Father's Love And Revenge

Father's Love And Revenge
BAB 29 | SUARA-SUARA DI KELAS



Tiba hari Senin, ulangan semester berlangsung di SMA BAKTI, bersama perasaan takut dan senang yang menjadi satu, Amar mempercepat langkah ketika mendapati punggung Camelia di depan.


"Mel!" seru Amar seraya menepuk pelan pundak Camelia.


Refleks Camelia membalikkan tubuh, langkahnya terhenti sejenak. "Amar, kenapa?"


"Semalam ... eh lo sekarang baik-baik saja, bukan? Maaf ya untuk tadi malam, gue hanya ingin ---"


Belum sempat Amar menyelesaikan pembicaraan, Camelia sudah lebih dulu menyangkal.


"Iya, gue ngerti, enggak papa kok. Sudah yuk kita ke kelas! Gue penasaran banget sama kondisi teman-teman yang lain, kira-kira mereka sudah baikan belum ya, gue takut juga rahasia ini sudah sampai di telinga pihak-pihak sekolah terutama wali kelas kita." Camelia perlahan membuka langkahnya kembali.


Amar yang memahami hal itu, tanpa respons ikut berjalan beriringan dengan Camelia, dia juga sebenarnya sangat penasaran apa yang terjadi di kelas X IPS 1 pagi ini. Rasa penasaran mereka membuat langkah yang diperbesar, beberapa siswa-siswi di depan mereka tetap terobos dengan sopan dan saat langkah mereka hanya tinggal beberapa langkah saja, justru yang seharusnya mereka menangkap suara-suara galak, malah senyap, di kelasnya seperti tidak ada orang, bahkan di teras depan biasanya sudah ramai dengan teman-temannya yang piket kebersihan, mendadak hari itu sepi, pintu kelas tertutup. Namun, dengan keyakinan tinggi Amar membuka pintu kelas diikuti Camelia yang berdiri di belakang. Begitu pintu terbuka, kedua mata dari pemilik wajah tegas yang mereka takutkan benar-benar terlihat jelas, wali kelasnya, Bu Ida tengah berdiri di depan papan tulis, netra tajam itu masih mengamati Amar juga Camelia yang baru datang.


Bersama detak jantung yang berdegup tidak normal, Amar dan Camelia dengan sopan dan hati-hati memasuki kelas, mereka menyalimi guru di depan, untung saja diterima dengan baik walaupun raut wajahnya masih terlihat penuh emosi. Amar dan Camelia pun dibuat tidak menyangka akan teman-teman mereka yang ternyata sudah hampir semuanya duduk di kursi masing-masing, tetapi di antara teman-temannya tidak ada tanda-tanda Nayya.


'Nayya ke mana?' batin Camelia seraya gerakan tangan kaku yang berusaha menyiapkan perlengkapan ulangan di meja.


"Hari ini khusus kelas X IPS 1 ulangan diundur! Ibu benar-benar kecewa sama kalian!"


Suara penuh emosi yang sengaja ditipiskan volumenya itu sangat menyentuh hati murid-murid di kelas termasuk Camelia juga Amar yang baru datang, mereka jelas tampak terkejut mendengar pernyataan tersebut. Merasa kebingungan, Camelia melirik ke arah Giska yang sudah berada di samping.


"Giska, apa yang terjadi tadi?" bisik Camelia seraya menyenggol tubuh Giska.


Giska hanya memberikan kode untuk Camelia bisa fokus dulu mendengar Ibu Ida berbicara, karena memang dia merasa tidak enak dan takut juga jika harus mengobrol di tengah-tengah amarah Ibu Ida.


Kini Ibu Ida tidak berdiam di depan, dia berjalan mendekati muridnya satu persatu seraya masih berbicara.


"Sudah Ibu peringatkan berkali-kali sama kalian, kalau mau mengadakan acara atau kegiatan satu kelas seperti kemarin kalian harus izin dulu sama pihak sekolah terutama sama Ibu, kenapa kalian susah banget dikasih tahu? Kalau sudah begini, kita bisa apa? Ulangan kalian harus ditunda, tubuh kalian juga sakit, bahkan salah satu teman kalian kini masih dirawat di rumah sakit, karena luka parah. Kalian kenapa banyak tingkah sekali? Yang seharusnya kalian ulangan hari ini, Ibu rasa memang harus ditunda dan satu hal lagi, khusus kelas X IPS 1 tidak ada perbaikan nilai."


