
Matahari kian muncul, Camelia, Giska juga Nayya yang harus berangkat pagi di hari Kamis ini berebutan langkah untuk berjalan ke luar rumah Nayya.
Sementara itu, sebelum benar-benar ke luar dari rumah, Nayya malah berbalik arah berjalan ke gudang, membiarkan Camelia dan Giska berjalan terlebih dahulu. Bersama raut wajah penasaran, Nayya meraih gagang pintu dan membukanya dengan cepat, karena diburu waktu.
Sakelar lampu tidak lupa Nayya nyalakan, ketika kedua netra berhasil menangkap boneka kitty, hembusan napas ke luar dengan tenang. Nayya mendekati boneka tersebut dengan langkah cepat.
"Aman, untung saja Camelia tidak mengambil bonekanya." Nayya membolak-balikkan tubuh boneka yang kini dalam genggaman.
"Nay! Lo lama sekali!" teriak Giska terdengar hingga ke gudang.
Buru-buru Nayya meletakkan boneka kitty kembali, lalu mematikan sakelar lampu dan mengunci gudang rumahnya tergesa.
"Iya, gue ke situ!" jawab Nayya sedikit teriak sembari berjalan dengan langkah lebar.
Giska yang sedari tadi bersedekap menghembuskan napas lega, ketika melihat Nayya datang. "Yuk! Nanti kita terlambat."
Mereka berjalan cepat menuju mobil Nayya, sudah rapi dengan seragam juga tas gendong mereka.
...***...
Beberapa jam berlalu, ujian telah selesai mereka kerjakan untuk hari Kamis, Nayya yang sedang mengemasi barang-barangnya, sedikit terkejut ketika Amar datang menghampiri, dia tiba-tiba duduk di kursi samping Nayya yang sudah kosong, karena tadi teman sebangkunya pulang lebih dulu.
"Kenapa, Mar?" tanya Nayya, menghentikan aktivitasnya sejenak.
"Mel, lo harus kasih bonekanya ke Camelia," seru Amar tanpa basa-basi.
Mendadak kedua netra Nayya terbelalak bersama kedua alis yang mengangkat. "Kenapa begitu?"
Kini Amar memperbaiki posisi duduknya, mencoba berbisik pada telinga Nayya. "Gue sudah pernah cerita kan ke lo, kalau sosok yang selama ini menghantui lo adalah almarhum Ayah Camelia, dan dalam boneka itu arwahnya terjebak, dia belum sempat memberikan bonekanya kepada Camelia, Nay. Jadi, demi keselamatan lo juga ketenangan arwahnya, gue saranin lo kasih boneka itu ke Camelia."
Nayya bersedekap, memundurkan tubuhnya lebih jauh dari Amar. "Enggak, Mar! Gue enggak mau tahu tentang almarhum Ayah Camelia yang ingin bonekanya tersampaikanlah, atau tentang gue yang bakal tenang hidupnya nantilah. Justru itu, justru itu, Mar, gue mau sengsara, gue mau terus dihantui, sekalian saja gue meninggal di tangan sosok Ayah Camelia!"
Merasa nada bicara Nayya yang semakin tinggi, buru-buru kedua tangan Amar hinggap menutupi mulut Nayya.
"Nay, enggak usah besar-besar juga suaranya kali, kedengaran nanti. Barangkali saja Camelia masih ada di luar kelas."
Nayya berusaha menyeka kedua tangan Amar dari mulutnya, lalu menarikan napas panjang dan menghembuskan dengan berat.
"Biarin saja, memang dia sudah tahu kok, dia sudah tahu kalau gue mau mati di tangan almarhum Ayahnya," jawab Nayya santai.
"Ah, lo mah dikasih tahu begitu terus. Keras kepala banget, ya. Intinya gue sudah kasih saran begini ke lo, Nay, kalau lo enggak mau menuruti, ya sudah terserah lo. Selamat menikmati teror-teror selanjutnya dari arwah David, Ayah Camelia, hahaha." Amar membawa tas gendongnya di tangan kiri, kemudian berlalu lalang begitu saja meninggalkan Nayya yang tampak meluncurkan tatapan kesal.
"Enggak jelas lo! Gue enggak peduli, gue enggak takut dan memang itu yang gue mau!" teriak Nayya sembari terus menatap punggung Amar yang perlahan menghilang.
"Amar! Tunggu, gue mau bicara!' teriak Nayya, masih terus berlari.
