin gue mendapat kasih yang tulus dari mereka, dan satu-satunya cara adalah dengan diri gue pergi dari dunia ini, itu cara yang paling tepat," jelas Nayya panjang lebar, tidak jarang air matanya terjatuh disela pembicaraan.


Dada Nayya terasa sangat sesak mengeluarkan kesedihan itu, pun dengan Giska dan Camelia yang mendengarkannya terbawa haru juga sedih. Beberapa detik mendadak tubuh Camelia ambruk, air matanya ikut berjatuhan dengan cepat, benar-benar kini suasana kamar Nayya sangat haru dipenuhi tangisan.


"Kenapa lo begitu, Nay. Ya Tuhan." Camelia memegangi kepalanya dengan kedua tangan, mencabik-cabik rambut yang semakin tidak beraturan tersebut.


Sementara itu, Giska yang berada di tengah-tengah merasa kebingungan, melihat teman-teman yang lain disibukkan akan tangisan. Giska akhirnya membawa tubuh Nayya yang berdiri untuk mendekati Camelia, dia mendekap kedua temannya itu, menepuk pundak mereka sekadar memberikan ketenangan.


Di sela tangisan mereka, Nayya menggenggam tangan Camelia cukup erat, lalu menatapnya serius. "Mel, gue harap lo enggak bawa boneka itu dulu, ya. Gue masih butuh, gue mau menunggu sampai sosok dalam boneka itu bunuh gue."


Camelia menggelengkan kepalanya cepat, dia mencoba untuk menetralkan tangisannya. "Enggak, Nay, kalau pun gue enggak bawa boneka ini juga gue bakal mohon sama almarhum Ayah gue untuk enggak bunuh lo, gue enggak ada dendam sama lo, Nay. Almarhum Ayah gue pasti mau kok maafin lo."


Tidak ada balasan dari Nayya, dia masih menyeka air mata yang tak kunjung berhenti untuk terjatuh itu.