Dengan getir juga kedua mata yang tidak bisa berbohong untuk menangis, Ibu Ida berjalan menunduk mendekati kursi guru di depan.


Beberapa detik Ibu Ida masih berusaha kuat menyapu pandangan ke sekitar kelas, menatapi Anak-anak muridnya yang merasa sudah gagal dia didik dengan baik, tetapi setelahnya air mata berjatuhan dengan cepat, kepala yang sudah lelah menahan beban emosi tersebut ditumpuk pada kedua tangan di meja.


Camelia juga teman-teman di kelas yang lain tentu berlari-lari ke depan menghampiri Ibu Ida, mereka merasa sangat bersalah, bahkan saat kaki itu melangkah ke arah Ibu Ida tampak sekali gemetar dan wajah penuh ketakutan bahkan ada yang sudah meneteskan air mata.


"Bu, maafin Camelia, maafin teman-teman yang lain juga. Kami enggak mau Ibu undur diri jadi wali kelas, jangan begini Bu, ini salah kami, kami minta maaf, Bu." Camelia menunduk di atas paha Ibu Ida bersama tangisan histeris.


Dadanya benar-benar sesak, merasa bersalah dan takut yang dalam membuatnya tidak ingin berpaling dari paha Ibu Ida.


"Ini salah Ibu, sudah enggak papa kalau kalian memang mau sendiri. Ibu enggak masalah kok," ucap Ibu Ida tersedu-sedu, masih menundukkan kepalanya.


"Enggak, Ibu enggak salah, kami yang salah, Bu. Maafkan kami Bu, kami enggak akan mengulangi lagi, maaf, Bu," seru siswa-siswi yang tampaknya ikut menangis tersedu juga.


Suasana kelas pagi itu kian haru, semua kelas kecuali kelas X IPS 1 padahal sudah fokus mengerjakan ulangan di hari pertama, tetapi berbeda dengan mereka yang harus menyelesaikan masalah besar tersebut.


Beberapa menit, masih belum ada respons dari Ibu Ida, lalu saat Camelia berani sujud di atas kaki Ibu Ida, segera Ibu Ida bertindak, dia membangunkan tubuh Camelia, lalu membawanya dalam dekapan.


"Camelia, sudah, enggak usah sampai seperti itu, Ibu sudah maafkan kalian."


Tanpa diminta, seorang dari mereka mengulurkan tisu untuk Ibu Ida, bersamaan air mata yang diseka itu Ibu Ida memandangi Anak muridnya satu persatu.


"Sudah, Nak, kembali ke tempat duduk masing-masing, ya. Kelas lain sudah mulai ulangan, enggak enak kalau kita berisik, takut menganggu mereka."


Dengan perlahan meskipun berat, satu persatu siswa mencium punggung tangan Ibu Ida, mereka meminta maaf dengan tulus, lalu kembali ke kursi masing-masing masih dengan air mata yang dipaksa untuk tidak jatuh kembali. Sementara itu, entah kenapa padahal Camelia tidak ikut-ikutan teman-teman kelas lain, tetapi rasa bersalahnya paling besar, dia masih terdiam di sana, tidak ingin beranjak dari paha Ibu Ida.


"Masalah tadi cukup kita saja yang tahu, ya, Ibu tidak akan beritahu pada guru-guru yang lain. Untung saja, malam itu warga di sana hanya menelepon Ibu bukan guru lain. Sudah, Ibu sudah maafkan kalian. Kalau kalian masih ingin Ibu bertahan, jangan ulangi lagi ya, Nak, Ibu itu sebagai pembimbing kalian, Ibu orang tua kalian di sekolah, lain kali kalian harus bisa menghargai Ibu, jangan melangkah sendiri saja. Sudah, Ibu mau ke luar dulu, untuk masalah ulangan tetap akan Ibu undur, nanti Ibu bicarakan baik-baik dengan kepala sekolah."


Dengan berat hati Ibu Ida menyeka air matanya kasar, hingga tidak meninggalkan bekas. Sementara itu, Camelia yang masih terduduk di sana, terus-menerus Ibu Ida bujuk untuk bangun dan beranjak ke kursi, hingga akhirnya Camelia menuruti, setelah mengucapkan kata maaf kembali dan balasan sentuhan hangat dari Ibu Ida pada ubun-ubun kepala Camelia.