Amar yang sempat mendengar samar-samar teriakan Nayya, menghentikan langkahnya, dia membalikkan tubuh, lalu mengangkat dagunya.
"Kenapa?" tanya Amar.
Nayya masih melanjutkan langkahnya, ketika sudah dekat dengan Amar, dia buru-buru meraih tangan kekar tersebut dan membawanya kembali ke kelas tanpa sepatah kata pun yang ke luar.
Sesampainya di kelas, Nayya melempar tangan Amar pelan, lalu mulai menduduki diri di kursi depan diikuti dengan Amar yang ikut duduk juga di samping.
"Lo takut, ya? Makannya jangan sok-sokan keras kepala," celetuk Amar.
"Bentar deh, lo kok bisa tahu tentang boneka itu, padahal gue belum kasih tahu. Lo tahu dari mana?" selidik Nayya bersama tubuhnya yang kian dicondongkan ke arah Amar.
Amar terdiam sejenak, merasa tertembak dengan pertanyaan Nayya. Dia benar-benar baru sadar akan hal tersebut, cukup lama Amar terdiam dan memutari pandangan ke sekitar, hingga akhirnya dia memutuskan untuk bercerita kejadian tentang dirinya dan keluarganya 5 tahun lalu saat diteror sosok David.
"Gue ... keluarga gue tepatnya, pernah diteror juga sama sosok David," jawab Amar sembari menatap Nayya malas.
Refleks Nayya membuka mulut juga kedua matanya lebar-lebar, kursi yang dia duduki sengaja lebih didekatkan pada kursi Amar, dia benar-benar tidak menyangka akan jawaban yang Amar berikan dan tentu sangat semangat untuk mendengar kedalaman cerita tersebut.
"Masa?! Gimana ceritanya? Tapi, kok lo enggak meninggal?" seru Nayya asal.
Raut wajah Amar mendadak berubah kesal, antara menahan emosi sedih dan kemarahan, sedih karena dia jadi teringat kembali akan almarhum Adiknya, Annisa.
"Untungnya gue enggak meninggal, tetapi Adik gue yang meninggal." Amar menumpu kaki satunya dengan yang lain.
"Baik, berarti ada kesempatan juga untuk gue meninggal. Gue baru-baru ini diteror, mungkin nanti, ya, David mainnya hebat banget, pelan-pelan," jawab Nayya sembari menatap dalam ke arah Amar.
"Gila lo! Masih saja mau meninggal di tangan arwah itu, lo kayaknya perlu gue antar ke rumah sakit jiwa deh, lama-lama bisa ikut gila juga gue ngobrol sama lo."
Nayya menyunggingkan senyum masam, lalu menghembuskan napas berat. "Alhamdulillah gue sehat, lo enggak tahu saja masalah yang gue hadapi. Kita tukar jiwa sehari boleh? Gue ingin sekali mendapati kasih dan perhatian dari sosok kedua orang tua."
Sedikit terkejut mendengar jawaban Nayya, padahal Amar kira sedari tadi Nayya hanya bercanda saja.
"Oh, jadi karena itu lo mau meninggal cepat? Enggak semua kebahagian datang dari orang tua, Nay, banyak teman-teman yang dukung lo."
Nayya lagi-lagi menarik napas, lalu menatap malas ke arah Amar. "Gue tahu, tetapi kalau yang gue inginkan kasih orang tua, bagaimana? Sudah terlalu sering gue dapatin bahagia dari orang-orang terdekat, contohnya Doni, juga sekarang Camelia, Giska sama lo, sementara dari orang tua yang pastinya semua Anak berharap besar bisa diberi kasih sayang dan perhatian, gue enggak dapat hal itu, Mar. Gue sampai mikir, sebenarnya mereka ingat enggak sih kalau mereka itu punya Anak di sini, sesibuk dan seenggak bisa itukah mereka nyempetin waktunya sebentar saja jenguk gue? Mereka anggap gue apa sebenarnya? Gue harap lo jangan pernah tanya lagi kenapa gue terus meminta untuk meninggal di tangan sosok David. Di antara banyak waktu dan hari-hari di depan, yang gue harapkan adalah hari di mana orang tua gue baru sadar kalau Anak yang selama ini mereka hiraukan itu benar-benar sudah tidak bernyawa lagi."
Amar termenung, rasa kesalnya pada Nayya barusan mendadak sirna, bahkan kini tangannya bergerak hinggap ke pundak Nayya, menepuknya pelan berkali-kali sebagai dukungan pada tubuh yang kini perlahan menunduk dalam kedua netra yang menangis.